I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Kutukan ini.


__ADS_3


Ashlyn menutup matanya saat muncul di pinggiran danau dan angin menyapu lembut wajahnya, membuat rambutnya berayun-ayun seperti gelombang di udara. Ashlyn tidak tahu kemana tepatnya dia pergi, dia hanya merasa bahwa dirinya perlu pergi dan mencari tempat yang sepi setelah Duke Damien membuatnya kesal.


Orang itu memang telah menunjukkan ketulusannya tentang kata-katanya bahwa dia akan selalu ada untuknya. Namun, ini juga membuat Ashlyn sesak karena Duke menjadi orang tua yang terlalu over protektif pada putrinya sendiri.


Dan lagi, pertemuannya dengan Putra Mahkota juga ingin membuatnya melemparnya ke dalam jurang, tidak tahu berterima kasih. Jika bukan karena kutukan gurunya, dia tidak akan menolong orang itu, biar dia mati dan Annabel menjadi janda!


Ah, benar mereka belum menikah. Annabel tidak akan menjadi janda bahkan jika Hanz meninggal dan selalu ada orang yang mencintai Annabel seperti Edmund dan Peter. Annabel yang dicintai segala umat itu tidak akan pernah sendirian seperti Ashlyn. Mereka mungkin akan sangat bahagia saat Hanz bertemu dengan kematiannya karena mereka bisa bersaing untuk mendapatkan Annabel.


Apa yang sedang dia pikirkan?


Ashlyn menekan dahinya dengan lima jarinya sebelum menendang pohon yang ada di depannya dengan kesal.


Haaa, Ashlyn menghela napas panjang dan menarik napas panjang, mengulanginya beberapa kali sampai dia merasa lebih tenang dan duduk di atas rumput, mengeluarkan satu-satunya apel yang berhasil diselamatkan dan memakannya.


Setelah dirinya terjebak di dalam tubuh Antagonis yang dibenci semua orang dan mengalami semua ketidakadilan itu, dan setelah dirinya tidak diizinkan untuk membalas dendam.


Ashlyn mencoba mengikuti arus seperti apa yang peramal itu katakan. Dia hanya bisa bertahan untuk bisa hidup tenang. Namun, sepertinya tokoh Antagonis ini memang sudah terikat dengan tokoh-tokoh utama di dalam cerita Be Mine Prince!


Dunia ini akan membuatnya bertemu dan bertemu lagi dengan Annabel dan pengikutnya yang gila.


Haaa, Ashlyn menghela napas setelah menyadari apa maksud peramal yang mengatakan bahwa dia hanya bisa bertahan. Itu karena dia tidak diizinkan membalas dendam atau melarikan diri dari mereka. 


Tempatnya adalah di sini, sebagai Ashlyn Daren Lynx, putri tunggal Duke Damien Daren Lynx yang memiliki ibu dan saudara tiri bernama Arabella dan Annabel.


Lingkaran ini, tidak bisa diputuskan.


Ashlyn berhenti memikirkan itu saat dia mendengar sesuatu dari kejauhan. Seseorang berteriak, memohon dan menangis.


Ada apa dan kenapa dia harus mendengar ini saat dia sedang sakit kepala dengan takdir tidak adil yang diberikan oleh penulis!


Pikirannya ingin pergi dan tidak ingin terlibat, lagi pula dari apa yang dia dengar, itu adalah suara seorang anak kecil yang menangis dan Ashlyn berpikir bahwa itu hanyalah pertengkaran anak-anak. Namun, begitu hati nuraninya terus mengatakan padanya bahwa dia tidak bisa pergi begitu saja.


Sialan kutukan ini? Ashlyn tidak mengira bahwa efeknya sangat mengerikan, dia akan merasa kesakitan di dadanya begitu dia menolak untuk menolong.


Apakah gurunya mencoba membuatnya menjadi pahlawan kesiangan yang akan selalu menolong orang dengan rendah hati?


Sial!


