
"Dimana tempat yang menjual makanan enak, disini?" Ashlyn bertanya setelah beberapa saat berjalan dengan kesal dari toko kue ikan itu. "Ugh." Ashlyn mengerang dan menutupi mulutnya, seolah apa yang baru saja dia makan masih meninggalkan rasa yang membuatnya tidak nyaman. "Sialan, kue itu benar-benar bencana."
Melihat majikannya yang terlihat tidak nyaman, Carolin menjadi khawatir dan dengan hati-hati bertanya. "Apa Anda baik-baik saja, Lady Ashlyn?"
Ashlyn terdiam, sedikit berdecak dia kemudian mengulangi kata-katanya lagi. "Aku tanya, dimana tempat yang menjual makan enak di sini, apa kau tuli?"
Mendengar cara Ashlyn yang berbicara dengan tegas dan terkesan galak, Carolin menjadi takut sekaligus malu karena saat ini dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat.
Bagaimanapun juga, majikannya ini memang galak dan memiliki suara yang lantang saat berbicara.
"Aku tahu tempat yang enak, itu ada di belokan sebelah sana."
Ashlyn menaikkan alisnya saat mendengar suara yang akrab dan mau tidak mau bertanya. "Ashlan?"
Edmund yang sedari tadi sudah memperhatikan Ashlyn dari kejauhan akhirnya memutuskan untuk mendekatinya setelah dirinya menenangkan perasaannya sendiri.
Edmund menatap gadis yang seputih salju, begitu dingin, terlihat tidak berperasaan, dan warna merah yang menghiasi bibirnya membuat gadis itu seperti orang yang tidak takut pada apapun.
Edmund mengepal kedua tangannya dan mengembangkan senyum di wajahnya sebelum menjawab. "Ya, ini aku, Ashlan."
Mendengarnya, Ashlyn tertawa kering. "Ha! Jadi kau berani muncul setelah berhari-hari menghilang, aku pikir kau sudah mati. Jadi, apa semua uangmu sudah habis dan memutuskan untuk datang kembali padaku?"
Edmund ingin tertawa, gadis ini benar-benar memiliki mulut yang sangat tajam dan perkataannya selalu membuat orang yang mendengarkan ingin menjahitnya. Namun, karena gadis ini putri Duke, tidak ada yang berani melakukannya selain menyimpan kebencian mereka di dalam hati mereka sembari diam-diam mengutuknya.
"Ya, uangku sudah habis dan aku datang untuk mengambil dua permintaanku yang tersisa."
Ashlyn tersenyum sinis, "Kau benar-benar memiliki wajah untuk mengatakan hal itu? Tsk! Aku seharusnya membuat perjanjian tertulis untuk hal ini. Setelah berhari-hari menghilang tanpa kabar, berfoya-foya menghabiskan jumlah uang yang begitu banyak kau seharusnya sudah kehilangan kesempatan untuk bekerja padaku."
Edmund terkekeh, "Tapi tidak ada perjanjian tertulis di antara kita, aku masih bisa mengambil dua permintaanku kapanpun aku mau. Anda sudah menjanjikan hal itu, Lady Ashlyn."
Ashlyn menghela napas tidak senang dan memutar matanya. "Baiklah, tidak masalah. Lagipula mari kita lihat sampai kapan kau akan bertahan dengan latihanmu, jangan merangkak padaku jika kau menyesali permintaanmu untuk menjadi kesatria, mati dan hidupmu aku tidak peduli. Kau harus ingat itu."
Edmund tersenyum tipis, menatap gadis berambut abu keperakan ini dan berkata, "Aku tidak akan menyesali keputusanku, Lady Ashlyn."
"Bagus, aku suka orang yang optimis. Sekarang tunjukan dimana tempat yang kau bilang bagus itu."
"Silahkan ikuti aku."
