I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Tikus Besar.


__ADS_3


Ashlyn duduk dengan bantuan Duke Damien yang menarikkan kursi untuknya. Harus diakui sikap Duke Damien memang berubah terlalu banyak dan Ashlyn bisa memahami kenapa Duke Damien bersikap demikian.


Alasannya tidak lain dan tidak bukan mungkin karena dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Ashlyn, seperti di dalam cerita aslinya Duke Damien rela melakukan apapun yang Aslyn minta untuk membayar rasa penyesalannya. Namun, itu sama sekali tidak mengubah sudut pandang Ashlyn, Ashlyn tetap tidak menyukainya karena pada akhirnya orang ini tetap lebih mencintai Arabella dan Annabel ketimbang Ashlyn.


Ashlyn tidak bisa mempercayainya meski orang ini sudah meminta maaf padanya, dia hanya akan mengambil manfaat dari Duke Damien sebelum pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.


Arabella yang melihat bagaimana perhatiannya Duke Damien terhadap Ashlyn merasa tidak senang, tapi apa yang bisa dia lakukan selain meremas roknya.


"Selamat pagi, Lady Ashlyn." Annabel lebih dulu menyapa Ashlyn dengan senyum di wajahnya. "Apa tidurmu nyenyak tadi malam? Semalam sebelum tidur, aku berdoa agar Lady Ashlyn mendapat mimpi indah. Aku benar-benar berterima kasih karena Lady Ashlyn mau memaafkan Putra Mahkota dan Peter serta pasukan Kerajaan yang lain. Seperti yang aku percayai selama ini Lady Ashlyn memang memiliki hati yang lembut."


Gadis itu mengoceh terlalu banyak dan membuat Ashlyn yang mendengarnya merasa mual, apa-apan dengan nada suara manis yang mencari perhatian itu. Jika kau mendoakan seseorang apa perlu kau mengatakan itu pada orangnya, untuk apa kau mengatakan itu di depan semua orang ... apa kau ingin dipuji karena dengan baik hati berdoa agar Ashlyn mendapatkan mimpi indah, itu sama sekali tidak berguna.


"Lain kali jangan berdoa untukku jika kau hanya mampu mendoakanku untuk mendapatkan mimpi indah, itu seperti kau sedang mencoba mengutukku karena aku tidak bisa tidur sama sekali." Ashlyn berkata acuh tidak acuh yang membuat Annabel merasa tidak nyaman sementara Arabella semakin merasa tidak senang.


"Ashlyn, Annabel begitu baik dengan mendoakanmu agar kau mendapatkan mimpi indah ...."


"Mimpi hanyalah bunga tidur, itu sama sekali tidak berguna di dunia nyata. Indah di dalam mimpi hanyalah sebuah ilusi yang akan hilang saat kau terbangun, lagi pula aku ini buta, apa yang aku harapkan dari mimpi indah, bahkan jika mimpi itu sangat indah, aku tidak mungkin melihatnya di dunia nyata. Berhentilah membuang-buang waktu." Ashlyn segera memotong dan sama sekali tidak berpikir bahwa kata-kata itu akan melukai perasaan Duke Damien.


Arabella akan berkata lagi saat Duke Damien melambaikan tangannya, mengisyaratkannya untuk diam sementara dirinya menatap Ashlyn.


"Apa yang membuatmu tidak bisa tidur? Apa kau sakit?"


Ashlyn mengetuk meja dengan jari telunjuknya dan berkata, "Hanya tidak bisa tidur." Dia tidak bisa mengatakan bahwa semalaman dia mencoba mengobati Ashlan yang terluka parah, di kediaman Daren Lynx yang mengetahui adanya Ashlan di sini hanyalah dia dan Carolin, dan dia sudah memastikan bahwa Carolin akan menutup mulutnya.


Ashlyn tidak bisa mengungkap keberadaan orang itu sementara Duke yang mendengar jawaban itu tidak bisa berkata apa-apa lagi saat putranya, Vincent datang memasuki ruang makan.


Arabella yang melihat kedatangan putranya segera menyambutnya dan Vincent dengan sopan menyapa mereka dengan hormat.


"Selamat pagi, Yang Mulia Duke Damien dan Duchess Arabella, Lady Ashlyn, Lady Annabel."


"Putraku cepat duduk dan ayo makan bersama, kapan lagi kita bisa makan bersama jika kau kembali ke Akademi." Arabella dengan semangat menunjuk kursi kosong di sebelah Annabel. Namun, Vincent justru duduk di sebelah Ashlyn tanpa petunjuk apapun, membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.


Dulu, di sisi Ashlyn tidak pernah ada siapa-siapa, setiap kali mereka makan bersama, tidak ada yang akan duduk di sisi Ashlyn, dia selalu sendirian. Jadi kenapa putranya tiba-tiba mau duduk di sebelah Ashlyn?


Vincent duduk dengan tenang di sebelah Ashlyn, dan para pelayan mulai menghidangkan makanan. Saat para pelayan sibuk melayani mereka, Vincent berkata, "Ayah, aku ingin belajar pada Ayah seperti kakak Ashlyn."


