
Ashlyn terengah-engah, kenapa dia harus begitu mengeluarkan banyak tenaga dan waktu untuk sampai ke halaman utama.
Sialan pada Mansion ini yang begitu besar dan lorong yang begitu panjang. Ini adalah novel dengan sub genre fantasi jadi kenapa dia tidak bisa menggunakan teleportasi dan harus menggunakan kedua kakinya untuk sampai ke tempat ini.
Dia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia hanya langsung berteriak begitu dia membuka pintu utama.
"Berhenti!"
Menelan ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena terlalu lelah. Ashlyn kemudian menoleh ke tempat Carolin berada.
"Mereka belum dieksekusi, bukan?"
Ashlyn bertanya dan Carolin segera menganggukkan kepalanya sambil memasangkan syal pashmina di pundak Ashlyn.
"Belum, belum, Lady Ashlyn. Mereka belum dieksekusi."
Ashlyn menghela napas lega dan dia kembali menoleh ke depan. Meskipun dia buta dan warna matanya abu-abu, orang-orang yang melihat Ashlyn merasa bahwa Ashlyn tidak buta karena tatapannya begitu tajam dan penuh keberanian seolah memercikkan kemarahan dari ekspresi wajahnya yang marah.
Dan mereka bertanya-tanya, apakah Ashlyn yang jahat ini sengaja datang untuk menyaksikan bagaimana dua orang itu mati. Gadis jahat ini memang sesuai dengan rumor yang beredar,
TIDAK BERPERASAAN.
TIDAK BERPERIKEMANUSIAN.
KEJAM!
Masih terengah-engah Ashlyn meraih tangan Carolin dan berkata. "Bawa aku ke panggung sekarang."
Carolin yang tiba-tiba diseret menjadi takut, "Ta-tapi Lady Ashlyn."
Ashlyn berhenti dan melepaskan pegangannya. "Kenapa!" Ashlyn berteriak membuat Carolin terhenyak dan gemetar ketakutan. "Kenapa kau suka sekali membantah kata-kataku, kau begitu tidak sukanya bekerja padaku?"
Semua orang melihat ini dan semakin yakin pada dugaan mereka bahwa rumor itu adalah benar. Ashlyn memang gadis jahat yang bahkan tidak akan memikirkan nasib pelayannya dan membuang mereka kapanpun dia mau.
Sementara itu Ashlyn begitu kesal juga marah. Dia mungkin buta, tapi dia tidak tuli dan dia sudah tidak tahan dengan semua alamat yang diarahkan padanya.
Ashlyn yang jahat, Ashlyn yang kejam, dan segudang julukan yang keluar dari mulut mereka.
Kekejaman tokoh Ashlyn tidak separah yang orang-orang pikirkan tentang Ashlyn. Ashlyn hanya berbuat jahat pada Annabel dan orang-orang yang mencoba membela Annabel. Namun, itu semata-mata hanya karena Ashlyn ingin melindungi apa yang menurutnya adalah miliknya.
Melindunginya dari dua parasit yang mencoba merebut segalanya darinya.
Annabel dan Arabella!
Ashlyn mencengkram tangannya erat-erat, tokoh ini begitu menderita karena mereka, dan pada akhirnya tokoh ini mati dengan cara yang tidak adil, tapi mereka tetap hidup dan mungkin hidup bahagia setelah tokoh ini dibunuh oleh Duke.
Kemarahan Ashlyn semakin memuncak, dia pikir saat pertama kali terbangun di tubuh tokoh ini dia akan meninggalkan tempat ini dan tidak mau berurusan dengan Annabel serta Arabella. Namun, apa yang terjadi, semuanya menyalahkan dirinya dan menganggapnya sebagai orang jahat. Bahkan dia hampir kehilangan nyawanya duka kali!
Dua kali! Ashlyn tidak ingin ada yang ketiga atau kesekian kalinya.