Namun begitu Ashlyn tetap pergi menuju asal suara menyedihkan itu berasal dan melepaskan binatang spiritualnya yang berbentuk kelinci kecil berwarna putih sedikit transparan yang bisa melayang di udara untuk melihat dan melaporkan apa yang terjadi.


"Seorang anak laki-laki sedang dipukuli oleh sekumpulan pemuda. Mereka melempari anak itu dengan batu."


Ashlyn mengernyitkan alisnya, kenapa anak-anak remaja itu memukuli anak kecil?


"Monster!" tiba-tiba Ashlyn mendengar ini dari salah satu anak yang melempari batu.


"Anak itu mengalami luka yang cukup serius, kepalanya berdarah, siku dan lututnya juga robek." Kelinci kecil itu terus melaporkan apa yang dia lihat untuk Ashlyn. 


Makhluk ini adalah hadiah dari gurunya saat dia pertama kali menjadi muridnya. Gurunya bilang itu akan membantunya dalam proses belajar dan akan menjadi mata untuk Ashlyn, makhluk itu juga yang selama ini membacakan semua buku yang Ashlyn butuhkan. 


Benar-benar makhluk ajaib yang setia dan tidak pernah mengeluh, selalu melakukan apapun yang Ashlyn perintahkan.


Lagi pula, Ashlyn biasanya hanya akan meminta makhluk bernama Lily itu untuk membacakan buku untuknya. Hanya untuk saat ini Ashlyn meminta Lily untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Apa anak itu sudah berhasil ditangkap?" 


Seorang pria gemuk terlihat terengah-engah saat mendekati kerumunan.


"Kami sudah menangkapnya, dan kami sudah menghajarnya, apa perlu bagi kita untuk membunuhnya?" Salah satu pemuda itu bertanya.


Pria gemuk itu menatap marah pada sosok kecil yang terpuruk di atas tanah. Anak laki-laki berambut hitam itu meringkuk dan membuat tubuhnya seperti bola, tubuhnya dipenuhi luka yang terlihat menyedihkan, badannya bergetar dan dia tidak berhenti merintih. Namun, itu tidak membuat mereka merasa kasihan, mereka menatapnya dengan jijik dan pria gemuk itu bahkan tanpa merasa sedikit kasihan menendang dengan keras punggung anak itu hingga tubuhnya yang kecil harus berguling-guling di tanah.


"Anak iblis, beraninya kau mencuri di rumahku? Kau benar-benar cari mati, orang sepertimu memang tidak pantas untuk hidup di dunia ini. Jika bukan karena ibumu, kami pasti sudah membunuhmu sejak kau dilahirkan!"


Anak itu merintih kesakitan, dia memuntahkan seteguk darah dan berkata dengan suara pelan, "Tolong biarkan aku pergi, a-aku hanya mengambil sedikit tanaman obat dari kebunmu. Ini untuk ibuku."


Ashlyn yang mendengar hal itu merasakan sakit di hatinya, bukan karena dia kasihan pada anak itu. Namun, karena kutukan itu, karena dia hanya berdiri di sana dan tidak segera menolong anak itu.


Entahlah, bagaimana dia menjadi orang yang kehilangan simpati? Namun, jika ada orang yang bertanya Ashlyn mungkin akan menjawab bahwa dunia ini tidak adil untuknya, jadi untuk apa dia memiliki simpati untuk orang lain?


Dan lagi, kata-kata pria itu benar-benar mengorek luka lamanya. 


Orang sepertimu patas mati!


Itu adalah kata-kata yang diteriakkan tukang roti padanya.

__ADS_1


Kenapa Ashlyn harus dikutuk begitu buruk hingga mereka menyebutnya pantas untuk mati bahkan lebih baik jika dia tidak dilahirkan?


Orang-orang sialan itu? Apa yang mereka tahu tentang Ashlyn dan kejahatan apa yang telah Ashlyn lakukan pada mereka?


