
Ayana tidak bermimpi menjadi Ashlyn. Dia benar-benar menjadi Ashlyn dan sekarang entah bagaimana setelah hampir dibunuh oleh orang yang kebetulan sekarang juga duduk di sisinya, Ashlyn merasa sangat tidak nyaman dan semakin merasa tidak nyaman saat menyadari bahwa dia duduk mengelilingi meja bundar yang setiap kursinya diisi oleh orang-orang jahat.
Wanita gemuk dengan bau rokok itu mengatakan bahwa ini adalah tempat paling aman bagi orang-orang jahat dan sangat yakin bahwa para penjaga Kerajaan tidak akan bisa menemukan tempat ini.
Bahkan wanita gemuk yang suka tertawa itu mengucapkan selamat datang pada Ashlyn di komunitas orang-orang jahat.
Oh, yang benar saja. Dia memang masuk ke dalam tubuh tokoh antagonis, tapi dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa dia akan berada di dalam situasi seperti ini.
Awalnya dia tidak nyaman dan takut berada di sekitar orang-orang jahat dan berpikir kejahatan apa yang telah mereka perbuat sehingga bisa masuk dalam komunitas orang jahat. Namun, yang membuat Ashlyn ketakutan adalah dia duduk di samping pria yang baru saja akan membunuhnya dengan mencekik lehernya.
Saat Ashlyn duduk di samping pria itu, bokong Ashlyn seperti menduduki kursi berduri yang membuatnya tidak nyaman dan ingin segera pergi, melarikan diri.
Namun, setelah duduk beberapa saat dan mendengar orang-orang ini berbicara, Ashlyn merasa ketegangannya mulai berkurang dan dia mulai sadar bahwa ada hal yang perlu ditulis dengan huruf tebal dan digaris bawahi.
Orang-orang jahat berasal dari orang baik yang disakiti.
Ah, jadi bagaimana Ashlyn tiba-tiba bisa menyimpulkan hal ini. Tentu saja dari kasus Ashlyn sendiri dan sekarang ditambah dengan kisah-kisah orang jahat di komunitas ini.
Wanita gemuk itu menceritakan bahwa dirinya dulu dijodohkan dengan seorang pria, dia sangat mencintai pria itu. Namun, setelah pernikahan, pria itu mencampakannya dan hanya ingin menguasai hartanya, pria itu menghina penampilannya dan berselingkuh di depan matanya. Itu membuat sang wanita marah dan menggunakan pisau buah untuk mencoreng wajah tampan suaminya yang selalu dia banggakan dan membuangnya di jalan.
Wanita itu tertawa keras, "Dia pikir aku wanita lemah, aku terlalu baik untuknya dan sudah mau menikahinya, tapi dia berani mengatakan hal itu di depanku saat dia tahu statusnya lebih rendah dariku. Ha, sekarang setelah aku membuat luka di wajahnya, bahkan gadis jalanan sekalipun tidak akan mau mendekatinya, dan ya ... setelah itu aku sedikit kecanduan, aku tidak tahu apakah aku menjadi seorang psikopat atau tidak tapi aku suka memburu laki-laki yang suka menyakiti hati istrinya. Hahahaha."
Saat mendengarkan hal itu, Ashlyn tidak bisa untuk tidak merinding dan merasa itu sangat kejam.
Ashlyn kemudian mendengar cerita dari beberapa orang yang duduk di meja bundar. Salah satunya adalah pria yang entah kenapa memiliki aroma kopi yang kuat.
Pria itu menceritakan bahwa ayahnya dibunuh saat dia masih kecil oleh orang-orang kaya yang mabuk. Ayahnya tidak mendapatkan keadilan dan dia harus hidup menderita bersama ibunya setelah kepergian ayahnya. Jadi, setelah dewasa dia belajar keras untuk bisa membalas dendam dan itu berhasil saat dia menjadi salah satu pekerja di salah satu kediaman pelaku yang membunuh ayahnya dan itu adalah awal dari pembunuhan berantai yang dia lakukan.
Ashlyn kembali menelan ludah dan terus mendengarkan orang lain bercerita. Namun, karena mendengarkan cerita dari orang-orang jahat ini secara langsung, Ashlyn dapat merasakan apa yang mereka rasakan dan dapat mengerti perasaan mereka.
