
"Owweekk.. owweekkk..."
Maira terbangun jam 3 dini hari mendengar seseorang di kamar mandi seperti hendak muntah "Maass.. Mas Abi"
Maira langsung memasuki kamar mandi dan melihat suaminya sudah terkulai lemas di depan toilet duduk mereka, Maira terkejut dan langsung menyentuh dahi suaminya "Gak panas, mungkin mas masuk angin, ayo aku bantu"
Maira membantu suaminya berdiri baru saja sampai pintu kamar mandi belum juga keluar Fabian kembali mual dan isi perutnya seperti sedang di aduk-aduk, Maira jelas panik apa yang terjadi dengan suaminya
Lalu kembali memapah Fabian yang badannya sangat lemas entah sudah berapa banyak isi perut yang ia keluarkan
"Mas apa yang sakit?" tanya Maira penuh kekhawatiran
"Perutku mual, saangat mual" jawabnya lemas dan wajahnya sangat pucat pasi
Setelah melakukan shalat subuh, Fabian kali ini tidak pergi ke Mesjid karna tidak kuat berjalan akhirnya mereka shalat berjamaah di kamar, Fabian kini kembali ke kasur dalam keadaan masih memakai sarung & Maira pergi ke dapur untuk membuat sarapan suaminya
Maira datang ke kamarnya dengan membawa semangkok bubur ayam dan teh hangat "Mas bangun dulu yuk, sarapan dan minum dulu tehnya"
Maira membantu mendudukkan Fabian agar sedikit duduk bersandar dan memberikan 1 bantal lagi agar membuat suaminya nyaman, Fabian meminum tehnya namun ketika melihat bubur kembali rasa mualnya datang "Jauhkan itu dariku aku sangat mual melihat dan mencium aromanya"
Maira mengerutkan dahinya "Aku mau tidur lagi aja aku gak mau makan, kalau Nick datang bilang saja handle pekerjaanku"
kemudian Fabian kembali tidur dalam keadaan perut kosong hanya terganjal teh hanya secangkir yang Maira buatkan tadi
jam sudah menunjukan pukul 10 pagi :
"Mas sudah bangun?" tanya Maira yang melihat suaminya sudah duduk dan sedang menonton tv, dan yang Maira kaget suaminya nonton acara masak-memasak, sejak kapan mantan mafia nontonnya masak-memasak wkwk...
"Aku mau yang itu tuh.." Fabian menunjuk ke arah mangkok kecil berisi belimbing wuluh di acara televisi itu
Maira membelalakkan matanya tak percaya, "apa mas serius? mas tau gak itu rasanya gimana?"
Fabian tau menyahutinya hanya mengangkat kedua pundaknya "entahlah, tapi sepertinya seger"
"Itu rasanya asam mas.. mas yakin mau makan itu?
Fabian hanya menganggukkan kepalanya, Maira hanya memicingkan kedua matanya untuk memastikan apa suaminya sedang bercanda atau sekedar ngeprank dirinya
Maira langsung beranjak kedapur mencari apa yang suaminya inginkan, saat Maira sudah menemukan apa yang ia cari, gegasnya langsung ke kamar dan mendapati suaminya masih di posisi yang sama
"Mas.. ini" Maira menyodorkan piring yg berisi belimbing yang rasanya masam itu
Fabian matanya langsung berbinar, Maira masih tak percaya apa yang ia lihat ternyata ia suaminya melahap satu persatu belimbing yang rasanya masam itu membuat Maira berkali-kali menelan salivanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum sayang.." Mama Sintia yang sudah datang dan memasuki kamar anak menantunya setelah mendapat kabar Fabian sakit dari Maira
"Waalaikumussalam.. ayo masuk mah"
"Bi.. apa kamu gak apa-apa nak?" tanya mama Sintia dan berkali-kali menyentuh kening anak sulungnya itu, namun tak mendapati jika anaknya sakit atau demam
Mamahnya hanya geleng-geleng kepala "Abi gak sakit apa-apa mah, cuma mual-mual terus" sahutnya
Hari kedua, ketika sampai 1 pekan keadaannya semakin parah, akhirnya Maira menghubungi dokter keluarga dirgantara dokter Paul
"Selamat siang Mba Maira" sapa dokter Paul ketika memasuki kamar mereka dengan di antar Bi Asih
Setelah di periksa menggunakan stetoskop "Keadaannya normal baik-baik saja, suhunya juga normal"
"Apa yang dirasakan Mas Abi sekarang?"
