
“Pelan-pelan sayang..” ucap Daffa yang menghampiriku dan mengelus lembut punggungku.
“Sayang..?” ucap Joshua, Rico, Mario dan Raditya yang kaget saat Daffa memanggilku sayang.
“Loh kok Daffa memanggil Diana sayang? Apa kalian berdua pacaran?” tanya Joshua penasaran.
“Ya enggaklah. Diana dan Daffa itu gak pacaran” sahut Yeslin.
“Lalu kenapa Daffa panggil Diana sayang?” tanya Rico.
Lalu aku melirik ke Daffa sambil berharap cemas menantikan jawabanya. Entah kenapa aku begitu cemas. Aku berharap dia mengatakan bahwa aku adalah kekasihnya. Eh, tapi kan Daffa gak cinta samaku.
“Memangnya kenapa kalau aku memanggil Diana sayang? Ada yang salah dengan itu? Aku kan memang sayang samanya” jawab Daffa.
Sebenarnya aku gak kecewa dengan jawaban Daffa. Dia selalu mengatakan kalau dia sayang padaku dan aku adalah miliknya. Tak ada seorang pun boleh mendekatiku dan merebut darinya. Tapi aku bingung, Daffa sayang sama aku dalam artian apa? Apakah sayang sebagai sahabat atau lebih dari itu? Karena Daffa sendiri belum memberitahukan yang sebanarnya. Bahkan menyuruhku sampai waktunya tiba nanti. Tapi entah sampai kapan aku harus menunggunya?
“Sayang. Hei sayang..” panggil Daffa membuatku tersadar dari lamunanku.
“Eh iya kenapa?” tanyaku.
“Kamu kenapa kok melamun gitu? Kamu gak apa-apa kan sayang?” tanya Daffa khawatir.
“Aku gak apa-apa Daffa. Aku hanya mulai lelah dan mengantuk” jawabku jujur. Karena sejujurnya aku sudah mulai mengantuk.
“Kamu mengantuk sayang?” tanya Daffa lagi.
“Iya Daffa” jawabku sambil menganggukkan kepala. Lalu Daffa memluk pinggangku erat dan pamit pada yang lain.
“Keisha, kita tidur disni ya..? Rasanya gak mungkin pulang lagi sekarang. Diana pun sudah mengantuk banget” ucap Daffa.
“Iya boleh. Udah sana bawa aja tuh si Diana ke kamar atas” balas Keisha.
“Ya udah kalau gitu, kami ke atas dulu ya guys.. Kasihan nih Diana udah mulai mengantuk” pamit Daffa. Mereka pun mengangguk. Lalu menuntunku ke kamar tamu yang ada dilantai atas. Sesampainya di kamar, dia melepaskan sepatuku dan membaringkanku di tempat tidur. Kemudian Daffa juga membaringkan tubuhnya di sebelah sambil memelukku erat.
“Sayang..” panggil Daffa.
“Iya, kenapa Daffa?” tanyaku.
“Kamu yang sabar ya menunggu sampai waktunya tiba nanti. Aku tahu kamu pasti kecewa dengan jawabanku tadi kan?” ucap Daffa membuatku kaget.
“Kenapa Daffa bisa tahu?” batinku bertanya.
“Kamu kok tahu?” tanyaku penasaran.
“Jelas aku tahu sayang, soalnya yang ada di hati dan pikiranmu kan hanya ada aku..” jawab Daffa percaya diri.
“Ishk..sok tahu kamu” ucapku sambil memutar bola mataku malas.
“Kan memang kenyataannya sayang. Kamu itu selalu memikirkan aku kan?” ucap Daffa sambil menaik turunkan alisnya menggodaku.
“Iihhh..Daffa. Jangan gitu ah” balasku malu-malu.
“Gak usah malu sayang untuk mengakuinya” ucap Daffa sambil mencolek daguku. Pipiku pun semakin merah merona.
“Cantik” ucap Daffa.
