I Became A Blind Villain

I Became A Blind Villain
Rencana Duke Damien.


__ADS_3


Sementara itu Duke Damien tengah mengurus beberapa urusan di ruang kerjanya dan menghitung berapa banyak pengeluaran yang dikeluarkan oleh tiga wanita yang ada di rumahnya. Meskipun dia mencintai Arabella dan tidak peduli jika wanita itu menghambur-hamburkan uangnya. Namun, Duke Damien tidak rela jika Arabella memperlakukan Ashlyn dengan tidak adil seperti ini.


Hasilnya ternyata pengeluaran Arabella lebih banyak dari pengeluaran Ashlyn, bahkan pengeluaran Annabel juga lebih banyak dari Ashlyn. Ini tidak bisa dibiarkan dan membuat emosinya naik, tapi seorang pelayan dengan terburu-buru masuk untuk melaporkan bahwa Ashlyn kembali menunjukkan wajah sedih hari ini dan hanya bisa menghela napas merasa prihatin pada putrinya tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena ucapan putrinya sendiri.


Jangan lakukan apapun seperti saat kau tidak ada di sini.


Haah, padahal jika Ashlyn mengatakan permintaannya padanya, Duke Damien bisa membuat Putra Mahkota menjadi miliknya. Namun, kemarin anak itu sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak lagi peduli pada hubungan Annabel dan Putra Mahkota. Gadis itu bahkan bilang bahwa dia tidak akan peduli jika mereka disambar petir.


Ini benar-benar membuatnya sakit kepala.


"Bin, apa Ashlyn tidak pernah membeli banyak barang setiap bulannya?"


Duke Damien memikirkan pengeluaran yang jauh berbeda di antara tiga orang ini dan akhirnya bertanya.


Bin dengan sopan menganggukkan kepalanya, pria tua berkacamata itu menjawab, "Nona Ashlyn sepertinya tidak tertarik pada perhiasan dan hal-hal lain seperti para nona muda bangsawan yang tinggal di ibu kota. Dia tidak pernah membeli banyak barang-barang baru selagi barang-barang lama miliknya masih bisa digunakan. Nona Ashlyn juga lebih suka berpenampilan sederhana dan menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk belajar dan membaca buku, atau berlatih musik di ruang musik."


Mendengarnya, Duke hanya menganggukkan kepalanya dan kembali bertanya. "Bagaimana dengan Arabella dan Annabel?"


"Seperti pada umumnya bagaimana para wanita bangsawan yang hidup di ibu kota, Duchess Arabella selalu memperhatikan perkembangan dan kemajuan fashion yang ada dan mengikutinya, dia membelikan banyak barang untuk Nona Annabel setiap barang baru dikeluarkan. Sementara Nona Annabel sering kali membelanjakan uangnya untuk kegiatan amal."


Mendengarnya Duke hampir kehilangan akal, bagaimana bisa Arabella berubah begitu banyak. Dulu, wanita itu bahkan tidak peduli pada perkembangan mode dan selalu tampil sederhana. "Lalu, bagaimana Ashlyn saat melihat mereka."


"Nona Ashlyn tidak peduli."


"Benarkah?"


Bin sang kepala pelayan menganggukkan kepalanya.


"Lalu saat Ashlyn melakukan hal-hal jahat pada Annabel, bagaimana Arabella menyikapinya? Apa dia menyakiti Ashlyn?"


Bin tersenyum lemah dan menjawab. "Duchess tidak memiliki keberanian untuk menyakiti Nona Ashlyn karena Nona Ashlyn adalah putri Anda Yang Mulia Duke."


Mendengar hal ini, Duke merasa lega dan sedikit bisa mengerti, Arabella sepertinya masih memegang kata-katanya bahwa Ashlyn adalah putrinya yang berharga yang harus dia rawat dan melarangnya untuk menyakiti Ashlyn.


Mungkin karena hal inilah, Arabella hanya bisa mengirim banyak surat keluhan untuk kejahatan yang Ashlyn perbuat dan memintanya kembali untuk mengurus masalah ini karena Arabella tidak berdaya pada Ashlyn.


"Apa itu artinya Annabel selalu disakiti Ashlyn?"


Belum sempat Bin menjawab pertanyaan Tuannya, seorang pelayan kembali mengetuk pintu dan masuk untuk melaporkan bahwa Nona Ashlyn sudah menanyakan apakah tongkatnya sudah datang atau belum.


Mendengar hal ini Duke Damien dan Bin sama-sama terkejut hingga mereka saling menatap. Putrinya yang terlihat mungil dan polos itu akan segera melaksanakan niatnya untuk memukuli Annabel.


