I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Tentang Edmund.


__ADS_3


Edmund terbangun dan menatap langit-langit yang terbuat dari kayu dengan mata yang sayu. Bayang-bayang apa yang terjadi saat dia menggigit leher pemilik toko kue membuatnya merasa bahwa itu baru saja terjadi, rasa dan bau darah yang memenuhi hidung dan mulutnya membuatnya mual.


Mengingatnya, perlahan-lahan Edmund menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, menggunakan lengannya untuk menutup matanya untuk mengingat kembali apa yang terjadi kemarin. 


Kemarin, keadaannya sangat kacau, semua orang mulai berbicara tentang apa yang baru saja dia lakukan pada pemilik toko kue ikan. Suara mereka tumpang tindih dan sangat berisik hampir membuatnya sakit kepala, tapi Edmund tidak peduli. 


Dia terus menatap punggung Duke yang menyembunyikan Ashlyn di dalam dekapannya.


Dia meratap, memohon dan berharap bahwa Ashlyn akan keluar dari dekapan Duke dan membiarkan dirinya melihat Ashlyn sekali saja. Namun, apa yang terjadi membuat mata Edmund melebar, Ashlyn jatuh pingsan dan Duke membawanya pergi dengan terburu-buru.


Edmund ingin menyusul, tapi para penjaga tidak mengizinkannya, mereka menahannya dan kesadarannya hilang. Sebelum kehilangan kesadarannya, Edmund berpikir bahwa ini adalah akhirnya, harga yang harus dia bayar untuk apa yang dia lakukan di masa depan adalah dia harus mati saat itu juga.


Namun, ternyata dia masih bisa membuka matanya lagi dan melihat ruangan ini lagi, ruangan yang sama yang dia gunakan dulu.


Edmund menghela napas dan memijat pelipisnya sebelum turun dari tempat tidur, menuju cermin dan berdiri disana menatap bayangan dirinya sendiri.


Rambutnya yang hitam dan ikal tampak tidak beraturan dan terlihat lebih panjang dari yang dia ingat. Mata ambernya yang keemasan selalu seperti ini, terlihat berani dan selalu menatapnya tajam, dan bibirnya yang pucat menyeringai padanya seperti setan, menghinanya.


"Apa yang kau harapkan, sudah aku katakan bahkan jika kau berhasil menggunakan mantra kelahiran kembali, ucapannya adalah kutukan."


Selamanya bahkan jika waktu diulang lagi, aku akan tetap membencimu.


Edmund mencengkram genggamannya kuat-kuat menahan ledakan emosi yang mulai bergejolak di dalam jiwanya, sementara bayangan dirinya di dalam cermin terus saja mengolok-ngolok dirinya dengan senyum jahat di wajahnya.


"Apa yang akan kau lakukan, selamanya dia akan membencimu, bahkan jika kau terlahir kembali dan berniat untuk mengubah sikapmu padanya, dia tetap akan membencimu dan memilih mati daripada memaafkanmu."


Edmund menggertakkan gigi dan berkata, "Itu tidak akan terjadi."


Bayangannya di atas cermin menertawakannya. "Apa kau bodoh? Kelahiran kembali berarti mengulang kembali apa yang sudah terjadi. Apa yang terjadi dan apa yang kau lakukan pada gadis jahat itu, kau akan mengulanginya lagi."


Edmund bersikeras mengatakan, "Ashlyn bukanlah gadis jahat!"


Bayangannya menghinanya, "Lalu siapa yang jahat? Dirimu?"


Edmund terdiam dan bayangannya berkata. "Bagi Edmund, Ashlyn adalah gadis jahat yang  selalu ingin dia bunuh setiap kali ada kesempatan."


Mendengarnya, mata Edmund melebar.


Sementara bayangan Edmund di dalam cermin terus berbicara. "Kira-kira bagaimana gadis jahat itu mati hari itu, ah bukankah dia menipumu untuk mengambil obat yang tidak lain dan tidak bukan adalah racun untuk membunuh dirinya sendiri, tapi dia benar-benar tidak tahu malu dengan mengatakan bahwa kau yang membunuhnya. Dia menipumu, kau tidak membunuhnya, dia membuatnya seolah kau yang membunuhnya, jadi kenapa kau begitu merasa bersalah?"


