I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 29


__ADS_3

Keesokan paginya..


“Hoamm..” ucapku yang bangun dari tidurku yang lelap. Aku tersenyum melihat sosok di sampingku yang sangat aku cintai. Tak menyangka ternyata dia semalam melamarku. Hati ini merasa sangat bahagia sekali. Dia telah mempersiapkan semua untuk melamarku. 


*Flashback On*


Setelah puas bermaian, lalu aku dan Daffa pun masuk ke dalam mobil. Kemudian dia melajukan mobil menuju villa Keisha. Tak lama kemudian, kami pun tiba di villa Keisha. Kami pun turun dari mobil.


“Daffa..” panggilku.


“Ya sayang..” balasnya.


“Loh, kok villanya gelap ya. Sahabat-sahabat kita pada kemana?” tanyaku. Aku pun hanya melihat dia tersenyum.


“Aisshh Daffa, kok malah senyum-senyum sih..” ucapku kesal.


“Hehe, maaf sayang. Mungkin listriknya sedang bermasalah. Ya udah ayo kita masuk” ajaknya. Daffa pun menggandeng tanganku. Lalu kami pun masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Daffa permisi untuk mencari lilin.


“Sayang, kamu tunggu disini ya..Aku mau cari lilin dulu” ucap Daffa.


“Yah, jangan dong Daffa. Aku takut sendirian disini” balasku takut.


“Sebentar saja sayang. Setelah aku dapat lilinnnya, aku akan balik lagi kok” bujuk Daffa.


“Emangnya kamu mau gelap-gelapan seperti ini..?” tanyanya.


“Gak..” jawabku sambil menggelengkan kepala.


“Maka dari itu, kamu tunggu disini ya. Aku hanya sebentar saja kok” ucapnya menyakinkanku.


“Mmmm..Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya. Aku takut sendirian” balasku.


“Iya sayang tenang aja” ucapnya. Lalu Daffa pun pergi meninggalkan aku sendirian. Sudah sepuluh menit aku menunggunya disini. Tapi dia belum juga kembali.


“Daffa...Dimana kamu?” teriakku.


“Daffa, aku takut sendirian” teriakku lagi.


“Daffa, kamu dimana? Katanya cuma sebentar aja” teriakku lagi yang merasa mulai takut. Aku pun berjalan menuju taman belakang untuk mencari Daffa.


“Wah, indah sekali..” ucapku kagum saat melihat sebuah dekorasi yang indah yang ada ditaman belakang.


“Ini punya siapa ya..? Apakah para sahabatku yang menyiapkan ini? Apa ada yang berulang tahun ya?” tanyaku pada diri sendiri. Aku bingung kenapa ini bisa ada disini. Apakah ada acara ya?


“Tapi, Daffa kemana ya?” tanyaku lagi.


“Daffa..” teriakku.


Lalu aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan mengendap-endap ke sudut kiri belakang villa. Aku pun menoleh ke arah suara tersebut. Kemudian aku mendengar suara langkah orang yang berlari cepat.


“Siapa itu?” teriakku.


“Hei, siapa disitu?” teriakku lagi.


“Tidak ada yang menjawab. Apa jangan-jangan itu...” ucapku sambil bergidik ngeri.


“Daffa...” panggilku.


“Aisshh, Daffa...Aku takut disini. Daffa kamu dimana?” panggilku lagi yang mulai takut sekaligus kesal. Lalu aku duduk di kursi sambil menelungkupkan wajah di meja. Tak lama kemudian, lampu pun menyala. Aku pun mendongakkan wajahku.


“Yee..Lampunya hidup..” teriakku kegirangan. Lalu tak lama kemudian mengalunlah sebuah lagu dari Yovie dan Nuno – Janji Suci yang ditampilkan pada sebuah layar yang berisi foto-fotoku bersama dengan Daffa. Aku pun terkejut.


Dengarkanlah wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku melihat Daffa muncul dari sudut sebelah kiri dan berjalan ke arahku. Aku pun terkejut melihatnya tetapi dia hanya tersenyum.

__ADS_1


Aku ingin mempersuntingmu


’Tuk yang pertama dan terakhir


Daffa pun berlutut di depanku. Entah kenapa aku merasa senang dan bahagia melihat Daffa. Jantungku berdetak kencang. Apa Daffa mau melamarku?


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Daffa memegang tangan kananku dan mencium punggung tanganku. Aku pun mulai menitikkan air mata. Lalu aku melihat dia mengeluarkan sebuah kotak cincin. Aku sangat terkejut. Jantungku semakin berdetak gak karuan.


Dengarkanlah wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Daffa membuka kotak cincin tersebut dan mengarahkan padaku sambil tersenyum. Nafasku tercekat dan mataku pun mulai berkaca-kaca.


