I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Ashlyn telah berubah.


__ADS_3


Ashlyn membuka matanya perlahan-lahan saat dia bangun dari tidurnya dan hanya menemukan kegelapan. Ya, dia buta, tapi dia ingat dengan jelas apa yang terjadi kemarin, Ashlyn tidak tahu apa tepatnya yang terjadi, tapi dia merasa tubuhnya basah dan kedinginan, dia mendengar suara Duke yang berulang-ulang mengatakan padanya bahwa pria itu meminta maaf padanya sementara Ashlyn tidak tahu kenapa dadanya begitu sesak sehingga dia tidak sanggup jika terus menahannya dan menangis sesegukan.


Dia menangis di pelukan Duke yang hangat. 


"Lady Ashlyn, Anda sudah bangun?"


Ashlyn mendengar suara Carolin dan menganggukkan kepalanya. "Beri aku air untuk minum." Entah kenapa dia merasa tenggorokannya sangat kering.


Carolin mengangguk dan segera mengambil segelas air. Membantu Ashlyn duduk di tempat tidurnya, menambahkan bantal untuk majikannya bersandar dan menyerahkan gelas untuk Ashlyn.


Ashlyn minum segelas air hangat, tapi dia merasakan sesak di dadanya, rasa sakit untuk kerinduannya pada keluarganya, ayah, kakak, kakek, nenek dan ibunya membuatnya untuk pertama kali berpikir bahwa dia ingin kembali ke dunia asalnya, bahkan jika di sana dia sudah mati setidaknya dia berada di sisi keluarganya.


Dulu, saat pertama kali Ashlyn sadar bahwa dirinya tiba-tiba menjadi tokoh antagonis, Ashlyn mencoba mensyukuri kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan. Namun, setelah menjalani hidup dan mengalami semua hal tidak menyenangkan dan hampir dibunuh dua kali, dan bahkan dia tidak diizinkan untuk mencari keadilan untuk apa yang terjadi padanya, Ashlyn berpikir bahwa dunia ini benar-benar tidak adil.


Dia dibenci dan diinginkan kematiannya oleh semua orang, dia tidak memiliki siapa-siapa karena dia berada di dalam tubuh tokoh antagonis yang akan berakhir pada kematian jika dia mencoba menuntut balas pada Annabel dan Arabella.


Ashlyn bukan satu-satunya pihak yang bersalah dan dia telah mengalami banyak hal yang tidak adil dan melukai hatinya, jadi kenapa Ashlyn dianggap sebagai satu-satunya orang jahat yang telah membuat Annabel dan Arabella menderita?


Penderitaan apa yang Ashlyn buat untuk mereka? Merekalah yang mengambil segalanya darinya dan membuat dirinya dibenci oleh semua orang, dan sekarang dia bahkan tidak diizinkan untuk menuntut keadilan.


Dunia ini tidak adil untuknya, dia ingin pulang.


Ashlyn menyerahkan gelasnya kembali pada Carolin dan kembali diam dengan banyak pikiran di kepalanya. Jika dia tidak diizinkan untuk mencari keadilan dan jika semua orang menginginkan kematiannya, bagaimana dia akan melanjutkan hidup di dunia ini?


Lebih tepatnya untuk apa dia hidup di dunia ini? 


"Apa Anda ingin sarapan, Lady Ashlyn?" Carolin dengan lemah lembut bertanya, tidak ada lagi jejak ketakutan di dalam suaranya. Sejak hari itu saat dia melihat gadis yang dianggap jahat oleh semua orang ini ingin mengakhiri hidupnya di laut, menangis dan tampak begitu rapuh. Carolin sadar bahwa majikannya juga hanyalah manusia biasa yang bisa merasa sedih dan putus asa.


Melihat majikannya yang menangis memanggil ibunya dan berkali-kali mengatakan bahwa dia ingin pulang, Carolin merasa iba dan bertanya-tanya hal apa yang membuat majikannya begitu putus asa?


Majikannya selalu terlihat galak dan tidak berperasaan, seolah dia tidak peduli pada apapun. tapi karena hal inilah Carolin tidak menyadari bahwa majikannya seorang diri selama ini. Dia tidak memiliki siapa-siapa dan tidak ingin mempercayai siapapun.


Kenapa majikannya harus seperti ini?


Carolin menatap wajah lesu majikannya yang menggelengkan kepalanya. Dia menolak untuk makan.


