
"Memang disini tidak ada bengkel nona" lalu keduanya saling melempar senyum membawa paksa Gandis atau lebih disebut menyeretnya ke dalam gubuk
Gandis teriak histeris meminta pertolongan "Percuma cantik, tempat ini sepi takkan ada yg mendengar teriakanmu"
"Tolong saya, jangan lakukan ini, kalian bisa ambil motor dan uang saya, tapi jangan lakukan ini saya mohon" tangis Gandis pecah
Iya berdoa kepada Allah semoga Allah kirim malaikatnya sebagai penolongnya
Gandis terus menjerit ketakutan sambil terus menerus memohon dan menggelengkan-gelengkan kepalanya, setelah kancing kemejanya beberapa terlepas hingga mengekspos kedua dadanya yang masih tertutup Bra namun terlihat oleh kedua bajingan itu semakin di tutup kabut gairah ingin segera menikmatinya, 1 orang sudah mengungkung Gandis dan satunya memegangi tangannya
"Tolooooong.. tolooong.. ku mohon jangan lakukan"
"Braaakkkk.."
Tiba-tiba pintu gubuk itu terbuka lebar, Lalu seorang pria bertubuh tinggi dan gagah ini menarik satu bajingan yang mengungkung Gandis dengan beberapa pukulan lalu melemparnya hingga terpental ke dinding, dan menarik yang satunya lagi di beruduli beberapa pukulan hingga sudut bibirnya berdarah dengan wajah penuh lebam sampai mereka menyerah dan ketakutan, kini kedua laki-laki itu sudah babak belur dalam waktu bebarapa menit kemudian keduanya Nick biarkan pergi dalam keadaan sempoyongan
Gandis kini bersembunyi di pojokan di balik ranjang di gubuk itu dengan tangis tak henti-hentinya
dia sangat terpukul atas kejadian baru saja menimpanya
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya laki-laki yang menolongnya
Gandis melihat ke arah suara itu yang berjongkok di hadapannya, setelah melihat bahwa itu Nick, Gandis berhambur memeluknya dan tangisnya pecah di pelukan Nick, Nick syok karna gadis yang hampir saja di perkosa itu adalah gandis
Nick tak membalas pelukan Gandis, namun lambat laun tangannya naik dan mengelus lembut punggungnya "Kamu sudah aman"
Kini tangisnya mereda...
**
"Merepotkan sekali, kenapa jalannya tiba-tiba di tutup haiiss" ucap Nick akhirnya membelokkan mobilnya setelah mengantar Fabian
"Sepi sekali jalanan disini" ucapnya lagi tak selang berapa lama ia melihat ada motor terparkir di pinggir jalan kemudian mobilnya mendekat
Lalu mendengar suara wanita minta golong gak jauh dari motor tersebut, akhirnya Nick berhenti dan turun, kalau saja Nick tidak membuka kaca mobilnya dan berjalan ngebut pasti teriakkan Gandis tak terdengar.
yaah.. takdir dan othorlah yang mengaturnya seperti itu hehe..
__ADS_1
***
Melihat keadaan gandis kacau Nick memakaikan jasnya menutupi tubuh mungil Gandis yang terlihat tdiak nyaman dengan menutupi dadanya karena beberapa kancing telah lepas dari tempatnya akibat kejadian tadi
"Terima kasih" ucap Gandis dengar suara bergetar
Sebetulnya banyak yang ingin Nick tanyakan namun melihat Gandis dalam kondisi tidak baik-baik saja membuat Nick mengurungkan niatnya
"Aku akan mengantarmu pulang" Nick membukakan pintu mobil untuk Gandis duduk
"Biar motormu nanti aku hubungi anak buahku untuk membawanya ke bengkel dan mengantarnya ke rumahmu.
Gandis hanya mengangguk tak bisa bicara banyak, setelah keduanya memasuki mobil, Nick maupun Gandis keduanya diam seribu bahasa seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar jika orang lain yang melihatnya
Gandis menatap jalanan dengan tatapan kosong menerawang, sementara Nick fokus menyetir dan sesekali melirik Gandis khawatir gadis itu akan trauma atas kejadian yang menimpanya barusan
Setelah mobil terparkir di depan rumah kecil dan sederhana, mendengar suara mobil terparkir di depan rumahnya sontak bu Hera mengintip melalui jendela dan kemudian membuka pintu setelah melihat bahwa anak gadis sulung yang turun dari sana dalam keadaan berantakan
"Gandis.. kamu kenapa nak?"
