
Sesampainya di kamar, aku pun langsung masuk dan memulai ritual mandiku. Tak lama kemudian, aku pun selesai mandi dan berpakaian. Aku mengenakan sebuah dress berwarna krem yang dihiasi oleh pita di bagian pinggangnya. Setelah selesai berpakaian, aku pun duduk di meja riasku. Aku pun mulai memoleskan tipis bedak ke wajahku. Lalu aku memoleskan glip gloss ke bibirku. Lalu aku merapikan rambutku dan tak lupa menyematkan sebuah pita kecil ke rambutku. Kemudian aku mendengar pintu kamarku diketuk.
Tok…tok…tok…
“Siapa..?” teriakku.
“Ini Rena kak” balas seseorang dari luar yang ternyata adalah Renata.
“Iya kenapa Ren?” tanyaku.
“Ayo keluar kak. Bang Daffa, mama dan papa sudah datang” jawab Renata. Lalu aku membuka pintu kamar dan melihat Renata yang telah siap.
“Wah kakak cantik sekali” puji Renata.
“Ah masa sih..” ucapku.
“Iyaloh kakakku sayang..Pasti bang Daffa bakal terpesona sama kakak” balas Renata.
“Iya, iya terserah kamu deh. Ya udah yuk, kita temui mereka” ajakku dan Rena pun mengangguk. Lalu aku pun menutup pintu kamar dan segera menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, aku melihat yang lain sudah di meja makan. Kami pun menghampiri mereka.
“Selamat malam semuanya..”sapaku. Lalu mereka semua pun menoleh dan menatapku.
“Loh kok pada diam sih? Kenapa? Penampilanku aneh ya?” tanyaku saat melihat mereka hanya diam.
“Ah gak kok. Kami semua hanya terpesona melihatmu mala mini sayang. Kamu begitu cantik malam ini” puji mama Cecilia.
“Iya putri papa ini cantik sekali” timpal papa Andre.
“Benar yang dibilang sama mama Cecilia dan papa Andre, Putri papa ini sangat cantik” ucap papa Julius.
“Kan apa aku bilang, kakak sangat cantik malam ini” celetuk Renata.
“Iya dong ma, duo papa, adikku ini memang cantik. Lihat saja si Daffa sangat terpesona denganmu” timpal bang Hendra. Aku pun beralih ke Daffa, ternyata dia sedang menatapku kagum. Aku pun melihat penampilan Daffa yang malam ini terlihat semakin tampan. Lalu aku melihat Daffa bangkit dan menghampiriku.
“Kamu cantik banget malam ini sayang” puji Daffa yang membuat pipiku mulai merah merona.
“Terima kasih Daffa, kamu juga tampan malam ini” balasku dan memuji penamapilan Daffa. Lalu Daffa pun tersenyum.
“Silahkan duduk sayang..” ucap Daffa sambil menarik kursi dan mempersilahkan untuk duduk.
“Terima kasih Daffa” balasku tersenyum.
“Ya ampun, sumpah demi apa? Kenapa Daffa jadi sangat romantis begini? Aah Daffa, aku makin cinta deh” batinku senang.
“Ya ampun bang Daffa romantis banget sih sama istrinya. Aku jadi iri deh” goda Renata. Aku pun melotot dan menatap tajam Renata.
“Ishk kakak.., kok melihat aku seperti itu banget sih..? Jangan melihat aku seperti itu. Entar kakak naksir loh. Eh, jangan deh, nanti bang Daffa, suami kakak cemburu deh” ucap Renata sambil tersenyum jahil.
“Kamu tuh ya kalau ngomong dijaga ya. Enak aja ngomong kayak gitu. Emang kakakmu ini lesbian apa…” ucapku kesal sambil mengerucutkan bibirku.
“Hehehe, maaf kak” cengir Renata.
“Kamu tuh jangan godain kakakmu ini, adikku yang cantik” lerai Daffa.
“Hehehe, maaf bang. Pasti kak Diana merasa menang nih karena dibelain sama suaminya” sindir adikku.
“Biarin wlee..” balasku sambil menjulurkan lidahku mengejek Renata.
“Iya, iya deh. Senang banget sih. Mentang-mentang di belain sama suaminya, seenaknya mengejek aku” ucap Renata kesal. Melihat Renata kesal membuat aku tertawa. Sedangkan yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat pertengkaran kami.
