Hijrahnya Almaira Ghilbert

Hijrahnya Almaira Ghilbert
Bab 44 : Makan Rujak


__ADS_3

Kedua orang di dalam mobil itupun hening...


Drrtt... drrtt... ponsel Nick bergetar, nick langsung memasang earphone dan menekan tombol hijau yang tertera di layar kecil yang menempel di mobil yang biasa kita sebut head unit


Kayla


["Om lagi dimana"]


Nick


"Lagi dijalan mau berangkat kerja sayang, knp?"


Kayla


["Kayla kangen, om udah lama gak ke rumah"]


Nick


"Iya sayang om minta maaf yaa.. In Syaa Allah kalau om sudah ada waktu luang om kesana"


Gandis hanya fokus menatap jalanan dan sesekali melihat ke arah Nick yang sedang menelpon, mungkin itu keponakannya karna terdengar ketika Nick memanggil dirinya dengan sebutan om


Panggilan pun berakhir dan tak terasa Nick sudah sampai di parkiran kantor Gandis, setelah melepas seatbelt "Makasih ya.."


Nick membalasnya dengan anggukkan... "Pulang jam berapa?" mendengar sebuah pertanyaan yang mengarah padanya Gandis mengehentikan kakinya yang sudah menuruni mobil "Jam 4"


Lalu turun dan mobil Nick meninggalkan pekarangan kantor Gandis, gandis pun memasuki kantornya setelah mobil Nick tak terlihat lagi "Aaiiih.. kemaren pulang sama pakde sekarang sama siapa lagi tuh?" pakde adalah panggilan bos mereka


Gandis memukul tangan Yuli, teman kantornya yang super ceriwis "Ngagetin aja!" sahutnya geram


"Kemaren itu lo tau sendiri kan gue lembur, krn pakde tau mengenai kejadian waktu itu beliau berinisiatif nganterin gue pulang" Gandis pun melengos malas meladeni teman satu divisinya itu


"Terus-terus yang barusan itu yang gak kalah ganteng dari pakde apa gak sengaja juga" tanya Yuli seraya menaik turunkan alisnya


"Terus kalo gue cerita gak sengaja juga lo bakal percaya gitu?" Gandis kini matanya mulai melotot


"Nggak hehee... biasa aja kali itu mata tar keluar loh" Ujar Yuli yang sengaja membuat Gandis kesal, krn udah lama gaj masuk kantor dirinya kesepian, terlebih saat libur Gandis lebih memilih berkumpul dengan Maira & Helna, sekarang aja karna kedua sahabatnya sudah menikah dan sudah mempunyai peran dan kesibukan masing-masing jadi mereka jarang bertemu.


_________________

__ADS_1


Maira kini fokus mengemudi sesekali melihat suaminya tubuhnya lemah "Mas apa mau makan sesuatu, tapi 0kis jangan yang aneh-aneh ya" pintanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan karna bisa bahaya


Fabian membuka matanya melirik sang istri sambil menggelengkan kepalanya tanda menolak


"Tapi mas harus tetap makan meskipun cuma sedikit" ujarnya penuh kekhawatiran, meskipun badan suaminya masih tampak gaga tetap saja perutnya kosong


"Aku mau makan rujak, itupun kalau boleh"


Maira membuang nafasnya berat, bagaimana tidak suaminya gak makan apapun tiba-tiba minta rujak yang dominan isinya sudah pasti asam dan pedas


Fabian menatap istrinya penuh harap sambil menakupkan kedua tangannya memohon "Yah pleasee..."


Maira pun tak bisa menolak, tak lama berhenti di pertigaan lampu merah dan disana terlihat tuka rujak di gerobak yang di dorong, lalu maira memanggilnya "Pak sini pak.."


Tukang rujak itupun menghampirinya "Mau berapa porsi neng? di bungkus atau makan disini?"


"mau 2 di bungkus ya pak, dan jangan terlalu pedas ya.. sedeng aja" ujar Maira yang sesekali melihat suaminya di dalam mobil masih duduk di tempatnya dengan kondisi masih terkulai lemas


Setelah selesai dan membayar kini Maira kembali melajukan mobilnya karna sudah tak jauh lagi mereka sampai, Maira melihat pintu gerbangnya terbuka lebar dan ada mobil yang tak asing di hadapannya


Iapun memasuki garasi, "Assalamualaikum" ucap Maira ketika pak Awaludin security rumah mereka membukakan pintu.


"Oh ya.. makasih ya pak, kami masuk dulu" sahut Maira tak kalah ramah terlihat dari mata dan nada suaranya.


