I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Ibu, Aku ingin pulang.


__ADS_3


Duke Damien merasa kepalanya hampir pecah saat memikirkan kondisi keluarganya. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara memperbaiki keluarganya lagi.


Ashlyn, pergi segera setelah dia mengatakan bahwa dia akan membicarakan permintaan Ashlyn pada Arabella. Namun, putrinya ... Bagaimana gadis itu bisa begitu keras kepala dan bagaimana keinginan gadis itu bisa tidak masuk akal? bagaimana gadis itu bisa berpikir seperti itu?


"Seperti yang aku duga, di hati Ayah memang tidak pernah ada aku."


Di sisi lain saat dia mengutarakan niatnya pada Arabella, Arabella justru meninggikan suaranya dan bertanya kenapa dia menikahinya jika hanya untuk dipermalukan oleh keluarganya.


"Bagaimana cara orang lain akan memandangku nanti jika aku menyerahkan hak mengurus rumah pada putrimu. Duke Damien, apa aku benar-benar istrimu?"


Putrinya pergi ke Merlyn dan istrinya mengurung diri di kamar. Membuat dirinya dalam kebingungan kemana dia akan pergi untuk membujuk siapa dan membela siapa.


Istri atau putrinya.


Akhirnya Duke tidak pergi untuk membujuk atau membela siapapun dari mereka.


Duke justru pergi ke kuil suci untuk mendapatkan pencerahan tentang langkah apa yang harus diambil dalam masalah keluarganya.


Pendeta suci yang telah mengurus keturunan Daren Lynx adalah seorang pria tua yang telah berumur 90 tahun, pria ini jugalah yang mengurus dirinya sejak dia dilahirkan hingga berusia lima tahun.


Namanya adalah Matheus, pria yang lemah lembut yang akan mengajarkan norma-norma kehidupan dan memastikan keturunan Daren Lenx menjadi pribadi yang bisa diandalkan.


Membunuh monster, menyelamatkan yang lemah dan rendah hati.


Duke memahami prinsip dasar itu, Matheus bilang itu adalah alasan keturunan Daren Lynx dilahirkan ke dunia. 


"Banyaknya monster yang telah aku bunuh telah mengotori semua tubuhku, mungkin karena itu tidak ada kerendahan hati yang tersisa di dalam diriku."


Duke menatap pendeta suci yang terlihat sangat tenang seperti permukaan air.


"Putriku bilang aku adalah orang yang seperti ini, orang yang lebih senang memberi dan melakukan sesuatu ketimbang meminta maaf. Aku tahu bahwa dia benar, tapi aku juga tidak ingin selalu di salahkan. Aku mencoba memperbaiki keadaan tapi mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sedang aku lakukan, atau aku sendirilah yang tidak tahu harus berbuat apa agar mereka mengerti. Mereka adalah keluargaku, semua terikat denganku, Ashlyn adalah putriku dan Arabella adalah istriku, ibu dari putraku Vincent, aku ingin mereka bisa berbaikan dan berjalan bersisian sebagai seorang ibu dan anak meskipun mereka tidak terikat oleh darah, jadi kenapa mereka tidak bisa melakukannya?"


Duke Damien terdengar frustasi, tapi Pendeta Matheus masih terlihat tenang dan terkendali.


"Hubungan mereka sudah sangat buruk, sejak awal putrimu tidak menyukai istrimu, tapi Yang Mulia pergi ke medan pertempuran setelah menikah, Yang Mulia terus sibuk di medan pertempuran sejak saat itu, aku merasa bahwa itulah sebabnya putrimu merasa bahwa Yang Mulia tidak pernah ada untuknya. Seorang anak yang hanya memiliki seorang ayah, ketika ayahnya datang dengan seorang istri dan anak lain, dan membagi perhatian yang biasanya hanya untuknya, dia akan bertanya di dalam hati kecilnya, apakah ayahnya sudah tidak menyukainya lagi?"

__ADS_1


Duke terdiam saat mendengar kata-kata ini, di dalam dia sadar bahwa dia telah salah dengan mengabaikan Ashlyn selama ini dengan hanya fokus di medan pertempuran. Dia tidak mengira bahwa akibatnya akan menjadi seperti ini. 


