
Edmund terbangun lagi dan mendapati dirinya di sebuah ruangan sederhana yang terbuat dari kayu, seseorang sepertinya sedang melakukan sesuatu di sebelah tempat tidurnya, terlihat pria itu tengah menata benda-benda di dalam lemari.
Pria itu berambut gondrong yang diikat seadanya dan saat pria itu berbalik, dia melihat Edmund telah sadar dan tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Kau tidur seperti kerbau mati." Ini adalah kata-kata pertama yang Ramus katakan pada Edmund yang membuat wajah Edmund gelap.
Edmund mencoba untuk bergerak dan tidak seperti sebelumnya dia begitu susah payah untuk duduk, sekarang dia bisa melakukannya dengan lebih mudah.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Edmund.
"Tiga hari."
Mata Edmund melebar, "Tiga hari?"
Ramus mengangguk. "Ya, karena itu aku bilang kau tidur seperti kerbau mati ... Hei hei, apa yang kau lakukan?"
Ramus bertanya begitu melihat Edmund mencoba turun dari tempat tidurnya.
Memegangi perutnya yang diperban, Edmund menatap Ramus dan berkata, "Aku harus pulang, orang tuaku pasti sangat mengkhawatirkanku."
Dia telah pergi selama berhari-hari tanpa kabar, bagaimana mereka tidak khawatir? Edmund harus bergegas pergi kembali ke rumah dan menemui orang tuanya.
Sialan! Gadis jahat itu ... Hah! Edmund kembali mengutuk di dalam hati, apa yang dia harapkan dari gadis jahat itu, pagi itu saat dia bangun dia meminta tiga permintaan, gadis itu bilang akan menyetujui permintaannya dan Edmund meminta untuk pulang. Namun, gadis jahat itu bersikap seolah dia adalah malaikat dengan mengatakan bahwa dirinya perlu beristirahat lebih lama lagi karena dia baru saja memberinya obat. Gadis jahat itu mengatakan bahwa dia akan menyuruh orang untuk mengantarnya pulang di sore hari.
Saat itu Edmund berpikir bahwa gadis jahat itu mungkin telah berubah. Namun, kenyataannya dia menyuruh ayahnya untuk menahannya selama tiga hari!
Ramus yang melihatnya terburu-buru menghentikannya.
"Biarkan aku pergi." Edmund berkata.
Ramus menaikkan alisnya dan berkata, "Tiga permintaan, apa kau tidak akan mengambilnya."
Langkah Edmund terhenti dan berbalik untuk menatap Ramus.
Ramus melemparkan sebuah kantong dan Edmund menangkapnya. Itu berat dan bergemerincing, saat Edmund membukanya, itu penuh dengan koin emas dan batu permata.
Matanya melebar dan tangan Edmund yang memegang kantong itu hampir bergetar dan menjatuhkan harta yang sebelumnya hanya bisa dia bayangkan saja. Edmund segera memegang erat-erat kantong itu dengan hati-hati seolah jika dia tidak melakukan itu, hartanya akan lenyap menjadi khayalan.
Edmund kemudian menatap Ramus, masih dengan wajah terkejut.
"Lady Ashlyn memenuhi tiga permintaanmu. Menjadi pelayan pribadi Lady Ashlyn, membiarkanmu bergabung dengan kesatria Daren Lynx dan sekantong koin emas serta batu permata. Tiga permintaan, Lady Ashlyn menyanggupinya."
Saat mendengarnya, Edmund menelan ludahnya dan sejenak berpikir bahwa Ashlyn mungkin tidak seburuk itu. Namun, Ramus kemudian berkata.
"Namun untuk menjadi seorang kesatria itu tidak semudah mengayunkan ranting. Kau mungkin akan mati dengan latihan yang berat dan Lady Ashlyn tidak peduli. Duke Damien sudah mengingatkan Lady Ashlyn, tapi Lady Ashlyn bilang hidup atau mati itu adalah pilihanmu dan Lady Ashlyn tidak peduli, karena itu Duke Damien menyetujui permintaan Lady Ashlyn untuk membuatmu masuk ke dalam anggota kesatria Daren Lynx. Namun, kau harus selalu ingat, kau adalah manusia biasa, apa yang akan kau terima untuk menjadi seorang kesatria mungkin akan membuatmu gila. Jadi, sebaiknya kau menyerah dan selamatkan nyawamu sebelum terlambat."
