I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Pangeran Ke-dua.


__ADS_3


Ashlyn kembali ke kamar yang disediakan pihak istana Kerajaan Orpan selama Duke Damien menyelesaikan urusannya di sana.


Saat Ashlyn yang tiba-tiba muncul di depan Carolin. Carolin segera melompat ketakutan karena dia sama sekali tidak terbiasa dengan majikannya yang bisa muncul dengan tiba-tiba di sekitarnya.


"Lady, Anda mengejutkanku." Carolin mengelus dadanya.


Sementara Ashlyn dengan tidak peduli segera duduk di sofa. Melihat majikannya yang tidak mengatakan apa-apa, Carolin tidak merasa takut atau khawatir, dia sudah terbiasa dengan sikap majikannya yang seperti ini sekarang. Ini jauh lebih baik dari pada saat majikannya masih seorang gadis yang galak dulu.


Namun, ada sesuatu yang membuatnya heran. Majikannya datang dengan seorang anak kecil yang terlihat sangat menyedihkan. Tubuhnya kurus, wajahnya tirus dan dipenuhi bekas luka, bahkan ada darah di dahinya!


"Lady Ashlyn, ini ...."


Carolin mencoba bertanya tapi Ashlyn segera memotongnya, "Urus dia, bersihkan dan obati lukanya, beri dia makan dan pakaian yang layak, aku akan pergi untuk memberi salam pada Yang Mulia Raja."


Dengan itu Ashlyn berdiri dari duduknya dan berjalan pergi keluar dari pintu bersama dua penjaga yang menunggunya di luar pintu.


Saat melihat Ashlyn, mereka tidak bisa untuk tidak saling menatap dan bertanya dengan mata mereka.


"Darimana saja putri Duke Damien ini setelah menendang Putra Mahkota?"


Wajah mereka bahkan menggelap saat berpikir bahwa bencana akan segera terjadi. Bagaimanapun juga, Putra Mahkota sangat marah dan dengan berani menyuarakan keluhannya pada Duke di hadapan Raja Orpan.


"Salam untuk Yang Mulia Raja dan Ratu." Ashlyn dengan anggun memberi salam di depan Raja dan Ratu. Membuat semua yang hadir di Aula istana itu terpesona dengan penampilan Ashlyn yang luar biasa.


Cantik, anggun dan putih bersih seperti salju. Mereka tidak akan menemukan hal yang sama selain Ashlyn. Rambut putihnya yang berkilauan benar-benar menarik perhatian semua orang, dan melihat bagaimana sopannya anak ini memberi salam penghormatan, semua rumor yang beredar tentang Ashlyn yang jahat dan kejam seperti sebuah kebohongan.


Namun, sikap Ashlyn yang tidak segera memberi hormat bersama Duke Damien, membuat Raja berpikir bahwa sebagai keturunan Daren Lynx, anak ini cukup berani dan sombong. Apalagi dia sudah mendengar laporan bahwa gadis ini telah menendang Putra Mahkota dari Kerajaan Olivia.


Sepertinya rumor tentang gadis ini adalah benar, dia menggunakan kekuasaan dan kekuatan ayahnya untuk bersikap semena-mena. Penampilan yang baik belum tentu memiliki hati yang baik.


Raja menilai Ashlyn dan tidak bisa untuk tidak tersenyum miring meski dia sempat terkejut saat melihat mata abu-abu gadis itu.


Ashlyn yang buta.


"Aku ucapkan selamat datang di Kerajaan kami, Lady Ashlyn. Aku harap kau merasa nyaman selama berada di sini."


Ashlyn, "Mm."


Raja, "...."


Raja meremas penganan kursi dengan erat untuk mempertahankan ekspresinya agar dia tidak menunjukkan ketidak senangannya terhadap Ashlyn di depan Duke Damien.

__ADS_1


Hubungan baik ini, dia tidak bisa menghancurkannya meski sikap putri Duke memang sangat keterlaluan. Bagaimana dia bisa dengan begitu berani hanya menjawab dengan "Mm"? 


Benar-benar keterlaluan dan tidak memiliki etika sebagai seorang bangsawan!


"Lady Ashlyn, Anda benar-benar di sini?"


Tiba-tiba Duke Louis masuk ke dalam ruangan dan melihat Ashlyn. Lalu, dia melihat Raja dan memberi hormat pada mereka. Dia kemudian melaporkan sesuatu pada Raja.