"Saya mual-mual terus dok, entah itu mencium aroma makanan, parfum dan bau-bau menyengat lainnya" jujur Fabian
"Sepertinya harus segera dibawa ke rumah sakit" tutur Dokter Paul mengarah ke Maira agar segara membawanya ke rumah sakit
"Dokter sendiri bilang saya tidaka apa-apa, lalu kenapa harus ke rumah sakit?" tanya Fabian gak habis pikir dengan dokter kepercayaan Papahnya itu
"Iya mas Abi, ini harus di periksa ke dokter Obgyn"
*Ya Allah dok, ngapain sekolah tinggi-tinggi* gumam Fabian dalam hatinya yang pasti
"Buat apa suami saya di periksa dokter kandungan dok?"
Jadi begini ada yang namanya Sindrom Couvade atau lebih di kenal hamil simpatik, dimana seorang istri yang hamil namun suami merasakan efeknya dari kehamilan itu, ciri-cirinya seperti yang di sebutkan oleh Mas Fabian tadi
Maira segera meraih ponselnya untuk melihat kapan ia terakhir menstruasi, lalu tiba-tiba mulutnya menganga di balik cadar di tambah ia tutupi dengan sebelah tangannya
Fabian penasaran apa yang di ucapkan dokter Paul "Maksud dokter istri saya hamil?"
Dokter Pau menganggukkan kepalanya "Untuk lebih lanjutnya agar jelas segeralah periksakan diri ke dokter kandungan"
Setelah dokter Paul pamit, Maira masih berdiri di tempat tak percaya karna ia baru menyadari sudah terlambat haid 2 pekan
"Sayang kamu hamil?" Maira masih menggeleng-gelengkan kepalanya "entah lah mas, tapi aku memang terlambat datang bulan"
Sontak membuat wajah Fabian berbunga-bunga, "Aku yakin pasti kamu hamil" Fabian langsung menghubungi asisten pribadinya
"Hallo nick.. tolong belikan tes kehamilan saat melewati apotek"
__ADS_1
Nick
"Baik tuan" sahut nick dari sebrang telepon
Maira masih duduk diam harap-harap cemas, berbeda dengan wajah Fabian meskipun pucat namun terpancar ada kebahagiaan disana, Maira bukan belum siap hamil, hanya khawatir ini siklus haid yang tak menentu lalu membuat suaminya kecewa setelah memancarkan kebahagiaan
________________
Nick memasuki sebuah apotek
"Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya apotekernya
"Saya cari tes kehamilan"
"Mau merk apa pak, saya punya ini, ini dan ini" apoteker itu memberikan 3 pilihan berbeda merk
"Saya ambil tiga-tiganya"
**
kini Maira dan Fabian sedang di ruang tamu menunggu Nick, setelah mendengar suara mobil Nick datang Fabian yang paling bersemangat menyambutnya dan memasang wajah ceria dan bahagia
"Selamat pagi Tuan" Ucap Nick seraya menyerahkan kantong kresek dari apotek itu pada Bosnya
"Sayang... ini, tes sekarang ya"
Maira hanya menatap suaminya dengan senyum yang di paksakan di balik cadarnya berharap ia benar-benar hamil
Tak menunggu lama, Maira pun memasuki kamar mandi yang ada di lantai bawah dengan membawa peralatan yang di perlukan untuk menampung urinnya dan 3 testpack untuk mendapatkan hasil yang akurat
Setelah hampir 10 menit di kamar mandi sementara Fabian masih mondar mandir berada di depan pintu kamar mandi, masih terdengar oleh Maira suaminya beberapa kali owek owek
Maira keluar kamar mandi dengan wajah lesu tak bertenaga dan menatap nanar wajah suaminya
__________________
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. gimana kabar kalian semua readers setianya aku
aku ucapkan terima kasih kalian yang sudah mampir di karya pertamaku, semoga suka dan terhibur
jangan lupa komen, like, gift dan votenya juga ya, biar semangat update setiap hari
Maaciiih... love kalian semua ❤️
__ADS_1