Carolin menghela napas, berdiri di samping tempat tidur Ashlyn.


"Lady Ashlyn, Duke Damien ada di sini."


Ashlyn menjawab dengan tenang. "Aku tahu."


Carolin sedikit terkejut, "Duke menunggu Anda untuk pergi sarapan bersama dengannya."


"Aku tidak lapar."


"Lady Ashlyn ...."


"Jangan memaksanya, Carolin." Duke yang mendengar pembicaraan Carolin dengan Ashlyn segera masuk untuk memastikan pelayan putrinya tidak membuat putrinya merasa tidak nyaman.


Mendengar suara Duke, Ashlyn tidak berkata apa-apa dan hanya menundukkan kepalanya sementara Carolin segera mengundurkan diri, membiarkan Duke mengambil tempatnya.


Duke menatap Ashlyn yang terlihat sangat rapuh, kelopak matanya turun dan mulutnya tertutup rapat, Duke sama sekali tidak bisa menemukan jejak keberanian Ashlyn yang beberapa hari ini dia lihat, Ashlyn yang keras kepala dan Ashlyn yang bermulut kasar. 


Ashlyn yang sekarang dia lihat seperti Ashlyn yang dia lihat setelah dia membuatnya buta, terlihat tidak memiliki semangat seolah dia sudah menyerah pada kehidupan.


Bagaimana dia bisa tidak menyadari hal ini sebelumnya? Kata-kata pendeta Matheus benar, dia mungkin telah membunuh terlalu banyak iblis hingga dia mulai kehilangan empati. Melihat putrinya yang sedih terpuruk dan merasa ditinggalkan, dia justru tidak memeluknya dan meminta maaf padanya, dia justru bertanya apa yang dia inginkan.


Bukankah itu sama saja dirinya sedang menunjukkan pada putrinya bahwa dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya dan tidak merasa bersalah terhadap putrinya?


Jadi, tentu saja Ashlyn akan berpikir bahwa dia memang tidak pernah ada untuknya.


Duke menarik napas panjang, diam-diam mengepalkan tangannya sebelum duduk di samping putrinya. Mencoba meraih tangan putrinya yang mungil.


"Ashlyn ...." Duke mulai membuka mulutnya untuk berbicara, tapi hanya mampu mengatakan itu, dia kembali terdiam saat Ashlyn menarik tangannya seolah dia tidak ingin disentuh olehnya.


"Aku tidak membutuhkannya." Ashlyn berkata.


Duke terdiam sebelum bertanya dengan hati-hati. "Apa yang tidak kau butuhkan, Ashlyn?"


"Hak mengurus kediaman itu aku tidak menginginkannya lagi."


Mendengar jawaban putrinya hati Duke benar-benar sakit untuk sebuah alasan bahwa mungkin putrinya benar-benar telah menyerah dan menutup hatinya untuknya.


Duke terdiam dan menatap Ashlyn yang masih menundukkan kepalanya, perlahan-lahan dia memberanikan dirinya lagi untuk meraih tangan Ashlyn dan berkata. "Ayah benar-benar minta maaf, Ashlyn."


Ashlyn terdiam.


"Ayah minta maaf karena selama ini ayah tidak pernah ada untukmu dan tidak pernah ada untuk mendengarkan keluhanmu, keinginanmu dan penderitaanmu. Ayah benar-benar minta maaf. Ayah mengaku bahwa ayah salah. Tolong maafkan ayah dan berikan ayah satu kesempatan untuk memperbaiki segalanya."

__ADS_1


Ashlyn terdiam, tapi dia mendengarkan dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Duke, Ashlyn merasakan ketulusan pria itu saat meminta maaf, tapi Ashlyn juga ingat bahwa pria inilah yang membunuh Ashlyn tanpa rasa iba. Ashlyn sama sekali tidak bisa membedakan apakah dia benar-benar tulus atau hanya .... Ashlyn menundukkan kepalanya. Entahlah.


Seorang ayah yang telah membuatnya buta, berkali-kali meminta maaf padanya dengan putus asa seperti saat mereka berada di pantai, apakah pria ini benar-benar menyesal untuk putrinya?


Melihat Ashlyn yang diam, Duke merasa cemas bahwa dirinya mungkin tidak akan dimaafkan. Namun, dia masih ingin mencoba karena jika dia tidak dimaafkan, apa yang harus dia lakukan?


