I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 12


__ADS_3

Sesampainya disana, aku melihat sudah ada papa, abang dan adikku sudah menunggu. Lalu aku pun menghampiri mereka.


“Pagi semua” sapaku.


“Pagi” balas mereka serentak.


"Akhirnya Kalian datang juga. Aku sudah sangat merindukan abang dan adikku ini. Kalian lama sekali pulang dan meninggalkan aku sendiri disini" ucapku sambil berjalan menuju mereka dan memeluk mereka secara bergantian.


"Abang juga sudah merindukan adikku yang cantik ini. Maaf ya kami terlalu lama meninggalkanmu disini" balas bang Hendra. Aku pun menganggukkan kepala mengiyakan.


"Aku juga merindukanmu, kakakku tersayang" balas Renata.


“Kapan abang dan Rena sampai rumah..?” tanyaku.


“Tadi jam 5 pagi” jawab bang Hendra.


“Kakak, kenapa lama banget sih keluar dari kamar..? Udah laper tau..” omel Renata, adikku.


“Maaf, maaf ya jadi buat menunggu. Tadi aku lagi sms-an sama Daffa. Biasalah Daffa kan gak pernah absen untuk menyapaku tiap pagi” jelasku.


“Cie…makin hari makin dekat dan lengket ya? Udah kayak pasangan suami istri aja nih” goda bang Hendra.


“Iihh..apaan sih bang. Gak usah ngaco deh bang” ucapku sambil memanyunkan bibirku kesal.


“Sudah-sudah. Lebih baik kita segera sarapan. Nanti kalian pada terlambat pergi ke sekolah” lerai papa.


Lalu aku pun membuat sarapan untuk papa. Sedangkan bang Hendra dan Renata membuat sendiri. Setelah membuat untuk papa, aku membuat untukku sendiri.


“Kalau papa lihat, akhir-akhir ini Daffa semakin hari semakin protektif ya sama kamu, Diana..?” tanya papa.


“Kan itu juga yang Diana katakan sama papa. Daffa itu semakin protektif sama Diana” jawabku.


“Iya benar tuh. Bang Daffa agak lebih protektif akhir-akhir ini sama kak Diana” timpal Renata.

__ADS_1


“Takut diambil orang kali si Diananya, pa…Makanya Daffa akhir-akhir ini menjadi lebih protektif. Biar Diananya gak pergi kemana-mana” celetuk bang Hendra.


“Takut? Takut gimana maksud abang..?” tanyaku bingung dengan ucapan bang Hendra.


“Ya abang sih gak tau pasti ya soal itu. Tapi kalau menurut abang sih Daffa jatuh cinta sama kamu. Coba kamu pastikan sendiri sama Daffa” jawab bang Hendra.


“Jatuh cinta..? Ah ngaco nih abang. Mana mungkinlah Daffa jatuh cinta sama Diana. Itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi bang” ucapku kaget karena perkataan bang Hendra.


“Kenapa gak mungkin sih dek? Apa sih yang gak mungkin di dunia ini. Semuanya itu mungkin-mungkin aja kali akan terjadi. Kita kan tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada masa depan ” balas bang Hendra.


“Bener tuh kak yang dibilang sama abang. Bang Daffa sudah jatuh cinta sama kakak. Dari tatapan matanya sudah menjelaskan perasaan bang Daffa pada kakak. Kalau gak jatuh cinta, jadi apaan dong maksud dari semua sikap bang Daffa akhir-akhir ini..?” timpal Renata. Saat mendengar ucapan Renata, aku pun terdiam sejenak memikirkannya.


“Benar juga sih yang dibilang sama papa, abang dan Renata. Akhir-akhir ini sikap Daffa itu agak aneh. Aku pikir hanya aku yang merasakannya, tetapi mereka juga. Tapi apa iya Daffa cinta sama aku..? Ah tidak mungkin. Tapi smsnya tadi pagi yang mengklaim bahwa aku adalah miliknya, seperti menunjukkan kalau aku tidak boleh dimiliki oleh siapapun selain dia. Jadi benarkah Daffa jatuh cinta sama aku..? Gak! Gak mungkin..Daffa gak mungkin cinta sama aku. Kan dia hanya mencintai Jelita. Ya, jadi gak mungkin dia cinta sama aku” batinku.