__ADS_1
Aku pun tersenyum malu sambil menyembunyikan wajahku di dadanya. Kemudan Daffa mengangkat daguku sambil menatap lembut. Lalu dia mendekatkan wajah kepadaku sehingga membuatku menutup mata. Aku pun merasakan sesuatu yang lembab dan kenyal menyentuh bibirku. Aku membuka mata dan melihatnya menciumku lama. Tak lama kemudian ciuman itu berubah menjadi *******-******* kecil. Ya Daffa ******* bibirku dan aku pun membalasnya. Setelah itu Daffa menyudahi ciuman sambil tersenyum. Aku pun membalas senyuman Daffa malu-malu.
“Tidurlah sayang. Aku akan selalu ada disampingmu” ucap Daffa sambil mengecup keningku. Tak lama kemudian, aku pun terlelap dalam tidurku.
Daffa Merlin Putra POV (ON)
Setelah gadis kesayanganku ini terlelap tidur, aku pun perlahan-lahan melespaskan pelukan agar dia tidak terbangun. Lalu aku pun keluar kamar dan pergi menghampiri sahabat-sahabatku. Aku turun dari tangga dan menuju ke mereka.
“Loh Daffa, kamu kok disini? Bukannya kamu lagi tidur sama Diana?” tanya Yeslin kaget melihatku.
“Ssstt..Kalian jangan berisik. Diana lagi tidur. Aku tuh kesini karena mau memberitahukan hal yang penting sama kalian semua” jawabku sambil menatap serius mereka. Mereka menatapku penasaran.
“Memberitahukan sesuatu? Apa itu Daffa?” tanya Joshua.
“Aku akan menikahi Diana” jawabku.
“Apa?!” teriak mereka serempak mendengar ucapanku.
“Ssstt..Kalian itu jangan ribut. Nanti Diana bangun” ucapku sambil menatap tajam mereka.
“Hahaha, bercandamu tidak lucu Daffa” ucap Yeslin tertawa. Yang lain pun ikut tertawa.
“Aku tidak bercanda Yeslin” balasku serius. Melihat eskpresiku membuat mereka terdiam.
“Apa kamu serius dengan ucapanmu?” tanya Mutia yang masih belum percaya.
“Iya Mutia, aku serius..” jawabku mantap.
“Mengapa kamu ingin menikahi Diana? Bukankah kalian dekat dan akrab sebagai sahabat saja? Lalu mengapa tiba-tiba kamu ingin menikahinya?” tanya Joshua penasaran.
“Sebenarnya aku dan Diana sudah dijodohkan” jawabku jujur.
“Kalian sudah dijodohkan?” tanya Keisha gak percaya.
“Iya kami sudah dijodohkan oleh orangtua kami” jawabku.
“Lalu apa Diana mengetahuinya?” tanya Raditya.
“Belum. Diana belum mengetahuinya” jawabku.
“Lalu kamu setuju dengan perjodohan ini Daffa?” tanya Yeslin padaku. Aku tahu mengapa Yeslin menyakan hal ini padaku. Jawabannya adalah Yeslin tidak ingin Diana terluka olehku.
“Iya aku menyetujuinya” jawabku mantap sambil menganggukkan kepala.
“Kamu sedang tidak bercanda kan Daffa? Ini bukanlah main-main. Pernikahan merupakan hal yang sakral. Dan ini harus berlandaskan sebuah fondasi untuk membina rumah tang ayng bahagia. Itu adalah cinta” ucap Yeslin khawatir.
Ya aku mengerti Yeslin. Dia khawatir jika aku menikahi Diana tanpa cinta. Tapi kan aku menikahi Diana karena aku mencintainya tulus dari hatiku. Mungkin Yeslin masih berpikir kalau aku masih mencintai dan memiliki hubungan Jelita. Padahal aku tak lagi mencintainya. Aku harus menjelaskan pada mereka. Aku tidak ingin mereka salah paham samaku. Aku menatap sahabatku satu persatu. Lalu tersenyum menatap mereka. Mereka pun menatapku bingung.
“Aku tidak bercanda. Aku benar-benar serius ingin menikahi Diana. Aku tahu kalau ini bukan hal yang main-main. Aku mengerti kalian pasti khawatir kalau aku akan menyakiti hati Diana. Tapi percayalah, aku tidak akan menyakitinya. Aku tulus ingin menikahi Diana karena..” ucapku terhenti sejenak dan menatap lekat para sahabatku yang penasaran.
“Karena apa Daffa?” tanya Keisha penasaran. Llau aku pun tersenyum pada mereka.
