I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 16


__ADS_3

“Kau membuatku menjadi gugup dan salah tingkah. Kau juga membuat jantungku berdebar kencang” ucapku jujur. Mendengar hal itu Daffa sedikit terkejut dan terdiam sejenak. Lalu tak lama kemudian Daffa pun tersenyum.


“Begitukah sayang..?” balas Daffa.


“Iya Daffa makanya kamu jangan menatapku seperti itu” ucapku sambil menganggukan kepala. Lalu Daffa pun tertawa. Melihat Daffa tertawa, membuatku heran sekaligus bingung.


“Kamu kenapa tertawa Daffa..?” tanyaku sambil menyerhitkan dahi. Lalu Daffa pun berhenti tertawa dan kembali menatapku sambil tersenyum.


“Ternyata kamu begitu polos sayang..” jawab Daffa sambil mencubit kedua pipiku gemas.


“Iihh Daffa, jangan mencubit pipiku” rengekku manja. Lalu Daffa pun berhenti.


“Jangan ngeselin deh Daffa. Kamu selalu saja mencubit pipiku. Sakit tau” ucapku kesal sambil menghentakkan kakiku.


“Sakit ya sayang..? Maaf deh kalau begitu. Sini-sini biar aku obati” ucap Daffa sambil mengelus lembut pipiku. Hal itu membuatku tersenyum.


“Nah gitu dong tersenyum” ucap Daffa.


“Iya, iya..Tapi apa maksud dari perkataanmu tadi Daffa?” tanyaku penasaran.


“Perkataanku..? Perkataanku yang mana sih..?” balas Daffa yang mengalihkan pembicaraan.


“Udah deh gak usah pura-pura lupa gitu” ucapku kesal.


“Aku memang tidak tahu sayang” balas Daffa santai.


“Itu loh Daffa, yang kamu bilang aku ternyata masih polos. Apa maksudmu berkata seperti seperti itu..?” ucapku.


“Owh” balas Daffa singkat. Lalu aku yang sudah sangat kesal pun mencubit perut Daffa sampai dia meringis kesakitan.


“Awww..”


“Kenapa dicubit sih sayang..?” tanya Daffa sambil meringis kesakitan memegang perutnya.


“Biarin. Habisnya kamu ngeselin sih” jawabku kesal sambil memalingkan wajahku kea rah yang lain.


“Baiklah kalau begitu aku pulang..” ucap Daffa datar dan dingin. Aku kaget dan langsung menatap Daffa.


“Apa Daffa marah..? Apa aku keterlaluan tadi mencubitnya..?” batinku bertanya. Lalu aku mendekat pada Daffa.


“Apakah kamu marah Daffa..?” tanyaku hati-hati.


“Hmmm..” jawab Daffa singkat.


Lagi-lagi aku kaget karena Daffa marah. Buktinya dia hanya menjawab dengan singkat pertanyaanku.


“Daffa, kenapa kamu marah padaku..? Emangnya aku salah apa..?” tanyaku. Namun Daffa tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya diam dengan muka datar dan dinginnya.


“Daffa marah padaku. Aduh gimana ini..? Apa yang harus aku lakukan?” gumamku pelan sambil meremas jari-jari tanganku.

__ADS_1


“Daffa”


“Hmm”


“Daffa” panggilku manja sambil mengamit lengan kanan Daffa.


“Hmmm..” balas Daffa singkat.


“Daffa”


“Hmm”


“Ishk Daffa, kok cuma hmm sih..? Singkat amat. Jangan begitu dong” ucapku kesal.


“Iya kenapa..?” tanya Daffa datar. Akhirnya Daffa mau bicara meskipun nada bicaranya sangat datar.


“Daffa, kalau orang lagi ngomong itu dilihat dong ke arah orang yang ngomong” omelku saat melihat Daffa tidak melihatku saat berbicara. Namun dia tak menggubris ucapanku. Lalu aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku agar dia bisa melihat ke arahku.


“Lihat aku..” pintaku. Lalu Daffa menatapku dalam dan membuatku menjadi gugup.


“Daffa jangan menatapku seperti itu..” ucapku gugup.


“Kenapa? Bukankah kamu mengatakan untuk melihatmu ketika berbicara. Disaat aku sudah melihatmu, kamu malah mengatakan untuk tidak melihatmu. Maksud kamu itu apa..?” balas Daffa datar.


“I-iya, ta-tapi..” ucapku gugup sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.


“Tapi kenapa hem..?” balas Daffa sambil mendekatkan wajahnya dan menatapku dalam. Lalu Daffa mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu.


“Kamu ingin pulang sayang..?” tanya Daffa. Aku pun menganggukkan kepalaku.


“Kalau kamu mau pulang, harus ada syaratnya..” bisik Daffa lagi.


“Apa..?” tanyaku gugup. Lalu Daffa mengatakan sesuatu yang membuatku sangat terkejut.


“Syaratnya adalah kamu harus menciumku” tubuhku kembali menegang. Jantungku semakin berdetak kencang. Aku sangat syarat yang diajukan oleh Daffa.