Maira mengapit tangan Fabian memasuki rumah mereka, lalu di sambut sang kaka dan kaka ipar sekaligus sahabatnya "Assalamualaikum" ucap Maira dan di jawab bersamaan oleh sepasang pengantin baru itu


Mereka pun salaman dan saling berpelukan singkat "Duuuh.. Pengantin baru, udah honeymoon belum?" senggol Maira pada tangan Helna, sontak membuat mata Helna terbelalak dengan ledekan adi iparnya


"Mas kan baru cuti pernikahan jadi belum bisa ambil cuti lagi dalam waktu yang lama" jawab Hasan menimpali pertanyaan adiknya


"Eumm... " Maira menganggukkan kepalanya


Hasan melihat keadaan Fabian sedikit berantakan, selama ini selalu melihat laki-laki itu tampak gagah dan berwibawa namun kali ini sangat berbeda "Jadi Fabian sakit apa may?" Ujar Hasan melihat adik membawa 2 piring rujak


Hasan & Helna saling pandang "Sakit sindrom cauvade kata dokter" jawab Maira singkat


"Sakit apaan itu May?" tanya Helna penasaran


"Searching aja di mbah gugel ribet jelasinnya" sahut Maira ingin memberi pada kedua kaka di hadapannya

__ADS_1


Lalu Maira duduk dan membenarkan posisi suaminya agar nyaman ketika makan rujak, kedua pasang mata sedang menatap mereka tak percaya "Ini juga efek dari sakitnya May?" tanya Hasan penasaran "Yah begitulah" sahut Maira


Helna yang penasaran kini tengah mencari tahu di mbah gugel seperti saran adik iparnya itu setelah ia baca beberapa saat, lalau iya membuka matanya lebar-lebar dan membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya "Kenapa sayang?" tanya Hasan


"Mas baca aja sendiri" Helna menyodorkan ponsel genggamnya pada sang suami


Hasan tak kalah terkejut "Jadi suamimu ngidam dan kamu may??..."


Tatapan Hasan dan Helna kini terfokus pada Fabian yang sangat menikmati rujaknya, jangan tanya bagaimana saliva ketiga orang yang sedang menyaksikannya makan rujak seperti nikmat padahal mangga muda itu sangat masam ketika Maira mencobanya tadi sedikit.


Maira menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis dan mengedip-ngedipkan matanya dengan gaya imut, Maira sudah tak memakai cadar karna 2 kedua laki-laki di ruangan itu mahromnya semua.


"Maa syaa Allah Alhamdulillaah... Selamat ya May aku ikut seneng dapat kabar ini" Helna memeluk Maira erat


"Inget ya.. itu anakku juga loh, kalian tak memberikan selamat juga padaku?" ketiganya menatap Fabian yang bergeming di tempatnya dengan tetap fokus makan rujak


Hasan terkekeh mendengarnya "Iya iyaa.. selamat ya, kalian sebentar lagi akan jadi orang tua, semoga Mas juga nyusul" Hasan menepuk pundak Fabian


"Aamiin.." Sahut Fabian dan Maira bersamaan, jelas Helna juga mengaminkannya di dalam hati


Biasanya yang ngidam itu bumil ini jadi Pamil" Hasan terkekeh melihat pemandangan kedua adiknya


"Apa bunda & daddy sudah tau berita kehamilanmu May?" tanya Hasan dan di jawab gelengan kepala oleh sang adik


"Loh kenapa, jangan bilang Om Lukman dan tante Sintia juga belum tau?" cecar Hasan dan benar saja itu ia mendapat jawaban yang sama dari adik kandung dan adik iparnya itu


"Kenapa May.. ini kabar gembira loh dan Mas yakin mereka pasti akan senang mendapat kabar ini"


"May sama Mas Abi mau kasih kejutan, nanti setelah mas Abi enakan kita akan undang mereka makan san kalian juga, aku juga mau undang Gandis, tiba-tiba aku merindukannya" tatapannya tiba-tiba sendu


karna jujur saja sejak mereka menikah mereka jarang sekali bersua, paling hanya bertukar pesan itupun jarang karna mereka memiliki kegiatan masing-masing terlebih sekarang Helna juga menyandang status barunya sebagai seorang istri


____________


Assalamualaikum...


terima kasih yang sudah setia mampir baca novel perdana othor yang masih amatiran ini


jangan lupa selalu dukung ya, dengan like, komen yang baik-baik dan membangun, gift sam votenya juga

__ADS_1


love U all ❤️


__ADS_2