Annabel dan Arabella! Ashlyn mengulum dua nama ini di dalam mulutnya, omong kosong dengan pergi menjauh dari mereka dan hidup dengan tenang di gunung. Ashlyn telah mengubah tujuannya dan bertekad bahwa dia akan mengambil segalanya, mengambil semua yang seharusnya menjadi tokoh Ashlyn.
"La-lady Ashlyn, a-aku tidak bermaksud ...."
"Lagi-lagi berbicara tergagap, tidak bisakah kau berbicara dengan benar dan tidak bisakah kau mengerti apa yang aku ucapkan!"
Duke Damien melihat putrinya yang tengah memarahi Carolin di depan semua orang sebelum memperhatikan sekitar, melihat bagaimana orang-orang ini melihat putrinya yang sedang mengalami ledakan emosi.
Melihat bagaimana cara mereka melihat putrinya dengan berbisik-bisik seperti itu Duke benar-benar merasa tidak senang.
Jika itu dirinya saat dia pertama kembali dan melihat sikap putrinya, Duke akan merasa malu pada orang-orang yang melihat akan sikap putrinya yang di luar batas dan tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan. Dia akan marah dan menarik putrinya, dan menguncinya di kamar untuk merefleksikan kesalahannya atau menamparnya agar gadis itu diam.
Namun, sekarang saat Duke melihat ini, Duke benar-benar merasa sangat bersalah. Putrinya menjadi seperti ini adalah salahnya. Jadi bagaimana dia bisa menamparnya dan mengurungnya di kamar, satu-satunya orang yang pantas untuk ditampar adalah dirinya sendiri.
Mengabaikan tatapan dan bisikan orang-orang, Duke turun dari panggung dan menghampiri Ashlyn, meraih tangannya.
"Ashlyn." Duke berkata dengan lembut.
Namun, sesaat setelah Duke mengatakan hal itu, Ashlyn menarik tangannya dengan kasar dan membuat pegangannya terlepas.
"Jangan sentuh aku!" Ashlyn membentak.
__ADS_1
Duke tertegun, sama halnya dengan semua orang yang hadir di sana. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Ashlyn akan begitu berani, bahkan pada ayahnya sendiri, Duke Damien Daren Lynx yang terhormat.
Betapa tidak sopannya dia! Tatapan semua orang semakin dipenuhi kebencian terhadap Ashlyn.
Duke mencoba menahan emosinya untuk tidak marah pada Ashlyn dan mengabaikan tanggapan orang lain. Ini adalah kesalahannya bahwa putrinya menjadi seperti ini, dia tidak bisa marah dan memperburuk keadaan putrinya, dia harus bersikap sabar untuk memperbaiki ini.
"Ashlyn, apa yang kau lakukan di sini, masuklah dan beristirahat lebih dulu, kondisimu ...."
"Bagaimana dengan kondisiku?" Ashlyn dengan cepat memotong. Apa Duke sangat ingin membuat putrinya semakin dibenci oleh semua orang dengan membunuh dua orang itu? "Apakah aku seharusnya menunggu di dalam sementara orang yang akan ayah penggal lehernya hari ini adalah orang yang tidak bersalah!"
Selesai mengatakan hal ini, semua orang yang bisa mendengar saling berbisik-bisik.
"Lady Ashlyn bilang dua orang itu tidak bersalah."
"Apa, tapi bagaimana dia bisa tahu?"
"Ah aku yakin ini hanya rencana Lady Ashlyn untuk mendapatkan perhatian semua orang."
"Apa kau yakin?"
Orang-orang yang berbisik membuat orang yang tidak mendengar apa yang dikatakan Ashlyn menjadi mengetahui apa yang Ashlyn katakan. Semua orang mengutarakan pendapat masing-masing termasuk para aristokrat yang mulai berdebat tentang kredibilitas Duke Damien dalam menangkap penjahat.
"Apa menurutmu Duke benar-benar salah menangkap pelaku yang sebenarnya."
"Ah, ini memalukan. Duke yang hebat ternyata juga bisa gagal."
"Jaga ucapanmu, jika dia mendengarmu kau akan kehilangan lidahmu. Lagi pula semua orang bisa berbuat salah."