Ashlyn seperti gadis kecil yang penurut, mengikuti Edmund tanpa penolakan. Namun, di jalan dia tidak bisa untuk tidak berkata, "Satu kantong koin emas dan batu permata itu bukan jumlah yang sedikit, bagaimana kau bisa menghabiskan itu dalam kurun waktu yang sangat singkat." Haaa, Ashlyn menghela napas, ternyata tidak hanya perempuan bahkan laki-laki juga sangat pintar menghabiskan uang.
Edmund tidak menanggapi ucapan Ashlyn dan hanya terus berjalan menuju tempat tujuannya, itu adalah toko sederhana yang menjual mie, sebelumnya Edmund sering pergi ke tempat ini bersama keluarganya setiap satu bulan sekali jika mereka memiliki uang lebih. Jika tidak, mereka akan baik-baik saja dengan beberapa potong roti dan mentega.
Saat Carolin melihat tempat seperti apa yang dimaksud, Carolin tidak bisa untuk tidak terkejut. Bagaimana orang ini dengan berani membawa majikannya untuk makan di toko kecil seperti ini. Apa dia sedang mencari masalah?
Namun, Carolin kembali dibuat terkejut saat melihat majikannya yang terbiasa makan makanan dengan kualitas terbaik ini ternyata tidak mengatakan apa-apa saat Edmund membantunya duduk di sebuah kursi tua yang berderit saat majikannya duduk. Tidak hanya itu, majikannya ternyata baik-baik saja dan tidak marah saat mulutnya yang terbiasa makan makanan mewah, memakan mie sederhana.
Ashlyn merasa sangat lapar dan Edmund tidak berbohong tentang tempat ini adalah tempat yang bagus.
Mm, Ashlyn merasa puas, ini lebih baik dari kue ikan yang baru saja dia makan dan bahkan lebih enak dari makanan yang biasanya dihidangkan di Mansion Daren Lynx.
Meskipun ini hanyalah mie, tapi orang yang membuatnya sangat pandai, Ashlyn bisa merasakan bahwa mie itu dibuat dengan sungguh-sungguh dan kuah kaldu yang kaya dengan bumbu rempah-rempah membuat tubuhnya hangat.
Namun, kenapa setelah Ashlyn selesai menghabiskan makanannya, Ashlyn justru merasa sakit kepala yang luar biasa dan mual hingga ingin muntah saat itu juga.
Ashlyn mencoba bertahan dan bersikap baik-baik saja.
__ADS_1
"Mari kembali ke Mansion sekarang." Ashlyn berkata begitu mereka membayar makanan mereka.
Carolin mengiyakan perintah majikannya dan bergegas keluar untuk memanggil kereta. Saat kereta itu sampai, Ashlyn benar-benar merasa buruk, dia berkeringat dan kepalanya semakin berdenyut kesakitan. Namun, dia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Ashlyn bangkit dari duduknya dengan bantuan Edmund dan berjalan keluar dari kedai.
"Bagaimana dengan makanannya, bukankah itu enak, Lady Ashlyn?"
Edmund bertanya dan Ashlyn hanya bergumam, "Mm." dia tidak tahan lagi, ini terlalu menyakitkan dan dia tahu kenapa dia bisa seperti ini, dia telah keracunan.
Sialan! Kenapa penyesalan harus datang terlambat dan kebenaran selalu diketahui saat itu telah terjadi.
Sialan!
Sialan!
SIAALAAAAN!
🔸🔸🔸
Ashlyn bermimpi saat tokoh antagonis utama ini masih kecil, dia sangat bahagia dengan kehidupannya sendiri yang tenang. Namun, tiba-tiba ayahnya membawa seorang wanita dan seorang anak perempuan yang usianya hanya selisih beberapa bulan darinya. Ayahnya bilang, wanita itu akan menjadi ibunya dan anak perempuan itu akan menjadi saudaranya.
Ayahnya bilang mereka akan menemaninya sejak saat itu. Namun, setelah mengatakan hal itu ayahnya pergi keluar dari pintu dan pintu itu tertutup sangat lama, dia menunggu tapi pintu itu tetap tertutup dan ayahnya tidak pernah kembali.
