
Ashlyn berjalan tanpa alas kaki setelah mengetahui rencana Duke Damien dari Carolin.
Tidak memedulikan bagaimana penampilannya saat ini yang hanya mengenakan piyama dan rambut yang belum dirapikan, Ashlyn berjalan melewati lorong dan menuju ke halaman utama.
Duke Damien sudah gila, jika dia ingin menjadi orang yang haus darah kenapa pria itu harus menggunakan dirinya sebagai alasan! Sialan bahkan jika niat Duke Damien hanya ingin menghukum orang yang telah membuat Ashlyn keracunan, tidak bisakan Duke Damien yang selalu disanjung oleh semua orang bisa bersikap lebih baik dari orang dungu yang bersumbu pendek.
Mengulum kemarahannya, Ashlyn tidak bisa untuk tidak marah. "Tidak bisakah dia menyelidikinya lebih dulu dan bukan asal potong leher orang! Itu leher manusia! Leher manusia!"
Ashlyn semakin mempercepat jalannya, tidak peduli jika kaki telanjangnnya merasakan dinginnya lantai marmer dan membuat Carolin mengikutinya dengan tergesa-gesa sambil membawa syal kuning keemasan bermotif kupu-kupu untuk Ashlyn.
Bagaimanapun juga penampilan majikannya saat ini, dia hanya mengenakan piyama tidak lebih, bagaimana bisa majikannya tiba-tiba turun dari tempat tidur tanpa memedulikan penampilannya dan pergi ke halaman tempat semua orang berkumpul, dan membiarkan semua orang melihat penampilannya yang seperti itu.
Apa yang akan orang-orang katakan tentang majikannya?
"La-lady Ashlyn, tenanglah. Kau harus mengganti pakaianmu lebih dulu." Carolin berjalan dengan terburu-buru, hampir berlari untuk mengimbangi Ashlyn.
"Apa sekarang waktu yang tepat untuk berganti pakaian! Aku harus segera sampai ke halaman utama untuk memarahi seseorang sekarang!" Ashlyn berbicara begitu cepat dan dengan suara keras yang membuat Carolin terhenyak ketakutan.
Sementara itu di luar, panggung sudah didirikan, dua guillotine sudah ditempatkan di atas panggung dan banyak orang berkerumun mengelilingi panggung. Pagi itu, adalah satu-satunya pagi dimana halaman utama kediaman Daren Lynx dipenuhi oleh orang-orang dari segala lapisan masyarakat, mulai dari orang biasa hingga aristokrat dan anggota Kerajaan datang dengan undangan dari Duke Damien.
Duke sangat marah saat Ashlyn kembali hari itu dalam kondisi tidak sadarkan diri, wajahnya pucat dan berkeringat, dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa Ashlyn keracunan makanan dan itu membuat Ashlyn tidak sadarkan diri.
Duke Damien sangat mengkhawatirkan kondisi Ashlyn, tapi dia lebih marah pada fakta bahwa Ashlyn ternyata telah diracuni oleh seseorang.
Putrinya yang malang, dia hanya ingin makan di luar karena merasa tidak nyaman berada di rumahnya sendiri. Namun, setiap kali dia pergi ke luar untuk makan, putrinya selalu hampir kehilangan nyawanya.
Orang-orang tidak tahu diuntung itu benar-benar telah melewati batas, betapa beraninya mereka mencoba mengacungkan pedang dan meracuni Ashlyn saat mereka tahu Ashlyn adalah putrinya, putri seorang Duke yang telah melindungi mereka selama ini.
Beginikah cara mereka membalas kebaikannya selama ini? Membunuh puterinya!
Orang-orang inilah yang sedang mencari kematian dalam kemurkaannya. Duke Damien segera menyelidiki apa yang terjadi, para kesatria yang menemani Ashlyn bahkan Carolin dia interogasi untuk mengatakan segalanya dan dia menemukan bahwa Carolin hanya pergi kedua tempat.
