I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 6


__ADS_3

"Duarr...." Daffa mengagetkan dan membuatku tersadar dari lamunan.


"Daffa...." teriakku kesal sambil memukul lengan tangannya pelan.


"Lagian kamu sih melamun aja kerjanya. Lagi melamuni apa sih ? Melamuni aku ya...." ucap Daffa sambil tersenyum jahil menggodaku.


"Pede banget sih....Lagian siapa juga yang melamuni kamu" balasku berbohong.


"Gak usah pura-pura deh Diana sahabatku yang cantik....Aku tau kok kalau aku ini memang tampan dan kece badai sehingga membuat kamu terpesona denganku. Pasti kamu kesal kan karena banyak cewek yang mendekatiku. Tapi kamu tenang aja dan gak usah khawatir karena meskipun banyak yang mendekatiku, aku gak bakal mengurangi perhatianku untukmu. Aku bakal tetap memperhatikan sahabatku yang cantik ini" ucap Daffa sambil tersenyum manis padaku. Aku menatap Daffa malas.


"Idih....Pede banget kamu Daffa...." cibirku.


"Kan memang kenyataannya seperti itu. Lagian aku bicara apa adanya kok" balas Daffa tak mau kalah.


"Iya deh terserah kamu aja. Malas deh kalau diperpanjang mulu, gak bakal ada akhirnya" ucapku menyerah.


"Ya udah kalau gitu ayo turun" ajak Daffa. Aku pun kaget dan menyerhitkan dahi bingung.


"Udah sampai? Kapan? Kok cepat banget?" tanyaku yang masih bingung karena sudah sampai di toko buku.


"Ya elah nih anak pakai nanya kapan sampainya. Makanya jangan melamun mulu kerjanya. Kamu sih terlalu memikirkan aku" jawab Daffa.


"Pletakk....." aku pun menjitak kepala Daffa cukup kuat.


"Awww....sakit tau. Kamu apaan sih pakai menjitak kepalaku" ringis Daffa sambil mengelus kepalanya.


"Lagian siapa suruh bercanda ? Aku udah serius menanya, eh kamunya malah bercanda. Udah gitu tingkat pedenya selangit...." ucapku kesal. Aku pun melihat Daffa terkekeh karena melihatku kesal.


"Ishk Daffa kok malah ketawa sih...." ucapku yang makin kesal karena Daffa menertawaiku. Tapi Daffa tidak menggubris aku yang kesal dan tetap saja tertawa.


"Oh jadi kamu mau terus menertawaiku terus ? Ya udah kalau gitu aku pergi aja deh" ucapku kesal sambil keluar dari mobil Daffa. Melihat aku yang benar-benar kesal, Daffa pun berhenti tertawa dan segera menyusulku.


"Din tungguin dong....Jangan ngambek dong" ucap Daffa memohon dan terus mengikutiku. Aku pun berhenti berjalan dan melihat ke Daffa.


"Kamu ngapain sih mengikutiku? Aku itu kesal samamu, Daffa" balasku sambil mengerucutkan bibir karena kesal.


"Maaf deh. Maaf, aku gak bermaksud untuk menertawaimu. Hanya saja aku merasa gemas melihatmu kesal seperti itu" ucap Daffa meminta maaf.


"Tau ah...." balasku.

__ADS_1


"Maafin aku ya Diana. Jangan ngambek gitu dong. Nanti kalau ngambek terus jadi makin tambah cantik deh" rayu Daffa sambil mencolek daguku.


"Iiiihhh Daffa....Kamu tahu aja ya gimana cara buat aku gak kesal lagi. Kalau begini aku mana bisa marah dan kesal denganmu. Tapi kali ini aku harus tetap berpura-pura kesal" batinku.


"Senyum dong Din....Jangan bete gitu dong" bujuk Daffa saat melihat wajahku yang bete. Aku pun tak menggubrisnya dan tetap pura-pura kesal padanya sambil memalingkan wajahku ke arah lain.


