
Ayana, ah tidak sekarang namanya adalah Ashlyn.
Ashlyn duduk diam di dalam kamarnya untuk beberapa waktu, setidaknya dia harus menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah Ashlyn yang tengah terpuruk karena kebutaan yang baru saja dialaminya.
Itu mudah, Ashlyn hanya perlu mengurung dirinya selama tiga hari tiga malam dan menolak untuk makan, menunjukkan kesedihan dan keputusasaannya di depan semua orang seperti yang Ayana lakukan dulu.
Namun, untuk melakukan hal itu benar-benar tidak mudah. Ashlyn bahkan berpikir bagaimana dia bisa menahan lapar untuk tiga hari kedepan, dia akan mati kelaparan jika dia benar-benar melakukannya!
Perutnya berbunyi lagi, entah untuk keberapa kalinya dan yang bisa dia lakukan hanyalah berbaring di tempat tidurnya dan berguling-guling menahan lapar.
Tapi kenapa dia harus menahan lapar, Ashlyn telah menderita begitu banyak hingga mengalami kebutaan dan ditolak mentah-mentah oleh orang yang dicintai. Hati Ashlyn pasti sangat menderita jadi Ayana tidak ingin menyiksa tubuh Ashlyn lagi, jika dia lapar dia akan makan, jika dia haus maka dia akan minum.
Ya, seperti itu. Hidup ini harus dinikmati, kenapa harus dibuat susah.
Sementara itu Duke Damien duduk di ruang kerjanya sambil membaca beberapa laporan yang dia terima dari bawahannya yang bertugas di pegunungan Wallor. Ada penghalang yang membuat pasukannya kesulitan bergerak dan menunggu Duke Damien datang untuk membantu.
Duke sangat ingin pergi dan melakukan tugasnya, tapi kondisi keluarganya saat ini lebih membutuhkan dirinya sebagai kepala keluarga. Dia telah mengabdikan diri begitu banyak pada kekaisaran dan telah mengorbankan keluarganya yang mengakibatkan kekacauan ini terjadi.
Karena hal ini, Duke sadar bahwa dia tidak bisa lagi menutup mata pada kondisi keluarganya dan tidak akan lagi mudah percaya pada orang lain jika dia tidak melihatnya sendiri.
Baik-baik saja, pantatku!
Duke Damien sangat marah hingga dia ingin membelah gunung dan membakar hutan! Saat dia mendengar semua cerita yang keluar dari mulut Bin kepala pelayan yang telah bekerja pada keluarganya selama bertahun-tahun bahkan sejak ayah Duke Damien masih hidup.
Bin adalah satu-satunya orang yang bisa dia percaya dan kisah yang dia ceritakan membuatnya ingin segera mendatangi Arabella dan menuntut jawaban tentang kebenaran cerita itu.
Kekuasaan dan harta yang dimiliki Duke telah membutakan Arabella. Bin menceritakan hubungan Arabella dan Ashlyn seperti air dan minyak, tidak dapat disatukan dan selalu berseberangan. Mereka tidak peduli satu sama lain dan saling mengabaikan.
Di awal pernikahan mereka, Arabella memperlakukan Ashlyn dengan baik dan penuh perhatian, tapi sejak anak itu menolak kebaikannya dengan tatapan tidak suka, Arabella mulai menjauhinya dan berhenti mencoba. Bahkan Arabella hanya melepaskan Ashlyn pada para pelayan begitu saja sementara dirinya memberikan Annabel semua perhatian dan kasih sayang yang terbaik.
Duke sama sekali tidak menyangka bahwa Arabella akan menjadi wanita yang seperti ini setelah menikah dengannya. Dulu, saat pertama kali Damien bertemu dengan Arabella, dia benar-benar tersentuh pada bagaimana parasnya yang cantik dan sikapnya yang lemah lembut terhadap sesama. Bahkan saat melihat bagaimana Arabella begitu menyayangi putrinya membuatnya berharap bahwa Ashlyn juga bisa mendapatkan kasih sayang Arabella.
__ADS_1
Namun, siapa yang menyangka bahwa Ashlyn bahkan tidak pernah menerima kasih sayang itu sama sekali. Pantas saja sikap mereka saat berada di meja makan terkesan asing. Namun, Duke Damien tidak bisa menyadarinya karena dia jarang berada di rumah dan saat dia pulang, dia hanya ingin beristirahat sehingga tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti ini.
"Lalu, katakan padaku bagaimana dengan semua hadiah yang aku kirimkan setiap tahun?" Duke Damien bertanya saat dia memikirkan berapa banyak batu berharga yang dia kirim ke rumah setiap tahunnya.
Bin dengan sopan menjawab, "Semuanya masuk ke dalam tanggung jawab Duchess Arabella, Yang Mulia Duke."
Damien meremas tangannya. "Bagaimana dengan Ashlyn?"
Bin masih menjawab dengan tenang dan sopan. "Nona Ashlyn hanya mendapat beberapa, tapi saat melihat barang-barang yang diberikan pada Nona Annabel lebih baik dari miliknya, Nona Ashlyn tidak pernah mau menerima hadiah lagi."
"Apa dia tidak marah pada Annabel dan Arabella saat itu?"