Pertama adalah toko kue ikan, tapi Carolin mengatakan Ashlyn tidak menyukai kue ikan itu dan membuangnya setelah satu gigitan. Setelah itu Ashlyn bertemu dengan pemuda yang meminta tiga permintaan padanya, pemuda itu mengajaknya makan di tempat yang sangat sederhana, toko kecil yang hanya menjual mie.
Carolin bilang Ashlyn sangat menikmati makanannya sampai menghabiskan semua mie di dalam mangkuk sebelum jatuh pingsan.
Ashlan!
Orang tidak tahu berterima kasih. Putrinya begitu baik dengan memberinya tiga permintaan, Duke bahkan setuju untuk membuatnya masuk ke dalam pasukan Daren Lynx demi putrinya. Namun, apa yang dilakukan orang ini!
Duke menatap penuh dengan amarah dan aura membunuh pada pemuda berambut ikal yang berwarna hitam serta mata amber yang menatapnya dengan berani seolah pemuda itu tidak bersalah.
Duke ingin menarik pedangnya dan memenggal kepala orang ini segera. Namun, dia lebih ingin menjadikan orang ini sebagai bahan peringatan bagi semua orang.
Siapapun yang berani melukai putrinya, dia akan mati. Bahkan jika mereka bersembunyi ke lubang tikus, pasukan Daren Lynx akan memastikan mereka tidak bisa melihat matahari lagi.
Edmund berlutut dengan tangan diikat kebelakang, dia sudah dipukuli berkali-kali di dalam penjara bersama pria pemilik toko mie, mereka telah menderita banyak luka hingga kehilangan kesadarannya dan pagi ini mereka dibangunkan dengan guyuran air dingin yang mengejutkan mereka sekaligus membuat tubuh mereka menggigil.
Selanjutnya mereka dikeluarkan dengan kasar, rambutnya ditarik dan Edmund dipaksa untuk menatap pria berpakaian rapi yang terlihat luar biasa. Ini adalah Damien Daren Lynx, ayah satu-satunya gadis itu.
Duke menatapnya dengan tatapan membunuh, tapi Edmund sama sekali tidak merasa takut dan berkata. "Kami tidak bersalah."
Mendengarnya, Duke Damien sangat marah hingga dia tidak bisa menahan diri lagi, tangan kanannya terangkat dan dengan keras menjatuhkan tamparan di pipi Edmund yang membuat Edmund tersungkur ke samping. Tamparannya sangat keras hingga sanggup membuat Edmund tidak sadarkan diri. Namun, Edmund menahannya dengan menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Seorang kesatria menarik rambutnya dengan kasar agar Edmund kembali berlutut di hadapan Duke Damien, memperlihatkan betapa buruk bekas tamparan itu, pipinya yang putih memar, hidung dan mulutnya tidak berhenti mengeluarkan darah segar.
Saat melihat ini, untuk sesaat Duke Damien tertegun, bayangan saat dirinya menampar Ashlyn hari itu berputar kembali di kepalanya dan membuat dadanya sakit.
"Orang tidak tahu berterima kasih. Berani-beraninya kau mencoba menggigit tangan orang yang memberimu makan. Apa tiga permintaan yang Ashlyn berikan padamu tidak cukup sehingga kau masih menginginkan nyawanya!"
Kelopak mata Edmund terkulai saat mendengar hal ini dan meskipun tubuhnya menderita rasa sakit yang luar biasa, Edmund tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum sinis.
Kepalanya terangkat, dia menatap Duke dan berkata. "Ya, aku adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Aku adalah anjing yang menggigit tangan orang yang memberiku makan. Aku adalah orang yang seperti itu Yang Mulia Duke, tapi kali ini aku mengatakan hal yang benar, aku dan pemilik toko mie sama sekali tidak bersalah."
Mendengarnya, Duke ingin menamparnya lagi. Tapi jika dia melakukan hal itu, pemuda itu mungkin akan mati. Duke tidak ingin hal itu terjadi, dia ingin kematian orang ini dilihat oleh semua orang agar mereka ingat, bahwa ancamannya bukanlah sekedar omong kosong.
