I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Penyesalan Duke Damien.


__ADS_3


Duke Damien Daren Lynx berdiri di depan jendela kaca bukan untuk menatap bunga mawar bermekaran di taman, tapi untuk melihat tangannya sendiri.


Tangan yang telah dia gunakan untuk menampar darah dagingnya sendiri di depan semua orang ini telah merenggut pengelihatan Ashlyn.


Duke Damien sendiri tidak menyangka bahwa tindakan spontannya akan berakibat fatal, sebelumnya dia hanya ingin membuat anak itu berhenti membuat masalah dan mempermalukan dirinya sendiri di depan Raja dan para bangsawan yang melihat. Dia sendiri sangat kecewa dengan sikap putrinya yang entah mirip dengan siapa.


Duke Damien bahkan bertanya-tanya apakah gadis mungil yang berteriak di aula adalah putrinya?


Bagaimana dia bisa memiliki putri yang keras kepala, kasar dan suka membantah. Ini benar-benar keluar dari pikirannya.


Duke Damien yang terlalu sibuk membunuh dan memburu iblis di medan pertempuran sama sekali tidak tahu bagaimana putrinya tumbuh, dia hanya membaca laporan yang mengatakan semuanya baik-baik saja.


Ashlyn di dalam ingatannya hanyalah seorang gadis kecil berusia lima tahun yang akan melompat dengan ceria padanya setiap kali dia kembali dari pertempuran. Namun, sejak kapan anak itu berhenti melompat padanya, dia bahkan tidak ingat senyum dan tawa yang mengembang di wajah putrinya lagi.


Sepertinya dia telah menjadi orang yang tidak terlalu peduli dan telah melewatkan banyak hal.


Kata-kata Ashlyn hari itu kembali berputar di telinganya. "Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar! Ibu tiri hanya mencintai ayah dan putrinya saja sementara putrinya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!"


Duke Damien memijat pangkal hidungnya sebelum melihat bunga mawar yang bermekaran di taman.


Apa yang sebenarnya telah terjadi pada keluarganya?


"Bin, katakan pada istriku untuk menemuiku di ruang kerja."


Bin sang kepala pelayan keluarga Duke Daren Lynx segera membungkukkan badan dan mengundurukan diri untuk melaksanakan tugas.


Arabella sedang duduk menikmati teh bersama Annabel di ruang teh.


"Ibu, apa sebaiknya kita membatalkan acara pertunangan. Aku benar-benar merasa bersalah pada Ashlyn karena aku dia ...."


Annabel menatap ibunya dengan khawatir, tapi Arabella sepertinya terlihat lebih tenang dari siapapun yang tinggal di Mansion Duke Daren Lynx.


Meletakan cangkir tehnya, Arabella menatap putrinya dengan tegas. "Bukan salahmu jika Ashlyn kehilangan penglihatannya. Itu salahnya karena dia ingin merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu."


Annabel masih khawatir, "Tapi, Bu ... itu benar bahwa Ashlyn lah yang menyelamatkan Putra Mahkota."


Dengan acuh tak acuh Arabella menjawab, "Siapa yang peduli, Putra Mahkota pada akhirnya jatuh cinta padamu dan bukan pada Ashlyn."


"Tapi, Bu ... Kita telah membohonginya ..."


Arabella menatap tajam putrinya dan berkata. "Berhenti menjadi kerasa kepala. Kita tidak membohongi siapapun dan memang kenyataannya kaulah yang merawat Putra Mahkota hingga dia sembuh. Semua orang yang tinggal di tempat ini memiliki mata untuk melihat, siapa yang benar dan siapa yang salah mereka tahu. Ashlyn hanya membawanya ke tempat ini dan melepaskannya begitu saja. Lagi pula, apa kau tidak mencintai Putra Mahkota. Annabel anakku sayang, kau pantas untuk bahagia, berhentilah memikirkan orang yang tidak mau memikirkanmu dan pikirkan dirimu sendiri."


