
Mentari pagi bersinar cerah, burung-burung berkicauan di balik jendela dan Ashlyn yakin bahwa bunga-bunga di taman bermekaran sehingga dia bisa mencium wangi bunga dari kamarnya.
Ashlyn tidak bisa berhenti tersenyum, pasalnya dia mendengar bahwa toko kue ikan itu sudah dibuka untuk umum. Ashlyn tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi sepertinya itu tidak jauh dari kejadian waktu itu saat dia hampir kehilangan nyawanya.
Mungkin Duke Damien menyuruh Putra Mahkota untuk melepaskan toko itu dan membukanya kembali untuk umum, lagi pula apa Putra Mahkota gila, bagaimana dia bisa membeli seluruh toko hanya untuk seorang gadis, memangnya Annabel makan sebanyak apa hingga dia perlu membeli seluruh toko.
Tsk! dasar orang egois yang hanya memikirkan diri sendiri!
Namun, kali ini toko itu kembali dibuka untuk umum sehingga Ashlyn tidak sabar untuk pergi dan membelinya, dia ingin merasakannya meskipun beberapa hari yang lalu Annabel menawarinya, siapa yang sudi menerima pemberian dari gadis yang hanya akan memberi jika dia sudah berteriak dan membuat masalah lebih dulu, dan lagi ... apa maksud Annabel memberinya kue ikan di depan semua orang.
Gadis itu ingin mencari perhatian di depan semua orang! Ai, benar-benar ... Ashlyn tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dan siapa yang peduli, dia tidak peduli apa yang akan dilakukan Annabel untuk mendapatkan perhatian semua orang di tempat ini selama dia tidak mengganggunya. Lagi pula sekarang dia bisa membeli kue ikan itu sendiri.
Jadi, pagi-pagi sekali Ashlyn sudah meminta Carolin untuk mendandaninya dan membawakan tongkatnya. Mengenakan gaun berwarna putih gading bermotif bunga-bunga hydrangea berwarna biru dengan sulaman benang emas di sekitar lengan bajunya, Ashlyn siap untuk pergi.
"Jangan lupa keluarkan topi untuk dibawa."
Carolin merasa puas setelah mendandani majikannya, karena saat didandani majikannya sangat patuh dan tidak banyak mengeluh seolah majikannya sudah sepenuhnya mempercayainya. Namun, jika dipikirkan lagi, mungkin karena majikannya ini telah buta dan tidak lagi peduli pada penampilan.
Namun, majikannya ini ... Lady Ashlyn adalah gadis yang luar biasa cantik dan menawan, dan ini adalah putri Duke, mana berani Carolin mendandaninya dengan asal-asalan, tapi kenapa majikannya meminta topi, apa dia akan memakai topi saat sarapan?
"Apa kau sudah mengeluarkannya?" Ashlyn bertanya saat dia tidak mendengar gerakan apapun dari pihak lain.
Carolin terdiam sebelum bertanya, "Topi seperti apa yang Anda inginkan, Lady Ashlyn."
Ashlyn dengan ringan menjawab, "Floppy hat, dan usahakan kau mengambil warna yang sama dengan pakaian yang aku kenakan, jika aku mendengar rumor buruk tentang penampilanku aku akan menghukummu."
Carolin merasa bulu halusnya berdiri, dia salah! Dia telah salah besar!
Majikannya bukan tidak peduli pada penampilan, tapi dia masih sangat memedulikannya, sekarang Carolin menjadi takut dan bertanya apakah dia sudah cukup baik mendandani majikannya, bagaimana jika orang lain berkata buruk tentang penampilan majikannya?
Kepala dan tubuhnya akan terpisah! Dia akan mati di tangan majikannya yang jahat!
Di dalam, jiwa kecil Carolin menjerit ketakutan. Dia ingin menangis dan mengadu, Tuhan kenapa dia harus terlibat dan memiliki majikan sejahat dan sekejam Ashlyn.