“Apakah Daffa sedang bercanda?” batinku bertanya.


“Aku tidak bercanda sayang..” ucap Daffa yang seolah-olah tahu apa yang sedang aku pikirkan. Rasa gugup kembali melingkupiku.


“Da-Da-Daffa..A-apa syaratnya tidak ada yang lain?” tanyaku mencoba bernegoisasi dengan Daffa.


“Tidak ada sayang” jawab Daffa sambil tersenyum.


“Aduh gimana ini..? Apa aku harus mencium Daffa..? Apa yang harus aku lakukan..?” batinku bingung.


“Cepatlah sayang” ucap Daffa. Lalu aku mendekat ke arah Daffa.


“Cup”

__ADS_1


Aku pun mencium pipi kanan Daffa sambil tersenyum malu dan pipi yang sudah merah merona.


“Kok di pipi sih sayang. Harusnya kan disini..” protes Daffa sambil menunjukkan ke arah bibirnya.


“Pletakk..” Aku pun menjitak kepala Daffa karena kesal saat dia menyuruhku mencium bibirnya.


“Enak saja dia. Aku mencium pipinya saja sudah membuatku gugup dan malu setengah mati. Dia gak tahu apa, jantungku berdebar kencang” batinku kesal.


“Kok aku dijitak sih sayang?” protes Daffa.


“Soalnya kamu itu seenaknya saja menyuruhku untuk mencium bibirmu. Mencium pipimu saja sudah membuatku gugup dan malu setengah mati” ucapku jujur. Lalu aku pun melihat Daffa tersenyum misterius.


“Aku gak mau tau sayang. Kalau kamu tidak mau melakukannya, lebih baik kita tidak usah pulang” ancam Daffa.


“Ishk Daffa, kok gitu sih..Jangan gitu dong. Pokoknya kita harus pulang” rengekku.


“Baiklah kalau kamu mau pulang, ya lakukan yang aku suruh tadi” balas Daffa santai.


“Emm, gimana ya? Apa aku harus melakukannya? Tapi kalau tidak aku lakukan pasti kami akan tetap disini. Daffa kan tidak pernah main-main dengan ucapannya” batinku gelisah.


“Gimana sayang..?” tanya Daffa lagi.


“Emm..baiklah” jawabku gugup. Lalu aku melihat wajah Daffa yang menjadi sumringah.


“Kalau begitu lakukanlah sayang” ucap Daffa semangat.


“Iya aku akan melakukannya, tapi sebelum itu kamu tutup mata dulu” pintaku. Lalu Daffa pun mengangguk dan mulai menutup matanya.


“Emm, gimana ini..” gumamku sangat pelan.


“Cepatlah sayang. Jangan berlama-lama. Kamu mau kita gak pulang hari ini..?” pinta Daffa.


“Iya, iya” balasku.


Lalu aku menarik nafasku dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Lalu aku pun mulai mendekat ke arah Daffa sambil mencondongkan tubuhku untuk mendekat ke wajah Daffa. Kini rasa gugup semakin meliputi seluruh tubuhku. Dan kini jarak kami hanya 5 cm saja.


Lalu aku pun mulai menempelkan bibirku ke bibirnya. Daffa pun membuka mata yang membuatku terkejut dan merasa malu. Ingin memalingkan wajah ke arah yang lain, namun dia langsung mengunci pandanganku. Hingga ku kini menatapnya. Kemudian Daffa mengambil alih yang mulai membalas ciumanku.


Kini ciuman itu telah berubah menjadi *******-******* kecil. Dia mencium dan ******* bibirku dengan lembut. Aku yang mulai terbuai pun mulai membalas ******* itu. Tak lama kemudian dia pun melepaskan ciuman kami. Kami pun terengah-engah akibat ciuman tadi. Setelah itu, wajahku pun mulai merah merona setelah mengingatkan apa yang barusan terjadi.


“Kamu makin cantik kalau lagi merah merona begitu sayang..” goda Daffa. Mendengar hal itu semakin membuatku malu dan menundukkan kepala.


“Udah gak usah malu gitu dong sayang” goda Daffa lagi.


“Bukankah kita sama-sama menikmatinya, hem..?” Daffa semakin gencar menggodaku. Lalu dia menangkup kedua pipiku yang masih merah merona.


“Sayang, gimana kalau kita melakukannya sekali lagi..? Tapi kali ini yang lebih hot” bisik Daffa ke telingaku. Mendengar ucapan Daffa itu membuatku melotot pada Daffa dan menatap tajam padanya. Daffa pun terkekeh melihat ekpresiku.


“Iya, iya sayang maaf. Tapi aku pastikan kita akan melakukannya lagi lain waktu” ucap Daffa sambil mengerlingkan mata. Aku pun melotot padanya. Aku yang kesal dengannya pun mencubit perutnya. Namun sebelum itu aku lakukan, Daffa pun menghindar.

__ADS_1


“Daffa” teriakku kesal.


__ADS_2