Ah, kepala Ashlyn mulai berdenyut sakit sementara anak itu di sana tengah memohon pada pria gemuk dan mendapatkan tendangan lagi.


"Apa gunanya memberikan obat pada ibumu, dia akan mati karena telah melahirkanmu, karena dia keras kepala dan bersikeras untuk merawatmu, dia mendapatkan kutukan, baik dirimu dan ibumu memang harus mati. Anak iblis seharusnya tidak diperbolehkan untuk hidup!"


Pria itu selesai dengan kata-katanya dan menendang anak itu lagi, menginjak-injak tubuh kecilnya tanpa merasa kasihan. Namun, energi gelap tiba-tiba berputar di sekitar tubuh anak itu, membuat pria gemuk itu terpental dengan wajah ngeri.


Semua orang perlahan mundur. Energi gelap yang mengelilingi anak itu semakin kuat dan tubuh anak itu mulai melayang. Matanya yang berwarna hitam berubah menjadi merah, menatap dengan penuh kekejaman, dan amarah.


Tekanan dari kekuatan yang begitu besar membuat tanah di sekitarnya retak.


Orang-orang mulai panik, wajah mereka menunjukkan ketakutan mereka.


"Iblis!" Pria gemuk itu menunjuk pada sosok anak kecil yang saat ini melayang di udara yang dikelilingi energi gelap.


"Sudah aku bilang anak itu harus dibunuh sejak dia dilahirkan di dunia, dia pembawa bencana! Dia pembawa bencana!"


"Apa yang kalian lihat, cepat lempari dia dengan batu dan buat anak itu mati sebelum semuanya terlambat."


Dan mereka mencoba bangkit, mengambil apapun yang bisa digunakan untuk melempari anak itu. Namun, anak itu tidak bergeming, justru kekuatan itu semakin bertambah kuat dan membuat orang-orang itu tidak bisa berdiri. Mereka berlutut.


"Seseorang, tolong kami! Tolong kami!"


Mereka berteriak dan meronta-ronta, mencoba merangkak untuk melarikan diri. Namun, tidak bisa seolah tubuh mereka dipasak ke tanah.


"Tolong kami! Tolong kami!"


Ashlyn menghela napas, dadanya sudah semakin sakit dan dia tidak bisa menahannya lagi. 


Ashlyn melangkah mendekat dan tidak terpengaruh oleh tekanan enegi gelap seperti orang-orang itu.


Saat melihat Ashlyn, pria gemuk itu memohon meminta pertolongan. Namun, Ashlyn mengabaikannya, dia melambaikan tangannya ke arah anak yang tengah kehilangan kendali itu.


Anak iblis, jadi itu alasan kenapa orang-orang ini memanggilnya seperti itu. Itu karena anak ini benar-benar anak iblis.


Energi gelap yang terus berputar di sekitar tubuh anak itu menjadi semakin dan semakin kuat mengikuti suasana hatinya yang marah. Kemarahan itu membuat kekuatannya lepas tidak terkendali.


Haaa, Ashlyn menghela napas, cahaya biru muncul dari lambaian tangannya dan di bawah anak itu muncul array mantra yang bersinar, tekanan kegelapan mulai menurun dan perlahan-lahan anak yang melayan di udara itu juga turun ke bawah.


"Penyihir, Anda harus segera membunuhnya atau anak itu akan kembali melakukan hal yang sama. Anak itu berbahaya!"


Pria gemuk itu berbicara. Namun, Ashlyn mendekap anak yang memiliki banyak luka di tubuhnya. Ashlyn merasakan betapa kurusnya tubuh anak itu, serta lengket dan bau darah.


Anak yang sebelumnya tidak sadarkan diri itu membuka matanya dan mendapati dirinya dalam pelukan yang dingin. Benar, itu dingin tidak seperti pelukan ibunya yang hangat, tapi meskipun dingin, itu tetap membuatnya nyaman dan merasa aman.


Dengan lemah, anak itu mengangkat wajahnya dan melihat wajah seorang gadis yang begitu cantik, putih bersih seperti salju, menyenangkan untuk dilihat.