"Ashlyn, beri ayah kesempatan untuk menunjukkan padamu bahwa ayah telah menyesali perbuatannya."


Ashlyn masih terdiam, tapi dia tidak menarik tangannya kali ini, itu membuat hati Duke merasa sedikit tenang.


"Ashlyn, alasan ayah datang menyusulmu bukanlah untuk menyerahkan hak mengurus kediaman Daren Lynx padamu, tapi untuk meminta maaf padamu."


"Dan ayah tidak memberikan hak itu padamu bukan karena kau tidak ada di hati ayah, selamanya kau berada di dalam hati ayah dan tidak akan pernah tergantikan. Maaf jika ayah tidak pernah ada untukmu, tapi sejak saat ini ayah berjanji padamu bahwa ayah akan selalu ada untukmu."


"Ayah akan selalu ada untukmu, tapi jangan  pernah meminta ayah untuk memilih antara dirimu dan Arabella, kalian berdua adalah keluarga ayah, istri dan putri ayah. Dan Ashlyn, Arabella adalah ibu Vincent, adikmu."


Ashlyn terdiam, tapi mendengar bagian ini dia berpikir bahwa mungkinkah karena Vincent, Duke lebih memilih Arabella dan berakhir membunuhnya?


Apakah kata-kata 'kau telah melewati batas' adalah karena Duke tidak ingin Vincent kehilangan ibunya? Karena itu, Duke tidak membunuhnya? Bukan karena Duke lebih mencintai Arabella ketimbang Ashlyn, tapi karena Duke memikirkan perasaan Vincent?


Jadi, apakah semua ini salah Vincent?


Omong kosong! Ashlyn menekan pikirannya untuk tidak memikirkan itu lagi. Dia sudah tidak memedulikan itu lagi, lagi pula dia tidak diizinkan untuk mengusik mereka, jadi untuk apa dia memikirkan mereka lagi?


Dia seharusnya memikirkan dirinya sendiri, apa yang akan dia lakukan setelah ini? Dia sudah kehilangan harapan pada dunia yang kejam dan tidak adil ini. Dia putus asa dan ingin pulang.


Melihat Ashlyn yang diam dengan wajah lesu, Duke terus mencoba untuk berbicara. "Ashlyn, ayah mungkin tidak bisa memberikan hak itu padamu, tapi ayah ingin membawamu ke suatu tempat."


Suatu tempat, Ashlyn tidak tahu dimana suatu tempat itu, tapi setelah Duke menyebutkan nama dan niatnya, Ashlyn dibawa ke sebuah kastil yang berada di tengah-tengah gurun pasir. 


Saat menyadari betapa sunyinya tempat itu dan panasnya terik matahari di tempat itu, Ashlyn sudah tidak peduli.


Duke mungkin telah membuangnya. Gadis jahat yang telah membuat istrinya merasa teraniaya. Sudah Ashlyn duga bahwa Duke tidak pernah menyesali perbuatannya dan semua kata-kata maaf itu hanyalah omong kosong.


Namun, "Ashlyn, kau akan belajar mengendalikan kekuatan sihirmu mulai sekarang. Ayah akan memastikan bahwa bakatmu tidak akan menjadi sia-sia. Ayah ingin kau percaya bahwa ayah selalu ada untukmu, tapi jika dengan membuat dirimu menjadi lebih kuat, kau akan merasa lebih tenang. Ayah akan pastikan bahwa kau akan menjadi penyihir terkuat di Kekaisaran."


Mendengarnya di dalam kepala Ashlyn dipenuhi tanda tanya. Apa? Sihir? Penyihir? Apa tokoh antagonis ini adalah seorang penyihir?


Hah? Bagaimana? Penulis tolong katakan sesuatu tentang ini?


Ini membuat Ashlyn semakin ingin kembali ke dunia nyata untuk menemukan penulisnya dan bertanya kenapa di sepanjang cerita Be Mine Prince tidak ada keterangan bahwa Ashlyn adalah seorang penyihir?


Dia ingin pulang. Tapi dia tidak bisa dan dunia ini masih tidak adil untuknya, karena peramal bilang apapun metodenya, bukankah bahkan jika dia adalah penyihir, dia tidak akan bisa menuntut keadilan pada Arabella dan Annabel.


Dia hanya bisa bertahan untuk bisa hidup dengan tenang. 


"Hargai hidup Anda."