Jadi Duke Damien menahan diri dan mengepal tangannya erat-erat, menatap Edmund dengan penuh amarah dan mengatakan, "B*jingan." sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Di luar, suasana sangat ramai, semua orang sepertinya sudah hadir kecuali Annabel dan Arabella yang menemani Annabel di dalam kamar.
"Aku benar-benar tidak sanggup jika aku harus melihat kepala orang lain dipenggal di depan mataku, Ibu. Biarkan aku di sini, aku cukup tahu bahwa kita sama sekali tidak boleh membuat masalah dengan Ashlyn. Aku tidak ingin melihatnya."
Air matanya meleleh, kepalanya menggeleng dan Arabella yang melihat putrinya yang menyedihkan tidak bisa meninggalkannya seorang diri. Dia memeluknya dan mengusap punggungnya dengan penuh perhatian. Namun, di dalam hati dia tidak bisa untuk tidak mengutuk suaminya sendiri.
Orang itu benar-benar sudah gila. Rasa bersalahnya karena membuat Ashlyn buta membuat suaminya gila. Jika dia tahu ini yang akan terjadi, Arabella lebih ingin jika Duke tidak pernah kembali ke rumah. Sekarang situasinya sudah seperti ini, posisi Duke begitu kuat, semua orang menghormatinya dan takut padanya, jika suaminya berada di sisi Ashlyn, bagaimana dengan dirinya dan Annabel.
Diam-diam Arabella memeras otaknya memikirkan rencana untuk menyingkirkan Ashlyn. Putrinya yang baik hati seperti teratai putih ini tidak akan bisa hidup dengan bahagia dan tenang jika masih ada Ashlyn.
🔸🔸🔸
Orang-orang yang ada di halaman utama berkumpul, semuanya berbicara tentang apa yang akan terjadi. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa mereka akan dipaksa untuk datang ke kediaman Daren Lynx hanya untuk melihat dua orang dipenggal.
Mereka sudah mendengar tentang apa yang terjadi, rumornya alasan dua orang itu dipenggal karena mereka meracuni Lady Ashlyn. Namun, daripada mengasihani Lady Ashlyn, mereka justru mengasihani dua orang yang sebentar lagi akan kehilangan nyawanya.
Menurut mereka, Lady Ashlyn pantas untuk mati setelah perbuatan jahat yang telah dia lakukan selama ini. Meskipun mereka tidak melihat secara langsung, tapi mereka telah mendengar banyak tentang kekejaman Lady Ashlyn dari mulut ke mulut.
Dengan semua kejahatannya Ashlyn yang jahat itu seharusnya sudah mendapatkan hukuman dan dipenjara di ruang bawah tanah bersama para tikus. Namun, gadis jahat itu masih bisa hidup dengan bebas tanpa menerima hukuman apapun karena dia adalah putri Duke.
Dan sekarang, Duke yang mereka hormati ternyata adalah orang yang seperti ini, Duke yang terkenal menjunjung tinggi pada keadilan justru membela putrinya yang jahat dan akan memenggal kepala orang untuk putrinya yang jahat.
Orang-orang ini sangat kecewa pada Duke, tapi mereka bisa apa, mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan Duke, mereka hanya bisa berharap bahwa suatu hari nanti akan muncul seseorang yang akan mengambil alih Daren Lynx dan memusnahkan Duke bersama putrinya yang jahat.
Para aristrotrat yang hadir juga berbisik-bisik dan menggelengkan kepalanya dengan kejadian ini.
"Aku rasa Daren Lynx sudah kehilangan kehormatannya."
"Siapa yang tahu, bahkan jika itu aku, aku juga akan melakukan hal yang sama pada siapapun yang berani meracuni putriku."
"Tapi, permasalahannya putri Duke adalah orang yang seperti itu."
"Seperti apa? Seperti rumor yang beredar itu?"
