
Duke Menatap tajam sosok pemuda yang terpuruk di depannya, sesuatu yang membuat putrinya tidak bisa tidur.
"Bagaimana orang ini bisa masuk dan bagaimana kau membiarkannya masuk jika kau tahu ada orang asing yang berkeliaran di Mansion?" Duke Damien bertanya dan menatap Ramus dengan tatapan tajam, matanya yang biru semakin gelap dan dalam seolah bisa menenggelamkan tubuh orang yang dia pandang.
Ramus tertawa kering. "Aku tidak sengaja melihatnya saat melakukan patroli dan aku juga yang membiarkan pemuda ini masuk."
Duke Damien sama sekali tidak mengerti, "Apa yang sebenarnya kau pikirkan, bagaimana jika dia adalah orang yang berencana mencelakai Ashlyn?"
Ramus tersenyum tipis sebelum berkata, "Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang hampir kehabisan darah? dari pada itu, aku lebih penasaran dengan apa yang akan dilakukan Lady Ashlyn saat melihat orang ini masuk ke dalam kamarnya."
Dengan luka yang dia derita dan setelah dirinya dipaksa turun dari tempat tidur, Edmund merasa dirinya sangat lemah dan sakit kepala hingga dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
"Aku pikir Lady Ashlyn akan berteriak dan memanggil penjaga untuk memukuli orang ini, tapi ...."
Tapi apa? Apa Ashlyn menyelamatkannya? Orang jahat yang tidak punya hati seperti Ashlyn yang tega memberinya tiga puluh cambukkan yang hampir merenggut nyawanya. Apa orang itu memiliki kemampuan untuk menyelamatkan nyawa orang lain dengan tangannya yang kotor?
Ha, jangan bercanda! Itu semua omong kosong! Edmund memaki di dalam hati sebelum dia kembali jatuh tidak sadarkan diri.
"Tapi aku tidak menyangka bahwa Lady Ashlyn akan menyimpannya dan membiarkannya tinggal di kamarnya, bahkan membuatnya tidur di tempat tidurnya, apa menurutmu Lady Ashlyn dan pemuda ini ...."
Ramus menelan ludahnya dengan takut saat melihat Duke Damien menatapnya begitu tajam dan penuh tekanan amarah seolah pria ini ingin mengeksekusinya di tempat.
"Apa yang kalian lakukan di kamarku?"
Duke Damien dan Ramus menoleh saat mendengar suara Aahlyn yang tiba-tiba muncul.
Ashlyn dan Vincent sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar, sementara para kesatria yang berjaga hanya bisa terdiam.
Duke Damien menatap Ashlyn dan tidak bisa untuk tidak memikirkan apa yang sebelumnya Ramus katakan bahwa Ashlyn dan pemuda ini ...
Tidak! Wajah Duke Damien kaku, di dalam dia menampar dirinya sendiri, tapi di luar dia seperti sebatang kayu yang kaku menatap putrinya.
"Ashlyn, sebaiknya kau menjelaskan apa yang membuatmu tidak bisa tidur semalam?"
Alis Ashlyn naik saat mendengar hal ini dan tidak bisa untuk tidak bertanya-tanya, penjelasan macam apa yang diinginkan Duke Damien.
Duke Damien yang melihat Ashlyn hanya terdiam kemudian kembali bertanya. "Siapa pemuda yang tidur di kamarmu, Ashlyn?"
"Dia seorang tamu."
__ADS_1
"Tamu? Tamu macam apa yang kau biarkan tidur di tempat tidurmu sendiri!"
Ashlyn mengerutkan alisnya, apa yang Duke Damien pikirkan? Apa pria ini berpikir bahwa Ashlyn akan membiarkan seorang laki-laki tidur di tempat tidurnya jika tidak dalam kondisi yang tidak terduga seperti tadi malam. Ashlyn bahkan tidak bisa tidur karena harus bekerja sepanjang malam mengurus Ashlan.
Apa yang pria ini pikirkan? Beraninya seorang ayah yang bahkan tidak pernah ada untuk putrinya, berpikiran buruk tentang putrinya.
"Ashlyn, jawab pertanyaan ayah."
Ashlyn menghela napas kasar sebelum menjelaskan. "Dia adalah orang yang menyelamatkanku saat aku tersesat di pasar raya kemarin. Sebagai rasa terima kasih, aku memberinya tiga permintaan, apapun itu aku akan mengabulkannya."
