I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 21


__ADS_3

Kemudian aku menyenderkan kepala pada bahu Daffa sambil menatap langit malam. Daffa pun memelukku dari samping dan ikut bersama menatap indahnya langit malam yang berhiaskan bintang-bintang dan sinar rembulan.


“Langit malam ini sangat indah ya Daffa” ucapku sambil menunjuk ke langit.


“Iya sayang. Tapi kamu tahu, ada yang lebih indah dari itu?” balas Daffa yang membuatku menyerhitkan dahi bingung.


“Oh ya..Emangnya apa yang lebih indah dari itu Daffa?” tanyaku penasaran.


“Kamu mau tahu sayang..?” balas Daffa yang ku balas dengan anggukkan kepala. Lalu aku duduk menghadap Daffa sambil menunggu jawabannya. Kemudian dia pun tersenyum.


“Yang lebih indah dari langit malam ini adalah kamu” jawab Daffa. Aku kaget mendengar ucapannya.


“Aku..?” tanyaku.


.


“Iya sayang” jawab Daffa sambil tersenyum.


“Kok bisa..?” tanyaku bingung.


“Kamu mau tahu kenapa..?” tanya Daffa. Aku pun mengangguk.


“Karena kamu adalah gadis yang paling cantik yang memiliki mata yang indah..” ucap Daffa sambil menyentuh mataku dan membuatnya terpejam.


“Hidung yang indah..” kini Daffa beralih ke hidungku.


“Wajah yang begitu cantik dan menawan” kemudian Daffa beralih ke wajahku.


“Dan bibir yang indah..” ucap Daffa yang beralih ke bibirku. Lalu aku pun membuka kedua mata dan melihat Daffa yang menatapku lembut. Pipiku mulai merona.


“Daffa..” panggilku.


“Ya sayang” balas Daffa.


“Apakah aku benar-benar lebih indah dari langit malam ini?” tanyaku malu-malu.


“Iya sayang. Kamu lebih indah dari langit malam indah. Bahkan kamu lebih indah dari apapun sayang” jawab Daffa.


“Aaaa…Daffa, kamu benar-benar membuatku sangat bahagia hari ini” batinku senang.


“Gombal” ucapku.


“Aku gak gombal sayang. Aku ngomong apa adanya” balas Daffa. Pipiku kembalu merah merona dan aku pun menunduk malu. Lalu Daffa mengangkat daguku dan menatapnya.


“Udah gak usah malu begitu sayang” ucap Daffa sambil tersenyum manis.


“Kamu makin cantik kalau lagi merah merona” goda Daffa.


“Daffa, jangan menggodaku lagi. Aku malu tahu..” balasku malu-malu dan kembali menundukkan kepala. Lalu Daffa membawaku ke dalam pelukannya.


“Iya, iya sayangku..” ucap Daffa.


Lalu aku pun membalas pelukan Daffa. Aku merasa sangat bahagia dan nyaman berada dipelukannya. Daffa pun mengubah posisinya dan memelukku dari samping. Aku menyenderkan kepala di dada miliknya sambil memejamkan mata menikmati kenyamanan ini. Tak lama kemudian, mataku pun mulai berat dan mengantuk. Daffa pun menolehkan wajahnya padaku.


“Kamu mengantuk sayang..?” tanyanya sambil mengelus lembut rambutku.


“Iya Daffa” balasku.


“Ya udah mending sekarang kita masuk supaya kamu bisa beristirahat di kamar” ucap Daffa.


Lalu aku pun mengangguk. Kemudian kami pun bangkit dari kursi taman dan berjalan ke dalam rumah. Daffa pun memeluk erat pinggangku, sedangkan aku menyenderkan kepala ke dadanya dengan mata yang terpejam. Saat kami masuk ke dalam rumah, aku mendengar papa, mama Cecilia, papa Andre, bang Hendra dan Renata sedang asyik mengobrol.


“Ma, duo papa, bang dan Ren, aku mengantar Diana ke kamar dulu ya. Dia udah mengantuk banget” pamit Daffa.


“Ya udah sana antarkan Diana ke kamarnya” balas papa Andre.


“Ya udah kalau begitu Daffa nganterin Diana dulu ya..” pamit Daffa lagi. Kami pun berjalan menuju kamarku. Sesampainya di kamar, Daffa membaringkan aku di ranjang sembari membuka sepatuku. Lalu dia menyelimutiku.


Cup...


Daffa mengecup kening dan membelai lembut rambutku.


“Selamat malam sayang..” ucap Daffa dan mulai beranjak untuk keluar kamar. Namun saat dia hendak pergi, aku menahan lengannya.