"Dimana Annabel sekarang?" Duke Damien akhirnya bertanya, dia sudah memikirkannya bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi masalah ini adalah memasang mantra pelindung di tubuh Annabel dan menyuruhnya berpura-pura berteriak kesakitan jika Ashlyn memukulinya.


Ashlyn yang buta tidak akan tahu apa yang terjadi dan dengan begini kedua belah pihak akan sama-sama diuntungkan. Annabel tidak akan terluka dan Ashlyn akan merasa puas karena merasa dirinya sudah memukul Annabel.


Namun, belum sempat pertanyaan Duke Damien dijawab, Arabella membuka pintu dengan kasar dan berjalan cepat menghampiri Duke Damien.


"Damien! Apa yang kau lakukan? Kau akan membiarkan putriku satu-satunya dipukuli oleh Ashlyn, dimana rasa belas kasihanmu dan gelar Duke Daren Lynx yang tidak pernah menyakiti orang tidak bersalah berada!" Arabella berteriak tepat di depan meja Duke Damien yang duduk dengan tenang.

__ADS_1


Dada Arabella kembang-kempis menahan marah, wajahnya menunjukkan kekesalan dan kekecewaan pada Duke Damien.


Melihat tatapan tajam dan kemarahan Arabella, Duke Damien melambaikan tangannya dan Bin serta dua pelayan yang sebelumnya datang untuk melapor segera mengundurkan diri dan menutup pintu agar Duke Damien dan Arabella bisa berbicara.


"Damien, aku menikahimu bukan untuk ini dan aku memanggilmu kembali juga bukan untuk ini, bagaimana bisa kau membiarkan Ashlyn memukuli putriku yang malang, apa yang kau pikirkan!"


Duke mengetuk meja dengan jari telunjuknya yang panjang dan berkata dengan dingin. "Dan aku menikahimu bukan untuk ini."


Mendengar jawaban Duke Damien, Arabella benar-benar terkejut hingga tanpa sadar melangkah mundur.


"Apa kau bilang?" Arabella hampir tergagap saat mengatakan hal ini. "Kau ingin mengatakan bahwa kau menyesal telah menikah denganku? Kau tidak bisa menyesalinya, kau lah yang mengejarku bahkan aku menolakmu dua kali tapi kau bilang hanya menginginkan aku, kau bilang aku adalah yang paling pantas! Kau bilang akan menerima Annabel sebagai putrimu dan memperlakukannya dengan baik, menjamin kehidupannya, tapi apa yang Annabel dapatkan! Kau akan membiarkan putriku tercinta menderita dengan semua pukulan itu! Kau ...."


"Kau adalah yang paling pantas untuk merawat Ashlyn." Duke Damien memotong ucapan Arabella, dia kemudian melirik Arabella dengan mata birunya gelap dan Arabella hanya bisa terpaku saat menatap hal itu.


"Benar, aku mengejarmu, aku mencintaimu dan aku terpesona pada parasmu yang cantik, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa kecantikan itu adalah hal yang penting, aku membutuhkan seorang ibu yang mau merawat, mencintai dan mendidik Ashlyn. Saat aku melihatmu di desa dulu, aku benar-benar ingin Ashlyn bisa tumbuh menjadi seperti dirimu, wanita yang lemah lembut dan penuh kasih terhadap sesama. Tapi saat ini, aku sepertinya harus berpikir dua kali untuk melakukan hal itu."


Arabella tergagap dan dia segera memperbaiki sikapnya saat melihat Duke Damien menunjukan kekesalan di wajahnya.


"Sayang, kau tidak mengerti, Ashlyn tidak pernah mau menerimaku, dia mengabaikanku dan dia tidak mempercayaiku. Aku tidak pernah melukainya dan hanya bisa melihat Ashlyn melakukan hal-hal jahat pada Annabel. Hati ibu mana yang tidak sedih saat melihat putri yang telah dia kandung selama sembilan bulan dan telah dia rawat selama bertahun-tahun diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Aku merasa sangat sedih, tapi aku tidak berdaya karena aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mengirim surat padamu. Aku tidak bisa menangani Ashlyn, percayalah padaku, aku telah mencoba yang terbaik untuk bergaul dengan Ashlyn, tapi Ashlyn lah yang menolak keberadaanku."


Mendengarkan hal ini, hati Duke sedikit tersentuh dan bisa memahami kesulitan yang dialami Arabella. Bin bilang Arabella tidak pernah menyakiti Ashlyn dan hubungan mereka seperti air dan minyak yang saling bersebrangan.