Alis Duke berkerut sementara tangannya mengepal erat saat mendengar hal ini, putrinya tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang terjadi saat dia hilang kemarin. Kemana dia pergi, bersama siapa dan tinggal dimana, putrinya tidak mengatakan apa-apa selain menunjukkan wajah dingin dan kata-kata, "Semua sudah terjadi, bahkan jika Duke tahu apa yang terjadi itu tidak mengubah apapun."
Kata-kata itu menusuk hatinya seperti sebilah pisau beracun. Ashlyn selalu membuatnya semakin dan semakin bersalah dengan semua kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Jangan lakukan apa-apa.
Bahkan jika Duke tahu, itu sudah terjadi, apa yang bisa Duke ubah?
Semuanya sudah terjadi.
Jangan lakukan apa-apa seperti kau tidak pernah ada di sini.
Ini membuat Duke tertekan dengan rasa bersalah yang teramat besar bahwa selama ini dia begitu bekerja keras demi orang lain, tapi dia mengabaikan putrinya sendiri. Dia ingin menciptakan tempat yang aman tanpa para monster dan para iblis, tapi secara tidak langsung dia menciptakan neraka bagi putrinya sendiri. Putrinya yang begitu mulia seperti mutiara putih di tengah lautan, sekarang bahkan saat putrinya keluar dari kediamannya nyawa putrinya justru menjadi incaran orang-orang.
Apapun itu, tidak terkecuali untuk pemuda ini.
"Bagaimana dia bisa menyelamatkanmu dan apa yang dia lakukan untuk menyelamatkanmu? Ashlyn ..."
Ashlyn benar-benar tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi, lagi pula apa yang harus dia katakan karena apa yang baru saja dia katakan separuhnya adalah kebohongan.
Ashlan tidak menyelamatkannya, sebaliknya pemuda ini menyimpan dendam yang entah apa itu, kenapa dia tidak bertanya pada Ashlan sebelumnya? Itu adalah kebodohannya karena dia takut akan orang yang akan mencekiknya sampai mati, Ashlyn memberinya tiga permintaan agar Ashlan melupakan dendamnya, bahkan Ashlyn meminta maaf padanya.
Lalu, tentang tiga permintaan itu. Ashlyn tidak berbohong karena dia sudah berjanji di dalam hati kecilnya dan akan memenuhi janjinya untuk Ashlan yang saat itu tidak jadi membunuhnya bahkan membawanya ke tempat komunitas orang jahat untuk bertemu dengan berbagai jenis orang dan mendapat pengalaman baru tentang cara pandang orang-orang jahat.
Yah, pada dasarnya menurut Ashlyn, Ashlan cukup membantunya.
Namun, dia benar-benar tidak ingin menceritakan apa yang terjadi malam itu, beruntung Ramus mengingatkan pada semua orang termasuk Ashlyn yang tidak tahu kondisi Ashlan bahwa Ashlan sudah lama tidak sadarkan diri dan perlu segera dirawat.
"Ashlyn mari kita bicarakan masalah ini dan biarkan para pelayan dan dokter yang mengurus orang itu."
Sial! Ashlyn mengutuk di dalam hati. Duke sebenarnya belum melepaskannya.
__ADS_1
"Aku rasa tidak ada yang harus dibicarakan, Ayah."
Mendengarnya, Duke merasa tidak senang. Dia sangat tidak suka pada orang yang suka membantah dan mengabaikannya dengan tidak sopan seperti Ashlyn. Namun, ini adalah Ashlyn, putrinya dan yang membuat Ashlyn menjadi jenis orang yang tidak dia sukai adalah dirinya sendiri.
Putri kecilnya Ashlyn, dulu sangat manis, ceria dan begitu ramah meski dia begitu malu terhadap orang lain, tapi dia selalu sopan saat berbicara dan senyumnya selalu indah untuk dilihat. Namun, yang tersisa sekarang hanyalah wajah dingin dengan pandangan tanpa perasaan, dan semua itu dibuat oleh dirinya sendiri!
Seandainya, hanya seandainya dia bisa kembali ke masa lalu dia tidak akan meninggalkan putrinya dan membina keluarganya dengan baik, mengajarinya, merawatnya, memberinya perhatian sebagaimana seorang ayah. Namun, apa mau dikata, tidak ada seandainya karena nasi sudah menjadi bubur.
Duke Damien mungkin tidak bisa memperbaikinya dengan sempurna, tapi dia tetap ingin mencoba. Ini adalah putrinya, darah dagingnya, jadi bagaimana dia bisa menyerah.