"Yah, kau tahu maksudku, semua orang membencinya, jika Duke membelanya dan melakukan hal ini. Lihat bagaimana orang-orang memandangnya saat ini, perlahan-lahan bukan hanya putrinya, tapi Duke sendiri juga akan dibenci oleh semua orang."
"Kenapa kau peduli tentang masalah ini, kau tahu bagaimana sejarah tombak pelindung kekaisaran dari barat ini berdiri, tidak peduli seperti apa kepala keluarga ini, para kesatria sudah menumpahkan darah kesetiaan mereka padanya."
"Kau benar, entah kenapa aku merasa sedikit miris. Bukankah itu artinya tidak ada yang mampu melawan Duke?"
"Yah, lagi pula tentang rumor itu, itu hanya rumor kita tidak tahu apakah itu benar atau tidak, lagipula kita tidak perlu memikirkan hal ini, ini tidak merugikan kita selama kita tidak mencari masalah dengan putri Duke."
__ADS_1
"Ya, ya, kau benar, aku sendiri juga tidak peduli apakah rumor itu benar atau tidak selama itu tidak merugikanku."
Diam-diam mereka tertawa, saat Duke keluar ke halaman, suasana yang riuh dan berisik itu seketika sunyi. Mereka semua melihat bagaimana wajah Duke yang dingin sepertinya diliputi amarah yang begitu besar. Jubah biru tua seperti lautan yang dalam berkibar saat dia berjalan.
Orang-orang yang ada di sana membuka jalan untuk Duke dengan perasaan takut, termasuk Putra Mahkota yang tidak bisa untuk tidak merasa cemas dengan masalah ini.
Sejak awal dia menerima kabar bahwa Ashlyn keracunan makanan, Putra Mahkota tidak bisa untuk tidak memikirkan pemilik toko kue ikan.
Orang bodoh itu! Putra Mahkota mengepal erat saat membayangkan wajah pemilik toko yang tersenyum seperti orang bodoh. Dia menyuruhnya untuk menggunakan bahan-bahan kualitas buruk, jadi kenapa orang itu menaruh racun di kue milik Ashlyn.
Putra Mahkota tidak memiliki banyak waktu, dia harus bekerja cepat untuk menutup mulut pemilik toko kue tentang perintahnya. Dia begitu khawatir, tapi siapa yang mengira bahwa Duke ternyata akan menyalahkan pemilik toko mie. Sepertinya, keberuntungan berada di pihaknya. Namun, entah kenapa dia tidak bisa berhenti khawatir dan berkali-kali memohon pada Dewa untuk kematian Ashlyn.
Jika Ashlyn mati, semuanya akan baik-baik saja.
Duke Damien berdiri di atas panggung, melihat orang-orang yang berkumpul di sana dengan dingin tanpa perasaan, orang-orang yang sebelumnya dengan sepenuh hati dia lindungi, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Duke tidak bisa menebak apa yang mereka pikirkan, tapi Duke akan membuat mereka ingat dalam pikiran mereka yang paling dalam bahwa yang mereka hadapi adalah dirinya. Orang yang telah melindungi mereka, jika mereka berani menusuk punggungnya, maka dia juga tidak akan memusnahkan mereka.
"Bawa mereka." Duke memberi perintah.
Edmund dan pemilik toko mie diseret keluar dengan kasar, para kesatria menarik rambut mereka dan membuat tubuh mereka yang lemah dan penuh luka hampir terseok-seok dengan perlakuan kasar mereka.
Para kesatria tidak peduli, apakah mereka masih bisa berjalan atau tidak. Mereka hanya perlu menyeretnya dan membawanya ke tiang pancung untuk dipenggal.
Orang-orang yang melihat betapa buruknya kondisi mereka begitu terkejut dan menutup mulut mereka yang terbuka meskipun ada beberapa yang membuat suara seperti.
"Oh, astaga!"
"Betapa menyedihkannya mereka."
"Betapa kasihannya mereka."