“Karena aku mencintai Diana. Aku sangat mencintainya” jawabku. Lalu kulihat para sahabatku terkejut mendengar pernyataanku.
“Kamu tidak bercanda kan?” tanya Anna.
__ADS_1
“Bagaimana bisa?” timpal Rico.
“Bukannya kamu mencintai Jelita?” tanya Yeslin.
“Sejak kapan kamu mencintai Diana?” timpal Mario. Aku melihat para sahabatku yang menghujani dengan berbagai pertanyaan. Lalu aku pun menghela nafas.
“Hhhhh…”
“Sahabat-sahabatku.. Dengar ya, pertama aku tidak bercanda karena aku benar-benar mencintainya. Kedua, bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya, aku gak tahu. Karena aku sendiri tidak tahu kenapa. Ketiga, aku dan Jelita tak mempunyai hubungan apa-apa lagi dan aku tidak lagi mencintainya karena dia telah mempermainkan aku. Keempat, sejak kapan aku mencintai Diana, jawabannya adalah sejak pertama kali kami bertemu yang berarti itu sejak kecil. Namun aku baru menyadari perasaanku ya akhir-akhir ini” jelasku. Mendengar penjelasanku, para sahabat menatapku bengong.
“Jadi, kamu benar-benar mencintai Diana?” tanya Joshua yang masih belum percaya.
“Iyalah, kan tadi aku udah bilang kalau aku benar-benar mencintai Diana. Aku tidak main-main dengan ucapanku” jawabku serius.
“Jadi sejak kecil kamu sudah mencintai Diana?” tanya Yeslin.
“Iya Yeslin..tapi dulu aku masih belum yakin dengan perasaanku. Karena waktu itu aku berpikir kalau perasaan itu hanya sekedar rasa kagum saja. Namun lama-lama kelamaan hingga beberapa waktu terkahir ini, aku pun mulai menyadarinya. Aku kembali merasakan perasaan yang dulu sempat hilang” jawabku menjelaskan.
“Sekarang aku mau minta bantuan dari kalian semua” ucapku lagi.
“Minta bantuan? Bantuan apa?” tanya Raditya.
“Aku mau kalian membantuku untuk memberikan kejutan dan menyiapkan lamaran” jawabku.
“Apakah kalian bersedia membantuku?” tanyaku pada para sahabatku.
“Iya kami bersedia” balas mereka dengan serempak. Aku pun tersenyum.
“Besok saat kita diburan di villa Keisha” jawabku.
“Apakah orangtua kalian sudah mengetahui mengenai rencanamu, Daffa?” tanya Keisha.
“Sudah. Mereka setuju dengan rencanaku. Lalu kalian mau membantuku?” ucap Daffa lagi sambil bertanya.
“Iya kami mau..” balas mereka serempak.
“Baiklah kalau begitu, sekarang yang harus kalian lakukan adalah memberitahu keluarga kami dan tanyakan apa yang harus dilakukan..” jelasku.
“Loh, memangnya kamu mau kemana?” tanya Anna.
“Aku harus kembali ke kamar. Kalau aku lama-lama disini, nanti Diana mencari aku dan dia bakal curiga” jawabku.
“Owh..” balas Anna sambil menganggukkan kepala.
“Ya sudah kalau begitu aku balik ke kamar dulu ya. Terima kasih sahabat-sahabatku sudah mau membantu” ucapku tulus.
“Jangan berterima kasih seperti itu. Karena itulah gunanya sahabat” ucap Mario.
“Iya, selalu ada saat dibutuhkan” timpal Keisha.
“Dan selalu ada saat senang maupun susah” ucap Raditya.
“Terima kasih semua. Kalau begitu aku balik ke kamar dulu ya” balasku sambil tersenyum dan kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, aku pun masuk dan berbaring disamping gadisku yang terlelap tidur sambil memeluknya erat. Aku mengecup kening gadisku dan tersenyum.
__ADS_1
“Sayang, sebentar lagi akan ada kejutan spesial untukmu sayang. Sebuah kejutan yang indah dan luar biasa untuk gadis terindah dan teramat aku cintai” batinku tersenyum. Tak lama kemudian, aku pun terlelap dalam tidur.
Daffa Merlin Putra POV (OFF)