I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Dibenci oleh semua orang.


__ADS_3


Anak itu membawa Ashlyn ke sebuah rumah kayu yang sederhana di pinggir hutan. Ada sungai kecil di sana, Ashlyn bisa mendengar suara gemericik air yang mengalir dan menabrak bebatuan. Tidak ada bangunan lain selain rumah itu yang membuat suasananya sangat sunyi.


"Ibu ...." Anak laki-laki itu membuka pintu dan menuntun Ashlyn untuk masuk ke dalam.


Lantai kayu yang berdecit saat diinjak, menandakan seberapa buruk kondisi tempat itu. Namun, anak laki-laki berambut hitam dengan mata segelap malam sangat ramah saat memperlakukan Ashlyn di dalam rumahnya.


Dengan hati-hati dia menawarkan Ashlyn untuk minum dan mempersilahkan Ashlyn untuk duduk. Namun, Ashlyn menolak, dia tidak ingin membuang-buang waktu apalagi dia merasa ada yang aneh dengan tempat itu.


"Dimana ibumu?" Ashlyn bertanya.


Anak itu menatap dengan mata hitamnya yang cerah. "Ibu ada di kamar, apa Anda ingin menemuinya sekarang?"


"Kau pikir untuk apa aku ke sini?"


Anak itu menunduk merasa bersalah. Penyihir ini pasti orang yang sangat sibuk.


Anak itu segera membawa Ashlyn ke dalam ruangan ibunya dan mendapati ibunya yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan tubuh kurus dan wajah yang tirus, bahkan tulang pipinya terlihat begitu jelas, seolah dia hanya tulang berbalut kulit.


Napas wanita itu sangat lemah. Namun, saat melihat putranya dia masih bisa tersenyum lembut.


"Ibu, aku membawa seorang Penyihir bersamaku. Dia pasti bisa menyembuhkan Ibu. Ibu tidak perlu khawatir lagi, Ibu akan sembuh, Ibu akan sembuh." 


Nada anak itu terlihat sangat bahagia, tapi tidak dengan Ashlyn. Bahkan jika dia belum memeriksa keadaannya, Ashlyn sudah tahu seberapa buruk kondisi wanita itu.


Dan Ashlyn tidak ingin memberi harapan palsu untuk anak itu ataupun ....


"Maafkan ibu, Nak. Ibu tidak bisa menemanimu lagi. Ibu benar-benar berharap bahwa ibu bisa terus hidup untuk menemanimu, seumur hidupmu."


Ashlyn menaikkan alisnya dan sama sekali tidak menduga bahwa wanita itu sudah sadar dengan kondisinya sendiri.


Anak itu dengan keras menggelengkan kepalanya. "Tidak! Berhenti mengatakan itu. Ibu akan sembuh, aku sudah membawa seorang penyihir untuk menyembuhkan Ibu."


Anak itu kemudian menoleh untuk menatap Ashlyn dengan penuh harap, memegang tangannya yang dingin dan memohon.


"Katakan, tolong katakan bahwa Anda bisa menyembuhkan ibuku. Aku mohon sembuhkan ibuku."


Anak itu meratap dengan putus asa, tapi memangnya apa yang bisa dia lakukan. Pada akhirnya semua yang hidup akan mati dan tidak semua penyakit bisa disembuhkan.


"Dia sudah di akhir batasnya, ibumu tidak bisa bertahan lagi."


Mendengar kata-kata Ashlyn, tangan anak itu bergetar dan sejenak dia merasa marah. "Bohong! Kau hanya tidak ingin membantu kami, bukan. Kau bahkan belum memeriksanya, kau sama saja dengan orang-orang jahat itu. Kau tidak peduli pada kami."


Ashlyn menaikkan alisnya, "Aku memang orang jahat lalu kenapa, ini adalah salahmu ibumu menjadi seperti ini."


Anak itu semakin marah dengan semua kata-kata Ashlyn dan perlahan-lahan energi gelap mulai meluap dari tubuhnya.

__ADS_1


"Kau sama saja dengan orang-orang itu, selalu menyalahkanku dan menganggapku sebagai pembawa bencana. Kau ...."


Energi gelap yang meluap mengelilingi anak itu semakin kuat dan kuat.


Wanita yang terbaring di tempat tidur menatap dengan khawatir, mencoba meraih putranya dan memanggil putranya.