Lagi pula di masa lalu, Duke sendiri juga merasa kesulitan saat merawat Ashlyn karena Ashlyn tidak pernah mau lepas darinya, Ashlyn kecil selalu mengikutinya kemana-mana dan tidak mau mengikuti orang lain. Entah anak itu pemalu atau tidak suka dengan keberadaan orang lain, tapi anak itu memang suka menyendiri sejak kecil, dan pernikahan Duke dilangsungkan saat Ashlyn berumur enam tahun, dia masih ingat wajah tidak senang putrinya saat melihat kedatangan Arabella dan Annabel, bahkan anak itu mulai menjauhinya sejak saat itu, seolah putrinya telah kehilangan kepercayaan nya pada Duke Damien sendiri.


Duke Damien akhirnya hanya bisa menghela napas, kepribadian Ashlyn sejak dulu memang sudah berbeda dari anak-anak lain dan saat pertama kali bertemu dengan Arabella dan Annabel, Duke mulai berpikir bahwa mereka berdua bisa menjadi teman untuk Ashlyn sementara dia pergi bertugas. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, keduanya tidak akur bahkan Ashlyn justru tubuh menjadi gadis yang keluar dari kendali dan melakukan hal-hal buruk.


Duke Damien memijat pelipisnya dan berkata, "Panggil Annabel ke sini."


Duke Damien menatapnya. "Kau tenang saja, aku akan memasang mantra pelindung di tubuh Annabel. Aku hanya akan menyuruhnya berpura-pura berteriak kesakitan setiap kali Ashlyn memukulinya. Ashlyn tidak bisa melihat, dia tidak akan menyadarinya dan itu akan membuat hatinya merasa senang."


Mendengarnya ada rasa lega di dalam dada Arabella, tapi kekhawatirannya tidak sepenuhnya hilang. "Bagaimana jika mantra itu gagal, aku dengar kau membawa tongkat berduri yang diselimuti racun, bagaimana jika nyawa Annabel dalam bahaya?"


"Apa kau meragukan kemampuanku?"


Arabella berkedip tidak percaya tapi dia harus percaya, ini adalah suaminya Duke Damien Daren Lynx yang hebat, dia tidak boleh meragukan kemampuannya dan dengan itu Annabel pun dipanggil untuk menghadap.


Gadis itu tumbuh dengan baik, sangat cantik dengan wajah yang meneduhkan perasaan setiap orang yang melihatnya. Matanya hitam seperti kegelapan malam dan pantulan cahaya yang menghiasi matanya membuatnya seperti ada bintang kecil di sana. Rambutnya yang hitam panjang selalu dibiarkan tergerai, dandanan gadis ini sebenarnya sangat sederhana, tapi dengan wajah cantiknya juga pakaian mewahnya, gadis ini terlihat sangat berkilauan.


Duke Damien menatap Annabel yang menundudukkan kepalanya. "Annabel." Duke memanggil.


Annabel dengan takut-takut mengankat wajahnya untuk menatap Duke Damien.


"Iya, Ayah."


Duke terus menatap dan bertanya, "Bagaimana hubunganmu dengan Ashlyn selama ini, apa kalian sama sekali tidak pernah akrab?"


Mendengarnya, Annabel tertegun sebelum menundukkan kepalanya lagi kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak Ayah," jawabnya lemah.


"Kalian adalah saudara dan umur kalian juga hampir sama, jadi bagaimana kalian bisa tidak akrab?"


Annabel terdiam, kesulitan menjawab pertanyaan Duke Damien.

__ADS_1


Arabella yang berada di sisi Duke Damien menjawab. "Sayang, sudah aku bilang Ashlyn yang menarik diri dari kami dan tidak membiarkan kami bergaul dengannya."


Mendengarkan hal itu mata Duke Damien menyipit, dia menatap Annabel dengan seksama dan menilai bagaimana putri tirinya ini saat kejadian di taman bunga sore itu, gadis ini sepertinya memang mencoba untuk dekat dengan Ashlyn, tapi sikapnya saat itu benar-benar membuat Duke tidak habis pikir dan membuat Duke mau tidak mau menatap Arabella.


Apa Arabella benar-benar mengajari hal-hal seperti itu pada Annabel? Duke Damien ingin mengetesnya.


Arabella yang ditatap menjadi gugup dan bertanya. "Sayang, ada apa?"


Duke Damien tidak menjawab pertanyaannya dan mengalihkan perhatiannya pada Annabel.


"Katakan padaku, Annabel. Jika aku meminta Putra Mahkota darimu untuk Ashlyn, apa kau akan memberikannya?"


Keduanya tertegun dan respon Arabella lebih cepat dari Annabel. "Sayang, apa yang kau katakan? Bagaimana bisa kau melakukan ini, Putra Mahkota mencintai Annabel begitu juga sebaliknya, apa demi menebus kesalahanmu pada Ashlyn kau akan memisahkan dua orang yang saling mencintai, kau tidak bisa menyakiti hati mereka."