"Apa karena perbuatanmu yang membuatnya begitu menderita dan memperlakukannya dengan salah? Dia merawatmu begitu baik saat kau terluka dan jika aku ingat kembali bukankah orang yang merawatmu setelah diperlakukan tidak adil oleh Duke adalah gadis jahat itu. Dia menyelamatkanmu dari eksekusi, dia juga yang merawat luka-lukamu, tapi di matamu dia tetap orang jahat dan kau sangat ingin membunuhnya.


Dia memberimu tempat untuk berlindung, seperti anjing terlantar yang tidak memiliki siapa-siapa, dia mengambilmu, merawatmu dan membantumu menjadi kesatria yang paling hebat, tapi setiap hari keinginanmu untuk membunuhnya justru semakin besar dan dalam. Kau membencinya, Edmund. Kau membencinya untuk apa yang gadis jahat itu lakukan padamu dan Annabel. Kau menderita tiga puluh cambukan yang hampir membunuhmu, menghinamu dan menahanmu, membiarkan orang tuamu mati dengan tidak adil. Selalu ingat ini, Edmund, jika bukan karena Ashlyn, orang tuamu pasti masih hidup, karena itulah kau harus membencinya. Kau harus membencinya, Edmund. Membencinya hingga kau ingin melakukan hal yang sama padanya, mencambuknya berkali-kali lipat dari yang dia lakukan padamu dan menghilangkan mata abu-abunya yang sangat kau benci, hanya dengan itu dia akan menderita di akhir hidupnya."


Prang!


Edmund meninju cermin yang menempel di dinding hingga retak. Semua ilusi ini, dia harus segera mengakhirinya atau dia benar-benar akan mengulang kembali apa yang telah dia lakukan pada Ashlyn. 


Gadis jahat yang menggunakan topeng jahatnya untuk menutupi kebaikannya. Bagaimana dia bisa bersikap begitu tidak adil pada tuannya?


Ini adalah penyesalan terbesar yang pernah Edmund alami dalam hidupnya dan dia tidak ingin itu terulang lagi. Dia kembali untuk memperbaiki semuanya.


Namun, bayangannya di dalam cermin yang telah retak dilumuri darah dari tangan Edmund sendiri, bayangannya tertawa keras.


"Lihat betapa kotornya tangan yang kau gunakan untuk menyiksa Ashlyn, benar-benar seperti ini, tanganmu dilumuri darah milik Ashlyn dan selamanya itu tidak akan pernah bisa untuk dibersihkan."


Mata Edmund melebar dan bayangan saat dirinya melukai Ashlyn dengan tangannya, mengambil mata Ashlyn dengan tangannya sendiri hingga tangannya berlumuran darah milik gadis itu melintas di dalam kepalanya. 


Edmund ketakutan hingga tanpa sadar dia berjalan mundur dan tangannya yang terluka terkena pecahan kaca bergetar dengan darah yang menetes ke lantai.

__ADS_1


Sementara bayangan di dalam cermin yang rusak itu masih menatapnya, menunjukan wajah sengit dan senyuman iblis.


"Ingat kata-katanya, Edmund. Selamanya bahkan waktu bisa diulang lagi, dia akan tetap membencimu. Jadi, kenapa kau melakukan hal bodoh ini, kembali ke masa lalu, untuk apa? Bukankah kau seharusnya hidup bahagia bersama Annabel setelah merebutnya dari Putra Mahkota. Jadi, untuk apa kau kembali ke masa ini? Bodoh, Edmund. Kau benar-benar bodoh!"


Mendengarnya, Edmund yang ketakutan perlahan-lahan mendapatkan kembali kesadarannya. Dia mengeratkan kepalan tangannya dan menatap tajam pada bayangannya di atas cermin.


"Aku adalah Ashlan! Aku bukan Edmund dan Ashlan tidak akan melakukan apa yang Edmund lakukan."


Bayangannya di dalam cermin menertawakannya.


"Hahaha, kau benar-benar orang bodoh yang mencoba membodohi diri sendiri. Apa kau tidak ingat apa yang gadis itu katakan padamu saat itu? Sejak awal, tidak ada orang yang bernama Ashlan. Selamanya kau adalah Edmund yang telah membuatnya menderita."