“Duarr..” Renata mengejutkanku dan menyadarkan dari lamunan.


“Apaan sih Rena…” sungutku kesal karena sikap Renata yang mengejutkanku tiba-tiba.


“Lagian kakak sih dari tadi melamun terus. Melamuni apa sih sih kak..” tanya Renata.


“Jangan bohong deh dek. Abang tau pasti kamu lagi mikirin benar gak Daffa jatuh cinta sama kamu, ya kan..?” ucap bang Hendra yang membuatku sedikit kaget karena tahu apa yang sedang aku pikirkan.


“Udah deh bang, jangan sok tahu..” elakku.


“Diana..Diana..Kamu itu adikku. Jadi jangan mengelak deh. Abang tahu apa yang kamu pikirkan” jelas bang Hendra lalu aku pun terdiam.


“Tapi kalaupun seandainya memang benar Daffa jatuh cinta sama kamu, itu malah bagus. Malah papa berharap itu benar-benar terjadi” ucap papa yang membuat aku kaget dan langsung melihat ke arah papa.


“Maksud papa apa sih..?” tanyaku penasaran.


“Ya maksudnya adalah papa berharap kamu dan Daffa benaran jadian” jawab papa.


“Ah papa ngaco nih” balasku yang tidak percaya kalau papa menginginkan aku dan Daffa jadian.

__ADS_1


“Papa serius dengan keinginan papa. Karena menurut papa, kalian berdua itu cocok. Udah gitu Daffa adalah orang yang sangat bertanggung jawab” ucap papa yang membuatku semakin tidak percaya.


“Hendra juga setuju sama papa” timpal bang Hendra. Aku pun beralih ke bang Hendra dan menatapnya tajam.


“Kamu kenapa menatap abang seperti itu..?” tanya bang Hendra sambil terkekeh melihat ekspresiku yang kesal.


“Iiihh..apaan sih bang” ucapku kesal.


“Papa lagi, bicaranya ngaco. Mana mungkin Daffa cinta sama Diana. Ya kalaupun seandainya itu benar, Diana gak mungkin suka sama Daffa” jelasku.


“Kenapa tidak mungkin..?” tanya papa sambil menyerhitkan dahi bingung.


“Ya karena Daffa itu kan sahabat Diana dari kecil. Diana memang sayang sama Daffa, tapi itu hanya sebatas seorang sahabat” jawabku.


“Lalu gimana misalnya Daffa menyatakan perasaannya ke kamu..?” tanya bang Hendra yang membuatku terdiam sejenak.


“Benar juga sih..Gimana kalau Daffa benaran jatuh cinta sama aku dan menyatakan perasaannya. Apa yang akan aku lakukan..?” batinku bertanya.


“Iya gimana tuh kak..?” tanya Renata.


“Ya, aku akan bilang kalau aku butuh waktu. Terus kalau Daffa benar-benar mencintaiku, dia harus bisa membuktikan padaku. Kemudian membuat aku mencintainya” jawabku.


“Lantas, perasaanmu sendiri ke Daffa seperti apa..?” tanya bang Hendra yang membuat aku kaget.


Karena aku sendiri pun masih bingung gimana perasaanku ke Daffa. Dulu memang hanya sebatas sahabat. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini ada yang berbeda. Itu membuatku semakin bingung.


“Emm..anu..aku..ya cuma sebatas sahabat aja” ucapku bimbang.


“Yakin cuma sahabatan..?” tanya bang Hendra sambil menatapku intens.


“I-iyalah bang..” jawabku gugup.


“Terus kenapa gugup seperti itu..?” tanya bang Hendra sambil memicingkan mata curiga.

__ADS_1


“Udah ah..Diana berangkat dulu takut telat nih. Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu ya..” ucapku mengalihkan perhatian kemudian segera berangkat ke sekolah untuk menutupi kegugupanku. Lalu aku pamit sama papa, abang dan Renata. Setelah itu, aku masuk ke dalam mobil yang diantar oleh pak Rudi menuju ke sekolah.


__ADS_2