“Tapi ngomong-ngomong si Diana kok gak mengelak ya disebut sebagai istri Daffa? Atau jangan-jangan, kamu senang ya disebut sebagai istri Daffa” goda bang Hendra yang membuat pipiku menjadi merah merona.
“Kode keras tuh Daffa. Jangan lama-lama, Diana udah gak sabar tuh buat jadi istrimu” bang Hendra semakin gencar menggodaku. Hingga membuat aku menjadi menundukkan kepala karena malu.
__ADS_1
“Iya bang tenang aja” sahut Daffa.
“Gak lama lagi, aku bakal jadiin Diana istriku” tambah Daffa.
Aku pun terkejut mendengar ucapan Daffa. Lalu mendongakkan wajahku dan melihat ke arahnya. Daffa pun melihat ke arahku sambil tersenyum misterius. Aku pun menyerhitkan dahi bingung dan mentapnya dalam seolah-olah berkata “Apa maksud semua ini Daffa?”. Namun Daffa hanya tersenyum padaku.
“Ehem..ehem..” Lalu aku dan Daffa menoleh ke arah papa.
“Kalian gak ingat apa, kalau disini masih ada orang” sindir papa.
“Iya benar Julius, mereka ini malah asyik berdua tanpa memperhatikan kita yang disini. Dan lupa kalau disini bukan hanya mereka berdua” timpal papa Andre.
“Gak apa-apa dong. Namanya juga anak muda. Kalau udah berdua, ya merasa dunia hanya milik berdua dan yang lain mah cuma menumpang” goda mama Cecilia. Lagi-lagi aku pun malu dan pipiku kembali merah merona. Ternyata Daffa juga menundukkan kepalanya malu.
“Udah dong ma, duo papa..Lihat itu, Diana dan Daffa kan jadi malu” goda bang Hendra.
“Ishk abang, bukan membela tapi malah ikut-ikutan” ucapku kesal. Bang Hendra pun hanya terkekeh.
“Maaf adikku” balas bang Hendra.
“Sudah, sudah..Mending sekarang kita mulai makan” lerai mama Cecilia. Lalu kami pun mulai makan malam. Tak lama kemudian, kami semua selesai makan. Selesai makan, Daffa mengajakku ke taman belakang rumah.
“Ma, pa, papa Julius” panggil Daffa. Lalu mama dan kedua papaku pun menoleh.
“Iya, kenapa nak?” tanya mama Cecilia.
“Daffa mau ke taman belakang sama Diana, bolehkan?” ucap Daffa.
“Mau ngapain nak?” tanya mama Cecilia.
“Ya elah ma, masa sih gak tau. Mereka itu mau berduaan ditaman” sahut bang Hendra. Lalu aku pun melotot sambil menatap tajam bang Hendra tetapi abangku itu hanya terkekeh.
“Ya udah sana, tapi ingat jangan berbuat yang macam-macam loh” goda papa Andre.
“Tenang aja ma dan duo papa, Daffa gak bakal macam-macam kok. Cukup satu macam aja. Iya kan sayang..” goda Daffa sambil mengerlingkan matanya. Aku yang kesal dengan sikap Daffa pun langsung menjitak kepalanya.
“Pletakk”
“Kok aku dijitak sih sayang..?” rengek Daffa.
“Biarin. Lagian siapa suruh kamu jadi genit kayak gitu” ucapku kesal.
“Gak apa-apa dong sayang. Aku kan genitnya Cuma sama kamu doang” balas Daffa sambil mengerlingkan matanya lagi.
“Tau ah..” ucapku semakin kesal.
“Sayang..” panggil Daffa dengan manja.
“Hmmm” balasku.
“Sayang..” panggil Daffa lagi.
“Iya, kenapa Daffa..?” balasku jutek.
“Kepalaku sakit sayang karena kamu jitak” rengek Daffa. Melihat hal itu membuat aku semakin menjadi kesal. Ya ampun..sejak kapan Daffa jadi semanja ini? Sedangkan papa, mama Cecilia dan papa Andre, bang Hendra dan Renata hanya tersenyum melihat kami.
“Terus kenapa?” tanyaku jutek.