Annabel terdiam dan Arabella merasa senang, dia kembali menyesap teh saat Bin datang dan melaporkan perintah Duke.


Saat mendengar hal itu, kekhawatiran bertambah di wajah Annabel dan Arrabella hanya menatap tidak suka.


"Ibu ... Apa yang harus kita lakukan?"


"Jangan khawatir, ayahmu tidak akan melakukan apa-apa, dia sendiri yang menyebabkan semua ini terjadi. Ashlyn buta karena dirinya, dia tidak akan menyalahkan kita."

__ADS_1


Dengan tenang, Arabella berjalan mengikuti Bin dan masuk ke ruang kerja Duke Damien.


Pria itu tinggi dengan rambut pirang berkilauan, bahunya lebar dan wajahnya sangat tampan hingga sanggup menakklukan hati gadis di seluruh negeri. Namun, siapa yang mengira bahwa pria tampan dan memesona ini akan jatuh ke dalam pelukannya, seorang janda dari desa terpencil.


Arabella mengembangkan senyum, mengungkapkan cinta di depan suaminya dan bergegas memeluknya dengan kasih sayang, tapi hati Arabella menjadi pahit saat Duke dengan tegas menolak pelukannya dan menatapnya dingin.


"Sayang, apa yang terjadi? Apa kau marah padaku karena apa yang terjadi pada Ashlyn?" Arabella bertanya.


"Lalu haruskah aku bahagia dengan apa yang terjadi pada Ashlyn?" Duke bertanya dengan dingin.


Arabella tercekat dan terdiam, hampir saja memuntahkan kata-kata.


"Arabella Woods sejak pertama kali aku jatuh cinta padamu dan memutuskan untuk menikahimu, kau bertanya padaku apa aku tidak keberatan jika kau membawa putrimu bersamamu. Aku tidak keberatan karena aku juga memiliki seorang putri. Arabella, aku mencintaimu dan memperlakukan putrimu dengan adil, tapi apa yang kau lakukan pada putriku?"


Arabella terperangah. "Memangnya apa yang aku lakukan padanya? Bukan aku yang membuatnya menjadi buta. Itu kau yang melakukannya."


Wajah Duke tetap tenang terkendali saat menatap istrinya, tapi jauh di dalam sana dia benar-benar merasa kecewa.


"Arabella aku mempercayaimu, tapi kenapa kau mengecewakanku?"


"Apa maksudmu mengecewakanmu, aku tidak mengerti."


"Bagaimana Ashlyn bisa tumbuh menjadi gadis yang kasar seperti itu di bawah tanggung jawabmu. Bagaimana Ashlyn bisa jauh berbeda dengan Annabel. Apa itu benar bahwa kau mengabaikan Ashlyn selama ini?"


Arabella kembali terperangah. "Sayang, apa maksudmu aku mengabaikannya. Aku tidak mungkin melakukannya."


"Lalu bagaimana mereka berdua bisa memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda? Arabella aku mengatakannya sejak awal bahwa aku akan menyerahkan Ashlyn untuk diasuh olehmu, jadi bagaimana mereka bisa berbeda?"


"Sayang, bagaimana Ashlyn dan Annabel bisa sama? Sejak awal mereka telah memiliki kepribadian yang berbeda. Ashlyn kasar dan Annabel lemah lembut, itu sudah seperti itu sejak awal. Kau tidak bisa menyalahkanku untuk semua yang telah terjadi."


Namun kali ini Duke hanya menatapnya dan berkata, "Seharusnya aku tidak pernah mempercayakan Ashlyn padamu."


Karena bagi Duke Damien, kepribadian seseorang didapat dari pendidikan yang mereka terima. Jika Annabel bisa menjadi pribadi yang lemah lembut, lalu bagaimana putrinya bisa menjadi pribadi yang kasar dan diluar kendali seperti itu.


Duke Damien menyakini ada yang salah dalam proses pendidikan putrinya.