Kata-kata ini kembali melayang di dalam pikirannya. Ya, dia akan menghargai hidupnya dan menikmati hidupnya, menjadi orang yang tidak peduli seperti dunia yang tidak peduli padanya.


Sejak saat itu, Ashlyn mulai belajar dan berlatih menggunakan kekuatan sihirnya pada seorang guru dan Duke selalu ada untuk mengawasi perkembangannya. Pria itu akan selalu menemui Ashlyn di waktu istirahat Ashlyn, mengajaknya mengobrol, makan bersama dan Ashlyn tidak pernah menolaknya, itu membuat Duke bahagia. Namun, perlahan-lahan Duke juga sadar bahwa ada perubahan besar pada putrinya.


Putrinya tidak pernah marah-marah lagi, itu hal yang bagus. Namun, putrinya juga tidak hanya tidak pernah marah, dia juga tidak pernah tersenyum dan menunjukkan ekspresi lain seperti sedih atau bahagia. Ekspresinya mulai menjadi datar dan dingin, seperti gunung es yang kesepian.


"Apa kuenya enak?" Duke bertanya.


Tanpa ekspresi Ashlyn menjawab, "Mm."


Duke, "Cuacanya cerah."


Ashlyn, "Mm."


Duke, "Sepertinya hari ini lebih panas dari biasanya."


Ashlyn, "Mm."


Duke, "...."


Bagaimana ini bisa terjadi? Duke kembali merasa kepalanya berdenyut sakit memikirkan putrinya yang mengalami penurunan EQ.


"Aku pikir karena dia kesepian di sini?" Ini adalah jawaban dari Maha Guru saat Duke bertanya padanya.


"Bukankah disini juga ada Carolin?"


"Maksudku adalah tempat ini membosankan, sudah dua tahun dia berlatih dan belajar setiap hari di sebuah kastil tua yang dikelilingi lautan pasir, apa menurutmu dia tidak merasa bosan?"


Dua tahun? Mata Duke melebar. Itu seperti baru kemarin dia datang memohon pada Maha guru untuk mengajari putrinya sihir. Duke bahkan masih ingat bagaimana pria tua ini dengan keras kepala menolak permintaannya untuk menjadi guru bagi putrinya. 


Pria ini adalah ahli sihir terbaik yang pernah ditemui sepanjang perjalannya berpetualang memburu monster dan iblis, Duke merasa bahwa orang inilah yang bisa dipercaya untuk menjadi guru Ashlyn. 


Bahkan untuk Ashlyn, untuk pertama kalinya Duke berlutut di hadapan seseorang selama berhari-hari, Duke masih ingat dengan jelas seolah itu baru kemarin. Namun, bagaimana waktu bisa berjalan secepat ini?

__ADS_1


"Waktu tidak terasa berlalu karena kau tidak melihat hambatan yang terjadi pada putrimu, proses belajarnya secepat air yang mengalir di sungai. Putrimu adalah seorang jenius, kebutaannya tidak membuatnya menjadi lemah."


Mendengarnya, Duke memperhatikan Ashlyn yang saat ini tengah meminum teh bersama Carolin.


"Dia sudah cukup kuat, jika kau ingin membawanya pergi sekarang, kau bisa membawanya, sudah waktunya bagi Ashlyn untuk bertemu lagi dengan dunia. Lagipula, tidak ada hal lagi yang bisa aku ajarkan untuknya."


"Apa itu benar?"


"Dia bahkan lebih kuat darimu sekarang, pedang suci milikmu tidak akan mampu melawanku, jadi itu juga berlaku pada Ashlyn karena dia adalah muridku."


Duke terdiam, Ashlyn lebih kuat darinya? Bagaimana bisa, hanya dalam dua tahun putrinya bisa lebih kuat darinya? 


"Jangan mencoba menanyakan hal itu di kepalamu, jawabannya sudah jelas karena Ashlyn bukan hanya putrimu, darah kesatria agung Daren Lynx bukan satu-satunya yang ada di dalam tubuhnya, tapi juga darahnya."


Duke menelan ludah, pria tua ini benar-benar bisa membaca pikirannya!


"Apa kau tidak berniat memberi tahu putrimu tentang dari mana dia berasal? Sejak pertama kali menjadi muridku, dia tidak pernah bertanya bagaimana dia bisa menguasai sihir, bukankah itu sedikit aneh?"