Mereka adalah orang-orang yang terluka hatinya dan mencoba menuntut keadilan dengan cara mereka sendiri. Tanpa sadar senyum Ashlyn mengembang dan membuat Edmund yang sejak tadi terus memperhatikan Ashlyn mengernyitkan alisnya.
Apa yang gadis jahat ini pikirkan hingga tersenyum seperti itu setelah mendengar hal-hal keji yang dilakukan oleh orang-orang jahat ini.
Ah, benar! Orang jahat selalu mendukung orang jahat juga! Gadis ini pasti bahagia saat mendengar orang-orang ini menceritakan kejahatan mereka dan kekejaman mereka.
Namun, Ashlyn tiba-tiba berkata.
"Yah, sejak awal dunia ini memang terasa tidak adil bagi sebagian orang."
Seketika meja yang tadinya cukup ramai menjadi diam dan seluruh perhatian terarah pada Ashlyn. Jujur ini membuat Ashlyn tertekan meski dia buta, tapi dia tetap bisa merasakan hal itu. Namun, sebagai Ashlyn yang jahat dia harus menunjukkan ketenangannya, jadi dia meneruskan.
"Aku menyadarinya saat ayahku tiba-tiba menikah lagi tanpa meminta izin dariku, saat itu aku sadar bahwa aku sama sekali tidak dianggap oleh orang yang selama ini begitu aku hormati dan sangat aku sayangi."
Ashlyn kemudian mulai menceritakan bagaimana kehidupannya setelah ayahnya menikahi Arabella sesuai dengan novel aslinya.
"Ibu tiri hanya mencintai ayahku saja dan saat dia hamil, dia semakin besar kepala. Merasa dirinya adalah penguasa, pemilik mansion Daren Lynx, dan membuat putrinya Annabel yang sok suci itu mengambil segalanya dariku."
Saat Ashlyn mengatakan hal ini, Edmund tidak bisa untuk tidak mengernyitkan alisnya. Gadis jahat ini pasti hanya ingin menjelek-jelekkan Annabel di depan orang-orang jahat yang kini sepertinya telah menjadi temannya, dan karena inilah Edmund tidak bisa bergerak untuk mencekik orang yang berani menghina Annabel. Jika dia mencoba mencekik Ashlyn, orang-orang ini pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan membunuhnya lebih dulu.
Jadi, Edmund hanya bisa menghela napas dan mengepal tangannya erat-erat, mau tidak mau mendengarkan apa yang mereka bicarakan termasuk apa yang Ashlyn bicarakan.
"Saat pertama kali datang ke Mansion Daren Lynx, anak itu seperti terpesona melihat kemewahan Daren Lynx, dia terpesona dengan segala hal, termasuk kamarku. Dia dan aku baru pertama kali bertemu, tapi dia sudah berani bersikap sok akrab denganku bahkan dia dengan berani mengatakan kau adalah kakakku, jadi bisakah kau memberikan kamar ini untukku?"
Ashlyn tidak bisa untuk tidak mengumpat, bahkan Annabel sejak kecil sudah memiliki sifat menyebalkan seperti itu.
"Aku menolaknya, dan ibunya yang memohon padakau. Ah, tidak wanita itu mengambilnya dariku dengan alasan aku lebih tua dari Annabel, aku harus mengalah padanya. Hei, yang benar saja, memangnya siapa mereka, betapa tidak tahu malunya mereka. Mereka tidak memiliki darah Daren Lynx di tubuh mereka dan berani mengatakan hal itu, aku sangat kesal, tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk memberikannya, karena aku tidak suka berdebat dan membuat keributan."
__ADS_1
Edmund di dalam hati meludah, tidak suka berdebat dan membuat keributan? Pei, gadis ini mencoba menipu dunia, jelas gadis jahat ini suka berdebat dan bahkan lebih suka memarahi Annabel untuk alasan sepele.
Ashlyn melanjutkan. "Namun, dikasih hati mereka justru meminta jantung, setelah berani sok akrab denganku dan meminta kamarku, anak itu mulai mengikuti kemana-mana seperti pengganggu kecil yang menyebalkan dan sangat menyebalkan karena apa yang aku sukai dia akan menyukainya, dan wanita itu akan mengambilnya dariku untuk Annabel. Lagi-lagi dengan alasan yang sama, dia bilang aku adalah anak tertua yang harus mengalah."