Akulah yang terbaik untukmu


Oh..woo…oh..woo…oh..wooo


 (Janji Suci)


“Will you marry me, Diana Fransiska?” ucap Daffa setelah lagu selesai mengalun. Lagi-lagi aku terkejut dengan perkataannya. Aku menatapnya bingung sekaligus bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud dari semua ini.


“A-Apa maksudnya ini Daffa?” tanyaku bingung dengan mata yang berkaca-kaca.


“Hei sayang, jangan menangis..” ucapnya sambil mengusap air mata yang ada dipipiku.


“Sayang, ini benaran terjadi. Aku benar-benar melamarmu hari ini. Ini bukan mimipi sayang..” jawabnya sambil menatapku lembut.


“Jadi, Daffa benar-benar melamarku? Aaaa...senangnya. Tapi bukankah Daffa mencintai Jelita ya? Aku harus tanya ini sama Daffa”batinku senang.


“Tapi, bukannya kamu mencintai Jelita?” tanyaku penasaran.


“Sayang, hari ini aku akan menjelaskan semuanya padamu. Diana Fransiska, hal pertama yang akan ku beritahukan adalah aku tidak lagi mencintai Jelita. Saat Jelita memberikanku beberapa tantangan sebagai syarat agar dia menerimaku sebagai pacar, saat di tantangan terakhir aku melihat dia sedang berciuman dengan seorang cowok. Lalu aku mendengar percakapannya dengan cowok tersebut yang ternyata adalah pacarnya. Jelita hanya memanfaatkanku saja. Aku marah karena telah membohongi dan melukai hatiku. Sejak saat itu, aku telah berusaha melupakan Jelita” jawabnya. Aku pun terkejut mendengar penjelasannya. Jadi Jelita menyakiti Daffa? Aku gak menyangka ternyata Jelita sejahat itu sama Daffa.


“Hal kedua yang ingin aku beritahukan adalah aku, Daffa Merlin Putra sangat mencintaimu. Ya, aku tahu kamu pasti kaget dengan hal ini. Bagaimana aku bisa mencintaimu, padahal dulunya aku menyukai Jelita. Sayang, aku memang menyukai Jelita, tetapi tidak mencintainya. Baru aku sadari bahwa perasaanku pada Jelita adalah hanya perasaan suka. Tetapi denganmu itu adalah perasaan cinta. Bahkan dari kita kecil aku sudah memiliki rasa untukmu. Namun pada saat itu aku masih ragu dengan perasaanku. Hingga lama-kelamaan perasaan ini semakin kuat dan membuat aku yakin kalau aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Diana Fransiska” jelasnya lagi. Aku terharu dengan ucapan Daffa. Aku pun menangis bahagia.


“Apa kamu bersungguh-sungguh Daffa?” tanyaku sambil menatapnya dalam.


“Ya, aku bersungguh-sungguh sayang..” jawabnya mantap.


“Tapi bagaimana dengan keluarga kita?” tanyaku lagi saat aku teringat dengan keluarga kami. Apakah mereka akan menyetujuinya?


“Ketahuilah sayang, bahwa kita ini sudah dijodohkan oleh orangtua kita. Mereka ingin setelah kita lulus SMA segera menikah” jawab Daffa. Aku pun terkejut mendengarnya.


“Benarkah? Tapi kenapa aku gak tahu sih? Menyebalkan..” ucapku kesal. Daffa pun terkekeh melihatku.


“Huft..sangat menyebalkan sekali” batinku kesal.


“Biar jadi kejutan sayang..” balasnya tersenyum.


“Oh iya sayang, kamu belum menjawab pertanyaanku. Will you marry me, Diana Fransiska?” tanyanya lagi sambil menatapku dalam.


“Yes, i will..” jawabku mantap. Daffa pun langsung memakaikan cincin tersebut ke jari manisnya dan memelukku erat.


*Flashback Off*


Aku pun membelai lembut wajah Daffa. Lalu mengecup keningnya. Tak lama kemudian, aku pun bangun perlahan-lahan dari ranjang dan menuju kamar mandi. Aku mencuci muka dan menggosok gigi. Selesai dari kamar mandi, aku keluar dan melihat Daffa sudah terbangun. Dia menatapku sambil tersenyum.


“Daffa, ternyata kamu udah bangun..” ucapku.

__ADS_1


“Kamu habis ngapain sayang?” tanya Daffa dengan suara serak khas bangun tidur.


“Dari kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi” jawabku.


“Ooh..” balas Daffa sambil menganggukkan kepala.


“Ya udah kamu sana gih cuci muka dan gosok gigi, biar kita turun menemui yang lain. Pasti mereka sudah menunggu kita untuk sarapan bersama” ucapku.


“Baiklah sayang..” balas Daffa. Kemudian dia beranjak dari ranjang dan menghampiriku.


Lalu mencium kedua pipiku. Membuat pipiku menjadi merah merona karena malu. Lalu Daffa pun pergi ke kamar duduk. Aku pun menuju ranjang dan merapikannya. Tak lama kemudian, Daffa pun keluar dari kamar mandi bersamaan dengan aku yang sudah merapikan ranjang.