Dengan tegas Duke menjawab, "Tidak, itu bagus jika dia tidak pernah bertanya. Aku tidak berniat untuk memberi tahunya."


Maha Guru, menghela napas. "Yah, kalau begitu putrimu hanya bisa menunggu takdir untuk mengetahui segalanya. Bagaimanapun juga, Ashlyn sekarang bukanlah manusia biasa, rasa penasarannya mungkin juga akan lebih kuat dari sebelumnya, kau harus berhati-hati atau dia benar-benar akan meninggalkanmu."


Duke mengepal erat kedua tangannya, diam-diam bertekad bahwa dia tidak akan membiarkan itu terjadi. 


Maha guru menggelengkan kepalanya. "Ini sebabnya dulu aku menolak saat kau memintaku untuk menjadi gurunya. Kau tidak boleh menyesali keputusanmu di kemudian hari, apa kau mengerti?"


"Aku tidak akan menyesal, ini adalah yang terbaik untuk Ashlyn."


Pria tua itu menghela napas, "Ya, baiklah. Kalau begitu pulanglah, tidak ada hal lagi yang bisa aku ajarkan untuk putrimu. Aku ingin beristirahat, tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan hadiah untuk hari ulang tahun putrimu yang ke delapan belas."


Duke melebarkan matanya. Delapan belas? Putrinya sudah berusia delapan belas?


Delapan belas tahun?


Bukankah itu artinya dia harus membuat pesta kedewasaan, Debutante! 


Membiarkan putrinya dilirik oleh banyak pria dan membuatnya jatuh cinta!


"Itu pasti akan terjadi, suatu hari putrimu akan jatuh cinta dan menikah, dan dia akan ikut suaminya. Apa yang kau pikirkan? Kau pikir putrimu akan selalu menjadi anak kecil di sisimu, kau sudah membuang terlalu banyak waktu sehingga kau hanya memiliki sedikit waktu dengan putrimu. Sekarang rasakan, siapa yang menyuruhmu untuk gila kerja!"


Pria tua itu menghina Duke dan Duke hanya bisa seperti anak kecil yang dimarahi, menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. Itu benar bahwa dia telah membuang terlalu banyak waktu di luar hingga dia tidak sadar bahwa waktu itu telah datang padanya, putrinya menjadi dewasa tanpa dia sadari dan dia tidak bisa kembali mengulang waktu untuk membayar rasa penyesalannya.


"Tidak ada gunanya menyesal, semua itu sudah terjadi. Mulai sekarang kau sebaiknya mencarikan Ashlyn calon pendamping yang terbaik untuknya."


"Tidak bisakah kau berhenti membaca pikiranku?" Duke merasa sedikit kesal.


Pria tua menatapnya. "Aku tidak membacanya, salah satu kemampuan alamiku adalah mendengar apa yang dipikirkan oleh orang lain. Itu sama saja kau sedang berbicara padaku tanpa menggerakkan mulutmu."


"Lalu, apa kau bisa mendengar apa yang dipikirkan Ashlyn?" 


Pria tua melihat Ashlyn yang duduk tenang di taman. "Sayangnya, tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa mengetahui apa yang dipikirkan oleh putrimu dan itu tidak baik, kau harus segera memperbaiki ini atau dia akan kehilangan semua emosinya dan menjadi tidak ada bedanya dengan sebuah patung. Kekosongan di hatinya harus segera diisi."


Duke menghela napas dan mengabaikan pria tua itu sebelum berjalan mendekati Ashlyn.


Carolin memberinya salam dan Duke mengangkat tangannya agar Carolin mengundurkan diri.


Duke menatap putrinya yang duduk tenang di depan meja teh, setengah cangkir milik Ashlyn sudah diminum.


"Apa kau ingin menambah tehnya lagi, Ashlyn?" Duke bertanya.


"Tidak, terima kasih, Ayah."


Duke tersenyum dan duduk di depan Ashlyn. "Ashlyn, ada yang ingin ayah bicarakan denganmu."


Ashlyn dengan tenang menyesap tehnya sebelum bergumam. "Mm."


"Sudah dua tahun, sudah waktunya bagi kita untuk kembali."


Ashlyn, "Mm."


"Kita akan pulang ke rumah."


"Mm."


"Bertemu Annabel, Vincent dan Arabella."


"Mm."


Duke, "...."


Jelas tidak ada kepedulian di dalam diri Ashlyn!

__ADS_1


__ADS_2