Ayahnya bilang mereka akan menemaninya. Namun, dia merasa dunianya direbut oleh mereka, apa yang menjadi miliknya mereka ambil, terkadang dengan baik-baik, jika dia tidak memberikannya, anak perempuan itu akan menangis dan mengadu pada ibunya. Dia merasa bersalah karena membuat anak itu menangis, tapi barang-barang itu adalah miliknya, jadi kenapa anak perempuan itu terus menginginkan dan mencoba mengambil apa yang menjadi miliknya?
Dia sama sekali tidak mengerti.
Saat dia menolak, wanita itu akan menatap tidak senang sambil memeluk anak perempuannya sementara dia hanya bisa menatap seorang diri tanpa siapapun yang bisa dipeluk dan dijadikan tempat untuk mengadu. Mereka mengambil semuanya dan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia membiarkan mereka mengambil apapun yang menjadi miliknya. Namun, sampai kapan itu harus terus terjadi?
Dia tidak memiliki siapapun untuk mengadu dan bergantung atau seseorang untuk mencari pertolongan. Satu-satunya yang dia miliki hanyalah dirinya sendiri, jadi dia mengadu pada dirinya sendiri, bergantung pada dirinya sendiri dan mencari pertolongan pada dirinya sendiri.
Dia hanya ingin melindungi diri sendiri yang tidak memiliki siapa-siapa yang mau melindungi dan membelanya. Namun, kenapa semua orang menatapnya penuh kebencian?
Terkadang dia bertanya-tanya, apa dia seharusnya terus mengalah seperti orang bodoh dan membiarkan mereka mengambil semua miliknya. Namun, apa itu adil baginya?
Bukankah jika dia melakukan hal itu, hanya akan ada dia satu-satunya yang akan menderita di dunia yang tidak adil ini?
Dunia ini begitu tidak adil padanya karena tidak ada satu orang pun yang bisa menjadi tempat untuknya bersandar dan mengadu, berkeluh kesah serta tidak ada satupun yang mau menolongnya.
Jadi kenapa saat dia menolong dirinya sendiri dan mempertahankan apa yang menjadi miliknya, orang-orang menganggapnya sebagai penjahat yang tidak berperasaan?
Kenapa?
Ashlyn membuka matanya dan menemukan dunianya yang gelap, bayangan mimpi itu kembali muncul bahkan jika dia sudah terbangun dan perlahan-lahan meremas selimutnya dengan erat-erat.
Berpikir betapa menderitanya tokoh antagonis ini.
Arabella sialan dan Annabel yang terkutuk, kenapa penulis mengirim dua malaikat yang sudah dibuang dari surga untuk membuat Ashlyn menderita. Dosa apa yang Ashlyn lakukan sehingga dia pantas menerima ini?
Penulis sialan!
Ashlyn mengutuk dan perlahan-lahan merasa sakit di kepalanya kembali muncul meskipun itu tidak separah sebelumnya, tapi tetap saja itu mengganggunya, dia mencoba memijat ruang di antara alisnya, tapi karena gerakan ini, Carolin menyadari bahwa majikannya sudah sadar.
"Lady Ashlyn." Carolin memanggil dengan khawatir. "Apa Anda baik-baik saja?"
Mendengar suara Carolin, Ashlyn hanya bisa tersenyum kecut sebelum tertawa hambar menertawakan tokoh antagonis yang menyedihkan ini.
__ADS_1
Ah, benar-benar tidak ada satupun di keluarga ini yang berada di sisinya. Semuanya membencinya dan semuanya ingin membunuhnya!
Bahkan jika dia sakit setelah diracuni, tidak ada satupun dari ayahnya atau Vincent yang menunggu dan merawatnya sebagai keluarganya.
Sebaliknya, hanya ada Carolin, Carolin yang merawatnya hanya karena dia dibayar!
