
Edmund terdiam di kamarnya berpikir bahwa masa depan benar-benar telah berubah sejak dia kembali.
Lady Ashlyn seharusnya ada di sini merawatnya setelah menyelamatkannya dari eksekusi. Namun, hingga hari ke empat, gadis yang dulu sama sekali tidak dia harapkan kehadirannya, sekarang benar-benar tidak datang untuk merawatnya.
Kenapa?
Kenapa, Lady Ashlyn tidak datang? Apa Lady Ashlyn juga ikut mengalami kelahiran kembali dan mengetahui siapa dirinya sebenarnya, bahwa Ashlan adalah Edmund yang telah membuatnya menderita hingga ke titik mengharapkan kematian?
Apa Lady Ashlyn benar-benar terlahir kembali demi membuktikan kata-kata terakhirnya?
Selamanya, bahkan jika waktu bisa diulang lagi, aku akan tetap membencimu.
Memikirkan itu, hati Edmund merasa sakit hingga dadanya sesak. Dia ketakutan bahwa gadis itu benar-benar membencinya hingga tidak menginginkan kehadirannya lagi.
Apa yang harus dia lakukan, Edmund telah berjanji bahwa dia kembali untuk memperbaiki kesalahannya dan membalas semua kebaikan majikannya, Lady Ashlyn.
Saat Edmund kebingungan, pintunya tiba-tiba terbuka. Itu adalah gurunya, Ramus. Pria gondrong itu membawa nampan berisi roti dan sup jatah makan siang Edmund.
"Bagaimana, apa kau merasa lebih baik?" Ramus bertanya saat dia meletakan nampan itu di atas meja dan menatap Edmund.
Edmund juga menatapnya, dulu Ashlyn yang merawatnya, tapi sekarang Ramuslah yang merawatnya.
"Apa Lady Ashlyn tidak datang hari ini?" Edmund akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya. Dia benar-benar ingin tahu kenapa Lady Ashlyn tidak mengunjunginya.
Ramus tertawa rendah. "Kenapa? Apa kau mengharapkan kedatangannya?"
Edmund terdiam.
Ramus melanjutkan. "Apa menurutmu apa yang telah kau lakukan pada pemilik toko kue ikan itu tidak membuat Lady Ashlyn ketakutan?"
Mendengarnya, mata Edmund melebar. Iya, benar, dia telah mengacaukan masa depan dengan menggigit leher pria itu. Dulu, Edmund tidak melakukannya, dia membiarkan pria itu menghina Ashlyn sebanyak yang pria itu mau, Edmund tidak peduli bahkan menyetujui semua kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.
Ashlyn pantas untuk mati!
Namun, kali ini Edmund justru sangat marah saat mendengar pria itu menghina Ashlyn. Pria itu tidak tahu apa-apa tentang Ashlyn, beraninya dia menyumpahi Ashlyn untuk mati. Edmund lepas kendali karena marah dan tanpa berpikir dia menggigit leher orang itu hingga tewas.
Seharusnya sejak saat itu, Edmund sadar bahwa masa depan telah berubah.
"Aku tidak tahu apakah Lady Ashlyn takut, jijik atau tidak senang dengan tindakanmu, tapi sepertinya dia lebih kepada tidak peduli padamu, bukankah dia pernah bilang padamu bahwa hidup dan matimu dia tidak peduli?"
Edmund mengiyakan jawaban ini, benar ini juga alasan Edmund membenci Ashlyn dulu, gadis jahat itu tidak pernah peduli pada siapapun dan hanya memedulikan dirinya sendiri. Namun, pada kenyataannya gadis itu hanya berbicara di mulut tapi lain pada tindakan, meskipun gadis itu buta, dia tidak menutup mata dan menolong orang dengan temperamen yang buruk. Membuat semua orang memandangnya sebagai orang yang suka marah-marah dan melupakan kebaikan Ashlyn dalam sekejap mata seolah gadis itu tidak pernah berbuat baik dan selamanya hanya melakukan keburukan.