Namun, apa boleh buat, semua sudah terjadi, katakanlah itu adalah nasibnya, yang bisa dia lakukan hanyalah berusaha untuk bersikap hati-hati dan tidak membuat kesalahan pada majikannya yang jahat ini.
Carolin segera membuka lemari dan mencari topi yang diinginkan majikannya. Beruntung dia bisa menemukan warna yang senada dengan baju yang dikenakan majikannya. Jika tidak, dia bahkan berpikir untuk meminta majikannya berganti pakaian, meskipun dengan seribu bayangan tentang majikannya yang marah dan memukulinya karena tidak terima saat disuruh berganti pakaian.
Ashlyn menerima topi itu dan mengenakannya di atas kepalanya, dia kemudian bertanya pada Carolin. "Bagaimana penampilanku?"
Carolin menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, majikannya, "Ada terlihat luar biasa, Lady Ashlyn." Karena majikannya memang terlihat luar biasa meski Carolin tidak mengerti kenapa majikannya ingin memakai topi saat sarapan, terlebih lagi itu adalah topi pantai yang lebar.
Bagaimana jika orang lain menghina penampilan majikannya. Carolin meringis dan menangis di dalam hati sambil menyentuh lehernya. Seolah dia bisa membayangkan dimana garis yang akan memisahkan kepala dengan tubuhnya.
Ashlyn tersenyum puas mendengar jawaban Carolin dan kembali bertanya seolah dia ingat sesuatu. "Warna apa yang kau gunakan di bibirku?"
__ADS_1
Carolin tertegun dari bayang ketakutannya dan dengan hati-hati menjawab. "I-itu merah muda, Lady Ashlyn."
Carolin berpikir warna merah muda seperti buah persik yang berkilauan selalu cocok dengan majikannya, itu membuatnya terlihat lebih kalem dan terlihat seperti malaikat baik hati yang akan membuat orang yang melihatnya sama sekali tidak menyangka bahwa orang ini, Lady Ashlyn adalah orang jahat.
Namun, kemudian Carolin mendengar majikannya berdecak.
"Tsk! Kenapa merah muda, hapus dan ganti dengan warna merah. Kau harus ingat Carolin, mulai saat ini kau hanya boleh memakaikan warna merah untukku, itu membuatku terlihat lebih berani dan tidak kenal takut." Ashlyn berkata, meskipun dia tidak tahu bagaimana penampilannya jika dia menggunakan warna merah di bibirnya, tapi dia selalu ingat ibunya pernah bilang bahwa dia menyukai warna merah karena itu melambangkan keberanian.
Di sini dia seorang diri, dianggap sebagai penjahat dan Ashlyn ingin menegaskan bahwa dia tidak takut, meskipun terkadang hati kecilnya ketakutan jika dia hampir kehilangan nyawanya. Namun, setidaknya dia lebih ingin orang lain melihatnya sebagai orang yang tidak kenal takut.
Seperti yang selalu ibunya katakan, buta bukan berarti lemah, jadilah berani, tunjukan pada mereka bahwa kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan selama kau mau dan berusaha.
Wajah Carolin menghitam, majikannya ingin warna merah, tapi dengan penampilannya yang seputih salju, warna merah di bibirnya akan membuat majikannya seperti makhluk yang haus darah!
Betapa menyeramkannya pikiran orang ini bahkan hingga soal penampilan. Majikannya ingin menakuti semua orang!
Namun, setelah Carolin mengganti warna bibir Ashlyn, Carolin tidak bisa untuk tidak terpesona. Majikannya benar, warna merah lebih cocok dengannya karena itu menunjukkan kepribadiannya sebagai Ashlyn yang jahat dan tidak kenal takut.
Tapi, tetap saja penampilan majikannya terlalu luar biasa bagi manusia biasa sepertinya. Penampilan majikannya begitu cantik dengan gaun putih gadingnya, rambutnya yang abu-abu keperakan, berkilau saat terkena sinar matahari, matanya yang abu-abu dan bibirnya yang merah merekah, Carolin seperti melihat makhluk penghisap darah yang keluar dari lukisan.