"Raphael." Wanita itu berkata lirih, hatinya benar-benar sakit saat melihat putranya seperti itu. Dia mencoba turun dari tempat tidur, tapi tubuhnya terlalu lemah, dia hanya bisa berguling dan jatuh dari atas tempat tidur.


"Tidak ada yang peduli pada kami. Mereka semua orang-orang jahat yang tidak berperasaan!" Raphael terus meracau tidak jelas. Matanya yang hitam sudah berubah kembali menjadi merah. Tekanan energi yang begitu kuat membuat rumah itu bergetar dan dinding kayu itu mulai retak.


Jika Ashlyn tidak segera menghentikannya, rumah itu akan ambruk.


Namun, Ashlyn tidak segera menghentikannya, dia justru berkata. "Karena dirimu yang seperti ini lah, ibumu menjadi sakit."


Raphael menatap tajam Ashlyn. "Kenapa? Kenapa karena aku ibu menjadi sakit? Itu karena orang-orang jahat itu begitu pelit dan kejam. Mereka mengusir kami dari desa dan membuat kami tinggal di hutan. Ibuku tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan kami harus kelaparan, ibuku jatuh sakit, tapi aku bahkan tidak diperbolehkan untuk meminta obat untuknya. Mereka bilang aku adalah anak iblis, lalu kenapa! Kenapa mereka menyalahkanku dan membuat ibuku dan aku menderita hanya karena aku adalah anak iblis. Aku sama sekali tidak pernah ingin menjadi anak iblis, tapi apa aku bisa memilih? Aku tidak bisa memilih untuk dilahirkan menjadi anak siapa, jadi kenapa mereka terus saja menyalahkanku? Kenapa! Kenapa dunia ini begitu tidak adil bagiku! Ibu adalah satu-satunya yang aku miliki dan kau menolak menolongnya. Kau hanya memberiku harapan palsu. Kau ingin menertawakan penderitaan kami! Kau orang jahat! Orang jahat!"


Energi gelap semakin kuat dan dengan semua ocehan itu juga rintihan seorang ibu yang terpuruk di lantai, menangis memanggil putranya. 


"Raphael, anakku. Berhenti. Ibu mohon berhenti. Raphael ...."


Ini membuat Ashlyn sakit kepala dan tidak bisa untuk tidak menampar wajah anak itu dengan keras.


Anak itu jatuh ke lantai di depan ibunya dengan tertegun. Tamparan itu benar-benar menyakitkan dan mengejutkannya. Namun, energi gelap itu secara spontan juga menghilang.


Saat melihat putranya jatuh terpuruk di lantai, wanita itu segera memeluk putranya dan Raphael merasakan perasaan yang begitu akrab seolah ada energi magis yang menyebar di seluruh tubuhnya dan membuatnya hangat, merasa sangat nyaman.


"Bersabarlah, semuanya akan baik-baik saja."


Ashlyn menghela napas. 


Ibu dan anak yang kekurangan gizi itu berpelukan dan Ashlyn terus mendengar suara tangis.


"Sekarang, apa kau mengerti apa yang telah kau perbuat pada ibumu?" Ashlyn bertanya.


Raphael tertegun. Namun, wanita itu segera menggelengkan kepalanya. Menutupi telinga Raphael dengan kedua tangannya dan menatap Ashlyn.


"Tidak, aku mohon jangan katakan itu pada Raphael."


Meskipun telinganya ditutupi, Raphael masih bisa mendengar suara ibunya dengan jelas dan Raphael tidak bisa untuk tidak terkejut.


Dia menarik tangan ibunya, dan menatap ibunya. "Ibu, apa benar ... apa itu benar karena aku ibu sakit?"


Wanita itu menangis dengan perasaan hancur saat menatap wajah putranya yang menatapnya menuntut jawaban. Wanita itu berkali-kali menggelengkan kepalanya.


"Ibu, tolong jujur padaku. Apa itu aku yang membuat ibu sakit? Aku yang membuat ibu menderita?"


Wanita itu tetap menggelengkan kepalanya. "Tidak Raphael, tidak."

__ADS_1


"Alasan kenapa ibumu tidak bisa diobati adalah karena dia ...."


"Tidak, aku mohon jangan katakan padanya. Jangan katakan padanya."


Wanita itu dengan cepat memotong kata-kata Ashlyn.