“Dielus-elusin dong, biar gak sakit lagi” jawab Daffa memohon.
“What? Si Daffa apa-apaan sih. Nih anak kesambet seta napa sih? Kok jadi gini?” batinku kesal.
“Ayo dong sayang..” rengek Daffa manja.
__ADS_1
“Gak. Aku gak mau” balasku kesal.
“Sayang..” panggil Daffa lagi.
“Gak Daffa. Aku gak mau” balasku dengan tegas.
“Sudahlah Din, lakukan aja apa yang dikatakan sama Daffa. Apa kamu gak kasihan apa sama suami kamu ini..” goda bang Hendra.
“Iya kak, kasihan bang Daffa” timpal Renata. Aku pun melihat ke arah papa, mama Cecilia dan papa Andre menatapku dengan tatapan memohon.
“Ishk, kok jadi pada belain Daffa sih” batinku kesal.
“Ayolah sayang..” rengek Daffa. Lalu aku pun menghela napas pelan.
“Iya, iya..” balasku.
“Ya udah sini” ucapku. Lalu Daffa mendekatkan kepalanya. Lalu aku mengelus dengan lembut kepalanya yang aku jitak tadi.
“Terima kasih sayang” ucap Daffa sambil tersenyum lebar.
“Aduh, romantis banget sih” ucap Renata.
“Iya, udah kayak pasangan suami istri benaran” timpal bang Hendra.
“Ah mama jadi iri deh” ucap mama Cecilia. Aku pun menjadi malu dan pipiku menjadi merah merona.
“Udah dong. Kasihan nih sayangnya aku. Pipinya jadi merah merona begitu” balas Daffa.
“Ya udah kalau gitu, Daffa sama Diana ke taman dulu ya..” ucap Daffa menggandeng tanganku dan membawa ke taman belakang. Sesampainya ditaman, aku dan Daffa pun duduk di kursi taman. Aku yang masih malu, tetap menundukkan kepala.
“Sayang..” panggil Daffa.
“Udah dong merah meronanya” ucap Daffa membuat aku mendongakkan wajah dan mengerutkan dahi bingung. Daffa yang seakan mengerti dengan kebingunganku pun membalas.
“Soalnya kalau kamu merah merona membuat kamu semakin cantik” puji Daffa. Lagi-lagi pipiku semakin merah merona.
“Kamu tahu, kalau kamu semakin cantik kalau lagi seperti ini. Pesona dan kecantikanmu sangat luar biasa” tambah Daffa.
“Oh my God. Sumpah demi apa, Daffa kenapa jadi romantis begini sih?” batinku senang.
“Tuh kan merah merona muncul lagi..” ucap Daffa.
“Daffa udah ah, aku malu tahu” ucapku sambil menundukkan kepala. Lalu Daffa pun mengangkat daguku, hingga manik mata kami pun bertemu. Lalu Daffa mendekat dan membuat jarak di antara kami menjadi sangat dekat.
Cup…
Daffa ternyata mengecup keningku. Hal itu membuat jantung semakin berdetak kencang dan pipiku semakin merah merona.
“Kamu sangat cantik malam ini sayang..” puji Daffa sambil mengelus lembut kedua pipiku.
“Terima kasih Daffa” balasku malu-malu.
“Boleh aku minta satu hal sama kamu..?” tanya Daffa.
“Boleh. Kamu mau minta apa..?” jawabku.
“Aku mau penampilan kamu hari ini, cuma aku dan keluarga kita aja yang boleh lihat. Aku juga gak kamu berpenampilan seperti sama cowok lain. Mengerti sayang..” ucap Daffa tegas. Aku sedikit terkejut dengan ucapan Daffa, namun di sisi lain aku juga senang dengan perlakukan manisnya.
“Iya Daffa” balasku.
“Terima kasih sayang” ucap Daffa dan kembali mengecup keningku. Membuat jantungku kembali berdetak kencang.
“Iya Daffa” balasku sambil tersenyum.
__ADS_1
“Oh my God, Daffa..kamu romantis banget sih. Aku bahagia sekali. Aku bahagia karena kamu. Aku berharap bisa merasakan kebahagiaan ini terus. Aku juga berharap kamu selamanya ada bersama dan mendampingiku” batinku berharap.