
Aku tersenyum sambil melihat ke wajah gadisku yang telah terlelap tidur. Aku mengelus lembut pipinya. Aku tersenyum mengingat ketika aku menyuruh Renata untuk berhenti menggoda Diana.
*Flashback On*
“Hehehe, maaf bang. Pasti kak Diana merasa menang nih karena dibelain sama suaminya” sindir Renata.
“Biarin wlee..” balas Dianaku sambil menjulurkan lidahnya mengejek Renata.
“Iya, iya deh. Senang banget sih. Mentang-mentang di belain sama suaminya, seenaknya mengejek aku” ucap Renata kesal. Kulihat gadisku ini malah tertawa melihat Renata kesal. Sedangkan aku dan yang lainnya menggeleng-gelengkan kepala melihat pertengkaran mereka.
“Tapi ngomong-ngomong si Diana kok gak mengelak ya disebut sebagai istri Daffa? Atau jangan-jangan, kamu senang ya disebut sebagai istri Daffa” goda bang Hendra.
“Iya ya, kok Diana gak mengelak ya.? Apa gadisku ini senang kalau jadi istriku?” batinku. Lalu aku melihat pipi gadisku mulai merah merona.
“Kode keras tuh Daffa. Jangan lama-lama, Diana udah gak sabar tuh buat jadi istrimu” ucap bang Hendra.
Aku kembali melihat ke arah Dianaku. Kenapa dia gak protes ya saat di bilang istriku? Apa jangan-jangan benar yang dibilang sama bang Hendra, kalau Diana ingin menjadi istriku. Ah, senangnya hatiku. Aku pun melihat gadisku menunduk malu.
“Ah manis sekali kamu sayang..” batinku.
“Iya bang tenang aja” sahutku.
“Gak lama lagi, aku bakal jadiin Diana istriku” lanjutku. Kemudian aku melihat gadisku terkejut mendengar ucapanku sambil mendongakkan wajahnya dan menyerhitkan dahi bingung.
“Hahaha..maafkan aku sayang. Aku belum bisa memberitahumu sekarang. Bersabarlah saynag, sebentar lagi kamu akan mengetahuinya dan akan menjadi milikku seutuhnya” batinku puas.
*Flashback Off*
Lalu aku merapikan anak rambut gadisku yang berantakan karena diterbangkan oleh angin. Aku menatapnya dalam. Dia begitu cantik kalau sedang tidur. Kemudian aku teringat belum minta izin sama orangtuaku untuk menginap. Lalu aku mengirim pesan kepada mereka. Setelah itu, aku mengecup kening Dianaku lama.
“Mimpi indah ya sayang..Aku mencintaimu” batinku. Lalu mengelus lembut rambutnya dan membenarkan posisi tidur agar merasa nyaman. Setelah itu mempererat pelukanku pada gadisku dan mulai terlelap menyusulnya ke alam mimpi.
Daffa Merlin Putra POV (OFF)
Keesokan paginya, aku pun terbangun dari tidurku. Merasa seperti ada sesuatu disamping,aku pun menoleh dan melihat wajah Daffa yang sedang terlelap tidur. Aku pun tersenyum sambil menatapnya. Lalu entah keberanian darimana, aku menyentuh kedua matanya dengan jari-jariku. Lalu turun ke hidung dan bibirnya. Aku tersenyum sambil memandanginya. Rasanya aku ingin mencium bibirnya. Ya Tuhan, kenapa aku jadi mesum begini? Aku pun menggeleng-gelengkan kepalaku dan menarik tanganku dari wajahnya. Kemudian aku dikejutkan dengan suara Daffa.
“Sudah puas memandangi dan menyentuh milikmu sayang..?” ucap Daffa dengan suara serak.
“Da-Daffa..” balasku kaget sekaligus gugup.
“Ka-Kamu udah bangun?” tanyaku.
“Ya udahlah sayang. Jadi yang ada di depanmu dan sedang menyapamu ini memangnya siapa?” jawab Daffa.
“Kapan kamu bangun?” tanyaku gugup.
“Sejak kamu asyik memandangi dan menyentuh milikmu sayang..” jawab Daffa sambil tersenyum manis. Aku terkejut mendengar ucapan Daffa dan menunduk malu karena ketahuan memandangi wajahnya. Lalu dia mengangkat daguku.
