
Maira hanya membuang nafasnya kasar, bagaimana bisa suaminya mengatakan itu sementara tubuhnya saja terlihat pucat pasi dan lemah
"Mas, makan ya dikit aja, mukanya pucat itu"
di balasnya dengan gelengan kepala "Mas mual sayang, apapun yang masuk perut Mas pasti keluar lagi"
Sekeras apapun Maira berusaha tetaplah penolakan yg ia terima, akhirnya mau tidak mau Fabian hanya meminum madu jahe hangat yg di buatkan istrinya
Mau tidak mau Fabian meminumnya, tak selang beberapa jam Nick menghubunginya
"Katakan" sahut Fabian ketika menerima panggilan itu...
"Siapkan semuanya, besok aku ke kantor"
Mendengar cicit suaminya yang mengatakan akan ke kantor Maira mendekatinya "Mas yakin mau masuk kantor dalam keadaan seperti ini?"
"Hmm.. " sahut Fabian yang sedang bersandar di dipanggil dengan laptopnya
"Tapi Mas belum sehat badannya"
Fabian menghela nafasnya pelan dan menghadapkan tubuhnya pada sang istri.
"Sayaang.. Mas pemilik dan pemimpin perusahaan, ada hal yang tidak bisa di serahkan langsung pada Nick, jadi Mas harus masuk besok, masalah kesehatan Mas sebetulnya sehat ini hanya sedikit mengurangi beban ibu hamil, yang akhirnya Mas tau bagaimana seorang wanita ketika hamil dan Mas laki-laki"
Maira tertegun mendengar penuturan suaminya, memang apa yang ucapkannya tidak ada yang salah, namun bagi Maira kesehatan suaminya adalah yang utama
__ADS_1
"Aku hanya mengkhawatirkanmu Mas"
Fabian merenggangkan pelukannya dan menakup wajah sang istri dengan kedua tangannya "Sayang.. Allah lebih mencintai hamba-hambaNya yang kuat dari pada seorang hamba yang lemah"
Maira semakin sendu, karena suaminya harus merasakan yang ibu-ibu hamil rasakan yaitu mual dan muntah, sementara dirinya sangat sehat dan bugar malah nafsu makannya semakin baik hingga membuat tubuh langsungnya sedikit berisi di area-area tertentu
Tiba-tiba Fabian terkulai lemas di bahu lebih tepatnya di dada Maira "Mas.. Mas kenapa?" Maira kaget dan menepuk-nepuk pipi Fabian"
"Sepertinya.."
"Apa Mas"
"Mas butuh amunisi" bisiknya di telinga Maira yang membuat desiran di tubuh Maira semakin menegang karena ulah suaminya
Tidak menunggu persetujuan sang istri, Fabian sudah cukup lama berpuasa, yaa meski hanya beberapa hari bagi laki-laki normal terasa lama
Fabian dengan lembut me***at bibir sintal Maira hingga beberapa saat kemudian mendapatkan balasan dari sang Istri, Fabian hanya menyunggingkan senyum, lampu hijau menyala... GAAASS..
_______________
Praankk...
Di sebuah mini market seorang perempuan tak sengaja menjatuhkan beberapa botol syirup yang letaknya bersebelahan dengan barang yang ia hendak ambil
Sontak suara itu menimbulkan kedatangan beberapa pengunjung dan pekerja-pekerja mini market itu
__ADS_1
"Saya minta maaf mbak"
Karyawan yang tertulis namanya hera itu berkecak pinggang "Mbak-mbak situ pikir saya mbakmu, kalau ambil barang hati-hati dong, nanti kita yang di salahin sama atasan!"
"Saya akan tanggung jawab"
Bukan wanita itu yang menjawab melainkan seorang laki-laki yang berserakan gagah dan berjas, gadis itu sangat mengenali suara yang ada di belakangnya
Para karyawan disana terkejut, dan mereka langsung memperbaiki penampilan mereka di hadapan sosok yang nampak sempurna itu, Gadis berdiri dan membalikkan tubuhnya
"Nick" Gandis terkejut karna selama ini ia menghindari Nick, bukan karna membencinya justru ia semakin tak dapat mengontrol dirinya entah ada perasaan apa terhadap musuh bebuyutannya itu
Kini mereka tengah duduk di sebuah kursi yang ada di taman kota, entah sudah berapa lama mereka membisu setelah keluar dari minj market tadi dan Nick yang membereskan semuanya.
"Kenapa kau selalu menghindariku? " ucap Nick datar dan tegas
"Aku.. "
"Tidak enak selalu merepotkan, bukan begitu?" Selah Nick ketika melihat keraguan di wajah Gandis
"Maaf"
Tiba-tiba Nick menarik tangan Gandis dan berjalan cepat membuat Gandis sedikit berlari
"Nick, tanganku sakit"
__ADS_1
__________________