Ah, penampilan ini .... Carolin benar-benar terpesona, sayang sekali majikannya adalah orang jahat, ini membuat Carolin ingin menangis. Seandainya majikannya adalah orang baik, dengan penampilan memesona seperti itu, majikannya akan menjadi sempurna.
Selesai dengan urusan penampilan, Ashlyn membawa tongkanya berjalan keluar dari kamarnya diikuti Carolin.
"Siapkan kereta, ayo pergi ke pasar raya hari ini."
Majikannya bahkan tidak berhenti saat berjalan dan itu masih membuat Carolin tertegun.
"Cukup dengan sarapan bersama mereka, aku ingin pergi ke Pasar Raya maka aku akan pergi ke sana." Ashlyn dengan cepat memotong ucapan Carolin. "Siapkan kereta dan suruh beberapa kesatria untuk mengawal."
Ashlyn telah belajar, bahwa dia tidak bisa bersikap terlalu sombong. Bahkan saat itu para kesatria mengikutinya, tapi dia tetap mengalami hal buruk, dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi, dia harus berjaga-jaga meskipun para kesatria mungkin saja menyimpan dendam padanya, ada Duke di sisinya. Mereka seharusnya tidak berani macam-macam padanya, bukan.
Carolin terlihat bingung, "La-lady Ashlyn, Duke tidak akan menyukai hal ini jika Yang Mulia tahu tentang ini."
Ashlyn berhenti berjalan dan membalikkan badan, menghadap Carolin.
Carolin merasa majikannya tidak buta dan tengah menatapnya tajam saat ini hingga dia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Saat aku katakan aku ingin pergi, itu artinya aku akan pergi. Apa sangat sulit untuk melakukan perintahku? Katakan saja jika kau tidak mampu, aku bisa melakukannya sendiri."
Carolin tergagap dan dengan takut-takut berkata, "Ma-maafkan kesalahanku, Lady Ashlyn. Aku akan segera melakukan perintahmu."
Dengan itu, Carolin menyuruh satu pelayan untuk menyiapkan kereta dan menyuruh pelayan lain untuk melaporkan hal ini pada Duke Damien.
Ashlyn keluar menuju halaman utama Mansion Daren Lynx, kereta kuda sudah menunggunya bersama seorang kusir dan delapan kesatria berkuda di belakang kereta kudanya.
Carolin membantunya naik ke dalam kereta sementara Duke Damien menatap dari balik jendela dengan perasaan yang tidak jelas, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk membuat putrinya lebih dekat dengannya lagi seperti dulu.
"Ashlyn benar-benar tidak sopan, bagaimana dia bisa meninggalkan sarapan bersama keluarganya begitu saja, bahkan dia tidak meminta izinmu terlebih dulu. Bukankah Ashlyn sebenarnya sedang memandang rendah dirimu, sayang?" Arabella berkata saat Duke Damien kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Melihat wajah suaminya yang sedikit lesu, Arabella kemudian menambahkan. "Sayang, kau harus mendisiplinkan Ashlyn, atau dia akan ...."
"Memangnya apa kesalahan Ashlyn sehingga dia harus disiplinkan?" Duke bertanya dan menatap Arabella.
Arabella menatapnya dengan tidak percaya. "Sayang, bagaimana kau bisa bertanya padaku apa kesalahan yang perlu di-disiplinkan dari Ashlyn. Tentu saja perilakunya yang tidak sopan dan tidak menghormati kita para orang tua. Kau harus ...."
"Bukankah Ashlyn seperti ini karena dirimu tidak mendidik Ashlyn dengan benar?" Duke kembali memotong, terlihat ada ketidaksenangan di wajahnya.
Arabella tergagap. "Sa-sayang bagaimana kau bisa mengatakan hal itu? Aku sudah mengatakannya berkali-kali Ashlyn tidak menyukaiku, dia mengabaikanku dan dia ...."