Jadi, setelah mengatakan itu Duke Damien berjalan pergi meninggalkan Arabella yang membeku di tempatnya, benar-benar tidak bisa percaya pada sikap suaminya.


Duke Damien berjalan menuju kamar Ashlyn berada dan menyuruh orang untuk memberitahukan kedatangannya pada Ashlyn. Saat pintu dibuka, Duke Damien melihat putrinya duduk di depan jendela, memeluk lututnya dengan piama putih yang masih dikenakan. Rambutnya yang seperti abu bergelombang dibiarkan tergerai, wajahnya yang terlihat putih pucat menatap keluar jendela seolah dia bisa melihat, tapi saat Duke melihat mata abu-abu putrinya dia sadar bahwa putrinya tidak bisa melihat apa-apa selain merasakan hangatnya sinar matahari yang menimpa wajahnya.


Putrinya yang telah tumbuh besar sekarang berusia enam belas tahun dan Damien sama sekali tidak tahu bagaimana gadis ini tumbuh. Dia telah kehilangan banyak waktu hingga dia tidak pernah melihatnya dengan benar.


Untuk apa yang telah terjadi, Duke Damien benar-benar merasa bersalah.


Sejak jaman dahulu keluarga Duke Daren Lynx tidak pernah mengabaikan pendidikan anggota keluarga mereka. Mereka selalu memberikan yang terbaik yang bisa mereka berikan untuk generasi muda mereka sebagai calon penerus yang dapat dipercaya dan diandalkan. Namun, Duke Damien merasa dirinya telah lalai akan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, dia terlalu mempercayai istrinya dan menyerahkan putrinya pada Arabella sehingga putrinya tumbuh menjadi pribadi yang kasar dan tidak terkendali.


Bagaimana dia bisa memperbaiki ini? Sepertinya dia sendiri yang harus mendidik putrinya dan mengawasinya setiap saat. Namun, untuk itu tindakan apa yang harus dia lakukan?


Dia tidak dekat dengan putrinya dan dia tidak tahu caranya mendidik anak, apalagi ini adalah anak perempuan. Damien yang dibesarkan dibawah naungan ayah dan kakeknya di didik dengan cara yang keras karena sejak awal dia dipersiapkan untuk menerima gelar Duke dan pergi berperang melawan iblis.


Namun, putrinya ....

__ADS_1


Apa yang harus dia lakukan?


Dan tidak hanya itu, Ashlyn sekarang sudah berusia 16 tahun. Apa yang harus dia lakukan?


"Ashlyn, apa yang kau inginkan. Ayah akan melakukan segalanya untukmu."


Akhirnya hanya kata-kata ini yang bisa dia muntahkan dari mulutnya setelah berpikir lama. Dia pikir dia perlu menjadi dekat dengan putrinya lebih dulu sebelum mendidiknya. Lagi pula, dia benar-benar merasa bersalah karena tindakannya telah membuat putrinya buta.


Apapun yang putrinya katakan dia akan memberikannya, tidak peduli jika dia meminta Putra Mahkota maka dia akan memberikannya, itu hanya Putra Mahkota dari Kerajaan kecil, status Duke bahkan bisa dianggap lebih tinggi dari Raja pada tingkat kekaisaran, jasanya yang telah melindungi wilayah kekaisaran telah membuatnya memiliki kekuasaan yang lebih.


Raja tidak akan berani menolak permintaannya, dan untuk Annabel dia seharusnya bisa menerima keputusannya.


Di dalam Duke benar-benar menghela napas, jika saja dia memikirkan hal ini sebelum menampar Ashlyn saat itu, semua ini tidak akan menjadi seburuk ini. Waktu itu dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat melihat perilaku Ashlyn yang kasar dan diluar kendali, pandangan semua orang dan bagaimana mereka berbisik-bisik membuat jiwanya dibakar amarah dan untuk sesaat dia tidak bisa mengontrol emosinya pada Ashlyn dan berakhir menamparnya hingga buta.