Arabella mencoba memohon, tapi Annabel kemudian menjawab. "Aku bersedia, Ayah."


Mendengarnya, Arabella kesulitan bernapas dan menatap putrinya dengan tidak percaya. "Annabel, apa yang kau katakan?"


Annabel meramas jari-jemarinya dan menatap ibunya. "Tidak apa Ibu, aku bersedia menyerahkan Putra Mahkota untuk Ashlyn agar dia bahagia. Lagi pula itu benar, Ashlyn yang telah menyelamatkan Putra Mahkota, dia yang lebih berhak berada di sisi Putra Mahkota karena telah menyelamatkan nyawa Putra Mahkota."


Alis Duke Damien terangkat saat mendengar penjelasan Annabel dan menilai Annabel adalah gadis yang berani, dia tidak takut mengatakan kebenaran dan merelakan Putra Mahkota. Gadis ini memang memiliki sopan santun dan rendah hati seperti yang dikatakan orang-orang, tapi kenapa dia bersikap seperti itu kemarin?


Duke Damien tidak bisa untuk tidak memikirkannya. Namun, membiarkan masalah itu untuk nanti. Sekarang yang harus dia lakukan adalah memasang mantra pelindung pada Annabel.


Namun, saat pola mantra diarahkan pada Annabel, cahaya biru muncul di tubuh Annabel yang membuktikan bahwa sudah ada mantra lain yang terpasang di tubuh Annabel dan ini adalah mantra kerajaan.


Putra Mahkota sudah memasang mantra pelindung untuk melindungi Annabel. Jadi, sebenarnya dia seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan Annabel jika Ashlyn memukulinya di jalan.


Saat melihat cahaya emas dan cahaya biru berpendar di tubuh Annabel, Arabella merasa takjub, dia dan Annabel yang berasal dari kalangan manusia biasa tidak bisa menggunakan sihir dan saat melihat sihir, mereka akan selalu terpesona.


Setelah meletakkan sihir, Duke Damien berdiri dan berkata, "Ashlyn sudah mengatakan bahwa dia tidak menginginkan Putra Mahkota lagi, tapi suasana hatinya sangat buruk, biarkan dia memukulmu ...."


"Duke, bagaimana Anda bisa melakukan ini pada putri Anda sendiri?"


Ucapan Duke Damien terpotong oleh pintu yang tiba-tiba terbuka dan suara Putra Mahkota Hanz yang lantang memenuhi ruangan.


"Yang Mulia." Annabel segera berdiri dan Putra Mahkota Hanz segera mengampirinya, memeluknya dan dengan berani menatap Duke Damien.


"Annabel juga putri Anda, Duke. Anda tidak bisa melakukan ini padanya. Bagaimana bisa Anda membiarkannya dipukuli Ashlyn?"


Duke menatap tidak senang pada Putra Mahkota Hanz dan entah kenapa dia merasa senang bahwa pemuda arogan ini bukanlah calon untuk Ashlyn dan dia benar-benar bersyukur bahwa Ashlyn tidak menginginkannya lagi. Meskipun pemuda ini mendapat gelar Putra Mahkota dan calon Raja negeri ini, di mata Duke Damien Putra Mahkota Hanz bukanlah orang yang pantas untuk putrinya, Ashlyn.


"Kenapa kau terlihat begitu khawatir jika kau sendiri sudah memasang mantra pelindung pada Annabel." Duke Damien berkata dingin pada Putra Mahkota Hanz dan membuatnya tertegun.


Melihat pemuda itu hanya diam. "Aku sudah membuat keputusan dan orang luar sama sekali tidak memiliki hak untuk ikut campur." Duke Damien berkata dengan penuh tekanan, membuat Putra Mahkota hanya bisa menelan amarah, apa maksudnya dengan orang luar?


Duke kemudian menatap Annabel dan menghela napas. "Kau mengerti apa yang harus kau lakukan saat waktunya tiba Annabel."


Dengan lemah Annabel mengangguk. "Aku mengerti, Ayah."


Putra Mahkota Hanz akan menyuarakan keberatannya, tapi Annabel menggenggam tangannya dan menggelengkan kepalanya, mengungkapkan senyum lemah dan berkata pelan. "Aku akan baik-baik saja, Ayah sudah memasang pelindung lain untukku, aku tidak akan terluka."

__ADS_1


Mendengarnya, Putra Mahkota merasa lega dan senang, jadi Duke hanya ingin membohongi Ashlyn, ini benar-benar menarik dan bukan kah ini berarti bahwa Duke sebenarnya lebih menyukai Annabel ketimbang Ashlyn, Duke hanya ingin membohongi Ashlyn. Gadis jahat itu memang tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari siapapun.


__ADS_2