Kata-kata ini mengejutkan keluarganya, terutama Arabella.


"Putraku, apa yang kau katakan, jika kau belajar di rumah, apa yang akan dikatakan orang-orang tentangmu. Ayahmu sangat sibuk, dia tidak memiliki waktu untuk mengajarimu! Kau akan lebih baik jika belajar di Akademi."

__ADS_1


Saat mendengarkan Arabella berceloteh, Ashlyn tidak bisa untuk tidak tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya. Ah, benar-benar wanita ini ....


"Tidak apa jika Vincent ingin belajar padaku seperti Ashlyn. Aku sama sekali tidak keberatan dan aku selalu memiliki waktu untuk anakku, dan jangan pedulikan apa yang orang lain katakan, itu sama sekali tidak memiliki pengaruh untuk keluarga kita."


Arabella berkedip hampir tidak percaya. "Tapi, suamiku ... bukankah kau seharusnya kembali ke pegunungan Wallor untuk memberantas kaum iblis dan monster. Jika kau tidak pergi, apa yang akan mereka katakan tentangmu, kau akan kehilangan ...."


Duke Damien menatap Arabella yang membuat wanita itu berhenti berbicara. "Sudah aku bilang jangan pedulikan apa kata  orang lain, apa kau mengerti apa yang aku katakan?"


Arabella meramas roknya dan menelan salivanya, hanya bisa menahan kesal dan tidak bisa berkata-kata, sepertinya apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Suaminya sekarang berada di pihak Ashlyn dan akan selalu melindungi Ashlyn, lalu bagaimana dengan Annabel?


Duke Damien memegang pisau dan garpu sebelum berkata, "Lagi pula sudah lama aku pergi berperang, biarkan orang lain menggantikan pekerjaanku dan lihat apakah mereka bisa bekerja dengan benar atau tidak."


Arabella mencoba untuk menyanggah. "Tapi suamiku, di mata orang lain kau adalah pelindung ...."


"Aku lebih senang melindungi keluargaku daripada mengetahui bahwa orang-orang yang aku lindungi mencoba mengambil nyawa putriku."


"Sayang, itu hanya salah paham, kau tidak perlu mengambil ini dengan serius, mereka sudah meminta maaf."


"Mereka meminta maaf setelah aku menekan mereka, dan berhentilah berbicara saat kita berada di meja makan. Aku tidak ingin membahas ini lagi."


Arabella menggigit bibir bawahnya saat mendengar hal ini, apa Duke sedang mencoba merendahkannya karena dia hanyalah wanita dari kalangan rendah? Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, dia mungkin akan meledak karena marah jika dia bisa. Namun, di hadapan keturunan Daren Lynx yang luar biasa ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia seperti seekor semut yang mencoba memaki gunung, itu sama sekali tidak berguna!


Namun, beruntung bagi dirinya yang memiliki putri sebaik Annabel, gadis ini begitu mulia dan tahu bagaimana caranya untuk menenangkan dirinya. Annabel meremas tangan Arabella dan mengungkapkan senyum untuknya.


Setelah itu mereka makan dengan tenang dan Ashlyn pergi bersama dengan Duke dan Vincent untuk memulai hari pertama mereka segera setelah selesai sarapan.


Annabel melihat kepergian mereka dimana Duke menggandeng tangan Ashlyn dan Vincent yang berjalan di sisi Ashlyn, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia. Entah kenapa Annabel mulai merasa ini tidak adil, dia juga anggota keluarga mereka, tapi kenapa dia tidak bisa berjalan beriringan dengan mereka?


Arabella melihat wajah sedih Annabel dan bertanya, "Apa yang kau pikirkan, sayang?"


Annabel tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa, Ibu. Aku hanya berpikir apakah mungkin jika aku juga bisa belajar bersama dengan mereka?"


Arabella mengerutkan alisnya sebelum menepuk pundak Annabel. "Putriku sayang, apa kau menginginkan tempat Ashlyn saat kau melihat mereka?"


Annabel menundukkan kepalanya dan tersenyum lembut, "Bagaimana aku bisa menginginkan tempat Ashlyn, Ibu. Tempat itu selalu menjadi miliknya dan aku tidak akan pernah terlihat di mata Duke bahkan jika aku menginginkannya. Aku akan tetap menjadi orang luar karena aku tidak terlahir di keluarga ini."


Arabella menatap wajah Annabel yang bersedih sebelum menatap punggung tiga orang yang sekarang pergi menjauh.


"Jangan khawatir Annabel, bahkan sejak awal tempat Ashlyn bukanlah di sini. Anak haram itulah yang harus menyadari tempatnya. Ibu akan mencari cara dan mari kita lihat, sampai kapan Ashlyn, anak haram  itu bisa bersikap sombong seperti itu."