“Ya udah, ayo kita keluar sayang...” ajak Daffa.


Aku pun menghampirinya. Kemudian dia menggandeng tanganku. Kami pun keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, ternyata keluarga dan para sahabat kami telah menanti. Kami pun menghampiri mereka.


“Selamat pagi semua..” sapa kami pada mereka semua.


“Pagi..” balas mereka serempak.


“Ini dia pasangan yang kita tunggu-tunggu. Ternyata mereka udah bangun” ucap bang Hendra.


“Udah gitu disuguhi pemandangan yang romantis pula tuh. Pagi-pagi udah bergandengan tangan” timpal Yeslin menggoda kami berdua.


“Sudah, jangan menggoda mereka lagi. Lebih baik sekarang kita makan” ucap mama Cecilia. Lalu kami semua pun duduk dan memulai sarapan. Selesai sarapan, kami pun asyik berbincang-bincang.


“Diana, Daffa kalian mau konsep yang seperti apa untuk pernikahan kalian nanti?” tanya mama Cecilia.


“Kalau Daffa sih tanya aja sama Diana, ma...” jawab Daffa.


“Gimana sayang, kamu mau gimana konsepnya?” tanya mama Cecilia padaku.


“Kalau Diana sih maunya sederhana tapi elegan ma. Temanya tentang taman gitu yang dihiasi banyak bunga yang berwarna-warni” jawabku sambil membayangkan pesta pernikahanku nanti.


“Selebihnya seperti cincin pernikahan, tempat dan gedung resepsi, catering dan lainnya, Diana serahin ke mama, papa Andre dan papa. Soalnya Diana gak terlalu mengerti tentang itu” ucapku lagi.


“Baiklah kalau begitu serahin aja pada kami” balas mama Cecilia tersenyum.


“Oh ya tan, om Andre, om Julius, bang Hendra dan yang lainnya, hari ini Keisha mau mengajak kalian jalan-jalan di sekitar kebun stroberi milik kakek” ucap Keisha.


“Kebun stoberi Kes? Wah..asyik..” ucapku kegirangan. Keisha pun mengangguk.


“Ya udah kalau begitu, mari kita bersiap-siap” balas Keisha.


Lalu kami semua pun bersiap-siap untuk jalan-jalan ke kebun stroberi. Begitupun dengan aku dan Daffa yang masuk ke kamar dan mandi. Setelah itu berpakaian dan merias diri. Kemudian kami kembali ke ruang keluarga, lalu langsung pergi ke kebun stroberi milik kakek Keisha. Kami pergi ke kebun dengan berjalan kaki karena letak kebunnya gak jauh dari vilanya Keisha. Aku dan Daffa terpisah dari yang lain karena kami hanya ingin berduaan saja.


“Udaranya sejuk ya Daffa?” ucapku sambil menghirup udara.


“Iya sayang, kamu benar” balas Daffa tersenyum.


“Lihat Daffa itu kebun stoberinya” teriakku kegirangan saat melihat kebun stroberi tak jauh di depan kami. Daffa pun menoleh ke depan.


“Ayo Daffa, kita segera kesana..” ajakku semangat sambil menarik tangan untuk segera pergi ke kebun stroberi. Tak lama kemudian, aku dan Daffa pun sampai di kebun stroberi tersebut. Aku melihat banyak stroberi yang masih segar dan menatapnya penuh minat.


“Kamu mau aku ambilkan stroberinya sayang?” tanya Daffa.


“Iya Daffa, aku mau sekali” jawabku dengan antusiasnya.


“Semangat banget sih sayangku ini” ucap Daffa sambil mencubit kedua pipiku gemas. Lalu dia memetik beberapa buah stroberi untukku. Setelah itu memberikannya padaku. Aku pun langsung menerima buah stroberi tersebut lalu memakannya.


“Enak sayang?” tanya Daffa. Aku pun mengangguk sambil memakan buah stroberi. Lalu mengarahkan satu buah stroberi ke mulut Daffa.


“Kamu harus coba. Aakkk...” ucapku. Lalu Daffa membuka mulutnya dan memakan stroberi tersebut.


“Enakkan?” tanyaku.


“Iya sayang” jawab Daffa.


Lalu aku dan Daffa pun berjalan-jalan mengelilingi kebun stroberi. Kemudian setelah selesai melakukannya, kami pun kembali ke villa Keisha. Sesampainya disana, ternyata keluarga dan para sahabat kami belum juga kembali. Akhirnya, kami memutuskan untuk beristirahat. Kemudian kami pun ke kamar dan segera beristirahat.


“Tidurlah sayang..” ucap Daffa sambil mengecup keningku. Aku pun langsung terlelap dalam tidur.

__ADS_1


__ADS_2