Jadi Duke Damien menatap Ashlyn yang terlihat tidak peduli dan menghela napas, dia tidak bisa bersikap keras terhadap anak ini.
"Baiklah tidak perlu membicarakan ini lagi, tapi ayah tetap ingin mengetahui apa tiga permintaan yang anak itu minta darimu."
Ashlyn tidak menyangka bahwa Duke Damien akan mendengarkan ucapannya, tapi ini semakin membuat Ashlyn berpikiran bahwa Duke Damien memang tidak peduli pada Ashlyn dan hanya mencoba memberikan apapun yang Ashlyn inginkan untuk menebus rasa bersalah nya setelah membuatnya buta.
Ah, benar-benar. Ashlyn ingin tertawa dan menggelengkan kepalanya. Namun, dia hanya bisa menghela napas, peduli apa dia dengan keluarga ini, di keluarga ini sejak awal memang tidak ada satupun dari mereka yang berada di sisinya.
Duke yang hanya mencoba membayar rasa bersalah setelah membuatnya buta.
Ibu tiri yang tamak dan saudara tiri yang selalu menginginkan apa yang dia miliki.
Vincent, adik laki-lakinya yang bahkah tidak pernah muncul.
Pada akhirnya di akhir cerita hanya mereka yang hidup sementara dirinya dibuat mati setelah melakukan kebodohan.
Tidak ada orang yang benar-benar berada di sisinya, akan lebih baik jika dia bisa cepat-cepat keluar dan memutuskan hubungan dari mereka. Rasanya, sesak sekali saat dikelilingi oleh orang-orang munafik ini.
Jadi, Ashlyn memberitahu tiga permintaan yang disebutkan Ashlan padanya dan secara tidak langsung memberitahu Duke bahwa nama pemuda itu adalah Ashlan.
Saat mendengarnya Duke tampak berpikir sebelum berkata. "Dari pakaian yang dia kenakan, Ashlan sepertinya berasal dari kasta rendah, mereka yang berasal dari kasta rendah selalu memiliki fisik yang lemah dan tidak akan mungkin menjadi kesatria. Lagi pula, para kesatria mungkin ...."
Ashlyn mengerutkan alisnya, terlalu banyak alasan, katakan saja bahwa kau tidak ingin menerima Ashlan menjadi kesatria, kenapa harus berbelit-belit. Ashlyn ingin mengutuk, tapi dia masih ingat tempat. "Pahlawan dilahirkan setiap hari, jangan merendahkan orang lain hanya dari penampilan mereka. Namun, jika Ayah berpikiran demikian aku tidak keberatan, lagi pula aku masih bisa memasukkannya ke Akademi dengan uangku sendiri."
Ashlyn terbatuk di dalam, yah dia tidak bekerja dan uangnya adalah pemberian Duke, tapi apa yang sudah diberikan bukankah secara otomatis menjadi miliknya?
Duke melihat ketidaksenangan di wajah putrinya dan kembali hanya bisa menghela napas pada cara berpikiran Ashlyn yang sederhana, tapi keras kepala.
Memang, pahlawan dilahirkan setiap hari dan jangan pernah merendahkan orang lain dari penampilan mereka. Namun, tidak semua orang bisa menjadi kesatria, dia sudah lebih dari tahu bahwa orang-orang dari kasta rendah adalah manusia biasa yang tidak mampu menggunakan pedang sihir sama seperti ayah Annabel yang diam-diam bergabung dengan pasukannya saat berperang demi mendapatkan penghargaan untuk membuat istri dan anaknya bangga. Namun, yang terjadi, orang itu justru mati dengan mudah di medan pertempuran, karena manusia bisa dari kasta rendah memang tidak pernah bisa bertarung melawan iblis dan monster, dan karena itu Duke Damien terpaksa memberikan gelar kesatria pada mendiang ayah Annabel agar kematian orang itu tidak sia-sia.
Orang biasa tetaplah orang biasa. Namun, jika ini adalah keinginan putrinya, Duke menatap Ashlyn dan berkata. "Tapi kau tidak bisa menyesali keputusanmu, Ashlyn. Menjadi kesatria bukanlah hal yang mudah, Ashlan mungkin tidak bisa bertahan dengan latihan yang berat."
__ADS_1
Ashlyn tertawa rendah. "Tidak ada yang mudah di kehidupan ini, seseorang harus berjalan melewati bara untuk menapaki jalan kesuksesan. Bertahan atau tidak bertahan itu urusannya dan sama sekali tidak ada kaitannya denganku. Hidup atau mati, orang itu sendiri yang akan memilih, aku tidak peduli."