Edmund merasa tenggorokannya baru saja disiram dengan air asam hingga dia bisa merasakan perihnya cairan itu saat melewati dadanya hingga dia berpikir bahwa dadanya sedang diremas begitu kuat, itu sangat menyakitkan saat bayangan dirinya meminta Ashlyn memanggilnya Ashlan. Namun, gadis itu menjawab bahwa sejak awal tidak ada orang yang bernama Ashlan, hanya ada Edmund sumber penderitaan di dalam hidupnya, gadis itu bahkan bertanya kenapa dia menyelamatkan orang seperti Edmund hanya untuk merasakan sakit.


Ya, dia adalah anjing kampung lusuh yang tidak tahu berterima kasih pada tuannya. Dengan racun yang dia bawa di giginya yang tajam, dia menggigit tuan yang telah memberinya makan dan membunuhnya dengan racunnya.


Edmund begitu marah saat mengingat masa kelam itu, tapi kemudian dia sadar bahwa semua itu belum terjadi, dia berhasil kembali ke masa saat dirinya belum melakukan semua hal keji itu pada tuannya, dan dia ingat janji apa yang dia ucapkan sebelum kembali ke masa ini, dia ingin melayani Ashlyn, majikannya dengan sepenuh hatinya.


"Lalu bagaimana dengan Annabel? Apa kau akan bersikap tidak adil pada Annabel? Gadis jahat itu membenci Annabel, apa kau akan diam saja saat melihat gadis jahat itu bersikap kasar pada Annabel? Ingat Edmund, kau mencintai Annabel dan selalu ingin melindungi Annabel."


Edmund menatap bayangan dirinya di dalam cermin dan memukul cermin itu lagi, menghancurkannya hingga berkeping-keping, memastikan bahwa dia tidak akan bisa melihat bayangan dirinya sendiri di pantulannya, atau dia akan kehilangan arah.


Dia mencintai Annabel, tapi dia juga ingin melayani Ashlyn dan untuk saat ini dia hanya ingin melayani Aahlyn untuk menebus semua kesalahan yang pernah dia lakukan di masa depan. 


Annabel, dia mencintainya dan Edmund akan memikirkan cara untuk mendapatkannya.


Saat Edmund memikirkan hal ini, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan matanya melebar saat melihat Ramus berdiri di depan pintu.


Orang ini adalah gurunya, yang membantunya berlatih dan menjadi temannya, satu-satunya temannya yang dia miliki di Mansion Daren Lynx saat dia bukan siapa-siapa, dan apa yang Edmund lakukan pada orang ini saat dia naik ke atas puncak, dia membunuhnya karena orang ini mencoba melindungi Ashlyn.


"Waah, baru hari pertama kau di sini dan kau sudah berani menghancurkan barang milik Mansion Daren Lynx, apa kau punya uang untuk menggantinya, huh?" Ramus bertanya saat dia melihat betapa buruknya pecahan cermin yang berserakan di lantai.


Ramus kemudian mengalihkan perhatiannya pada Edmund dan melihat penampilan menyedihkan Edmund, itu benar-benar membuatnya sulit percaya.


🔸🔸🔸


Ashlyn menghela napas saat memikirkan hal ini.


"Ashlan membunuh orang itu karena dia begitu marah saat mendengar dirinya dihina dan dimaki-maki oleh pemilik toko kue."


Ashlyn mengerutkan alisnya dan bertanya. "Apa itu benar?" 


Ashlyn kembali bertanya pada dirinya sendiri. Di dunia novel yang lalim ini, sebagai tokoh antagonis sekaligus sebagai pembaca, maaf sebagai pendengar yang telah menyelesaikan novel ini dan mengetahui bagaimana endingnya. Ashlyn tahu betul bahwa dirinya seorang diri di dunia ini. Tidak ada satu orang pun yang berdiri di sisinya, bahkan Duke sekalipun lebih memilih Annabel dan Arabella.


Jadi jika tiba-tiba ada seseorang yang mengaku bahwa dirinya peduli padanya bahkan rela melakukan hal gila seperti membunuh orang untuknya hanya karena telah menghinanya, Ashlyn tidak bisa langsung percaya dan bertanya-tanya apa yang direncanakan oleh orang itu.


Terutama saat orang itu adalah Ashlan, orang yang telah mencoba membunuhnya.


"Apa yang dipikirkan Ashlan?" 


Ashlyn berpikir, "Apakah orang ini mencoba untuk membalas budi untuk apa yang telah dia berikan, setidaknya dia telah memberi Ashlan begitu banyak kebaikan, koin emas, dan pekerjaan. Jadi apa Ashlan bersikap seperti binatang terlantar yang kelaparan, saat aku memberinya makan maka dia akan mengikutiku?"


