
"Berhentilah memanggilku sayang Daffa...." ucapku kesal dan Daffa pun terkekeh melihatku kesal.
"Aisshh, kamu menyebalkan. Jangan tertawa Daffa....Atau aku akan benar-benar marah...." ucapku datar.
"Iya iya....Tapi memangnya kenapa sih kalau aku memanggilmu sayang ? Kan aku sayang sama kamu dan kamu pun sayang sama aku. Kamu juga adalah kesayanganku. Atau jangan-jangan kamu udah gak sayang lagi ya sama aku ?" ucap Daffa sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Jangan bicara seperti itu dong Daffa....Aku gak bermaksud seperti itu. Aku hanya risih dan gak suka aja dipanggil seperti itu. Seakan-akan panggilan seperti itu seperti mengartikan ada sesuatu diantara kita. Aku hanya gak mau orang-orang salah paham dan salah mengartikan hubungan kita. Kamu sendiri kan tahu betapa sayangnya aku sama kamu. Kamu kan adalah sahabat terbaikku. Jadi, jangan mengada-ada deh pakai bilang aku gak sayang lagi sama kamu" jelasku dengan wajah cemberut.
"Memangnya sesuatu apa yang akan terjadi diantara kita sayang? Ayo coba jelaskan padaku" tanya Daffa ambil tersenyum jahil.
"Ishk Daffa....Aku ini lagi serius dan jangan dibercandain" ucapku kesal. Daffa pun malah terkekeh senang melihatku terlihat menggemaskan ketika lagi kesal.
"Kesal....Aku kesal sama kamu.... Aku gak mau lagi ngomong sama kamu" ucapku mengambek.
"Jangan gitu dong sayang.... Jangan kesal ya" bujuk Daffa setelah melihatku yang mengambek.
"Tau ah..Kamu tuh gak pernah serius kalau diajak ngomong. Selalu aja bercanda.." balasku ketus.
"Iya iya maaf..Aku janji deh gak bakalan bercanda lagi. Aku minta maaf ya Diana, kesayanganku" ucap Daffa meminta maaf.
"Bohong. Pasti habis ini kamu bakal ulangi lagi hal ini saat aku udah maafin kamu nanti. Kamu itu kerjanya janji-janji terus. Aku gak percaya sama kamu" balasku.
"Kali ini aku benar-benar serius gak bohong. Maafin aku ya.... Jangan marah ya" ucap Daffa memohon.
"Baiklah aku akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat...." balasku sambil tersenyum jahil.
"Apa syaratnya ? Ayo katakan. Pasti akan aku turuti apapun yang kamu inginkan" tanya Daffa antusias.
"Mmm....Aku mau kamu besok lusa harus bisa menemani aku jalan-jalan sampai aku puas. Kamu harus mau menemani kemanapun aku akan pergi" jawabku sambil tersenyum.
"Jalan-jalan ? Kemana?” tanya Daffa lagi dengan penasaran.
"Terserah kemanapun itu..Yang penting kamu temani aku jalan-jalan sampai aku puas. Setuju ?" ucapku.
__ADS_1
"Setuju" balas Daffa sambil tersenyum.
"Ya udah kalau begitu ayo kita masuk ke dalam toko buku" ajak Daffa sambil menggenggam erat tanganku masuk ke dalam toko.
Sesampainya di dalam toko, kami langsung mencari buku yang diinginkannya. Tak lama kemudian kami pun mendapatkan buku tersebut dan Daffa langsung membayarnya ke kasir. Setelah buku tersebut dibayar, Daffa mengajakku untuk makan eskrim di sebuah kedai eskrim yang tak jauh dari toko buku. Kami yang sudah berada di kedai eskrim langsung memesan dua mangkuk eskrim. Satu rasa vanila dan satu lagi rasa stroberi. Tak lama setelah itu, pesanan kami pun datang. Aku pun dengan segera melahap eskrim milikku.
"Gimana es krimnya? Apakah enak ?" tanya Daffa.
"Enak banget..Terima kasih ya Daffa..... Kamu memang paling tau semua hal yang membuatku sangat senang" jawabku kegirangan.