"Tapi, Lady Ashlyn benar-benar berani untuk mempermalukan ayahnya sendiri di depan umum seperti ini. Kira-kira apa yang akan dilakukan Duke Damien kali ini?"
"Dia mungkin akan menamparnya lagi sampai dia bisu."
Semua orang berbisik-bisik dengan suara lirih dan hati-hati, takut omongan mereka akan didengar oleh Duke Damien. Namun, meskipun mereka takut, mereka masih melanjutkan untuk menggunjing Duke dan Ashlyn, benar-benar seperti anjing yang menggonggong tapi tidak menggigit.
Satu-satunya orang yang tidak menggunjing Duke dan Ashlyn adalah Putra Mahkota. Dia justru sedang sangat khawatir dan bertanya-tanya bagaimana gadis itu bisa tahu bahwa dua orang itu tidak meracuninya.
Meskipun Putra Mahkota sudah membuat kesepakatan dengan pemilik toko kue agar dia tutup mulut tentang perintah yang diberikan olehnya. Namun, di bawah ancaman Duke, siapa yang bisa menjamin bahwa mungkin pemilik toko kue sialan itu membuka mulutnya dan mengatakan keterlibatan dirinya tentang masalah ini.
Jika itu terjadi, dia yang akan dipenggal.
Sialan! Ashlyn! Gadis jahat itu semoga Tuhan mengirim petir untuk membunuhnya!
Lagi pula, dia adalah Putra Mahkota, Duke harus menghadapi pasukan Kerajaan jika dia ingin memenggalnya! Ayahnya adalah sanga Raja, dia tidak akan membiarkan putranya mati begitu saja, bukan?
"Apa maksudmu dengan orang yang salah, Ashlyn?" Duke Damien dengan sabar bertanya.
Ashlyn mendengus dan mengangkat kepalanya, menunjukkan mata abu-abunya dengan berani. "Apa yang dokter katakan mengenai kondisiku, pikirkan lagi Duke Da ...."
"Ayah." Duke Damien dengan cepat memotong. "Ingat perjanjian kita, Ashlyn. Kau harus memanggilku ayah."
Ashlyn menunduk dan terkekeh sebelum berkata. "Baiklah, Ayah. Gunakan otak ayah untuk berpikir, aku keracunan makanan, dan orang yang keracunan makanan tidak akan langsung menunjukan gejala keracunan setelah orang itu selesai makan. Aku jatuh pingsan setelah selesai makan mie, itu artinya mienya tidak beracun tapi kue ikan sialan itu yang beracun."
Duke terdiam saat mendengarkan penjelasan Ashlyn dan Ashlyn terus menjelaskan. "Lagi pula, bukan hanya aku yang makan mie, semuanya termasuk para kesatria, Ashlan dan Carolin juga makan, sama halnya dengan kue ikan, mereka juga ikut makan, saat itu kue ikan milikku tidak enak dan aku yang tidak pernah makan kue itu berpikir kalian semua memang memiliki selera yang buruk tentang makanan. Tapi sepertinya aku salah, pemilik toko kue memang sengaja memberiku kue yang tidak enak dan beracun."
Ashlyn kemudian tertawa dan menyibak rambutnya ke belakang. "Benar-benar orang tidak berguna, aku membeli kuenya tapi dia ingin meracuniku seolah aku ini orang yang memiliki banyak hutang padanya."
Mendengarnya Duke menatap Carolin dan Duke ingat Carolin juga mengatakan tentang Ashlyn yang segera membuang kue ikan itu setelah makan satu gigitan.
Pembuluh darah di dahinya melonjak dan tangannya mengepal erat.
"Segera siapkan pasukan, seret pemilik toko kue ikan itu ke tempat ini dan biarkan semua orang melihat kematiannya!" Duke segera memberi perintah saat itu juga dan Ashlyn juga ingin menunggu dan mendengar apa yang akan dikatakan pemilik toko saat dia datang nanti.
Derap kuda terdengar, para kesatria pergi ke keluar dari pintu gerbang dan hanya butuh beberapa menit untuk kembali ke halaman.