"Aku tidak ingin menyalahkanmu karena tugas yang Yang Mulia tanggung untuk membawa kedamaian bukanlah hal yang mudah, hanya saja ketidak hadiranmu dalam masa pertumbuhannya membuat putrimu perlahan-lahan menutup pintu hatinya, alam bawah sadarnya terus mengatakan bahwa Yang Mulia telah meninggalkannya. Kemudian anak itu akan mulai mencari jawaban untuk pertanyaan di dalam hati kecilnya 'kenapa ayahnya tidak pernah ada untuknya lagi, kenapa dia ditinggalkan?' dan mungkin, putrimu menjadikan istrimu serta keluarganya sebagai penyebab dirimu meninggalkannya, karena itulah dia begitu membenci mereka sehingga hubungan mereka akan sulit untuk diperbaiki."


Duke menutup matanya dan meraup wajahnya, sangat frustasi. "Lalu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki ini?"


Pendeta Matheus terdiam sejenak sebelum berkata, "Tunjukkan padanya bahwa Yang Mulia ada untuknya."


Duke, "Aku sudah melakukannya, aku bertanya padanya bahwa aku akan memberikan dan melakukan apapun yang dia minta."


"Lalu apa yang dia katakan saat Yang Mulia menanyakan hal itu?"


Mendengar pertanyaan dari pendeta, mata Duke Damien melebar.


Karenamu duniaku menjadi gelap. Jangan lakukan apapun dan jangan pernah lakukan apapun seperti sebelumnya saat kau tidak pernah ada di sini.


Jangan lakukan apapun, aku tidak membutuhkannya. Pergi saja berperang atau pergi saja ke istrimu, di matamu aku tidak pernah ada, bukan?


Sudah aku duga bahwa di hati Ayah, aku memang tidak pernah ada.


"Pikirkan baik-baik, Damien, saat putrimu mengatakan bahwa istri dan putri tirimu telah mengambil segalanya yang seharusnya menjadi miliknya, aku berpikir bahwa miliknya yang dia maksud adalah dirimu, Damien. Putrimu, Ashlyn merasa kehilangan dirimu, kasih sayangmu, perhatianmu dan dukunganmu karena mereka. Jadi saat kau menamparnya, semua jawaban sudah tercetak jelas dalam pikiran dan hatinya bahwa dia telah ditinggalkan olehmu demi mereka. Namun, yang kau tanyakan padanya justru hanyalah apa yang dia inginkan. Bagaimana kau bersikap seperti ini, Damien. Aku tidak tahu apakah karena kau terlalu sering membunuh monster dan menumpahkan darah mereka, kau menjadi orang yang mulai kehilangan empati, kau seharusnya sudah tahu apa yang dia inginkan tanpa perlu bertanya lagi, Duke."


Duke terdiam, menundukkan kepalanya dan pendeta Matheus menghela napas sebelum melanjutkan.


"Tempramennya menjadi semakin buruk dan itu akan sulit untuk membuatnya percaya lagi karena hatinya sudah terluka. Bahkan jika kau bertanya padanya apa yang dia inginkan, maka dia akan meminta sesuatu yang sulit untuk diputuskan olehmu. Seakan dia memintamu untuk memilih antara dirinya dan istrimu. Dia ingin mengujimu, tentang bagaimana perasaanmu untuknya. Jadi, saat dia mendengar jawaban yang mengecewakan darimu, dia lebih memilih pergi. Damien aku harap kau tidak lupa dari mana Ashlyn berasal, meskipun dia adalah putrimu, dia juga miliknya, jika datang masanya dia untuk mengambil Ashlyn darimu apa yang akan kau lakukan?"


🔸🔸🔸


Mata Duke menatap tajam saat dia mengendarai kudanya dengan begitu cepat, berkali-kali dia menghentakkan kakinya agar kuda hitam yang ditunggangi mempercepat larinya. 


Sejak surat dari Merlyn datang padanya, Duke tidak bisa untuk tidak merasakan dadanya diremas dan disiram air asam. Begitu sesak dan menyakitkan saat dia membaca laporan tentang Ashlyn yang mencoba menenggelamkan dirinya sendiri di pantai Merlyn.


Jika datang masanya dia untuk mengambil Ashlyn darimu, apa yang akan kau lakukan?


Pertanyaan ini berputar di kepalanya dan pandangan matanya kian tajam. Di dalam hati Duke bertekad bahwa selamanya, bahkan jika itu berarti dia harus membunuh putrinya sendiri, dia akan melakukannya karena dia tidak akan mengizinkan dia untuk mengambil Ashlyn darinya.


Ashlyn harus tetap berada di sisinya.

__ADS_1


Duke terus memecut kudanya, membuatnya terus berlari sepanjang malam hingga kuda itu mulai kehilangan kekutannya dan tidak sanggup berlari lagi karena Duke terlalu memaksanya dan membuat luka yang mengerikan di bagian tubuh yang dipecut.