Ashlyn mengambil napas panjang dan berpikir, "Namun, Ashlan adalah manusia, pikirannya tidak sesederhana binatang yang akan setia pada orang yang memberinya makan. Manusia selalu memiliki keinginan tersembunyi, tapi apa yang disembunyikan Ashlan di balik punggungnya?"


Ashlyn ingin tahu, dia selalu percaya bahwa manusia memberikan sesuatu karena mereka menginginkan sesuatu, seperti dirinya. Namun, ada hal lain yang perlu dia pikirkan lebih dulu, itu adalah bagaimana cara merebut kembali semua milik tokoh Ashlyn dari Arabella dan Annabel?


Untuk sementara waktu, Ashlyn akan menaruh masalah Ashlan di belakang kepalanya dan menunggu apa yang akan dilakukan Ashlan berikutnya, dia hanya perlu berhati-hati padanya dan tidak terlalu dekat dengannya.


Dengan ini, Ashlyn menganggukkan kepalanya dan memanggil Carolin untuk membantunya bersiap-siap. 


Namun, itu bukan Carolin yang masuk melainkan Duke Damien yang bertanya bagaimana keadaannya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, ini sudah empat hari sejak kejadian hari itu, jika dokter yang ayah kirim benar-benar bisa bekerja dengan baik seharusnya tidak ada masalah dengan kesehatanku."


Duke Damien menghela napas setelah mendengar cara berbicara putrinya yang kasar. Dia ingin memperbaikinya, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Saat ini hubungannya dengan Ashlyn seperti dua buah telur, jika Duke Damien menggunakan kekerasan pada Ashlyn, hubungan mereka benar-benar akan rusak dan hancur, tidak bisa diperbaiki lagi. 


"Kalau begitu bisakah kau ikut sarapan bersama kami?"


Mendengarnya, Ashlyn benar-benar kesal, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur.


"Makanlah, aku tidak lapar. Lebih tepatnya seseorang mungkin meracuniku di meja makan."


Duke mengepal kedua tangannya. "Apa yang kau khawatirkan, kami sudah mencicipi semuanya dan semuanya aman. Kau bisa makan dengan tenang."


"Bagaimana dengan pemilik toko mie, apa dia sudah menerima kompensasi dari Ayah untuk apa yang Ayah lakukan?"


Ashlyn mengalihkan pembicaraan, dia benar-benar tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan Arabella dan Annabel. Sementara Duke juga mengetahui niat putrinya. Namun, dia masih menjawab pertanyaan putrinya.


"Dia mendapatkan surat permintaan maaf secara resmi dan mendapatkan kompensasi yang jauh lebih baik dari pendapatan yang pernah dia terima selama berjualan. Ayah membangun kedai baru yang seratus kali lebih baik untuknya, memberinya seribu koin emas dan seribu permata, serta ...."


"Apa Ayah sudah meminta maaf padanya?" Ashlyn dengan cepat memotong ucapan Duke yang segera membuat Duke terdiam. "Apa Ayah sudah meminta maaf secara lisan pada orang itu untuk apa yang telah Ayah lakukan padanya?"


Mendengar keheningan, Ashlyn tertawa. "Ah, benar. Ayahku Duke Damien yang terhormat adalah orang yang seperti ini. Dia lebih suka memberi dan melakukan sesuatu daripada meminta maaf. Sama seperti yang Ayah lakukan untukku, jika aku tidak mengatakannya, Ayah mungkin tidak akan pernah meminta maaf padaku untuk apa yang telah Ayah lakukan padaku."


Ashlyn dengan sengaja menyentuh kelopak matanya agar Duke ingat apa yang telah Duke lakukan pada putrinya. Karena dia, Tokoh ini harus buta.


Duke melebarkan matanya saat melihat ini, tentu saja Ashlyn berhasil membuka rasa bersalah paling besar di hati Duke. Namun, dia tetap tidak senang pada apa yang baru saja Ashlyn katakan dan dia tidak tahan untuk tidak mengatakan.


"Lalu, bagaimana dengan dirimu Ashlyn, kenapa kau tidak meminta maaf pada Annabel untuk apa yang telah kau lakukan padanya, apa kau tidak berpikir untuk meminta maaf padanya?"


