Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 34 : Berkumpul


__ADS_3

2 orang wanita datang berkunjung siapa lagi jikalau bukan sahabatnya Maira, Helna & Gandis


"Maayy..." teriak gandis dan Helna yang di sebelahnya hanya memberikan senyum tak bisa banyak bertingkah terlebih disana terlihat ada Hasan sedang menatapnya intens


Setelah mereka bertiga berpelukan lalu Helna dan Gandis menakupkan kedua tangannya di atas dada mereka isyarat memberikan salam kepada semua yang disana, lalu Maira izin membawa kedua sahabatnya untuk mengobrol di taman belakang rumah


"Gimana keadaan kamu may?" tanya helna terlihat dia mengkhawatirkan sahabatnya begitupun gandis


Mereka semua masih berpegangan tanga dg erat, "Seperti yang kalian lihat aku baik-baik aja kok" Maira menampakkan senyumnya


"Alhamdulillah deh klo gitu, pas dpt kabar dari tante Erna aku kaget May, aku gak percaya kamu di culik, krn gak mungkin"


Taak..


"Aiih.. sakit tau Na"


Helna menyentil dahi sahabatnya itu "Lagian kata-katamu itu loh"


"Loh iyakan.. di antara kita siapa yg paling pandai ilmu bela diri, belum lagi pake senjata api atau senjata tajam, dia bisa juga tau tangan kosong. . wiiih..." Ucap gandis sengaja menekan kata-katanya


"Udahlah.. aku kangen sm kalian berdua, ini hikmahnya ternyata, akhirnya kita bisa berkumpul disini" akhirnya mereka saling merangkul satu sama lain


"Hayooo.. ini di minum dulu ndoro-ndoro ayu.."


Mereka bertiga merenggangkan pelukannya setelah mendengar ada seorang yg datang siapa lg klo bukan bi Asih


"Bibi.. maafkan merepotkan" tutu Helna


."Healaaah.. cuma anterin minum aja kok repot, di minum di habis yo, bibi izin ke belakang lagi"..


"Iya bi.. terima kasih ya Bi" ucap Maira


Di tengah-tengah mereka berbincang, tertawa dan banyak bercerita ada 2 pasang mata sedang memperhatikan mereka, dia adalah Hasan & Fabian


"Aku bangga pada adikmu" Fabian buka suara seraya tersenyum pada kk ipar sekaligus sahabat kecilnya itu


"Ya kamu benar, Maira memang membanggakan"


Para orang tua kini sedang duduk di meja makan krn waktu menunjukan jam makan siang


"Apakah seseru itu sampai lupa waktu"


Sontak ketiganya menoleh ke belakang "Eh Mas.. iya aku melepas rindu dg ke 2 sahabatku, terlebih helna kita udh lama gak bertemu"


Fabian hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti apa yg di maksud istrinya


"Ayo kita makan, mama dan papa dan yg lainnya sdh menunggu di ruang makan" Ucap Hasan tiba-tiba menghampiri mereka juga

__ADS_1


"Iya mas.. yuk" ajak Maira kepada ke 2 sahabatnya


Merekapun kini sudah berada di meja makan, ada sepasang calon pengantin yg tak saling sapa karna malu-malu, sementara Hasan hanya senyum-senyum sendiri melihat wajah calon istrinya yg sudah merah seperti tomat krn malu, krn mereka duduk berhadapan saat ini


Setelah bincang-bincang ringan yg di kuasai para orang tua kini jason buka suara


"Hasan.. bukankah ada yg ingin kamu sampaikan pada kami semua?"


Degh..


Degh..


Degh..


Helna yang mendengar penuturan itu dia semakin gusar, detak jantungnya kini tak beraturan, seperti sdh tau arah dan tujuan apa yg hendak Hasan sampaikan pada mereka semua


"Hoiya.. waktu itu Mas Hasan janji mau ada yg di bicarain sama May juga dad, ada apa Mas?" tanya Maira


Hasan tak langsung bicara, di mengangkat wajahnya melibat ke arah Helna


"Iya.. In Syaa Allah dalam waktu dekat Mas akan melamar Helna"


Uhukk..


uhukk..