Mendengarkan semua kata-kata itu, Edmund meremas kantung emas di tangannya.
Apa yang dia pikirkan? Untuk sesaat kantung emas ini hampir membutakan matanya. Tentu saja, Ashlyn, gadis jahat itu tidak akan pernah berubah. Bahkan jika gadis jahat itu menyetujui tiga permintaannya, gadis itu masih memiliki pikiran yang picik dan saat dirinya meminta untuk bergabung dengan pasukan Daren Lynx, gadis itu mungkin tertawa bahagia di balik wajahnya yang tenang.
Gadis jahat itu tahu bahwa untuk menjadi seorang kesatria itu tidaklah mudah, apalagi dirinya hanyalah seseorang dari kasta rendah, manusia biasa yang miskin, yang bahkan istana saja menolak dirinya untuk bergabung menjadi prajurit kerajaan.
Gadis itu pasti sudah memperhitungkan bahwa dirinya mungkin akan mati jika dia bergabung dengan pasukan Daren Lynx, bahkan dia akan mati sebelum dirinya menerima gelar kesatria, gadis itu sudah memperhitungkannya, karena itu dia bilang tidak peduli.
Meremas kantung emas di tangannya, Edmund menatap tajam Ramus dan berkata, "Aku tidak akan mundur, ini adalah jalan yang aku ambil."
Diam-diam bertekad bahwa dia tidak akan kalah, bahkan jika latihan itu hampir merenggut nyawanya, dia tidak akan mundur, akan dia buktikan bahwa dia bisa menjadi kesatria dan akan dia buat gadis itu menyesal karena telah meremehkannya.
Ramus hanya tersenyum dan menggelengkan kepala pada keputusan Edmund.
Setelah itu Edmund keluar dari Mansion Daren Lynx, berjalan kaki dengan rasa sakit di tubuh, tapi tidak bisa untuk tidak bahagia saat dia ingat bahwa di tubuhnya sekarang ada satu kantong emas dan batu permata untuk orang tuanya.
Dengan semua emas dan batu permata, mereka tidak perlu hidup miskin lagi dan merasa rendah serta direndahkan oleh orang lain lagi. Mereka akan memulai kehidupan baru, rumah baru dan bisnis baru, mereka akan hidup bahagia. Namun, setelah hampir berjalan selama satu hari dari Mansion Daren Lynx menuju rumahnya di kawasan kumuh yang gelap dan bau.
Sang induk semang membuang semua barang-barang milik keluarganya, mengeluarkan barang-barang miliknya dan orang tuanya yang tidak seberapa dan juga tidak berharga. Hanya, beberapa pakaian lusuh dan tidak lebih.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan!" Seolah rasa sakit di tubuhnya hilang, Edmund berlari dan menarik wanita gemuk yang saat itu mengunci pintu rumah.
Wanita gemuk itu terkejut, bedaknya yang tebal dan lipstiknya yang merah, membuatnya seperti menggunakan topeng, tapi itu sama sekali tidak menyembunyikan ekspresi marah saat melihat Edmund, dengan kasar dia menampar tangan Edmund yang menarik pundaknya.
"Jaga sikapmu anak sialan!"
Mata Edmund memerah saat melihat barang-barang miliknya berserakan di tanah, bahkan beberapa kotor di dalam lubang tanah berlumpur.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau mengeluarkan barang-barang kami?"
Wanita itu semakin marah dan ingin mendorong dahi Edmund dengan telunjuknya berkali-kali. Namun, Edmund terlalu tinggi untuknya dan dia hanya bisa menunjuk dada Edmund, tepat di bekas sayatan senjata tajam, itu sakit, tapi Edmund menerimanya. Dia tidak bersikap buruk pada orang ini karena wanita ini adalah pemilik rumah yang keluarganya sewa untuk tinggal selama ini.
"Anak sialan tidak tahu diuntung, kau tumbuh dengan baik tapi kau sama sekali tidak bisa membantu keluargamu! Jika kau tahu kau miskin, kau seharusnya bekerja lebih keras untuk mencari uang, tapi yang kau lakukan hanyalah berkeliaran tidak jelas, membuat orang tuamu tidak berhenti mengkhawatirkan anak sepertimu. Oh, Tuhan kenapa kau memberkahi keluarga ini dengan anak tidak berguna seperti dirimu. Lihat apa yang telah kau lakukan! Kau tidak bisa memberikan apa-apa, tapi orang tuamu harus menderita karenamu!"