Edmund dulu juga berpikir seperti ini, karena bahkan jika Ashlyn merawatnya, mengobatinya dan membukakan jalan baginya untuk menjadi kesatria, Edmund tetap berpikir bahwa gadis itu hanya mencari perhatian dan mencoba bersikap seperti Annabel, mencoba mengambil perhatian semua orang dan itu membuat Edmund jijik hingga setiap saat ingin membunuhnya.
Dulu, Edmund benar-benar berpikir bahwa Ashlyn mencoba untuk menjadi Annabel yang suka membantu orang. Ha! Betapa bodohnya dia yang tidak bisa melihat ketulusan Ashlyn saat itu, dan saat dia menyadarinya, itu sudah terlambat.
Ashlyn membencinya dan tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
Dia ingat dengan jelas bahwa Ashlyn pernah berkata, "Apa gunanya maaf, sesuatu yang sudah pecah bahkan jika kau benar-benar ingin memperbaikinya itu tidak akan pernah bisa sama dengan sebelumnya."
Edmund meremas selimut dan menggertakkan giginya. Dia akan memperbaikinya, yang dia butuhkan hanyalah sebuah kesempatan.
"Dimana Lady Ashlyn sekarang?" Edmund ingin menemuinya, berlutut di hadapannya meminta pengampunan.
"Apa kau benar-benar ingin bertemu dengan Lady Ashlyn?"
"Iya, jadi dimana Lady Ashlyn sekarang?"
"Dia sudah pergi."
🔸🔸🔸🔸
__ADS_1
Ashlyn menghela napas di dalam kereta, bagi sebagian orang dia mungkin dianggap sebagai orang tidak waras yang tidak sayang nyawa. Hari itu setelah dia meminta hak mengurus kediaman Daren Lynx, Duke Damien terdiam dan mengatakan bahwa dia perlu membicarakan hal itu dengan Arabella.
Ashlyn tahu bahwa memindahkan kekuasaan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bukankah Duke bertanya padanya apa yang bisa membuatnya percaya pada Duke bahwa Duke berada di pihaknya.
Lalu kenapa dia tidak memberikannya?
Sudah Ashlyn duga bahwa Duke tidak akan pernah berada di sisinya karena pria itu lebih mencintai istri dan anak tirinya.
Ashlyn tersenyum kecut, saat Duke menolak permintaannya, dia segera memutuskan untuk pergi ke Villa yang selalu dikunjungi Ashlyn di akhir pekan.
Itu adalah Villa yang berada di dekat pantai Merlyn, tempat Ashlyn pertama kali menemukan Putra Mahkota yang sekarat.
Jarak dari Mansion Daren Lynx ke Villa cukup jauh, itu akan memakan waktu satu hari penuh untuk sampai di sana.
Tidak masalah, Ashlyn tidak keberatan asalkan itu berarti bahwa dia bisa pergi menjauh dari keluarga yang menjemukan itu.
Dia benar-benar lelah dengan hal ini, orang-orang yang membencinya hingga menginginkan kematiannya, ayah yang tidak pernah ada untuknya, ibu dan saudara tiri yang selalu membuatnya sesak. Dia hanyalah gadis buta yang masuk ke dalam tubuh antagonis buta, yang ditakdirkan untuk dibenci oleh semua orang, dimana tidak ada seorang pun yang mau menggandeng tangannya.
Bohong jika dia tidak merasa tertekan.
Ashlyn berpikir bahwa takdir ini terlalu menyedihkan dan dia mulai merindukan keluarganya yang selalu ada untuknya. Namun, keluarganya tidak ada di sini, jadi dia membutuhkan waktu dan tempat untuk dirinya sendiri dan menenangkan diri.
"Carolin, apa kau pernah mengunjungi pantai Merlyn sebelumnya?" Ashlyn bertanya sambil menyandarkan kepalanya pada tangan yang bertumpu di jendela kereta.