"Kami sudah menangkap semua orang yang ada di sana. Total, mereka berjumlah delapan orang yang menyerang Putra Mahkota Hanz dari Olivia. Namun, mereka semua telah tewas Yang Mulia, kami masih berusaha untuk menemukan pelaku lain yang terlibat. Terutama si penyihir hitam."


Duke Louis kemudian menatap Ashlyn dan bertanya. "Lady Ashlyn, apa Anda mengetahui sesuatu tentang penyihir hitam itu?"


"Bagaimana dia bisa mengetahui sesuatu tentang penyihir hitam itu, dia adalah orang awam yang membuatmu kehilangan kesempatan untuk menangkap targetmu karena keegoisannya."


Putra Mahkota tiba-tiba datang dan langsung mengatakan ini di depan semua orang yang hadir di sana. Itu membuat Duke marah, dia semakin tidak menyukai Putra Mahkota yang arogan ini.


Duke bangkit dari duduknya, tapi berhenti saat mendengar Louis berkata, "Tidak, Pangeran Putra Mahkota Hanz, ini adalah sepenuhnya kesalahanku. Karena aku, pria itu berhasil melarikan diri."


Putra Mahkota terkekeh, "Bagaimana itu bisa menjadi kesalahanmu? Itu karena Lady Ashlyn mengajakmu berbicara dan membuatmu kehilangan fokus."


Louis menggeleng pelan, dengan penuh perhatian menjelaskan, "Ini karena aku menendang pria itu dan membuat pria itu lepas dari lingkaran mantra yang membuat pria itu tidak bisa menggunakan teleportasi, aku terlalu gegabah sebelumnya dan membuatnya lepas, karena itu Lady Ashlyn mengatakan bahwa seharusnya aku tidak menendangnya."


Putra Mahkota tergagap saat mendengar penjelasan Louis dan sulit untuk percaya hingga dia tidak bisa berkata-kata saat melihat Ashlyn.


Namun, Putra Mahkota kemudian mendengus dan tersenyum sinis. "Lalu jika dia memang memiliki kemampuan seperti itu, kenapa dia tidak menangkapnya sejak awal?"


Putra Mahkota semakin tidak senang dengan pembelaan yang diberikan Louis pada Ashlyn. Ini membuatnya mengepalkan kedua tangannya.


"Lalu kenapa dia tidak menghentikanmu saat itu, dia justru membiarkan itu terjadi dan segera pergi meninggalkan lokasi seolah dia sangat sibuk dan tidak memiliki tanggung jawab sama sekali dengan apa yang terjadi."


Louis menatap Putra Mahkota dengan tidak senang dan bertanya-tanya kenapa orang ini sangat ingin memojokkan Ashlyn dengan terus saja menyalahkannya. Tidakkah dia berterima kasih pada Ashlyn karena Lady ini telah menyelamatkan nyawanya?


Louis akan membela Ashlyn, tapi gadis itu lebih dulu berbicara dengan dingin. "Tentu saja aku orang yang sibuk, bahkan aku lebih sibuk dari seorang Putra Mahkota yang berkeliaran di jalan mencari hadiah untuk seseorang."


Mendengarnya, pembuluh darah di dahi Putra Mahkota melonjak. Apa gadis ini memata-matainya?


Ashlyn tidak memata-matainya, dia adalah orang yang buta. Dia hanya bertanya pada Lily apa yang dia lihat saat Putra Mahkota datang bersama pasukannya saat itu.


Lily mengatakan bahwa dua dari penjaga yang ikut bersamanya membawa beberapa tumpuk kotak hadiah di lengannya. Tentu saja, Ashlyn bisa menebak untuk siapa hadiah-hadiah itu.


Annabel.


"Aku datang untuk memberi salam pada Yang Mulia Raja dan Ratu, bukan untuk berdebat dan menjadi tontonan semua orang. Jika tidak ada hal penting yang perlu untuk dibicarakan, aku akan undur diri."

__ADS_1


Duke memperhatikan bagaimana Ashlyn berbicara dan tidak bisa untuk tidak tersenyum. Ashlyn telah berubah, dia menjadi anak yang begitu tenang dan bisa mengendalikan emosinya. Duke diam-diam bangga pada keputusannya untuk membawa Ashlyn berguru pada orang itu.


Ashlyn akan mengundurkan diri saat Louis kembali menahannya.


"Maafkan aku, Lady Ashlyn. Tolong jawab pertanyaanku, apa Anda tahu sesuatu tentang Penyihir hitam itu?"