Yang benar saja! Kenapa takdir ini harus begitu kejam!
"Dimana semua orang?" Ashlyn begitu kesal hingga dia akhirnya tidak bisa untuk tidak menanyakan ini.
Carolin begitu khawatir dengan kondisi majikannya dan dia tidak tahu kenapa majikannya ini justru bertanya dimana semua orang. Namun, dia masih menjawabnya.
"Semuanya sedang pergi ke halaman utama, Lady Ashlyn."
Ashlyn mengernyitkan dahi nya. "Untuk apa semua orang pergi ke halaman?"
Carolin tidak tahu apakah dia diizinkan untuk mengatakan hal ini atau tidak karena masalah ini terlalu ...
Ashlyn yang tidak sabar segera berkata dengan tegas. "Jawab aku, kenapa kau diam saja. Apa mereka sedang bermain bola atau bersenang-senag di sana saat aku sedang berbaring sakit di sini. Apa mereka begitu ingin melihatku mati?"
Carolin tertegun dengan ucapan majikannya, tapi kemudian dia segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Lady Ashlyn. Anda telah salah ..."
"Lalu untuk apa semua orang berkumpul di halaman?"
Carolin menelan ludahnya sebelum menjawab dengan hati-hati.
"Duke Damien menyuruh orang untuk membuat panggung dan menempatkan dua guillotine di atas panggung."
Guillotine? Alis Ashlyn berkerut.
"Guillotine? Apa itu? dan kenapa Duke membuat panggung di halaman utama, apa dia ingin mengadakan pesta musik untuk merayakan kematianku?"
Saat mendengarnya, Carolin nampak bingung. Majikannya yang begitu berwawasan luas, bagaimana dia bisa tidak tahu apa itu guillotine, alat untuk memisahkan kepala seseorang dari tubuh mereka.
Carolin juga tidak mengerti kenapa majikannya berpikir bahwa alasan Duke membuat panggung adalah untuk membuat pesta musik dan merayakan kematiannya. Apa yang sebenarnya majikannya pikirkan tentang Duke? Kenapa dia selalu berpikiran buruk tentang Duke? Padahal Duke ...
Carolin mencoba untuk tenang dan berkata dengan hati-hati, mencoba mengabaikan apa yang diucapkan oleh majikannya.
"Guillotine adalah alat untuk memenggal kepala seseorang, Lady Ashlyn dan alasan Duke membuat panggung adalah untuk membuat semua orang menyaksikan bagaimana penjual mie dan Ashlan akan dihukum mati hari ini karena telah mencoba meracuni, Lady Ashlyn."
"Apa?" Ashlyn begitu terkejut hingga dia memiringkan kepalanya dan bertanya dengan heran.
"Iya, Lady Ashlyn. Duke ingin semua orang melihat bahwa siapapun yang berani mencelakai Anda akan berakhir pada kematian. Tidak peduli itu warga biasa ataupun keturunan bangsawan hingga anggota kerajaan. Kepala mereka akan digantung di pintu gerbang agar semua orang bisa melihat apa yang akan terjadi jika mereka berani melukai Anda, Lady Ashlyn."
Ashlyn cukup terkejut dan merasa sedikit tertekan hingga dia memijat pelipisnya. Namun, setelah itu dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Jadi dia benar-benar berada di sisiku, tapi apa dia akan membuat Mansion ini menjadi rumah hantu!"
Ashlyn menghela napas. Orang ini benar-benar tidak berubah, dia sama-sama haus darah seperti di dalam cerita, dia akan membunuh semua orang untuk Ashlyn, tapi selalu ada pengecualian untuk Arabella dan Annabel.
Ashlyn meremas selimutnya erat-erat dan rahangnya mengeras membuat pembulu darah di dahinya menonjol, matanya yang buta seolah memancarkan kemarahan yang begitu besar.
Ayah sialan ini! Dia benar-benar ingin dimarahi!
__ADS_1
...GUILLOTINE....