Edmund dimarahi, ada sebagian kata-kata yang bisa dia mengerti, tapi ada sebagian lagi yang tidak dia mengerti dan saat dia menyadarinya, wajah Edmund seketika pucat pasi.
"Apa yang terjadi pada orang tuaku? Katakan apa yang terjadi pada mereka? Dimana mereka?"
Edmund bertanya seolah dia adalah orang gila saat mengguncang wanita induk semang.
Wanita itu kembali menepis tangan Edmund. "Sekarang kau baru bertanya tentang mereka. Mereka telah mati, dua orang tidak dikenal datang mencarimu tiga hari yang lalu dan saat mereka tidak menemukanmu, mereka membunuh orang tuamu!"
Saat mendengarnya, mata Edmund terbuka lebar.
Melihat keterkejutan Edmund wanita itu semakin ingin memaki. "Katakan padaku, dosa apa yang orang tuamu miliki sehingga memiliki anak seperti dirimu. Pembawa masalah! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!"
Wanita itu mengusirnya dan Edmund segera sadar dari keterkejutannya. "Pembohong! Kau hanya ingin mengusir kami karena kami tidak bisa membayar uang sewa."
Edmund kemudian mengeluarkan kantung emas miliknya dan mengambil segenggam koin emas serta batu permata, menyerahkannya pada wanita induk semang yang segera dibuat kaget saat melihatnya.
"Aku membayarnya, aku membayarnya." Edmund berkata, "Sekarang katakan bahwa orang tuaku baik-baik saja dan katakan padaku dimana mereka. Kemana kau mengusir mereka, katakan padaku!" Edmund membentak.
Tangan wanita induk semang gemetar saat memegang tumpukan koin emas dan batu permata yang berkilauan di tangannya. Hatinya sangat bahagia, tapi kemudian wajahnya berubah gelap dan pucat, kebahagiaan itu hilang disapu rasa takut dan marah.
Wanita induk semang itu kemudian melempar semua emas dan batu permata itu ke wajah Edmund.
Wanita induk semang meraung dan akan berjalan pergi, tapi Edmund menahannya. Matanya yang dalam menatap wanita itu dan membuatnya ketakutan.
"Katakan padaku dimana orang tuaku!"
Wanita gemetaran tapi hati kecilnya masih menyimpan sedikit keberanian. "Kau pikir dimana lagi orang-orang sepertimu bisa pergi saat mereka mati. Kerajaan akan membakar tubuh mereka bersama tumpukan mayat lain seperti kayu bakar, tidak ada tanah yang tersisa untuk mengubur orang-orang miskin, kalian akan berakhir menjadi abu dan dibuang ke lautan!"
Mata Edmund melebar dan sudut matanya memerah, wajahnya tegang dan pembuluh darah di dahinya menonjol, giginya bergemeletuk dan tangan yang memegang bahu itu mulai mencengkram erat seolah dia ingin mencabik bahu wanita induk semang.
Wanita itu kesakitan dan mencoba melepaskan diri, saat dia berhasil melepaskan diri, dia segera meninggalkan Edmund seorang diri.
Sementara itu Ashlyn sedang duduk santai menyesap teh, hari-hari berlalu dan latihannya berjalan lancar, dia sudah mengalami kemajuan, tapi ada satu hal yang mengganggu pikirannya.
"Apa Ashlan belum datang?" Ashlyn bertanya pada Carolin. Namun, karena Ashlyn minum teh setelah latihannya di gazebo yang dekat dengan tempat para kesatria berlatih, Ramus juga ada di sana yang kebetulan mendengar hal ini saat akan menyapanya.
"Bukankah Lady Ashlyn bilang bahwa Anda tidak akan peduli pada apa yang akan menjadi keputusan orang itu?"
Ashlyn mengernyitkan dahinya dan segera mengenali suara orang ini. Setidaknya dia sudah beberapa kali bertemu dengan orang ini sejak dia memutuskan untuk belajar bela diri.
Melihat Ashlyn tidak merespon ucapannya, Ramus membungkuk hormat dan memberi salam.
"Terima salamku Lady Ashlyn dan Tuan Muda Vincent, latihan kalian sepertinya mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama Anda, Lady Ashlyn."