Ashlyn tidak segera menjawab dan membuat semua orang menunggu.


"Bagaimana seorang Lady yang menghabiskan waktunya selama belasan tahun di dalam Mansion Daren Lynx akan tahu tentang sesuatu seperti ini. Louis, kau hanya membuang waktu dengan bertanya padanya, kenapa kau tidak bertanya pada Duke Damien tentang hal ini?" 


Putra Mahkota berkata dengan sangat jelas, membuat semua orang dapat melihat bahwa Putra Mahkota benar-benar sangat tidak menyukai Ashlyn, sehingga dia selalu merendahkan Ashlyn.


"Darah keturunan Raja." Ashlyn tiba-tiba berkata.


"Darah keturunan Raja?" Louis bertanya.


Ashlyn, "Orang-orang itu mengatakan itu saat Putra Mahkota datang. Jadi kenapa kau tidak bertanya pada Putra Mahkota saja? Kenapa orang-orang itu mengincar Putra Mahkota?"


Hanz terperangah dan menjadi marah, "Bagaimana aku bisa tahu tentang hal itu?"


Ashlyn terkekeh sebelum tersenyum sinis. "Jadi kau tahu kau bodoh, tapi tetap ingin menjatuhkan orang lain. Sesekali gunakan otakmu untuk berpikir, kenapa dan bagaimana mereka ingin membunuhmu? Jika kau tidak tahu, kau seharusnya mencari tahu. Bukan berdiri di sini seperti burung beo tidak berguna. Memalukan, bagaimana aku pernah mendambakan orang tidak berguna sepertimu?"


Mendengar semua kata-kata Ashlyn, Putra Mahkota semakin marah dan hampir kehilangan pegangannya untuk menahan diri.


"Ashlyn!" Putra Mahkota berteriak. Namun, Duke dengan sigap berdiri di depan Ashlyn dan menghadapi Putra Mahkota.


"Ketahui batasanmu, Hanz," kata Duke dingin dengan tatapan yang tajam.


Putra Mahkota tercekat saat melihat penampilan Duke Damien yang menakutkan saat melindungi Ashlyn di balik punggungnya.


Putra Mahkota mengepal tinjunya dengan sangat erat, menggertakkan giginya dan urat-urat biru yang menonjol di dahinya, dia sangat marah.


"Yang Mulia Duke, meskipun dia adalah putrimu kau seharusnya tidak bisa untuk terus membelanya seperti ini jika dia melakukan kesalahan. Sikapnya benar-benar keterlaluan, ini akan membuat rakyat biasa berpikir bahwa Kerajaan telah kehilangan kehormatannya dengan membiarkan putrimu menghinaku." Putra Mahkota akhirnya mengatakan hal ini dengan hati-hati.


Namun, Duke dengan dingin menjawab. "Putriku tidak akan bersikap seperti ini jika kau tidak keterlaluan. Aku dengar putriku menyelamatkanmu, tapi yang keluar dari mulutmu hanyalah cacian untuk merendahkan Ashlyn. Kau benar-benar memiliki wajah untuk ditunjukkan padaku. Apa Kerajaan benar-benar ingin Daren Lynx memberontak pada Kerajaan karena sikapmu?"


Putra Mahkota kembali tercekat dan mengepal tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Sialan, dia adalah seorang Putra Mahkota, calon Raja, tapi kenapa statusnya bisa lebih rendah dari seorang Duke.


Raja tahu apa yang dipikirkan oleh Putra Mahkota dari Kerajaan tetangga ini. Namun, dia juga tidak bisa membelanya, meskipun sikap Ashlyn keterlaluan. Sikap Putra Mahkota sendiri juga tidak lebih baik, pantas jika Duke Damien akan membela putrinya.


Suasana di tempat itu menegang, beruntung seirang pelayan datang dan mengumumkan kedatangan Pangeran ke dua dari Kerajaan Orpan, Pangeran Charles.


Saat mendengar itu, Raja dan Ratu saling menatap. Sudah sekian lama, akhirnya putra mereka kembali ke rumah.

__ADS_1


Pintu dibuka, seorang pemuda dengan rambut biru tua masuk ke dalam ruangan dan segera meraih tangan, dan berlutut di depan Ashlyn, mencium punggung tangannya sebelum menatap Ashlyn dengan lembut.


"Jadi, selama ini Anda ada di sini, Peri Padang Pasir. Penyelamatku."


__ADS_2