Itu sangat cepat, Ashlyn berpikir apa pemilik toko kue tidak bersembunyi dan melarikan diri saat dia mendengar tentang hal ini, apa dia tidak takut bahwa kepalanya mungkin saja putus hari ini jika dia ketahuan atau orang ini sebenarnya terlalu tenang dan begitu percaya diri bahwa dia tidak akan ketahuan.
Bodoh.
"La-lady Ashlyn saya sangat membenci Anda!"
Ashlyn tertegun, sementara Duke begitu marah hingga dia tidak tahan untuk tidak memukul pemilik toko kue.
Tamparan keras mendarat di pipinya hingga orang itu mengalami hal yang sama dengan Edmund. Pipinya memar sementara hidung dan mulutnya tidak berhenti mengeluarkan darah.
__ADS_1
Namun, bukannya takut pemilik toko kue itu justru tertawa dan mengejutkan semua orang.
"Lihat bagaimana gadis yang jahat ini menggunakan kekuasaan ayahnya untuk menekan orang biasa sepertiku. Mereka pikir hanya karena mereka berkuasa mereka bisa melakukan apa saja. Orang-orang terkutuk, kalian hanya terlahir lebih beruntung dariku tapi kalian tidak pernah bersyukur dan terus membuat hidupku susah. Karena Anda Lady Ashlyn yang jahat, Putra Mahkota berhenti membeli kue dariku, dan tokoku harus dibuka untuk umum, penjualanku menurun drastis dan aku mengalami kerugian yang cukup besar karena orang-orang tidak mau membeli kue ikan dari tokoku, mereka terbiasa memakan kue ikan pemberian Lady Annabel yang mulia. Namun, apa yang Anda lakukan hanya karena Anda ingin makan kue ikan, Anda menghancurkan bisnisku, Anda menghancurkan bisnisku!"
Ashlyn berdecak dan di dalam dia benar-benar kesal setengah mati, lagi-lagi semuanya berhubungan dengan Annabel. Sepertinya dirinya dan Annabel memang tidak bisa untuk tidak bersinggungan.
Di bawah, orang-orang mulai berbisik-bisik lagi tentang apa yang pemilik toko kue katakan dan sebagian besar dari mereka setuju. Karena Lady Ashlyn mereka harus mengeluarkan uang untuk makan kue ikan.
"Kenapa kau menyalahkanku untuk masalah yang kau alami? Apa kau bodoh?"
"Ya, seperti inilah Lady Ashlyn yang jahat, dia tidak pernah peduli pada kehidupan orang lain!" Pemilik toko kue terus menyalak marah, tidak peduli meskipun kedua tangannya ditahan dan dipaksa untuk berlutut di depan semua orang.
Ashlyn meremas tangannya, menyadari bahwa selamanya dia mungkin tidak akan bisa lepas dari julukan Ashlyn yang jahat. Namun kemudian dia tidak bisa untuk tidak tersenyum sementara Duke tidak mengerti kenapa Ashlyn ingin mendengarkan penjelasan dari pemilik toko kue ini dan melarangnya untuk membunuhnya.
Namun, Duke tidak bisa untuk tidak mengagumi sikap Ashlyn yang sampai saat ini tidak meledak karena emosi, dia justru terkesan tenang dan tidak kehilangan senyumnya dari wajahnya.
"Kenapa kau menyalahkanku dan bukan Annabel serta Putra Mahkota?"
Ucapan ini mengagetkan semua orang dan membuat orang-orang kembali berbisik.
"Wah, betapa beraninya dia menyalahkan Annabel dan Putra Mahkota."
"Dia tidak sadar diri, karena dia lah pemilik toko hampir bangkrut dan bla bla bla."
Mereka melanjutkan pergunjingan mereka dengan suara lirih.