Ramus tersenyum dan Ashlyn masih mengabaikannya dengan meminum teh, ini membuatnya kesal. Namun, Vincent kemudian bertanya hal yang sama dengan Ashlyn.
"Apa pemuda itu tidak kembali?"
Bagaimanapun juga, Ashlan adalah pemuda yang dia lihat bersama kakak perempuannya saat dia menemukannya dulu dan kakak perempuannya bilang Ashlan adalah penolongnya. Tidak hanya itu, mereka juga sepertinya membuat kesepakatan dengan tiga permintaan. Saat Vincent mengetahui tiga permintaan Ashlan, Vincent juga merasa bahwa orang itu tidak mungkin sanggup bertahan, bagaimanapun juga Ashlan adalah manusia biasa.
Ramus tersenyum dan dengan sopan menjawab. "Aku memberi peringatan padanya bahwa menjadi kesatria bukanlah hal yang mudah, dan aku mengatakan padanya untuk memikirkannya lagi, jadi sepertinya dia telah memutuskan dan cukup dengan sekantong emas serta batu permata."
Vincent mengangguk, menyesap tehnya dan berpikir bahwa Ashlan telah membuat keputusan yang tepat, orang itu tidak akan mampu bertahan dengan latihan yang berat untuk menjadi seorang kesatria. Bahkan yang terburuk, dia mungkin berakhir tewas saat latihan. Jadi, sebenarnya orang itu mengambil keputusan yang bijak dengan tidak datang lagi, lagi pula sekantong emas dan batu permata bukanlah hal yang sedikit.
__ADS_1
Namun, sebaliknya Ashlyn justru tertawa sebelum menghela napas panjang. "Pengecut, jadi dia hanya bermulut besar, saat semua uang yang aku berikan habis, dia tidak akan memiliki apa-apa lagi."
Mendengarnya, Ramus dan Vincent termasuk Carolin tidak bisa untuk tidak berpikir bahwa Ashlyn yang jahat ini memang ingin melihat Ashlan mati saat menjalani latihan yang berat! Itu sebabnya dia terlihat kecewa dan bertanya-tanya apa Ashlan tidak datang.
Bagaimana orang ini bisa begitu kejam?
Sementara itu Edmund telah menghabisakan semua emas dan batu permata yang Ashlyn berikan padanya, dia membuangnya ke laut dan berkata itu semua untuk orang tuanya. Berhari-hari, dia tinggal di tepi pantai seperti orang yang tidak ingin hidup lagi.
Mengabaikan luka-luka di tubuhnya serta hembusan angin pantai yang dingin di malam hari dan mengabaikan teriknya sinar matahari di siang hari, Edmund tetap tinggal di pantai selama berhari-hari sampai akhirnya Annabel datang menemuinya.
Annabel mengetahui kabar tentang apa yang terjadi saat dia pergi ke pasar raya dan memutuskan untuk mengunjungi rumah Edmund karena dia sudah lama tidak melihat Edmund setiap kali dia pergi ke pasar raya.
Biasanya Edmund akan menyapanya di dekat kolam air mancur yang berada di tengah-tengah pasar raya. Pemuda itu telah banyak membantunya, Annabel tidak bisa melupakan kebaikannya dan dia juga sudah lama tidak berkunjung untuk menemui orang tua Edmund. Jadi dia pergi ke sana dan mengetahui kabar buruk itu.
Annabel hanya bisa melebarkan matanya dan menutup mulutnya saat mendengar hal itu dan bertanya dimana Edmund pada wanita induk semang.
Wanita induk semang tidak memberitahunya dengan jelas, tapi Annabel bisa menebak bahwa anak itu pasti berada di pantai. Tempat abu orang-orang yang dianggap tidak berharga dibuang seolah itu bukan apa-apa, dan disinilah Annabel menemukan Edmund yang terliat seperti telah kehilangan cahaya kehidupan, begitu kurus dan menyedihkan.
Annabel ingin menangis saat melihat kondisi Edmund dan tidak bisa untuk tidak berlari menghampirinya, memeluknya dan menangis untuknya.
Edmund merasakan pelukan yang hangat dan suara yang akrab. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan memperlakukan dirinya dengan hangat seperti orang tuanya dan Annabel.