Carolin menatap majikannya yang terlihat tidak bersemangat, bahkan nada suaranya menurun, dia tidak membentaknya.
Majikannya pasti sedang merasa sedih.
"Aku pernah satu kali mengunjungi pantai Merlyn, Lady Ashlyn."
"Oh, iya? Seperti apa pantai Merlyn itu?"
Carolin tidak tahu kenapa majikannya bertanya tentang hal ini, karena majikannya seharusnya sudah sangat hafal bagaimana pantai Merlyn, Carolin dengar, majikannya sangat menyukai pantai Merlyn dan sering berkunjung ke sana. Namun, mungkin karena majikannya sudah buta dan tidak akan bisa melihat lagi seperti apa pantai Merlyn, Lady Ashlyn bertanya padanya untuk menyegarkan ingatannya tentang pantai berpasir putih itu.
"Peramal?"
"Iya, Lady Ashlyn. Katanya apapun yang akan Anda tanyakan dia akan menjawabnya seakan dia tahu segalanya. Namun, harga yang harus dibayar tidaklah murah."
Ashlyn mengerutkan alisnya, dia tahu bahwa peramal itu ada, membaca garis tangan, memprediksi masa depan, tapi Ashlyn selalu berpikir bahwa peramal itu adalah penipu.
Masa depan tidak mungkin bisa dibaca. Namun, ....
"Anda bukanlah Anda."
Ashlyn meremas roknya saat mendengar hal ini. Dia benar-benar mendatangi peramal yang Carolin maksud untuk membuang waktu, jadi siapa yang mengira bahwa peramal ini benar-benar bisa membaca dirinya, bagaimana itu bisa dilakukan? Apakah karena ini adalah dunia fantasi dimana sihir dan monster itu ada, maka orang yang memiliki kemampuan melihat masa depan juga ada?
"Sepertinya Anda menyimpan banyak pertanyaan untukku, bagaimana jika Anda masuk dan berbicara di ruang pribadi jika Anda tidak ingin orang lain mendengar apa yang ingin Anda tanyakan."
Ashlyn kembali meremas roknya, apa yang akan dia tanyakan? Ashlyn belum ... Ah, tidak, dia sudah tahu apa yang ingin dia tanyakan. Jadi, Ashlyn mengikuti langkah peramal itu, membiarkan Carolin dan para kesatria menunggunya di luar.
Peramal itu adalah seorang pria tua yang sudah membungkuk, jalannya sangat pelan dan hati-hati. Pria itu membawa Ashlyn ke tempat tertutup dan mempersilahkannya untuk duduk.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku bukanlah aku?" Ashlyn segera langsung ke intinya. Dia tahu maksud dari perkataan pria itu.
Anda bukanlah Anda. Tubuh ini adalah milik Ashlyn tokoh antagonis di dunia ini, sementara di dalam tubuhnya adalah jiwa Ayana, dirinya.
"Aku melihat warna baru yang ada di dalam tubuhmu, tapi warna yang lama belum sepenuhnya hilang."
Alis Ashlyn berkerut, "Apa maksudnya?"
"jiwa Anda memasuki tubuh ini, tapi jiwa lama pemilik tubuh ini belum sepenuhnya hilang."
Ashlyn terkejut dan tidak bisa untuk tidak bertanya. "Apa itu artinya dia ..."
__ADS_1
"Dia sudah pergi, hanya saja seperti orang yang kentut di sebuah ruangan tertutup, terkadang orang itu sudah pergi, tapi saat Anda masuk baunya masih bisa tercium."
Ah, wajah Ashlyn menghitam, persamaan macam apa ini. Kenapa dia harus menggunakan kentut untuk membuatnya mengerti.
Jadi, itu semacam jiwa tokoh Antagonis ini meninggalkan jejak keberadaannya di tubuhnya. Lalu ...
"Jadi dia sudah pergi, apa itu artinya dia sudah mati?"