Mendengarnya, Ashlyn tertawa getir, ternyata itu benar bahkan jika dia adalah putrinya, Duke lebih berat timbangannya terhadap Annabel. Sementara Duke tidak mengerti apa yang membuat Ashlyn tertawa seperti itu.


"Kenapa aku harus meminta maaf padanya? Katakan, kesalahan apa yang aku buat padanya hingga aku harus meminta maaf padanya?"


Duke Damien benar-benar harus bersabar saat menghadapi Ashlyn. Namun, belum sempat Duke mengutarakan pendapatnya dengan baik-baik Ashlyn lebih dulu berbicara.


"Aku hanya mencoba mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Sejak dia datang ke kediaman kita, dia mengambil segalanya dariku, mainanku, perhiasanku, pakaianku, kamarku, dia selalu menginginkan apapun yang menjadi milikku dan katakan ayah, apa aku harus selalu memberi semua milikku padanya?"


Duke menghela napas, dia sudah tahu tentang ini dan memiliki pandangan berbeda untuk hal ini. Jadi, dia merendahkan suaranya dan berkata dengan lembut. "Ashlyn, Annabel hanya mengagumimu, dia adalah gadis desa yang tidak pernah memiliki hal-hal yang kau miliki, pantas jika dia merasa iri dan menginginkan apa yang kau miliki, dan kau Ashlyn, kau tidak kekurangan barang dan uang untuk membeli yang baru. Bukankah ayah selalu memberimu banyak uang setiap tahun, jadi cobalah untuk rendah hati dan berbaikan dengan Annabel. Kalian adalah saudara."


Ashlyn kembali tertawa getir. "Sepertinya Ayah selamanya memang tidak akan mengerti apa yang aku rasakan, selamanya aku sendirian di dunia yang gelap ini dan dianggap sebagai gadis jahat yang diharapkan kematiannya oleh semua orang."


Ashlyn menghela napas sebelum berkata, "Kenapa aku dilahirkan jika aku hanya ditakdirkan untuk sendiri dan menderita?" Ashlyn kemudian tersenyum miris sebelum mengalihkan pandangannya. Dia merasa sedikit emosional dan takut dirinya akan menangis di depan Duke. Dia tidak boleh menangis di depan siapapun.


Sementara Duke melebarkan matanya saat mendengar hal ini dan semakin merasa bersalah untuk apa yang terjadi hingga putrinya bisa berpikir seperti ini.


"Katakan Ashlyn, apa yang harus ayah lakukan agar kau tidak berpikir seperti itu. Ayah selalu berada di sisimu, ayah mencoba memberi yang terbaik untukmu, jadi katakan apa yang harus ayah lakukan untuk membuktikan bahwa ayah benar-benar berada di sisimu, ayah ada untukmu."


Bunuh Annabel dan Arabella. Sejenak, kata-kata ini muncul di kepala Ashlyn. Ini adalah keinginan tokoh antagonis ini. Dia menginginkan kematian mereka. Namun, Duke dengan kejam berkata bahwa dia telah melebihi batas dan akhirnya membunuhnya.


Haaa, dari pada membunuh mereka, Ashlyn lebih ingin mengetahui bahwa mereka kembali ke asal mereka, atau mengetahui mereka menyesali perbuatan mereka.


Jadi, Ashlyn dengan ringan menjawab. "Berikan hak mengurus kediaman ini padaku."


Ya, hak mengurus kediaman Daren Lynx biasanya dipegang oleh Duchess dan hak ini sangat istimewa karena orang yang memiliki hak ini akan bertanggung jawab dan mengatur ekonomi Daren Lynx, seperti bendahara yang mengatur keluar masuknya uang.


Jika Ashlyn bisa mendapatkan hak ini, apa yang akan terjadi pada Arabella sebagai Duchess. Dia hanya akan menjadi wanita dengan gelar kosong yang tidak bisa melakukan apapun, bahkan jika dia ingin membeli sesuatu dia harus melaporkan pengeluarannya pada Ashlyn dan Ashlyn akan memastikan bahwa orang itu tidak akan bisa menghambur-hamburkan uang lagi!


Namun, untuk itu Ashlyn masih harus mendengar jawaban apa yang akan diberikan oleh Duke Damien.


🔺Ok, misteri sudah terjawab, jadi Edmund adalah anjing yang menggigit tangan orang yang memberinya makan, bahkan membunuhnya!


🔺Disappointed? let me know what you think in your comments below 👇

__ADS_1



__ADS_2