"Tidak, Tuan. Nona Ashlyn tidak menunjukkan kemarahannya, dia hanya tidak mau menerima hadiah lagi sejak saat itu."
"Dan semua hadiah diberikan kepada Annabel?"
"Ya, Tuan."
Alis Damien berkerut, mendengarkan cerita Bin, Damien bisa mengira bahwa sifat putrinya ini sedikit mirip dengannya, saat dia marah akan sesuatu hal yang menurutnya sepele dia lebih senang untuk diam dan tidak mempermasalahkannya. Menurutnya itu membuang-buang waktu jika dia marah untuk hal-hal kecil.
Tunggu dulu ... Duke Damien memikirkan sesuatu dan berpikir mungkin inilah yang membuat Ashlyn membencinya dan menganggapnya tidak pernah ada untuk Ashlyn, tidak pernah memperhatikannya karena dia mengirimkan barang-barang yang kualitasnya lebih rendah dari hadiah milik Annabel.
Putrinya yang polos itu mungkin berpikir bahwa dia lebih memperhatikan istri dan anak barunya daripada dirinya dan Ashlyn akhirnya berpikir bahwa dia memang tidak pernah ada di mata Duke Damien, karena itu dia tidak mau repot-repot marah dan berdebat dengan Arabella dan Annabel.
Namun, untuk kasus Putra Mahkota kenapa Ashlyn sangat mempertahankan dan berjuang untuk mendapatkannya hingga melakukan hal-hal tercela untuk menyakiti Annabel.
Ah, jika diingat lagi sepertinya malam itu Ashlyn mengatakan bahwa Annabel telah merebut segalanya darinya. Jadi, mungkin kesabaran Ashlyn pada akhirnya habis dan meledak-ledak sampai sejauh ini.
"Apa itu benar, Ashlyn yang menyelamatkan Putra Mahkota?"
"Itu benar, Tuan. Nona Ashlyn yang membawa Putra Mahkota dari pantai Merlyn dan Nona Annabel lah yang merawat Putra Mahkota hingga sembuh."
Duke Damien mengetuk-ngetuk jari telunjuknya yang panjang di atas meja seolah sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Ashlyn masih suka pergi ke pantai?"
"Iya, Tuan. Hampir setiap minggu dia akan pergi ke pantai."
Mendengar hal itu Duke Damien menghela napas, sekilas bayangan Ashlyn saat masih kecil muncul di benaknya. Anak itu terlihat sangat bahagia saat pertama kali melihat pantai dan menolak untuk pulang saat hari mulai gelap, dia bilang dia ingin tinggal di pantai karena dia sangat suka dengan pantai, pasir putih laut yang biru dan angin yang menerpa wajahnya, anak itu sangat tidak rela untuk meninggalkan itu semua.
Jadi anak itu masih menyukai pantai. Duke Damien menutup matanya sejenak untuk beristirahat.
Apa yang harus dia lakukan untuk keluarganya?
Ashlyn adalah putri satu-satunya dan Arabella adalah wanita yang dia cintai. Bagaimana dia harus menyikapi ini?
Setelah memikirkan ini Duke Damien kembali membuka matanya dan keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju kamar Ashlyn, tapi dia tidak menemukan siapa-siapa di sana dan seorang pelayan memberitahunya bahwa Ashlyn telah pergi untuk mencari udara segar.
"Apa dia sudah makan?" Damien bertanya pada pelayan yang memberitahunya.
Pelayan itu dengan hati-hati menganggukkan kepalanya. "Iya, Tuan. Nona sudah menghabiskan makanannya sebelum memutuskan berjalan-jalan di taman."
Mendengar itu, Damien merasa hatinya cukup lega. Saat mengetahui Ashlyn menolak untuk makan dia takut anak itu akan jatuh sakit dan kondisinya semakin memburuk.
"Bagaimana suasana hati Ashlyn saat dia makan dan pergi ke taman? Siapa yang menemaninya?"
"Nona Ashlyn makan dengan tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dia pergi bersama beberapa pelayan dan Vian."
"Apa dia tidak terlihat sedih?"
"Tidak, Tuan. Sebenarnya kami hampir tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Nona Ashlyn, wajahnya datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun."
Mendengar hal ini Duke Damien hanya melambaikan tangannya. "Lanjutkan pengamatanmu dan laporkan perkembangan Ashlyn padaku tanpa cela."
Pelayan itu membungkuk hormat, "Baik, Tuan. Sesuai dengan perintahmu."
Setelah mengatakan hal itu, sang pelayan mengundurkan diri sementara Duke Damien menatap sosok gadis mungil yang tengah berdiri di luasnya ladang bunga mawar. Gadis itu tempat tenang dan menikmati suasana disana, matanya tertutup, rambutnya yang abu-abu terlihat seperti perak yang berkilauan saat disiram cahaya mentari.
__ADS_1
Wajahnya sedikit lebih cerah dengan rona merah di kedua pipinya dan bibirnya yang sebelumnya pucat kini terlihat merah muda seperti buah persik yang berkilauan.
Melihat penampilan ini, Duke Damien benar-benar teringat akan sosok itu ... Ibu Ashlyn. Wanita tanpa nama yang telah hilang entah ada dimana.