Namun, Ashlyn tidak peduli. "Dia pantas untuk mengetahui segalanya. Alasan kenapa ibumu menjadi seperti ini karena dia menggunakan energi kehidupannya untuk menenangkanmu."


"Jangan dengarkan, itu semua tidak benar. Kau tidak melakukan kesalahan. Kau adalah anak ibu yang paling berharga, kesayangan ibu." Wanita itu mencoba menutupi telinga putranya. Namun, Raphael lebih ingin mendengar apa yang Ashlyn jelaskan.


"Setiap kali kau marah dan sedih, energi gelap yang tersimpan di dalam tubuhmu meluap tidak terkendali, ibumu memelukmu dan menggunakan tubuhnya untuk menyerap semua energi gelap itu agar kau kembali menjadi tenang. Namun, ibumu hanya manusia biasa, bahkan kesatria sekalipun tidak akan bisa bertahan jika energi gelap itu bersarang di dalam tubuhnya. Itu akan membuat tubuhnya menjadi semakin lemah hari demi hari, dan energi gelap akan memakan energi kehidupannya perlahan-lahan hingga itu habis, yang artinya ibumu akan ...."


Ashlyn tidak melanjutkan kata terakhirnya. Namun, Raphael sudah mengerti apa maksudnya dan anak itu tidak bisa untuk merasakan sakit di dalam dadanya.


Namun kali ini energi gelap tidak meluap dari tubuhnya. Alasannya sendiri Ashlyn hanya bisa memastikan bahwa Raphael benar-benar sedih dan tidak ada perasaan marah yang bergolak di jiwanya.


🔸🔸🔸


Raphael menangis di depan makam ibunya. Saat itu, Ibunya benar-benar tidak bisa bertahan lagi. Setelah tersenyum padanya dan mengatakan bahwa semua itu bukanlah salah Raphael, bahwa ibunya merasa bahagia karena Raphael ibunya pergi tidur untuk selamanya.


Ashlyn tidak segera pergi dan membantu anak itu memakamkan ibunya tidak jauh dari rumah mereka.


Raphael tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Ini semua karena aku adalah anak iblis ibu harus hidup menderita di sepanjang hidupnya. Mereka benar, aku adalah pembawa bencana, selamanya aku menjadi beban untuk ibuku. Ibu ... aku adalah sumber penderitaanmu. Aku membuatmu menderita di sepanjang hidupmu, aku tidak bisa membuatmu bahagia."


Mendengar semua ocehan yang menyalahkan diri sendiri itu, Ashlyn meremas rambutnya dan menghela napas sebelum berkata.


"Hei, Nak."


Raphael terdiam dan menoleh, menatap Ashlyn.


"Kau boleh membenci dunia, tapi kau tidak boleh membenci dirimu sendiri."


Raphael terdiam. "Seperti yang kau bilang, kau juga tidak ingin terlahir sebagai anak iblis, tapi apa kau bisa memilih. Kau tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai apa, atau dilahirkan di keluarga siapa. Namun, kau bisa memilih untuk menerima keadaan atau mencoba untuk merubah keadaan. Apa yang terjadi pada ibumu bukanlah salahmu, dia tidak menyesal melakukannya karena kau adalah putranya. Jadi jangan pernah menyesal dan hiduplah dengan baik seperti apa yang ibumu inginkan, atau hiduplah seperti apa yang kau inginkan."


Setelah mengatakan hal itu Ashlyn pergi meninggalkan Raphael di sana sendirian. Namun, siapa yang mengira bahwa Raphael akan kembali mengikutinya.


Ashlyn, berbalik dan bertanya, "Kenapa kau mengikutiku?"


Raphael menatap Ashlyn yang putih bersih seperti hamparan salju di musim dingin.


Raphael menundukkan kepalanya dan dengan gusar memainkan jari-jarinya. "Aku tidak memiliki tempat untuk tinggal lagi, bisakah aku ikut denganmu."


Ashlyn mengernyitkan alisnya dan berpikir bahwa dirinya tidak ingin menerima anak itu. Namun, saat dia memikirkan apa yang terjadi pada anak itu, Ashlyn tidak mengatakan apa-apa selain berbalik dan berjalan pergi.


Terserah apakah dia akan mengikutinya atau tidak. Namun, jika anak itu memilih untuk mengikutinya, Ashlyn tidak keberatan karena anak itu sama seperti dirinya.

__ADS_1


Dibenci dan tidak diinginkan keberadaannya oleh semua orang.


__ADS_2