Namun, jawaban yang tidak diperkirakan oleh Duke Damien benar-benar mengguncang jiwanya.


"Karenamu duniaku menjadi gelap. Jangan lakukan apapun dan jangan pernah lakukan apapun seperti sebelumnya saat kau tidak pernah ada di sini."


Meskipun Duke Damien telah memperkirakan bahwa Ashlyn akan menyalahkannya atas apa yang terjadi, tapi saat mendengar itu keluar dari mulut Ashlyn sendiri, dada Duke Damien benar-benar merasa telah disengat hingga terasa asam dan perih.


Duke semakin merasa bersalah dan melihat ekspresi sedih di wajah putrinya, Duke merasa dirinya telah diserang dari segala arah.


"Kau benar-benar tidak ingin aku melakukan apa-apa?" Duke bertanya lagi dengan ekspresi berharap di wajahnya.


Katakan apa yang kau inginkan, jika kau meminta Putra Mahkota aku juga akan memberikannya, cukup katakan saja dan aku akan melakukannya.


Duke benar-benar kalut, menghadapi putrinya yang terpuruk untuk pertama kalinya benar-benar membuatnya bingung dan serba salah. Namun, dia masih berharap bahwa Ashlyn akan meminta sesuatu padanya, setidaknya dengan itu Duke Damien akan merasa lebih tenang di hatinya dan mengurangi rasa bersalahnya.


Namun, gadis mungil di depannya justru mengambaikannya lebih banyak, seolah gadis itu bisa mengetahui dimana Duke berdiri, gadis itu mengubah posisinya dan menunjukkan punggung yang dingin untuk Duke.


"Jangan lakukan apapun, aku tidak membutuhkannya. Pergi saja berperang atau pergi saja ke istrimu, di matamu aku tidak pernah ada, bukan?"


Dimatamu, aku tidak pernah ada, bukan?


Kata-kata itu berputar berlulang-ulang di telinganya. Seperti inikah cara putrinya menatap dirinya. Ayahnya.


Duke Damien tidak mengatakan apa-apa lagi selain menatap punggung gadis mungil yang terlihat sangat rapuh itu, seolah hanya dengan satu genggaman dia akan hancur menjadi abu seperti namanya, Ashlyn.


Setelah menatap cukup lama, Duke pergi dalam diam dan dengan pikiran yang tak karuan di dalam kepalanya. Putrinya sejak awal telah menyimpan kebencian terhadapnya, bahkan putrinya menganggap dirinya tidak pernah terlihat oleh matanya, bukankah secara kasar putrinya telah mengatakan padanya bahwa dia sebagai ayah sama sekali tidak pernah memberikan perhatian pada putrinya dan terkesan mengabaikannya.


Dan sekarang setelah apa yang dia lakukan, putrinya semakin membenci dirinya bahkan sampai mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan apa-apa lagi darinya.


Ini benar-benar salah. Bagaimana bisa seorang putri tidak mengharapkan apapun dari ayahnya?


Dan bagaimana putrinya bisa berpikir bahwa dia tidak pernah memperhatikan putrinya?


Duke hanya tidak melihatnya tumbuh di bawah matanya, tapi dia selalu membaca laporan tentang perkembangan putrinya dan selalu mengirim banyak hadiah setiap kali dia bepergian dan menemukan sesuatu yang menarik.


Apa itu tidak bisa disebut sebagai bentuk perhatian!


Menatap tangan yang telah menanpar putrinya, Duke menoleh dan menatap Bin.

__ADS_1


"Bin, kau adalah orang yang sangat aku percayai, aku harap kau tidak mengecewakanku kali ini. Aku ingin tahu segalanya, seperti apa hubungan putriku dan istriku?"


Note : Mungkin ada yang bertanya-tanya, cuma ditampar aja kok bisa sampe buta. Hmm, dengan berjalannya cerita misteri ini akan diungkap, hohoho. Terima kasih sudah membaca 😘


__ADS_2