"Jika sejak awal pasukan kerajaan tidak melarangku untuk membeli kue ikan, semuanya tidak akan seperti ini. Hei, gunakan otakmu untuk berpikir, jika Putra Mahkota tidak membeli semua kue mu sejak awal, Annabel tidak perlu membagi-bagikan kue itu pada orang lain. Jika Annabel tidak membagi-bagikan kue itu setiap hari secara gratis maka toko kuemu tidak akan kehilangan pembeli. Dari awal ini adalah salahmu yang membiarkan ini terjadi, dan jika kuemu benar-benar enak, kau juga tidak akan kehilangan pembeli, makanan yang enak selalu dicari oleh pembeli. Namun, apa ini ... Kuemu ternyata lebih buruk dari sampah, rasanya begitu buruk bahkan beracun itu sebabnya mereka tidak ingin membeli kuemu dan menunggu barang gratis. Karena kuemu sama sekali tidak layak untuk dibeli."
Makanan yang enak selalu dicari pembeli. Pemilik toko tertegun saat mendengar ini seolah kata-kata ini mengingatkannya kembali pada masa saat toko kuenya hanyalah sebuah toko kecil, saat itu Lady Annabel belum muncul di tokonya dan Putra Mahkota tidak membeli semua kuenya. Namun, kuenya selalu habis dan antrian di tokonya begitu panjang, setiap hari pemilik toko kue bisa melihat wajah yang sama dengan orang-orang yang selalu membeli kue ikannya dan terkadang ada wajah baru yang datang ke toko kuenya. Bahkan tidak jarang pasangan kekasih menjadikan toko kuenya sebagai tempat bertemu dan tak jarang orang justru menemukan belahan jiwanya saat mengantri di toko kuenya. Tokonya tidak pernah sepi dari pembeli dan karena itu dia bisa mengenal banyak orang.
Toko kuenya adalah yang paling terkenal di ibu kota.
Namun, sejak Lady Annabel datang dan menyukai kue ikan buatannya, tiba-tiba tokonya harus ditutup dan dia hanya membuat kue ikan untuk Putra Mahkota, sejak hari itu dia hanya sibuk di dapur membuat kue dan tidak ada lagi pembeli yang mengantri di depan tokonya sambil tertawa dan berbicara dengannya seperti dulu. Tokonya menjadi sunyi seolah kehilangan jiwanya.
Tanpa sadar, pemilik toko meneteskan air mata saat mengingat masa kejayaan tokonya yang begitu ramai dan tidak pernah sepi pengunjung. Namun tiba-tiba pandangan matanya kian gelap.
"Tidak! Ini semua salah Anda Lady Ashlyn, ini semua salah Anda, jika Anda tidak membuat keributan di toko kue saya, toko saya tidak perlu mengalami kerugian yang begitu besar. Semua ini karena Anda, karena Anda adalah manusia yang terlahir dengan dosa dan dikaruniai sifat kejam, tidak berperasaan dan tidak peduli pada orang lain. Orang seperti Anda pantas untuk mati, Anda benar-benar pantas untuk mati, karena itulah saya menaruh racun di kue ikan milikmu, saya berharap Anda mati setelah memakan kue ikanku dengan sangat menderita. Anda ...."
Duke sudah sangat tidak tahan pada orang itu, kata-katanya yang kasar benar-benar sudah keterlaluan, beraninya orang seperti dirinya mengutuk putrinya bahkan dengan sengaja menaruh racun di makanan putrinya. Duke ingin menarik pedangnya dan memenggal kepala orang itu segera, tapi putrinya begitu tenang dan terkesan tidak peduli seolah dia akan mendengarkan semua sumpah serapah dan kutukan yang datang dari orang itu, dan itu membuat Duke tidak bisa mengambil tindakan karena dia sudah berjanji pada Ashlyn untuk membiarkan Ashlyn memutuskan apa yang akan terjadi pada pemilik toko kue itu.
Namun, saat pria itu memaki-maki dan mengutuk putrinya dan dia hanya bisa menahan amarah dengan mengepal tangannya. Tiba-tiba Duke melihat pemuda bernama Ashlan itu menubruk pemilik toko, seolah dia adalah binatang buas, Ashlan menggigit leher pria itu hingga darah memuncrat dan berceceran dimana-mana.