Sekarang, orang tuanya telah tiada dan satu-satunya orang yang akan memperlakukannya dengan hangat di dunia ini hanyalah Annabel seorang.
"Annabel." Edmund membalas pelukan Annabel dengan lemah sebelum menjadi erat.
"Kenapa dunia ini begitu tidak adil?" Edmund bertanya.
Annabel menggelengkan kepalanya dan mengusap punggung Edmund.
"Tidak apa, tidak apa, Edmund. Semuanya akan baik-baik saja. Semua yang terjadi selalu memiliki sisi baik di dalamnya, dunia ini mungkin tidak adil untukmu Edmund, tapi percayalah, kau orang baik dan orang baik selalu mendapatkan hal baik."
Edmund menelan salivanya dan air matanya telah kering, bagaimana gadis ini selalu bisa berpikir positif?
Dunia ini tidak adil untuk nya.
Kenapa dia harus terlahir sebagai orang miskin, kenapa dunia ini harus mengambil orang tuanya, kenapa dunia ini membuatnya menderita, kenapa dunia ini membuatnya mengalami semua ini dan kenapa dia tidak bisa bersama dengan gadis ini? Jadi, bagaimana dunia ini adil padanya?
Dunia ini tidak adil padanya!
"Annabel, dunia ini tidak adil bagiku."
Annabel melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Edmund, suatu hari nanti dunia ini akan terlihat adil bagimu, jangan bersedih, semuanya akan baik-baik saja."
Edmund memperhatikan Annabel. Lihat bagaimana gadis itu bersedih untuknya saat dia terpuruk, hanya gadis ini yang akan menangis untuknya dan memberinya pelukan hangat. Hanya gadis ini.
"Annabel, hanya kau satu-satunya orang di dunia ini yang mau berada di sisiku, menerimaku apa adanya, bersedih dan menangis untukku, kau bahkan tidak merasa jijik padaku disaat orang lain merendahkanku. Hanya kau satu-satunya Annabel."
Annabel menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak, Edmund. Aku yakin kau akan menemukan kebahagiaanmu suatu hari nanti dan bertemu dengan orang-orang baik di masa depan. Aku pernah berada di posisimu dulu, saat aku bukanlah anak Duke, hidupku menderita dan miskin, tapi lihat Edmund, dari semua yang terjadi pada kita, kita akan menerima kebaikannya. Bersabarlah."
Edmund menatap senyum lembut di wajah Annabel dan keinginannya untuk mencintai orang ini tumbuh semakin dalam hingga ke titik menginginkannya.
Annabel melihat Edmund yang terlihat lebih tenang dan menghapus air matanya.
"Edmund, ikutlah denganku. Aku akan meminta ayah untuk memberimu pekerjaan di rumah. Ayah tidak akan menolakku, teruslah hidup dengan baik Edmund, jangan pernah pernah menyerah."
Saat mendengarnya, Edmund tidak bisa untuk tidak tersenyum. Lihat bagaimana gadis ini mengkhawatirkannya bahkan dengan baik hati akan membawanya ke Mansion Daren Lynx untuk mendapatkan pekerjaan, meskipun itu hanyalah pelayan, tidak mudah untuk bisa masuk sebagai pelayan di kediaman Daren Lynx jika tidak ada surat rekomendasi.
Pada dasarnya, orang seperti Edmund yang berasal dari kalangan bawah ini tidak akan memiliki tempat di tempat itu. Namun, Annabel dengan baik hati menawarkan pekerjaan untuknya, sementara putri yang lain dari keluarga itu mencoba untuk membunuhnya di tempat latihan.
Namun, Edmund tidak bisa menerima tawaran Annabel yang mulia. Dia akan berjudi kali ini, demi Annabel dan untuk membuat Ashlyn menderita, membuat Ashlyn membayar setiap perbuatan yang dia berikan padanya, karena jika bukan karena Ashlyn menghalanginya untuk pulang, orang tuanya pasti masih hidup.
Akan dia buktikan dan dia akan berusaha keras untuk menjadi kesatria terhebat yang pernah ada, mengalahkan putra mahkota dan membuat Annabel jatuh ke dalam pelukannya. Menjadi miliknya.
🔸 Yok, jangan lupa pada komen, ramein kolom komentarnya (ノ*>∀<)ノ♡
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat muslim ( ˘ ³˘)♥
__ADS_1