Edmund dan pemilik toko mie dipaksa berlutut di atas panggung dengan kepala menunduk dan tangan yang diikat ke belakang, begitu kencang hingga pergelangan tangan mereka berdarah.
Orang-orang di bawah panggung menatap iba pada mereka sementara para aristokrat hanya bisa menghela napas dan menjadikan ini sebagai bahan perbincangan.
Duke menatap dingin pada dua orang yang sudah tidak berdaya itu sebelum menatap ke depan, dan entah kenapa Putra Mahkota merasa tatapan itu diarahkan untuknya, ini membuatnya gemetar, dan yang bisa dia lakukan hanyalah menyembunyikan kecemasannya di depan semua orang dengan memegang tangannya sendiri.
"Hari ini!" Duke mulai berbicara, suaranya yang dingin dan tajam terdengar jelas. "Mereka akan menjadi contoh bagi siapa saja yang berani menyakiti putriku apalagi berpikir untuk membunuhnya."
Duke menatap ke sekitar, orang-orang terdiam dan menundukkan kepalanya. Namun, didalam hati mereka terutama para aristokrat menganggap Duke Damien begitu arogan.
"Mereka akan disiksa semalaman penuh tapi tidak diizinkan untuk mati, karena kematian mereka akan dipertontonkan di depan semua orang dan kepalanya akan digantung di pintu gerbang utama Mansion Daren Lynx agar kalian tidak lupa, apa yang terjadi jika kalian berani menyakiti putriku."
Duke Damien kemudian menatap petugas yang akan menjadi algojo hari ini, dia hanya menatapnya dan dua orang itu segera menyeret Edmund dan pemilik toko yang sudah lemah tidak berdaya. Namun, mungkin karena mereka begitu takut akan kematian atau apa, pemilik toko mencoba memberontak.
"Yang Mulia, Yang Mulia Duke, aku benar-benar tidak bersalah! Aku tidak bersalah!"
Pemilik toko mie terus melantunkan kata-kata itu berulang kali, tapi Duke tidak peduli sementara Edmund tidak mengatakan apa-apa, wajahnya layu dan kelopak matanya turun, tapi bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum seolah dia siap dengan apa yang terjadi dan menerimanya dengan lapang dada.
Namun, saat mereka sedang diseret dan akan diletakan di tiang pancung. Ashlyn tiba-tiba berteriak.
"Berhenti!" Kata ini membuat semua orang tertegun dan mengalihkan perhatian mereka pada gadis yang berdiri di teras, rambut putihnya yang panjang dibiarkan tergerai dan terlihat sedikit berantakan, bibirnya pucat seperti warna kulitnya. Namun matanya yang abu-abu memancarkan keberanian, berdiri di sana hanya dengan baju piyama yang sederhana dan kaki telanjang.
Edmund yang juga segera melihat Ashlyn saat pertama kali mendengar suaranya tidak bisa untuk tidak melebarkan matanya karena penampilan Ashlyn saat ini mengingatkannya pada hari itu ...
Gadis berambut abu-abu keperakan yang kurus, lengan dan kakinya memiliki banyak bekas luka dan bibirnya pucat tanpa warna, matanya ditutupi pita berwarna putih, saat dia terbatuk, darah berwarna hitam yang berbau busuk keluar dari mulutnya, tapi gadis itu masih bisa tersenyum sinis menghinanya.
__ADS_1
"Bagiku yang membuatku menderita adalah kamu, orang yang menjatuhkanku ke dalam lubang penderitaan tiada akhir adalah kamu, orang yang mengkhianatiku adalah kamu, orang yang merenggut segalanya dariku adalah kamu, orang yang paling banyak menyakitiku adalah kamu, orang yang membunuh semua orang dan membasahi daratan ini dengan darah yang berbau amis adalah kamu dan pada akhirnya orang yang membunuhku juga adalah kamu. Selamanya, bahkan jika waktu bisa diulang lagi aku akan tetap membencimu."