"Ada apa denganmu?" laku tatapannya beralih pada Nick yang persis berada di belakang Gandis
"Bisa kita bicara di dalam bu, bair saya jelaskan" melihat Gandis tak membuka suara akhirnya Nick menjelaskan kronologi yang menimpa Gandis
Ibu langsung menangis dan memeluk Gandis yang sejak tadi diam, Gandis hampir saja kehilangan kehormatannya yang selama ini ia jaga.
Setelah kejadian itu Gandi beberapa hari tidak masuk kantor sampai teman-teman satu divisinya datang kerumahnya untuk menengok karna setiap di telpon pasti mengangkatnya kalau bukan Gladis adiknya atau Ibunya
"Sebetulnya Gandis sakit apa bu, kok ngelamun terus dan gak bisa di ajak bicara seperti ini" tanya teman-temannya ketika berada dirumah Gandis
"Tidak apa-apa, nanti juga sehat kembali dan kembali ke kantor"
"Dis.. kita kangen sama kamu, semoga kamu segera kembali seperti sedia kala"
Setelah mereka selesai dan pamit pulang, sampai halaman rumah tiba-tiba ada mobil mewah berhenti di rumah Gandis, ya itu mobil nick hampir setiap hari Nick datang kesana melihat keadaan Gandis yang masih di selimuti ketakutan
dua teman kantor gandis memberikan senyum termanisnya karna melihat sosok yang kekuar dari mobil itu gagah dan tampan, tapi seperti biasa sikapnya yang dingin membuat gadis² itu mencebikkan bibir mereka dan berlalu pergi
__ADS_1
Melihat kedatangan Nick yang sudah biasa berkunjung Bu wati mempersilahkan Nick masuk, "Bagaimana keadaannya sekarang Bu" tanya Nick
"Belum ada perubahan masih seperti biasa" ujar bu wati, saat Nick membawa dokter psikolog bbrp waktu lalu, Gandis belum bisa di ajak bicara jadi percuma mendatangkan dokter juga
"Selamat sore Gandis, ini untukmu" Nick membawa sebuket bunga yang ia beli tadi di jalan dan membawa parsel buah untuk Bu Wati dan Gladis
Gandis menatap bunga itu dan menatap Nick singkat lalu kembali membuang mukanya
"Apa kau mau jalan-jalan" tanya Nick yang semakin hari semakin perhatian pada Gandis, perubahannya drastis 180derajat dari Nick yang biasanya dingin, Gandispun setelah kejadian itu berbuah dari yang biasanya cerewet dan ngomel-ngomel kini menjadi gadis pendiam
"Apa kau sudah bosa memakiku seperti biasa"
"Atau es batunya sudah mencair sekarang, jadi kau tidak menemukan panggilan khusus lagi untukku"
Melihat Nick yang gigih memulihkan keadaan Gandis bu Wati melihat ketulusan dari tatapan Nick pada Gandis dan mengukir senyum di bibirnya
"Baiklah.. kalau kau tak mau jalan-jalan denganku, aku akan mencari gandis yang lain pasti mereka takkan menolak lelaki tampan sepertiku"
Ketika Nick hendak berdiri kemudian tangannya di tahan oleh Gandis yang menatapnya sendu, Nick kemudian berjongkok di hadapan Gandis "Kau harus kembali, anggap kejadian itu tak pernah terjadi padamu"
Gandis menatap kedua manik mata Nick disana hanya ada ketulusan yang terpancar
"Jadi bagaimana apa kau mau berjalan-jalan denganku? pokoknya aku akan jadi bodyguardmu, bagaimana?" Nick memasang senyumnya, Gandis baru pertama kali melihat Nick senyum padanya dan membuat jantung gadis itu tiba-tiba berdetak kencang
"Jangan melihatku seperti itu, aku tau aku tampan" ujar Nick seraya mengusap rambutnya ke belakang, dan itu berhasil membuat Gandis tersenyum lalu menangis mengeluarkan air mata meskipun tak bersuara.
"Heyyy.. kau kenapa menangis seperti ini" Nick menyentuh pipi Gandis dengan lembut untu menghapus air mata yang mengalir disana, lalu Gandis menahannya
"Terima kasih"...
"Terima kasih telah menyelamatkan kehormatanku, kehormatan yang selalu aku jaga hingga seseorang meminangku kelak"
"Degh!"
Mendengar itu membuat jantung Nick ikut meracau dag dig dug, karna selama ini Nick menyangka Gandis telah hilang kesuciannya sampai beberapa terakhir terus saja melamun dan tak bisa di ajak bicara
"Maksudmu, mereka belum menyentuhmu?"
__ADS_1
Gandis menganggukkan kepalanya, lalu Nick refleks tersenyum dan hampir memeluk Gandis namun dia urungkan "Maaf"