"Din, lihat aku dong...." bujuk Daffa sambil memegang kedua tanganku. Tapi aku tetap saja dengan posisiku dan tetap tak menggubris ucapan Daffa.


"Haha....kena kamu Daffa. Senang rasanya bisa mengerjaimu seperti ini" batinku senang.


Daffa pun tampak diam dan berpikir sejenak. Lalu mengubah posisinya dan kini dia tepat dihadapanku. Kemudian dia semakin mendekat padaku dan membuat aku semakin heran dan bingung dengan apa yang sedang dilakukannya. Daffa pun mendekatkan wajahnya padaku dan membuat tubuhku menegang seketika. Sehingga posisi kami berdua saat ini hanya beberapa centi saja.


Lalu dia menatapku dalam sehingga jantungku berdebar dengan kencang. Semakin lama semakin menatapku dalam. Aku pun menjadi salah tingkah sekaligus deg-degan. Tak lama kemudian tatapannya berubah menjadi tatapan tajam yang membuatku jadi takut.


"Daffa, apa yang kamu lakukan ? Mengapa kamu menatapku seperti itu ? Daffa lebih baik kamu minggir. Udah ah....aku takut melihatmu seperti itu. Daffa....kamu jauh-jauh sana ah" ucapku gugup sambil mendorong tubuh Daffa agar menjauh dariku dan segera beranjak pergi.


Namun ketika aku mulai beranjak pergi, tiba-tiba ada yang menahan tanganku. Dan orang tersebut adalah Daffa. Aku pun melihat Daffa yang sedang tersenyum padaku. Hal itu membuat aku terkejut.


"Mau kemana?" tanya Daffa sambil tersenyum lembut padaku.


"Terserah aku dong....Lepasin tangan aku Daffa" jawabku sambil berusaha melepaskan tanganku yang digenggam Daffa. Namun usahaku ternyata sia-sia karena genggaman Daffa sangatlah erat.


"Ya Tuhan....si Daffa kenapa sih sebenarnya? Dia aneh banget" batinku.


"Huwaaa....Mama....Mama Cecil....Daffa jahat sama aku. Huhu....aku takut mama. Daffa aneh banget hari ini. Ah mama....Daffa kesambet setan apa sih ?" rengekku yang mulai takut dengan sikapnya Daffa sambil memanggil nama seseorang yang tak lain adalah mama Daffa.


Ya aku memang memanggil mama Daffa dengan sebutan mama Cecil. Aku memang menganggap mama Cecil sebagai mamaku karena beliau sangat menyayangiku seperti beliau menyayangi Daffa. Bukan hanya mama Cecil, papa Andre yang merupakan papanya Daffa pun sangat menyayangiku. Mereka sudah menganggap aku seperti putrinya sendiri. Maklumlah sejak SMP aku lebih sering tinggal dengan Daffa dan orangtuanya.


Sedangkan adikku Renata, dia lebih senang tinggal bersama om dan tanteku. Kalau abangku, dia ikut bersama papaku untuk membantunya mengurus perusahaan keluarga kami. Dan kalau mamaku....Ah mama sudah tenang di surga.


Ya mamaku meninggal karena penyakit yang dideritanya. Jadi dari kecil hingga sekarang yang merawat aku, adik dan abangku adalah papa seorang. Meskipun cuma papa, tapi kami tak pernah kehilangan kasih sayang orangtua. Papa sangat memperlakukan kami dengan istimewa dan selalu menuruti apa yang kami inginkan. Papa selalu berusaha membuat kami di sela-sela kesibukan akan pekerjaannya.


Oke balik lagi ke mama Cecil dan papa Andre. Mereka merupakan sahabat baik orangtuaku dulu waktu SMA. Jadi saat papaku kembali dipertemukan dengan sahabatnya membuat papa sangat bahagia.


Dulu ketika papa berpergian keluar kota maupun keluar negeri, aku, bang Hendra dan Renata sering dititipkan pada mama Cecil. Tapi yang paling sering dititipkan adalah aku karena setelah Renata kelas 5 SD, dia lebih memilih dengan om dan tante kami.


