
"Hiiiks... hiikksss" Suara tangis di balik pintu semakin kencang
Tok
tok
tok
"Sayang.. mas minta maaf, buk.."
Pintu perlahan terbuka "Bukan maksud mas bilang seperti itu.. iya kan?" Maira memotong ucapkan suaminya, Fabian yang terheran-heran melihat tingkah istrinya, sebentar marah, sebentar ngambek, sebentar nangis, pasti bentar lagi ketawa ini _batin Fabian_
"i-iya.. kan Mas memang tidak bermaksud seperti itu sayang" tiba-tiba tangisnya semakin kencang hingga membuat Bi Asih dan art lainnya menghampiri
"Non Maira kenapa?" tanya Bi Asih dan Fabian uang melihat istrinya di kelilingi orang serumah hanya menepuk jidatnya
"Bibii... Hiks hiikss huuaaaa...." mata Fabian semakin membesar melihat tangis istrinya semakin kencang
"Mana yang sakit, apa kita periksa ke dokter" Segera Maira menggelengkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan itu dari bi Asih "Lah itu iki piye?" bi Asih semakin dibuat bingung
__ADS_1
"Saya lapar Bi.. mas Abinya gak peka" kini air mata dan ingus berlomba-lomba meluncur keluar dari tempat persembunyiannya, Fabian membelalakan matanya, Bi Asih dan art lain yang ada disana hanya bisa senyum menahan tawa mereka, andai tidak ada siapa-siapa mungkin mereka sudah terbahak-bahak
"Udah urusin aja Bi, saya mau mandi" Fabian berlalu memasuki kamarnya
"dasar laki-laki gak peka! nyebelin!" Ujar Maira ketika melihat suaminya berlalu memasuki kamarnya mereka
Fabian gak habis pikir apa seperti itu mood ibu hamil "Wanita oh wanita, aku tak mengerti maumu tapi kamu mengerti apa mauku" ia terkekeh pada diri sendiri
Bi Asih masih aneh melihat tingkah nyonya nya itu, sikapnya tak seperti biasanya, apa mungkin ini bawaan hamil ya _batin bi Asih
________________
Pulang dari mesjid, mengucapkan salam namun tak kunjung di jawab oleh wanita yang biasa menunggunya di teras rumah
"Enak?" yang sedang di tanya pun hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun, ia fokus dengan makanannya seakan takut ada yang mengambilnya
"Makannya pelan-pelan" cicit Fabian yang melihat istrinya yang seperti sudah lama gak nemu makanan, setelah sekian lama Fabian duduk di sampingnya "Mas mau makan" Fabian hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum pada istrinya ada rasa bahagia juga haru melihat istrinya sedang makan
_Sebentar lagi aku akan jadi ayah, ku titipkan kalian pada Allah, karna Mas tidak akan selalu di sampingmu_ batinnya
__ADS_1
"Mas.. maaas..." entah dari kapan sang istri memanggilnya dan menggoyangkan bahunya
"Oh iyaa.. kenapa?" Jawab Fabian kebingungan ketika sang istri tengah menatapnya "Mas kok ngelamun?" dan menatap manik-manik sang suami seperti ada sesuatu yang di sembunyikan
Kini Fabian memutar kursi menghadapkan Maira dengannya "Mas sangat mencintaimu sampai kapanpun"
Maira berkaca-kaca masih dengan mulut yang di penuhin makanan, kedua pipinya menyembul.. Fabian terkekeh melihat tingkah sang istri dari hari jadi lucu
Fabian mencium keningnya begitu lama dan mengelus perutnya yang masih rata namun sedikit lebih keras
"Mbbb.. mbb.." perutnya kini terasa seperti di ubek-unek kembali setelah kedatangan Bi Asih bawa makanan tambahan ke meja
Fabian langsung lari ke wastafel yang ada di dapur, Dan memuntahkan rujak yang tadi ia makan, jelas tenggorokan terasa sangat panas karena muntahan dari rujak tadi
Maira menghampirinya dan memijat lembut tengkuk sang Suami, tidak tega rasanya melihat suaminya tersiksa seperti itu, nafsu makannya pun menjadi buruk, apa lg setelah mendengar dari dokter obgyn bahwa ini akan berlangsung selama trimester 1 lebih tepatnya selama 4 bukan normalnya
Maira memapah Fabian agar segara istirahat di kamar "Mas mau jus atau apa gitu yang seger-seger setidaknya ada yang masuk sedikit saja makanan"
Fabian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia melihat Maira membawa Madu jahe, teh hangat dan buah-buahan dalam piring yang sudah di potong-potong bi Asih
__ADS_1
"Mas gak mau apa-apa sayang masih kuat kok, bahkan kalau kamu mau mas masih bisa melakukannya"
------------