Ashlyn tertawa kesal. "Aku lelah dengan alasan seperti itu dan aku mulai membenci mereka. Ah tidak, aku sudah membenci mereka sejak awal tapi aku masih mencoba untuk bersabar karena mereka adalah anggota keluargaku, setidaknya ayah memang menikahi wanita itu. Namun, aku tidak suka jika mereka terus menggangguku dengan alasan kuno seperti itu dan terus membuatku kesal, jadi aku mengabaikan mereka dan bersikap sedikit kasar pada mereka. Aku bahkan mengusir Annabel dan memintanya untuk tidak mendekatiku lagi, baru setelah itu aku merasakan ketenangan. Sampai bencana itu muncul."
"Seperti yang aku katakan, anak itu selalu menyukai apa yang aku sukai dan mencoba merebutnya dariku. Jadi, saat aku menyukai Putra Mahkota, dia juga menyukainya dan dia berhasil mendapatkannya. Itu membuat kekesalah yang menggunung setelah bersabar selama bertahun-tahun untuk semua hal yang mereka rebut dariku akhirnya aku tidak bisa menahannya lagi. Kemarahanku memuncak dan meletus begitu saja seperti gunung berapi."
"Dunia ini begitu tidak adil, aku dulu berpikir seperti itu karena semua yang aku miliki, bahkan hingga apa yang seharusnya menjadi milikku, mereka mengambilnya dan merebutnya dariku."
Ashlyn menghela napas.
"Aku sangat marah dan saat itu aku berpikir aku tidak perlu bersikap sabar lagi, aku harus mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku dan tidak akan membiarkan mereka mengambil milikku lagi. Dulu ... aku mungkin seperti orang gila yang mulai bersikap kejam dan suka membentak, memarahi dan memukuli orang. Dan berita buruk tentangku segera menyebar. Mereka bilang aku memukuli Annabel, mereka bilang aku menyiksa Annabel, mereka bilang aku ingin membunuh Annabel. Omong kosong sialan siapa yang memiliki mulut untuk menyebarkan berita itu aku benar-benar ingin menangkap mereka dan menarik mulut mereka serta mengikat mulut mereka dengan tali agar mereka tidak bisa berbicara lagi!" Ashlyn berkata dengan marah dan menggebu-gebu.
"Menyiksa, memukuli dan membunuh Annabel, pantatku! Apa mereka semua buta, Annabel baik-baik saja, setiap kali aku mencoba membuatnya terluka selalu ada orang lain yang menggantikan posisinya, entah itu Putra Mahkota, Peter dan Edmund, mereka selalu ada untuk melindunginya!"
"Bahkan dua orang bodoh Peter dan Edmund!"
Ashlyn berkata demikian, tapi Edmund yang duduk di sebelanya tidak bisa untuk tidak mengehela napas untul menahan amarah saat menatap Ashlyn. Jadi, di depan gadis jahat ini dia adalah orang bodoh!
Kaulah satu-satunya orang bodoh di dunia ini!
Namun, Edmund merasa ada yang aneh dengan Ashlyn, gadis itu masih mengingatnya, tapi kenapa dia tidak mengenalinya sekarang. Apa gadis ini sedang berpura-pura?
"Mereka berdua rela melindungi gadis yang bahkan tidak akan membalas cinta mereka. Orang-orang itu bahkan bahagia hanya dengan ucapan terima kasih setiap kali mereka menggantikan posisi Ashlyn meskipun harus menderita dengan banyak pukulan di tubuh mereka. Aku tidak tahu mereka itu cinta buta pada Annabel atau mereka sebenarnya sudah gila. Untuk apa rela mengorbankan tubuh dan nyawanya untuk dipukuli dan menyelam di danau selama berhari-hari sampai tubuh mereka menggigi dan berdarah-darh untuk gadis yang bahkan tidak akan menerima cinta mereka. Ai, mereka benar-benar bodoh sampai ke ubun-ubun, cinta memang tidak harus memiliki, tapi jika itu sampai mengorbankan nyawa, untuk apa mencintainya, memangnya tidak ada gadis lain di dunia ini selain Annabel?"