Kuda itu jatuh saat Duke hampir sampai di Merlyn, tapi Duke tidak memedulikan bagaimana kondisi kudanya yang sekarat dan bergegas berlari meninggalkan kudanya, dia ingin segera sampai ke villa tempat putrinya berada.


Bulan masih menggantung di atas langit saat Duke sampai di villa tempat Ashlyn tinggal. Duke ingat surat itu mengatakan bahwa saat berjalan di tepi laut, Ashlyn tiba-tiba berlari menuju air dan mencoba menenggelamkan dirinya sendiri. Carolin dan para kesatria mencoba menghentikannya, saat mereka berhasil mendapatkan Ashlyn, Ashlyn terus saja menggumamkan kata-kata bahwa dunia ini tidak adil untuknya dan dia ingin pulang. 


Di surat itu juga dikatakan bahwa Ashlyn terus menerus memanggil ibunya.


Jantung Duke seperti diremas saat membaca bagian itu. Dia sampai di villa tempat Ashlyn tinggal, tapi bukankah itu terlalu sunyi?


Tidak ada kesatria yang berjaga di depan vila, ketakutan segera menjalar di tubuh Duke. Dia melihat pintu depan yang tidak tertutup dan bergegas masuk hanya untuk menemukan bahwa semua orang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.


"Ashlyn!" Duke berteriak. Namun, dia tidak mendapatkan jawaban.


Rasa takut di dalam dadanya semakin besar hingga dia merasa sakit di hatinya. Dengan gusar Duke keluar dari vila dan berlari mencari Ashlyn dan dia menemukannya di pantai Merlyn.


Ashlyn seorang diri, hanya mengenakan piyama berwarna putih yang tidak akan mampu melindunginya dari dinginnya angin laut, tapi gadis itu seperti tidak peduli. Dengan kaki telanjangnya dia berjalan mendekati air, rambutnya yang abu-abu keperakan terlihat bercahaya tertimpa cahaya rembulan, bergelombang seperti ombak saat di terpa angin.


Duke mengejarnya dan meneriakkan namanya.


"Ashlyn!" 


Duke segera menarik Ashlyn ke dalam pelukannya, tapi gadis itu mencoba memberontak.


Mereka bergulat di air laut yang membuat tubuh dan pakaian mereka basah. Ashlyn berusaha keras untuk melepaskan diri sementara Duke dengan kuat menahannya. Itu berlangsung hingga beberapa saat sampai Ashlyn terpuruk di dalam air.


Duke memegangnya dan menatap wajah putrinya.


Putrinya menangis, mata abu-abunya terus mengeluarkan air mata. "Ibu, aku ingin pulang, ibu dunia ini tidak adil untukku, ibu ... aku ingin pulang."


Duke Darian yang melihat ini menyadari bahwa putrinya tidak dalam kondisi sadar, dia berjalan dalam tidurnya, mengikuti panggilan magis di dalam mimpinya. Namun, tetap saja, melihat ini hati Duke kesakitan. Dia membawa Ashlyn ke dalam pelukannya, berkali-kali meminta maaf meskipun dia tahu bahwa putrinya tidak akan mendengarkan permintaan maafnya saat ini. Namun, dia masih meminta maaf.


Sementara di kejauhan Edmund yang datang terlambat, menatap mereka dengan  perasaan lega. Saat dia mendengar bahwa Ashlyn pergi ke pantai Merlyn, Edmund sadar bahwa masa depan sudah berubah terlalu banyak, Ashlyn seharusnya tidak pernah pergi ke pantai Merlyn karena dia seharusnya merawatnya di kediaman belakang.


Edmund yang kalut dengan pikirannya sendiri segera meminjam uang pada Ramus dan bergegas pergi, mengabaikan luka-lukanya, bahkan saat dia kehabisan uang karena dipalak oleh preman jalanan dia masih berjalan kaki untuk sampai di Merlyn. 


Perasaan takut menyelimutinya tentang kejadian yang pernah dia alami, saat entah apa yang terjadi tapi kekuatan sihir yang begitu kuat membuat semua orang tertidur dan Ashlyn pergi ke pantai dengan tubuh yang penuh luka. Dulu, Edmund hampir terlambat mendapatkannya, Ashlyn hampir menenggelamkan dirinya sendiri, saat Edmund menariknya ke daratan gadis itu terus menggumamkan.

__ADS_1


"Ibu dunia ini tidak adil untukku, aku ingin pulang."


"Aku ingin pulang."


__ADS_2