"Apa yang Anda lakukan, Nona. Anda harus membunuhnya atau dia akan kembali mengamuk dan membunuh semua orang! Kau harus membunuhnya, atau biarkan aku saja yang membunuhnya."


Pria itu memaksa pada Ashlyn yang memunggunginya. Anak kecil itu ketakutan, dia meremas baju Ashlyn dengan erat, tapi tidak mampu berkata apa-apa.


Ashlyn merasakan betapa detak jantung anak ini berdetak begitu cepat. 


"Nona, biarkan aku membunuhnya jika Anda tidak bisa melakukannya. Aku akan melakukannya sebelum dia sadar dan kembali mengamuk seperti tadi. Dia adalah anak iblis yang membahayakan semua orang."


Ashlyn merasakan kepalanya berdenyut-denyut saat mendengar pria itu berbicara di belakang punggungnya. Orang bodoh itu, dia benar-benar bodoh.


"Nona ..."


"Apa kau pernah mendengar pepatah yang berbunyi jangan bangunkan macan yang sedang tidur?"


"Huh?"


"Jika kau tahu dia berbahaya, kau lebih baik tidak mendekatinya apalagi mengusiknya. Kenapa kau usil sekali? Kau benar-benar ingin mati, ya?" Ashlyn bertanya sambil membalikkan badan dan memiringkan kepalanya, menunjukkan matanya yang abu-abu pada pria itu.


Pria itu berkeringat dingin dan tergagap. Namun, detik berikutnya dia kembali mendapatkan kepercayaan dirinya.


"Tapi, Nona. Ini berbeda, dia adalah anak iblis, dia adalah pembawa bencana."


Ashlyn, "Bencana seperti apa yang telah dia lakukan?"


Pria itu dengan cepat menjawab. "Seperti tadi, dia sudah sering melakukan itu, dia mengeluarkan energi gelap dan membuat orang lain ketakutan. Tidak hanya itu dia sudah berkali-kali mencuri tanaman obatku. Aku mengalami kerugian besar karenanya."


"Nak, berapa banyak tanaman obat yang kau curi?"

__ADS_1


Ashlyn bertanya dan anak itu menunjukkan beberapa helai daun yang sejak tadi dia genggam. Itu hanya beberapa helai.


Saat mendengarnya dari Lily, Ashlyn tidak bisa untuk tidak tersenyum kecut.


Dunia ini penuh dengan orang-orang yang dengki.


"Itu hanya beberapa helai daun?" Ashlyn berkata.


Pria itu marah. "Tetap saja itu berharga! Nona, jika Anda tidak ingin membunuhnya, serahkan dia padaku, aku akan membunuhnya!"


"Sepertinya kau adalah orang jahatnya di sini."


Ashlyn tidak ingin membuang waktunya untuk berdebat dengan pria itu lagi. Itu hanya akan membuang energinya dan membuatnya sakit kepala.


Orang-orang seperti pria itu tidak akan pernah mengerti bahkan jika dia menjelaskan kesalahannya.


Apa yang membuat energi gelap milik bocah ini meluap tidak terkendali karena dia membuatnya marah dan sedih. Perlakuannya yang kasar membuat anak itu kehilangan kesabarannya. Namun, pria itu dengan tidak tahu malu mengatakan bahwa bocah ini pantas untuk mati atas apa yang telah dia lakukan.


Memangnya apa yang telah dia lakukan? Tidakkah pria itu menggunakan otaknya berpikir kenapa anak itu bisa seperti itu.


Anak iblis? Hah, jangan bercanda, meskipun anak itu memang anak iblis, anak ini masih memiliki kebaikan di hatinya dengan mencuri obat untuk ibunya.


Dia melakukan kejahatan karena dia terpaksa, jika dia mencuri, kemungkinan anak itu tidak memiliki uang untuk membeli.


Tidak seperti pria itu yang terus menyalak mengatakan akan membunuh dan membunuh.