Sedangkan bang Hendra yang waktu itu sudah tamat SMA harus ikut dan membantu papa. Aku bahagia memiliki papa, bang Hendra, Renata, mama Cecil, papa Andre dan terlebih pada Daffa. Daffa yang selalu menjaga dan melindungiku dari apapun. Selalu ada untukku dan selalu menghiburku saat sedih. Aku bahagia memiliki mereka semua dihidupku.


Balik lagi ke Daffa yang masih menatapku. Melihat aku dengan ekspresi yang takut membuatnya tersenyum. Aku pun menyerhitkan dahi bingung melihat Daffa yang tersenyum dan aku pun semakin takut dengannya.

__ADS_1


"Ya Tuhan....kenapa ya si Daffa ? Jangan-jangan benar dia kesambet setan. Padahal tadi dia baik-baik aja, kok sekarang jadi aneh ya ? Aku takut....aku takut melihat Daffa...." gumamku ketakutan. Lalu aku pun terkejut karena melihat Daffa tertawa.


"Daffa kenapa kamu tertawa ? Apakah kamu baik-baik saja ?" tanyaku ragu-ragu. Tapi Daffa tak menjawabku dan hanya tertawa. Hal itu semakin membuatku benar-benar takut.


"Daffa lepasin aku....Lepasin aku Daffa ! Kumohon lepaskan tanganku. Aku takut....Aku takut melihatmu" ucapku ketakutan dan mulai menitikkan air mata.


Melihatku yang mulai menangis, Daffa pun berhenti tertawa. Kini terlihat diwajahnya kekhawatiran saat melihatku menangis.


"Diana, hei....mengapa kamu menangis ?Jangan menangis Din....Maaf, tadi aku hanya bercanda doang kok" bujuk Daffa agar aku berhenti menangis.


Namun bukannya berhenti, aku malah semakin menangis dan membuatnya semakin khawatir dan merasa bersalah. Lalu Daffa menghapus air mataku dengan ibu jarinya dan memelukku dengan erat sambil mengusap punggungku agar lebih tenang.


"Maafkan aku ya Din....Jangan menangis ya. Maaf aku tadi hanya bercanda. Maaf...." mohon Daffa.


"Aku....hiks....hiks....kesal sama kamu" ucapku sambil menangis. Lalu Daffa semakin mengeratkan pelukannya dan mengelus lembut kepalaku.


"Kamu jahat....hiks....hiks....kamu udah buat aku takut....hiks....hiks....Kamu tahu kan betapa khawatirnya aku sama kamu....hiks....hiks...." tangisku sambil memukul lengan Daffa.


"Maafin aku ya....maafin aku ya sayang...." ucap Daffa menyesal. Aku terkejut saat Daffa memanggil aku sayang. Aku pun berhenti menangis dan menatap Daffa.


"Sayang ?" ucapku bingung dan melepaskan pelukan Daffa.


"Kenapa dilepas sih Din ?" ucap Daffa bingung.


"Tadi kamu panggil aku apa ? sayang ?" tanyaku sambil menyerhitkan dahi bingung.


"Iya memangnya kenapa ?" ucap Daffa polos.


"Apa maksud kamu memanggilku seperti itu ?" tanyaku penasaran.


" Ya karena aku memang sayang sama kamu. Kamu kan memang gadis kesayangan aku" jawab Daffa.


Aku pun semakin bingung dengan Daffa. Aku tau dia memang sayang padaku, tapi apa maksudnya bilang aku adalah gadis kesayangannya..? Daffa tak pernah seperti ini sebelumnya.


"Diana sayang....maaf ya kalau aku udah buat kamu bingung. Maaf kalau aku belum bisa menjelaskan padamu. Tapi yakinlah suatu saat nanti aku pasti akan menjelaskannya padamu. Apakah kamu bisa bersabar menunggu saat yang tepat itu..?" ucap Daffa sambil tersenyum.


"Mmm....baiklah aku akan menunggunya" balasku.


"Makasih sayang...." ucap Daffa.

__ADS_1


__ADS_2