🔸🔸🔸

__ADS_1


Duke Damien membawa Ashlyn menuju tempat latihan para kesatria di kediaman belakang Mansion Daren Lynx dengan hati khawatir. Dia merasa tidak rela dan khawatir saat membayangkan putrinya mengangkat pedang dan belajar menggunakan pedang, ini sama sekali tidak bagus dan terlalu berbahaya. Namun, putrinya sangat ingin belajar bela diri dan dia sudah menyanggupinya, jadi apa yang bisa Duke Damien lakukan.


Beruntung, ternyata Vincent juga sepertinya membuat keputusan yang bagus dengan keluar dari Akademi dan belajar di rumah. Duke Damien bisa memasangkan mereka untuk latihan bersama, meskipun kemampuan Vincent sudah tinggi, setidaknya Vincent adalah adik Ashlyn, anak ini tidak mungkin menyakiti Ashlyn.


Ya, entah kenapa sejak mengetahui bahwa para prajurit telah berani mengacungkan pedang pada Ashlyn, Duke Damien juga merasa khawatir bahwa para bawahannya juga akan melakukan hal yang sama, dia tidak bisa sepenuhnya mempercayai mereka.


Selain itu, Ashlyn juga telah kehilangan penglihatannya, ini mungkin akan sulit untuk dilakukan. Namun, yang terjadi saat Duke Damien sudah menjelaskan dasar-dasar cara menggunakan pedang dan membiarkan Ashlyn berlatih dengan Vincent.


Ashlyn sebenarnya bisa menangkis serangan yang datang dari Vincent!


"Putri Anda memiliki pendengaran yang luar biasa, Duke Damien. Bahkan jika dia tidak bisa melihat, dia bisa mengetahui arah serangan lawan. Ini mengingatkanku pada kesatria Elgar, legenda dari barat yang konon telah berhasil mengalahkan raksasa ular putih di hutan kematian. Bukankah ksatria Elgar juga dikatakan sebagai orang yang buta."


Orang yang mengajak Duke Damien berbicara adalah orang yang bertanggung jawab pada kediaman belakang, mengurus dan mendata para kesatria, Ramus.


Pria itu tinggi, memiliki rambut hitam gondrong yang diikat sederhana.


Duke Damien menatap Ashlyn yang terlihat seperti sedang bermain pedang-pedangan dengan Vincent. "Ya, dia anak yang luar biasa, tapi aku tidak berencana membuatnya terlibat dengan hal-hal berbahaya. Pastikan para kesatria mengawasi Ashlyn dimanapun dia berada."


Ramus tersenyum, "Ya, kami melakukan yang terbaik untuk menjaganya, dan aku hampir lupa, sepertinya Lady Ashlyn menyimpan tikus di dalam kamarnya."


Duke Damien yang mendengarnya tidak bisa untuk tidak terkejut, "Apa maksudmu?"


Ramus tersenyum, "Kenapa Anda tidak melihatnya sendiri, itu tikus besar yang membuat Lady Ashlyn tidak bisa tidur semalaman suntuk."


Saat mendengar hal ini, Duke Damien ingat bahwa Ashlyn sepertinya mengatakan bahwa dia tidak bisa tidur semalam. Dengan ini, Duke Damien berdiri dan menyuruh Ramus untuk menunjukkan dimana tikus itu sementara dia juga menyuruh orang lain untuk mengawasi Ashlyn dan Vincent.


Vincent bertugas untuk menyerang Ashlyn dengan pedang kayu dan meskipun itu adalah pedang kayu, jika Vincent menggunakan kekuatannya, dia bisa membuat Ashlyn terluka parah, bahkan kehilangan nyawanya. Namun, ini adalah kakak perempuannya, bagaimana dia bisa memiliki niat untuk melukai apalagi membunuhnya.


Vincent hanya berpura-pura menyerang untuk melatih Ashlyn menangkis serangan yang datang padanya. Namun, Vincent tidak menyangka bahwa meskipun kakak perempuannya tidak bisa melihat, dia masih bisa menangkis serangannya dan tahu dari mana serangan itu datang.


Kakak perempuannya benar-benar luar biasa!


Sementara itu, Duke Damien sudah berdiri di dalam kamar Ashlyn dan menatap Edmund yang saat ini berlutut di depannya.


Duke Damien menatap tajam Edmund dan memperhatikan bagaimana penampilan orang ini, sangat menyedihkan, tapi apa yang dilakukan pemuda ini di dalam kamar putrinya, bahkan tidur di tempat tidur putrinya!


"Katakan padaku, siapa kau sebenarnya dan apa yang kau lakukan di kamar putriku?" Duke Damien berkata dingin.


Edmund memegang dadanya yang sakit, wajahnya sudah pucat pasi, tapi di dalam jiwanya berkobar karena amarah. Gadis jahat itu menolongnya, ha ... apa yang dia pikirkan, tentu saja itu hanya omong kosong, pada akhirnya gadis jahat itu akan membuatnya mati di tangan Duke dan menjadikannya sebagai makanan anjing.


Dia seharusnya membunuh Ashlyn saat dia masih memiliki kesempatan!

__ADS_1


Sialan!


__ADS_2