Siapa orang jahat yang sebenarnya?


Ashlyn meninggalkan tempat itu setelah menghajar mereka hingga pingsan dan membuat anak itu terpana. Namun, Ashlyn tidak menyangka bahwa anak itu akan mengikutinya.


"Pergi, kenapa kau mengikutiku. Kau harus memberikan obatnya pada ibumu." Ashlyn berkata dingin.


Namun, anak itu dengan tertatih-tatih mengikutinya. Mungkin karena anak ini anak iblis, dia memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat, jika itu anak manusia, dengan semua perlakuan buruk itu, dia pasti mati.


"Nona, aku mohon tolong ibuku." Anak itu memelas dan memohon berkali-kali, mengikuti Ashlyn yang terus berjalan meninggalkannya.


Ashlyn, tidak tahan dengan suaranya, jadi dia menggunakan teleportasi dan menghilang begitu saja. Membuat anak itu terpana, dan menundukkan kepalanya dengan sedih saat sadar bahwa dia telah ditinggalkan.


"Nona ...." Anak itu bergumam.


Ashlyn muncul di tempat lain, tapi kutukan itu benar-benar sialan terkutuk tidak berguna. Hatinya kesakitan, sangat sakit hingga dia berpikir dia akan mati. Namun, ini lebih menyakitkan dari kematian, ini membuatnya menderita.


Guru! Bagaimana kau bisa begitu kejam!


Ashlyn menjerit di dalam hatinya sementara gurunya yang sudah berada di langit mungkin sedang tersenyum dan menunjukkan dua jari telunjuk dan tengahnya.


Ah! Ashlyn tidak bisa menahan rasa sakit itu lebih lama lagi dan dia kembali muncul di depan anak itu lagi.


Wajah anak itu kembali cerah saat melihat Ashlyn dan bersorak. "Nona!"


Dengan dingin Ashlyn berkata, "Dimana ibumu, biar aku melihatnya."


Anak itu terdiam seolah dia terkejut.


Ashlyn tidak sabar. "Jika kau tidak menunjukkannya, aku akan pergi."


"Tidak, tidak." Anak itu berkata cepat. "Ikuti aku." Dengan semangat anak itu meraih jari telunjuk Ashlyn dan menggenggamnya, menarik Ashlyn untuk mengikutinya.


Anak itu tahu, Ashlyn buta dan anak polos itu takut bahwa Ashlyn tidak bisa mengikutinya atau mungkin menabrak pohon. Dia harus menuntunnya dengan hati-hati.


Ini adalah penyelamatnya.


🔸🔸🔸


Mini Teater (Bocoran chapter ?? )


Seorang pemuda memojokkan Ashlyn ke dinding. Pemuda itu memenjarakan Ashlyn dengan kedua tangannya. Namun, pemuda itu melihat wajah Ashlyn yang tidak peduli, dingin seperti biasanya.


"Aku berjanji bahwa aku adalah milikmu dan selamanya aku akan melindungimu."


Ashlyn dengan kejam berkata. "Aku tidak membutuhkannya." 


Dan dengan dingin Ashlyn melanjutkan, "Di dunia ini aku hanya memiliki diriku sendiri dan aku hanya akan bergantung pada diriku sendiri."


Pemuda itu menyipitkan matanya. "Kau tidak akan selamanya menjadi kuat, ada kalanya kau akan menjadi lemah dan membutuhkan pertolongan, Ashlyn."


Ashlyn mendorongnya. "Jika itu terjadi, maka aku sudah tidur di peti mati."

__ADS_1


Pemuda itu menggertakkan giginya, menahan amarah dan rasa sakit yang bersarang di dadanya. Tangannya mengepal, tidak melepaskan pandangan dari Ashlyn yang berjalan pergi meninggalkannya.


🔸 Terima kasih sudah membaca, aku harap kalian menikmati ceritanya dan jangan lupa untuk meninggalkan komentar 😘


__ADS_2