“Ada apa sayang..?” tanya Daffa.


“Kamu disini aja ya Daffa. Tidurlah disini” jawabku sambil menepuk sisi yang kosong disebelahku.


“Ayolah Daffa” bujukku saat Daffa hanya diam. Lalu dia pun mengangguk.


“Iya sayang..” balas Daffa. Lalu dia pun tidur disebelahku. Daffa pun membawaku dalam pelukannya. Tak lama kemudian, aku pun terlelap dalam mimpi.

__ADS_1


Daffa Merlin Putra POV (ON)


Hari ini aku senang sekali bisa bersama Diana, gadis yang ku cintai dan sayangi. Lihatlah sekarang dia sudah terlelap tidur dalam pelukanku. Aku jadi teringat saat sampai kesini tadi.


 


Flashback On*


Aku turun dari mobil bersama mama dan papa. Lalu aku mengetuk pintu rumah Dianaku.


Tok..tok..tok..


Lalu pintu pun terbuka dan muncul seorang pria paruh baya yang sudah sangat aku rindukan yaitu papa Julius.


“Papa..” ucapku bahagia dan langsung memeluk beliau.


“Hei jagoan papa..Apa kabarmu nak..?” balas papa Julius.


“Baik pa. Papa sendiri gimana kabarnya..?” tanyaku balik.


“Seperti yang kamu lihat sendiri, papa juga baik-baik saja” jawab papa Julius. Lalu beliau menoleh ke arah kedua orangtuaku.


“Andre..Cecilia..” ucap papa Julius sambil tersenyum dan memeluk kedua orangtuaku.


“Julius..” balas papa.


“Bagaimana kabarmu, Julius..?” tanya papa.


“Kabarku baik Andre. Dan bagimana kabar kalian..?” balas papa Julius.


“Kamu juga baik Julius” ucap mama.


“Ya udah, mari kita masuk..” ajak papa Julius. Lalu kami pun masuk dan menuju meja makan. Sesampainya di meja makan, ternyata disana udah ada bang Hendra dan adikku, Renata. Namun aku belum melihat gadisku. Mungkin dia masih dikamarnya.


Lalu bang Hendra dan Renata bangkit dan menghampiri kami. Kemudian bang Hendra dan Renata memeluk mama.


“Mama..” panggil Renata dan memeluk mama.


“Hai anak mama yang cantik..” balas mama tersenyum. Lalu mama beralih ke bang Hendra.


“Hendra, anak mama yang ganteng..” ucap mama, sambil mengulurkan tangan pada bang Hendra. Lalu bang Hendra menghambur ke pelukan mama.


“Mama..” balas bang Hendra. Lalu bang Hendra dan Renata beralih ke papa.


“Renata, putri papa yang cantik sudah besar sekarang ya..” balas papa sambil mengelus lembut rambut Renata.


“Iya dong pa..” balas Renata sambil tersenyum.


“Hai pa..” sapa bang Hendra sambil melakukan hal yang sama dengan Renata.


“Hai anak papa..” balas papa.


“Mana Diana..?” tanya mama.


“Kak Diana masih dikamarnya ma. Sebentar lagi kakak bakal turun kok” jawab Renata. Mama pun mengangguk.


“Ayo silahkan duduk” ucap papa Julius. Kami semua pun duduk.


“Oh iya Julius, ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu..” ucap papa. Aku pun hanya tersenyum mendengarnya. Karena aku tahu apa yang akan dibicarakan.


“Hal penting apa itu Andre..?” tanya papa Julius.


“Soal perjodohan anak-anak kita, Daffa dan Diana” jawab papa.


“Andre, kamu..” ucap papa Julius yang terkejut karena papa membicaran soal perjodohan aku dan Diana. Aku tahu papa Julius belum tahu kalau aku sudah mengetahui soal perjodohan itu.


“Papa, aku sudah tahu kok” ucapku.


“Begini Julius, ada hal yang harus kamu tahu” ucap papa.


“Apa itu..?” tanya papa Julius penasaran.


“Aku tahu, aku tahu..” sahut Renata. Lalu kami semua pun menoleh ke arahnya.


“Kamu tahu apa adik cantik?” tanyaku.


“Aku tahu kalau bang Daffa mencintai kak Diana kan..” jawab Renata. Lalu aku pun tersenyum dan mengangguk setuju.


“Benarkah itu nak..?” tanya papa Julius yang masih terkejut kalau ternyata aku mencintai Diana.


“Iya pa. Dan perlu papa tahu kalau Diana pun mencintai Daffa” jawabku tersenyum.

__ADS_1


“Hmm, kalau soal itu papa udah tau kok” balas papa Julius.