"Minum dulu Dis" Helna memberikan gelas berisi air ke hadapannya"


"Heeeeell..." Tatapan ke 2 sahabat Helna dikiri kanan kini ke emat mata itu berusaha mengintrogasi sahabatnya


Mungkin maksud Maira & Gandis knp Helna tdk cerita apa -apa tentang ini


"Kalian tenang dulu biar Mas jelaskan.."


"Bbrp hari lalu Mas baru berkunjung ke rumah Helna, jd kemungkinan sahabat kalian blm sempat cerita terlebih ada kejadian kemarin yg di alami Maira" Hasan berusaha membela calon istrinya


Lalu Helna di rangkul dari kiri dan kanannya, "akhirnya dari penantian panjangmu kau mendapatkan yg sesuai" Ucap helna


"Tunggu tunggu.. itu berarti kalian akan menjadi ipar dong, lalu bagaimana kabarnya denganku? aku tidak akan kalian sodara tirikan kan?" Gandis cemberut seraya menundukkan wajahnya seperti anak-anak yg tdk di berikan permen kesukaannya


Sontak ucapan itu mengundang gelak tawa semua orang yg berada disana


"Permisi Tuan.." Nick menghampiri Fabian krn banyak urusan yg harus mereka selesaikan


Fabian melihat suasana sedang ramai tidak berani meninggalkan meja makan


"Hay nick, kau duduk saja dulu untuk makan siang" ucap Fabian untuk mengukur waktu

__ADS_1


"Saya sudah makan tuan" jawab Nick


"Ayolah nick makan saja dulu, biarkan pekerjaanmu hari ini, kau juga pasti sangat lelah" Ucap Lukman Ayahanda dr Fabian


"Nickolas!" suara bariton fabian membuat nick tak berkutik


Tak menunggu Bosnya mengeluarkan kedua bola matanya kini nick duduk di sebelah Hasan persis berhadapan dengan Gandis


"Bagaimana kabarmu Nick, sudah kita tak bertemu, dan kau tak pernah ke rumah" Tutur nyonya Sintia ibu Fabian


"Seperti yang anda lihat nyonya saya baik-baik saja"


"Syukurlah kalau begitu"


"Kapan kau akan memberikan kami kabar bahagia nick sama halnya Hasan?"


"Eheumm kheum..." mendengar pertanyaan Lukman nick tersedak makanan yg baru ia masukan ke dalam mulutnya, ia langsung minum di gelas yg ada di hadapannya


"Euumm.. jika sudah waktunya Tuan"


"Ayolah nick kau ini memanggil Nyonya dan Tuan nyonya tuan, sdh berapa kali ku katakan panggil saja aku sm seperti fabian memanggil kami atau kau bisa memanggil kami om dan tante, Formal sekali bahasamu sama seperti bosmu yg kaku kenal tempat" ucap Lukman


Fabian yg mendengar ciri-cirinya di sebut hanya bisa mengedarkan pandangannya malas menghadapi ledekan papanya


"Kau tau Nick, Bosmu persis papanya yg lebih kaku, tua dan selalu menjengkelkan"


Sontak semua yg berada disana tertawa lepas mendengar 2 laki-laki yg berbeda generasi itu saling melempar ledekan


Sesekali nick curi-curi pandang melihat Gandis yg sedang tertawa "Kenapa aku selalu di pertemukan dengan gadis cerewet itu terus" jelas ini batin nick tak mungkin ia mengatakannya di hadapan banyak orang


"Ngapain si rese itu liat-liat gak jelas" batin Gandis


"Jadi kapan kau akan melamar gandis Hasan?" Tanya Lukman


"In Syaa Allah dalam waktu dekat om, Hasan harus lihat jadwal tugas terlebih dulu, krn dr waktu lamaran ke pernikahan jaraknya sangat dekat"


"Wah bagus itu.. lebih cepat lebih baik" sahut Sintia


"Iya tante"


Sementara Helna sejak tadi tak berani mengangkat wajahnya.. apa lg saat mendengar pernikahan mereka dalam waktu dekat


Nick di kejutkan dengan getaran ponsel yg ada di sakunya lalu ia membuka pesan itu lalu menoleh ke arah Bosnya dan Fabian faham maksudnya.


_______________________


Jangan lupa kasih author gift, like, vote biar tambah semangat update yaa..

__ADS_1


maacih sayang-sayangku yg sudah mampir 💞


__ADS_2