Pria itu menatap Ashlyn dan menanyakan hal yang hampir sama.
"Jiwamu juga sudah pergi, jadi bagaimana menurutmu?"
Ashlyn berkedip, dia ingat bagaimana dia tertimpa bangunan rumahnya sendiri.
"Tapi bagaimana ini bisa terjadi, maksudku ...."
"Bagaimana jiwamu bisa terperangkap di tubuhmu yang sekarang aku tidak tahu."
"Tapi mereka bilang kau tahu segalanya."
"Aku bukan Tuhan."
Ashlyn terdiam. Ya, dia telah mengatakan hal yang bodoh. Manusia tetaplah manusia, mereka tidak akan pernah tahu segalanya seperti Tuhan.
"Aku hanya memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa, seperti mengintip masa depan, tapi aku bukan Tuhan yang tahu segalanya."
Ashlyn terdiam sebelum bertanya, "Lalu bagaimana dengan masa depanku, apa kau bisa mengintipnya?"
Pria tua itu terdiam sejenak dan berkata, "Anda berada di dalam posisi yang sulit."
"Posisi sulit?"
"Mm, jika aku bisa menggambarkan situasi Anda, Anda seperti berada di sebuah tebing yang berdiri di tengah lautan, jika Anda melangkah maju, Anda akan terjatuh, begitupun sebaliknya."
"Apa maksudmu? Apa itu artinya untuk bertahan hidup aku tidak boleh melangkah kemanapun?"
"Ya, Anda tidak bisa melangkah kemanapun. Untuk bisa hidup dengan tenang, Anda hanya bisa bertahan."
Ashlyn kembali menghela napas saat angin laut menerpa wajahnya. Ingatan saat dia berbicara dengan peramal tua tadi masih dengan jelas terekam di kepalanya.
"Hargailah hidup Anda."
Kata-kata itu membekas di dalam jiwanya karena kata-kata itu sudah ratusan kali bahkan ribuan kali diucapkan oleh ibunya saat dia hampir menyerah dan putus asa dengan kehidupan saat dia menjadi buta.
Namun, maksud peramal di sini adalah menyuruh Ashlyn untuk lebih menghargai diri sendiri dan menghargai kesempatan yang Tuhan berikan padanya untuk bisa hidup di tubuh tokoh antagonis. Jangan lakukan hal bodoh hanya karena dia marah dan merasa semuanya tidak adil baginya. Peramal tidak mengatakan apakah dia bisa bahagia, peramal hanya mengatakan bahwa dia bisa hidup dengan tenang jika dia tidak melakukan apapun seperti membalas dendam.
Namun, jujur bagi Ashlyn saat dia mengetahui bahwa dia menjadi tokoh Antagonis yang diperlakukan tidak adil oleh semua orang, dan hampir dibunuh dua kali, Ashlyn benar-benar merasa sangat marah dan melupakan rasionalitasnya.
Dia berpikir bahwa selamanya dia tidak akan bisa hidup dengan tenang karena Annabel dan Arabella. Namun, jika membalas dendam pada mereka berarti kematian untuknya, bukankah dirinya sama saja dengan tokoh antagonis yang berakhir kalah dan hanya akan menderita dalam kematian?
Ashlyn menutup matanya dan merasakan ombak yang menyapu kaki telanjangnya.
Ashlyn merasa bahwa kata-kata peramal itu memperingatkannya bahwa apapun metodenya untuk membalas dendam, dia seperti berdiri di atas tebing yang berada di tengah-tengah lautan, pada akhirnya dia akan jatuh dengan menyedihkan jika dia mencoba melangkah.
Dia akan berakhir dengan kematian yang menyedihkan.
Sama seperti tokoh antagonis di dalam cerita.
Apa itu artinya dia harus melupakan ketidakadilan dan penderitaan yang dialami tokoh antagonis dan dirinya yang hampir mati dua kali?
Bagaimana dunia ini bisa begitu tidak adil?
__ADS_1