“Daffa ingin menikah dengan Diana, pa setelah lulus SMA nanti”ucapku yang lagi-lagi membuat beliau terkejut. Bukan hanya papa Julius saja yang terkejut, bang Hendra dan Renata pun terkejut.


“Kamu serius dengan ucapanmu, Daffa..” tanya bang Hendra.


“Iya bang, Daffa serius..” jawabku mantap.


“Kamu gak bercanda kan nak..?” tanya papa Julius.


“Enggak pa, Daffa gak bercanda” jawabku.


“Baiklah kalau begitu, kalian akan menikah setelah lulus SMA nanti” ucap papa Julius.


“Benar pa?” tanyaku.


“Iya nak” jawab papa Julius.


Tiba-tiba aku teringat lagi soal kejadian kemarin dimana Diana yang masih salah paham soal Jelita.


“Ada apa nak.. Kenapa wajahmu tiba-tiba menjadi sedih begitu?” tanya papa Julius saat melihatku sedih.


“Begini pa, Diana masih salah paham sama Daffa” jawabku sedih.


“Salah paham gimana?” tanya papa Julius penasaran.


“Dulu Daffa pernah suka sama seorang cewek, namanya Jelita. Diana pun tahu tentang hal ini. Tapi Diana tidak tahu kalau Daffa gak ada perasaan apa-apa lagi sama cewek itu setelah dia menyakiti Daffa” jelasku.


“Lalu apa yang kamu lakukan nak..?” tanya papa Julius.


“Daffa akan melamar Diana sekaligus menjelaskan semuanya” jawabku.


“Itu bagus nak. Papa setuju denganmu” ucap papa Julius.


“Tapi Daffa mau minta bantuan kalian semua. Daffa gak bisa melakukannya sendiri” balasku.


“Papa akan bantú kamu” ucap papa Julius.


“Aku juga bakal bantú kamu, calon adik ipar” timpal bang Hendra.


“Renata juga” ucap Renata.


“Papa dan mama juga” timpal orangtuaku serentak.


“Baik karena semua udah setuju, Daffa mau kalian membantu Daffa menyiapkan suprise dan lamaran untuk Diana. Rencananya Daffa bakal liburan sama teman-teman di villanya Keisha yang ada di Bandung. Daffa juga akan kasih tahu teman-teman yang lain” jelasku.


“Baiklah kalau begitu nak, kami siap membantu” ucap papa Julius.


“Terima kasih ya semua..” ucapku tulus. Mereka semua pun mengangguk.


“Renata, kakakmu kenapa lama sekali?” tanya papa Julius.


“Gak tahu pa. Ya udah kalau begitu, Renata panggil kak Diana dulu ya..” jawab Renata. Kami semua pun mengangguk. Renata pun pergi memanggil Diana. Tak lama kemudian, gadisku dan Renata menghampiri kami.


“Selamat malam semuanya..”sapa Dianaku. Lalu kami semua pun menoleh dan menatapnya.


“Loh kok pada diam sih? Kenapa? Penampilanku aneh ya?” tanyanya.


“Oh tidak sayang, kamu sangat cantik malam ini. Tapi entah kenapa lidahku menjadi kelu untuk menjawab pertanyaanmu” ucap batinku sambil memandangi Diana.


“Ah gak kok. Kami semua hanya terpesona melihatmu malam ini sayang. Kamu begitu cantik malam ini” puji mama.


“Iya putri papa ini cantik sekali” timpal papa.


“Benar yang dibilang sama mama Cecilia dan papa Andre, Putri papa ini sangat cantik” ucap papa Julius.


“Kan apa aku bilang, kakak sangat cantik malam ini” celetuk Renata.


“Iya dong ma, duo papa, adikku ini memang cantik. Lihat saja si Daffa sangat terpesona denganmu” timpal bang Hendra sambil melirik ke arahku yang daritadi asyik memandanginya.  Aku pun tersenyum, ternyata dia sedang menatapku kagum. Ku akui diriku ini memang tampan, keren dan sangat mempesona. Lalu aku bangkit dan menghampirinya.


“Kamu cantik banget malam ini sayang” pujiku yang membuat pipinya mulai merah merona.


.


“Ya ampun sayang, kamu makin cantik kalau sedang merah merona seperti itu” batinku senang.


“Terima kasih Daffa, kamu juga tampan malam ini” balasnya memuji penampilanku. Lalu aku pun tersenyum.


“Silahkan duduk sayang..” ucapku sambil menarik kursi dan mempersilahkan Dianaku untuk duduk.


“Terima kasih Daffa” balas Dianaku sambil tersenyum.

__ADS_1


* Flashback Off*


__ADS_2