"Kau tidak mencobanya Arabella, kau tidak mencoba untuk dekat dengan Ashlyn selama ini."
"Sayang!"
Duke Damien menghela napas dan menatap makanan di atas meja. "Benar, ini bukan salahmu, Arabella. Ini salahku yang meninggalkannya. Karena aku tidak pernah ada di sisinya."
Setelah mengatakan hal itu, Duke Damien bangkit dari duduknya tanpa menyentuh makanannya. "Nikmati makanannya, aku akan beristirahat."
Duke Damien pergi meninggalkan ibu dan dua anak di meja makan yang sunyi.
Arabella mencengkram sendok dan garpu di tangannya. "Kenapa ayah kalian selalu membela Ashlyn, aku bertanya-tanya apa yang dilakukan anak itu pada ayah kalian sehingga ayah kalian sangat membelanya?"
Vincent terdiam, dia juga tidak menyentuh makanannya sebelum berkata. "Ibu, aku juga tidak lapar, aku akan pergi berlatih."
Vincent kemudian beranjak dari tempat duduknya dan kembali menatap wajah ibunya yang kesal. "Dan ibu, berhentilah merendahkan kakak Ashlyn dan menyalahkan ayah. Ayah sedang berusaha memperbaiki keluarga kita, jadi Ibu sebaiknya tidak membuat semuanya menjadi buruk."
Setelah itu Vincent pergi meninggalkan Arabella dan Annabel di meja makan.
Arabella begitu marah dengan sikap suami dan anak laki-lakinya.
"Bagaimana mereka semua membela Ashlyn? Ashlyn pasti telah membutakan semua orang dengan sihirnya. Ya, dia pasti penyihir, bagaimana bisa Damien melupakan apa yang telah Ashlyn lakukan selama ini. Anak itu telah banyak melakukan kejahatan, bagaimana bisa Damien membiarkannya begitu saja. Ashlyn pantas dihukum. Ini benar-benar tidak adil!"
Annabel yang duduk di sebelah Arabella menggenggam tangan ibunya dan mencoba menenangkannya.
"Ibu, apa yang dikatakan Vincent adalah benar. Ayah sedang mencoba memperbaiki keluarga kita. Ibu seharusnya tidak menjelek-jelekkan Ashlyn di depan Ayah."
Arabella menatap putrinya dengan kesal. "Kau terlalu baik, putriku. Bagaimana bisa kau juga membela Ashlyn, orang yang telah bersikap tidak adil padamu. Ini tidak adil untukmu! Kau seharusnya marah dan mencari keadilan pada ayahmu."
Mendengarnya, Annabel hanya tersenyum lembut dan tidak mengatakan apa-apa. Lagi pula apa apa yang harus dia lakukan untuk mencari keadilan di rumah ini. Dia bukan siapa-siapa, jika dia datang pada Duke dan mencari keadilan padanya, Annabel bisa menjamin bahwa Duke hanya akan mengabaikannya. Karena dia bukanlah putrinya, sama halnya seperti saat itu, Duke bahkan akan membiarkannya dipukuli Ashlyn hanya untuk membuat Ashlyn bahagia.
Meskipun Duke memasang pelindung padanya dan Ashlyn ternyata tidak memukulinya. Namun, tetap saja hanya dengan kejadian itu, Annabel tahu bagaimana posisinya di Mansion ini. Duke sama sekali tidak menganggap dirinya sebagai putrinya. Duke hanya menyediakan tempat untuknya berteduh, tidak lebih.
Dan ini benar-benar membuatnya sedih. Andai, hanya seandainya saja jika dia benar-benar putri keluarga ini, itu pasti akan menjadi keluarga yang bahagia, ada seorang ayah, seorang ibu, dirinya dan seorang adik laki-laki.
Betapa indahnya itu jika bisa menjadi kenyataan.
🔸🔸🔸
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa ramaikan kolom komentar!
__ADS_1
♪☆\(^0^\) ♪(/^-^)/☆