Ashlyn menggeleng-gelengkan kepalanya dan orang-orang di meja itu mulai tertawa sementara Edmund menjadi satu-satunya orang yang berwajah suram karena semua kata-kata itu berhasil menusuk hatinya.
Dia sangat mencintai Annabel dan hanya ingin Annabel bahagia, dia akan melindunginya dan rela mengorbankan nyawanya meskipun pada akhirnya dia tidak bisa memilikinya.
Tidak apa, asal Annabel bahagia.
Edmund menatap Ashlyn dan tidak bisa untuk tidak bertanya. "Bukankah kau juga orang gila yang bodoh, kau sudah tahu bahwa Putra Mahkota tidak mencintaimu, tapi kau masih berusaha mendapatkannya dengan menyakiti Annabel."
Alis Ashlyn bertaut saat mendengar hal ini dan tidak bisa untuk tidak berpikir siapa sebenarnya pria ini, kenapa sepertinya pria ini sangat membela Annabel, apakah pria ini juga salah satu penggemar Annabel?
Tsk! Kalau benar begitu biar Ashlyn beri tahu pada penggemar malaikat buangan itu. "Ya, aku gila dan aku benar-benar bodoh."
Jawaban itu mengejutkan Edmund, bahkan tidak hanya Edmund bahkan orang-orang dalam kumpulan orang jahat itu juga terkejut.
Wanita gemuk itu bernama Shopia dan dengan halus mengusap pundak Ashlyn yang duduk di sebelahnya.
"Tidak, Lady Ashlyn. Kau telah melakukan hal yang benar. Selama ini aku hanya mendengar kejahatan yang kau lakukan di dalam mansion, aku dengar kau memecat para pelayan yang membela Annabel, kau juga memukuli mereka, bahkan aku dengar kau sengaja menyiram Annabel dengan segelas anggur, ah kejahatanmu, aku selalu yakin kau memiliki alasan untuk melakukan hal itu, kau pantas membenci mereka dan menghukum mereka karena telah mengambil hakmu. Sebenarnya kau terlalu sabar, Lady Ashlyn. Jika itu aku, aku sudah menumpahkan minuman keras di wajah mereka agar mereka sadar dari mana mereka berasal."
Ah, usulan ini cukup mengerikan, tapi tiba-tiba pria berbau kopi itu tiba-tiba memberikan usulan yang lebih mengerikan lagi.
"Jika itu aku, aku sudah membunuh mereka sejak awal. Jika mereka mati, aku tidak perlu melakukan hal-hal picik yang sepele seperti ini."
Bibir Ashlyn berkedut, ah benar-benar orang-orang jahat ini, akan buruk jika dia terus berada di sini, dia mungkin akan terkontaminasi dengan pemikiran keji mereka. Tidak, dia tidak bisa terjun ke dalam lubang hitam penuh kegelapan ini, jika dia mendengarkan usulan mereka, bagaimana bisa dia hidup dengan tenang di dunia novel ini.
Sementara Edmund di sisinya benar-benar khawatir bahwa gadis jahat ini akan mendengarkan saran mereka, dan sudah berpikir apakah dia harus membunuh gadis ini segera setelah mereka keluar dari tempat ini?
Edmund takut jika dia tidak melakukannya maka Annabel mungkin benar-benar dalam bahaya.
Namun, Ashlyn tiba-tiba tersenyum dan mengetuk-ngetuk meja, dia berkata, "Sebenarnya jika sejak awal aku tidak menyelamatkan Putra Mahkota, ini tidak akan terjadi. Bukankah seharusnya aku mendorongnya saja kembali ke laut agar dia dimakan ikan atau tenggelam di sana dan bukan menyelamatkannya."
Ashlyn kembali tersenyum pahit, dia benar-benar merasa pahit untuk tokoh Ashlyn. "Aku yang menyelamatkannya, tapi apa yang aku dapat, mereka mempermalukanku dan ayahku menamparku di depan umum. Membuatku buta sehingga orang-orang mulai berpikir bahwa aku telah dibuang oleh ayahku sendiri. Duke Damien Daren Lynx yang terhormat."
Ashlyn kembali tertawa pahit. "Mereka mulai merendahkanku bahkan mereka sudah berani mengacungkan pedang padaku, tidak hanya itu seseorang bahkan mencoba mencekikku hari ini. Ah, benar-benar miris."