"Girang banget sih sayangku ini..Senang ya aku ajak makan es krim ?" ucap Daffa sambil mengelus dengan lembut rambutku. Dan aku pun mengangguk setuju.
"Tapi kamu ini kayak anak kecil ya..Makan eskrim aja pakai belepoten kayak gini...." ucap Daffa sambil membersihkan es krim yang ada dibibirku dengan ibu jarinya.
Seketika membuat jantungku berdetak lebih kencang. Apalagi saat manik mata Daffa bertemu dengan manik mataku hingga kami saling memandang satu sama lain. Aku pun menjadi gugup dan salah tingkah.
"Te-rima-ka-sih Daffa...." ucapku gugup dan segera memalingkan wajahku ke arah eskrimku agar Daffa tidak melihat pipiku yang mulai memerah.
"Aku tahu kok kalau aku ini memang tampan. Sampai-sampai kamu terpesona sama aku... Pakai menatapku begitu lama dan sangat dalam" ucap Daffa percaya diri. Aku yang mendengar ucapannya pun menjadi kesal dan menjitak kepalanya.
"Pletakk...."
"Aduh....Sakit tau...." ringis Daffa kesakitan.
Sedangkan aku malah tersenyum puas.
"Kamu kok malah senyum sih melihat aku kesakitan seperti ini..Senang ya lihat aku kesakitan seperti ini....?" ucap Daffa cemberut.
"Biarin wlee....Lagian kamu sih pakai kepedean segala...." ejekku sambil menjulurkan lidah ke arah Daffa.
"Mana ada aku kepedean? Aku kan bicara sesuai fakta sayang...." balas Daffa tak mau kalah.
"Sudah ah..ayo kita segera pulang...." ajakku.
__ADS_1
"Memangnya es krimmu sudah habis ?" tanya Daffa.
"Belum..ini masih ada" jawabku sambil menunjukkan mangkuk es krim milikku.
"Habisin dulu es krimnya lalu kita pulang.." pinta Daffa.
"Iya.." balasku singkat.
Aku pun segera menghabiskan es krim milikku. Setelah itu, Daffa pun membayar pesanan kami tadi. Kemudian dia pun mengantarkan aku pulang. Sesampainya di depan rumahku, aku pun turun dari mobil Daffa.
"Terima kasih Daffa..Terima kasih juga karena sudah mentraktirku makan es krim...." ucapku tersenyum.
"Iya sama-sama..Lagipula yang seharusnya yang berterima kasih itu aku. Karena kamu sudah mau menemaniku ke toko buku. Terima kasih ya sayang.." balas Daffa.
"Terima kasih kembali" ucapku.
"Ya udah masuk sana" pinta Daffa.
"Baiklah aku masuk. Kamu hati-hati ya dijalan" ucapku sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Kemudian langkahku terhenti saat ada yang mencekal tanganku. Aku pun berbalik badan sambil menyerhitkan dahi bingung.
"Iya ada apa Daffa ?" tanyaku bingung.
"Aku melupakan sesuatu" jawabnya.
"Lupa ? Lupa apa ?" tanyaku yang semakin heran dan bingung.
"Lupa kalau aku harus...." lalu Daffa mendekat kearahku. Kemudian menatapku intens dan....
"Cup...." Daffa mencium keningku dengan lembut.
"Ada apa ini ? Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang ? Padahal ini bukan pertama kalinya Daffa mencium keningku. Bahkan itu sudah menjadi kebiasaan yang selalu dia lakukan padaku. Tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda ? Aku seperti merasakan suatu getaran yang aneh. Ada apa denganku ? Apa yang terjadi padaku saat ini ? Jangan-jangan....aku sudah mulai jatuh cinta pada Daffa ? Ah tidak-tidak....Ini gak mungkin. Diana..stop berpikiran seperti itu" batinku dengan perasaan yang campur aduk.
"Lupa kalau aku harus memberikan salah satu tanda kasih sayang aku yang selalu menjadi kebiasaanku" lanjut Daffa sambil tersenyum lembut.
__ADS_1