Begitu brutal, tindakannya mengejutkan semua orang, tapi refleks Duke begitu cepat, dia segera melindungi Ashlyn dengan jubahnya, memastikan tidak ada darah yang mengotori putrinya.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak dan suasananya menjadi kacau, mereka lebih terkejut saat melihat ini. Edmund benar-benar seperti binatang buas yang liar dan kelaparan, meskipun tubuhnya penuh luka dan kedua tangannya diikat, dia tidak membiarkan pria pemilik toko kue itu lepas dari gigitannya.
Pria itu berteriak meminta tolong dan menggeliat kesakitan, tapi Edmund menekan tubuh pria itu dengan tubuhnya, dia duduk di atas pria itu sementara giginya menggigit lehernya, dengan giginya Edmund membelah kulit dan daging hingga pembuluh darah pria itu.
Mereka yang melihat itu tidak bisa untuk tidak bertanya.
"Siapa orang gila itu?"
"Kenapa orang itu terlihat sangat marah untuk Lady Ashlyn hingga melakukan hal keji itu?"
Semua orang terkejut dan ketakutan, kecuali Putra Mahkota yang justru terlihat senang seolah dia baru saja kehilangan rasa takutnya. Itu bagus jika pemilik toko kue itu mati, dengan ini posisinya akan aman dan Putra Mahkota benar-benar menghargai keberanian pemilik toko kue yang mau mati demi keluarganya yang ditahan di penjara. Orang itu benar-benar bodoh dengan berpikir bahwa dia akan melepaskan keluarganya jika dia menutup mulutnya tentang keterlibatan Putra Mahkota, tentu saja Putra Mahkota tidak akan pernah melepaskan keluarganya, bahkan kematian mereka jauh lebih baik agar rahasia ini tetap aman.
Orang-orang terus berbisik sementara Edmund hanya berhenti menggigit ketika korbannya tidak bergerak lagi. Namun, setelah itu Edmund tertegun, dengan darah yang mengalir di mulutnya bahkan mengotori sebagian wajah dan tubuhnya, Edmund menatap kosong pada pria yang baru saja dia bunuh.
Pria itu terlihat sangat menyedihkan seolah dia mati dengan penuh kesakitan. Matanya melotot dengan sudut mata yang memerah serta air mata di pelipisnya, lehernya terluka parah dan masih mengalirkan darah sementara mulutnya menganga seolah orang itu masih berteriak, tapi telah kehilangan suaranya. Pria itu mati.
Tangan Edmund bergetar, seolah menyadari apa yang baru saja dia lakukan adalah salah. Dengan takut dan khawatir, Edmund menoleh untuk melihat Ashlyn, tapi baru setengah dia menoleh, Edmund kembali menunduk seolah menyadari betapa kotornya dirinya dengan semua darah yang ada di tubuhnya.
Edmund mencoba menghapus darah itu, terutama yang ada di wajahnya. Namun, dia kesulitan karena tangannya diikat ke belakang. Edmund terus berpikir bagaimana caranya dia bisa membersihkan wajahnya, hingga akhirnya dia menggosok wajahnya pada mayat pria yang ada di depannya sebelum menoleh untuk melihat Ashlyn yang berada di dalam dekapan Duke Damien.
Edmund tidak bisa melihat wajah Ashlyn, dia hanya melihat sedikit rambutnya yang abu keperakan di balik bahu Duke Damien.
"La-Lady Ashlyn." Edmund berkata dengan hati-hati dalam posisi berlutut dan kepala yang menengadah. "Lady Ashlyn, aku benar-benar tidak sengaja, aku lepas kendali, tolong jangan benci aku." Edmund memohon seperti seekor anjing yang akan dibuang oleh majikannya karena membuat majikannya marah sekaligus jijik terhadap perbuatannya.
Dia meratap dan menatap, tapi Ashlyn tidak menunjukkan wajahnya dan terus bersembunyi di dalam dekapan Duke.
"Tolong jangan benci aku, Ashlyn."
🔸 Sikap Edmund yang seperti ini karena apa?semua petunjuk ada di bab sebelumnya :v
__ADS_1