__ADS_1
Ashlyn menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Edmund merasa tidak nyaman. Gadis jahat ini sebenarnya mengungkit masalah ini, apa gadis jahat ini berencana membukanya di depana orang-orang jahat ini agar dirinya bisa dipukuli hingga mati.
Tangan Edmund mengepal erat dan dia memggertakkan gigi, tadi seharusnya dia membunuh orang ini apa yang terjadi, dan bukan menyelamatkannya, sial. Namun, tiba-tiba dia melihat wajah Ashlyn yang sendu, matanya yang abu-abu, bulu matanya yang berwarna abu keperakan terkulai lemah, wajahnya yang putih pucat serta bibir pucatnya yang tersenyum tiba-tiba membuat suara, tidak mengizinkan orang lain untuk memotong ucapannya.
"Sepertinya amarahku dan kebencianku pada Annabel dan semua perbuatan yang aku lakukan selama ini secara tidak sadar membuat orang lain menjadi jahat."
"Hari ini, saat dia mencekikku aku sadar betapa bodohnya aku dulu hanya demi melampiaskan amarahku pada Annabel, aku melukai banyak orang, dengan egois tidak memikirkan perasaan mereka dan membuat mereka menyimpan dendam padaku, bukankah aku secara tidak langsung membuat orang yang hampir membunuhku ini menjadi seorang kriminal karena akan membunuh orang?"
Ashlyn terdiam, tapi entah kenapa meja itu tiba-tiba sepi dan Ashlyn kembali tersenyum, dia berkata. "Dendam hanya akan menghasilkan dendam yang lain dan saat ayahku menamparku sampai aku menjadi buta, aku sadar bahwa semua yang aku lakukan adalah sia-sia. Putra Mahkota tidak akan pernah mencintaiku dan Annabel, aku tidak mungkin bisa melukainya sampai kapanpun karena dia begitu dilindungi. Haaah." Ahslyn menghela napas panjang.
"Tanpa sadar, selain membuat orang lain menyimpan dendam padaku, aku juga telah membuang-buang waktu."
Saat mendengar ini, orang-orang yang duduk di meja bundar menatap Ashlyn termasuk Edmund. Bahkan Edmund berpikir bahwa gadis jahat ini akhirnya tidak hanya menjadi buta setelah ditampar, tapi juga menjadi gila sehingga kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya.
Wanita gemuk yang berbau rokok itu kemudian bertanya, "Lalu, apa kau akhirnya akan menyerah, Lady Ashlyn?"
Belum sempat Ashlyn menjawab. Orang lain sudah menimpali dengan nasehat lain, "Lady Ashlyn, kau sebaiknya tidak menyerah begitu mudah hanya karena kau menjafi buta, jika kau menyerah, merekalah yang akan bahagia dan semua penderitaanmu selama ini tidak akan pernah terbalas."
Wanita lain di meja itu juga setuju, "Itu benar, Lady Ashlyn kau sebaiknya tidak menyerah dan terus berusaha membuat saudari tirimu menderita, dia sebenarnya benar-benar keterlaluan. Racuni saja dia atau dorong dia dari atas tangga."
Pria berbau kopi menganggukkan kepalanya dan berkata, "Atau kau bisa menyuruhku untuk membunuhnya, aku tidak keberatan. Aku akan memasukkan dia ke dalam daftar korbanku. Orang-orang seperti mereka pantas mati."
Saat mendengar hal ini Edmund sangat marah. Beraninya mereka mengatakan hal-hal mengerikan itu bahkan berencana untuk membunuh Annabel. Gadis jahat ini ... dia benar-benar menyesal tidak membunuhnya saat dia memiliki kesempatan.
Ashlyn sendiri juga merasa ngeri dengan ide-ide yang keluar dari mulut mereka. Namun, perlahan-lahan setelah berinteraksi dengan mereka, Ashlyn bisa memahami jalan pikiran mereka dan tidak bisa untuk tidak tersenyum lemah.
Dunia ini memang terkadang tidak adil bagi beberapa orang, dan memang, ketika seseorang terpancing emosinya karena peristiwa pahit, maka ia seolah memiliki keberanian seratus orang. Balas dendam memang tidak dianjurkan, tapi ketika keadilan tidak didapatkan dengan layak, maka cara yang paling logis untuk memberikan hukuman adalah dengan melakukan balas dendam.
Lagi pula ada ungkapan bahwa mereka yang tersakiti tidak akan puas jika tidak membuat orang yang menyakitinya menderita dengan tangannya sendiri. Karena itulah kadang banyak kasus balas dendam yang mengerikan seperti pria berbau kopi ini misalnya, dia menjadi pembunuh berantai untuk membalas kematian ayahnya.
Namun, bukankah ada ungkapan lain ...
"Siapa yang bilang aku akan menyerah?" Ashlyn berkata penuh dengan percaya diri. Membuat Edmund yang mendengarnya terkejut dan menahan amarah, gadis jahat ini belum menyerah. Apa itu artinya kejahatan Ashlyn pada Annabel akan terus berlanjut?
Edmund berpikir bahwa dia harus mencari kesempatan untuk membunuh Ashlyn setelah mereka keluar dari tempat ini.
"Belum menyerah? tapi kau bilang semua yang kau lakukan adalah sia-sia, apa kau memiliki rencana baru untuk membuat saudari tirimu menderita?" Wanita gemuk itu terlihat penasaran, sama halnya dengan semua orang yang ada di sana.
Ashlyn tersenyum dan mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. "Apa kalian pernah mendengar ungkapan bahwa menjadi sukses adalah cara balas dendam terbaik?"
Mereka terdiam, ini adalah pertama kalinya mereka mendengar kata-kata seperti itu.
Ashlyn kemudian melanjutkan, "Jika seseorang menghinamu karena lemah, maka jadilah kuat, jika seseorang menghinamu karena miskin maka jadilah kaya, jika seseorang menghinamu karena bodoh maka jadilah pintar, dan jika seseorang mencampakanmu tunjukan padanya bahwa kau tidak membutuhkannya dan bisa mendapatkan yang lebih baik darinya. Pada dasarnya ini adalah ungkapan untuk membuat kita menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik, kita harus berada di atas mereka yang merendahkan dan menyakiti kita. Saat kita berada di puncak, mereka akan berlutut di bawah kaki kita dan mengangkat kepala mereka untuk melihat kita dengan perasaan kagum, iri, dengki dan mungkin menyesali perbuatan mereka, sementara kita bisa menatap mereka dari atas dengan puas dan dengan senyuman menghina karena kita telah menjadi lebih baik dari mereka."
"Akan aku tunjukan bahwa aku akan hidup lebih baik dari Annabel dan akan mendapatkan pria yang seratus kali lebih baik dari Putra Mahkota, akan aku buat mereka melihat dengan penuh penyesalan, kekaguman dan keirian, dan akan aku pastikan mereka akan selalu berada di bawah kakiku."
Wanita gemuk berbau rokok itu tampak berbinar-binar mendengarkan penjelasan Ashlyn, "Ah, aku baru tahu ada cara balas dendam yang seperti ini. Ini terdengar bagus, membuat mereka menyesal dengan cara seperti itu sepertinya layak dicoba, Lady Ashlyn aku akan mendukung keputusanmu."
"Ah kami juga akan mendukungmu, Lady Ashlyn. Buat mereka yang menyakitimu menyesal dan temukan orang yang lebih baik dari Putra Mahkota. Kau pantas untuk bahagia, Lady Ashlyn."
Ashlyn berterima kasih untuk dukungan mereka dan Ashlyn juga tidak ragu memberi mereka motivasi.
"Kalian juga pantas untuk bahagia, teman-teman. Kalian mungkin juga harus mencoba cara ini daripada menyiksa diri dengan berbuat jahat dan melarikan diri seperti ini."
Mereka kemudian tertawa dan memikirkan kata-kata Ahslyn di dalam pikiran mereka. Meski ada beberapa yang menolak seperti pria berbau kopi yang telah menjadi pembunuh berantai itu, dia bilang dia akan melanjutkan kegiatannya sampai semua orang yang terlibat dalam pembunuhan ayahnya tewas.
Ashlyn hanya bisa tersenyum tipis untuk itu dan berharap pria itu baik-baik saja dan segera mendapatkan petunjuk untuk sadar.
Setelah itu, Ashlyn diminta menginap sampai pagi sebelum diperbolehkan untuk pergi di pagi hari bersama Edmund.
__ADS_1