“Sayang, kamu tidak perlu malu begitu. Kamu kan hanya memandangi milikmu” ucap Daffa sambil tersenyum.
“Maksud kamu apa Daffa?” tanyaku bingung dengan ucapan Daffa.
“Kamu mau tahu apa maksudnya sayang..?” ucap Daffa dan aku balas dengan menganggukkan kepala. Daffa pun menarikku agar lebih dekat dengannya. Aku kaget dan jantungku berdetak kencang. Lalu dia memegang tangan kananku dan menuntun ke wajahnya.
“Mata ini..” Daffa menuntun tanganku ke matanya sambil memejamkan kedua mata. Lalu turun ke hidungnya.
“Hidung ini..”
“Bibir ini..” kemudian tanganku berada di bibir Daffa.
Hal itu membuat jantungku semakin berdetak kencang dan darahku mendesir. Lalu dia membuka kedua matanya dan mengunci pandanganku. Lalu tanganku kini berada di dadanya.
__ADS_1
“Bahkan hati dan detakan jantung ini adalah milikmu sayang” ucap Daffa. Nafasku tercekat.
“Tidakkah kamu mendengar suara detak jantungku hanya memanggil namamu sayang..” lanjut Daffa. Aku merasa tubuhku melemas dan jantungku semakin berdetak gak karuan.
“Daffa..” panggilku.
“Ya sayang..” balas Daffa.
“Kenapa kamu mengatakan seperti itu..?” tanyaku gugup.
“Kerena aku hanya milikmu sayang dan kamu pun milikku. Tak seorang pun yang bisa mengambil aku dari kamu dan begitupun sebaliknya. Dan selamanya akan begitu” jawab Daffa tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan Jelita, bukan…” ucapku yang terhenti saat jari telunjuk Daffa ada di bibirku.
“Sayang, dengarkan aku. Suatu saat nanti kamu pasti akan mengetahuinya. Kamu masih mau bersabar menantinya kan..?” tanya Daffa sambil menatapku lembut. Aku yang terhipnotis dengan tatapan lembutnya pun langsung mengangguk.
“Iya Daffa” balasku. Lalu dia pun tersenyum dan memeluk tubuhku erat. Aku pun membalas pelukannya. Setelah itu aku yang ingin beranjak dari ranjang, langsung ditahan oleh Daffa dan membuat aku menoleh dan menatapnya bingung.
“Ada apa Daffa..?” tanyaku.
“Kamu mau kemana sayang..?” tanyanya balik.
“Aku mau mandi. Kan kita mau sekolah” jawabku.
“Kita disini saja sayang. Hari ini kita gak usah ke sekolah” ucap Daffa yang membuatku semakin bingung dan bertanya.
“Loh, emangnya kenapa Daffa..?” tanyaku penasaran.
“Aku mau hari ini bersama kamu” jawab Daffa.
“Tapi kan..”
“Gak ada tapi-tapian sayang. Aku udah izin sama orangtua kita kok. Lagian hari ini kan aku udah janji mau menemanimu jalan-jalan. Udah gitu, malamnya kita kan mau makan malam di rumah Keisha” ucap Daffa.
“Ya udah kalau gitu, ayo kita tidur kembali” ucap Daffa.
“Untuk apa Daffa..? Ini kan udah pagi. Katanya kamu mau menemani aku jalan-jalan” balasku menolak ajakan Daffa untuk kembali tidur.
z
“Aku masih mengantuk sayang. Kita jalan-jalannya agak siang aja sekitar jam 10” ucap Daffa. Aku pun menghela nafas dan kembali tidur disampingnya. Dia pun memeluk erat tubuhku dan memperbaiki posisi tidurku yang menghadap dia. Daffa tersenyum dan mengecup keningku.
Cup...
Hatiku menghangat saat Daffa mengecup keningku. Aku merasakan rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku. Pipiku mulai berubah menjadi merah merona.
“Kalau lagi merah merona begini, kamu jadi semakin cantik dan sangat menggemaskan sayang..” goda Daffa sambil mencubit kedua pipiku gemas. Aku pun tersenyum malu. Lalu Daffa membawaku kembali dalam pelukannya. Hingga kepalaku terbenam di dadanya.
“Tidurlah lagi sayang..” ucap Daffa sambil mengecup puncak kepalaku. Tak lama kemudian kami berdua pun kembali terlelap.
Daffa Merlin Putra POV (ON)
“Hoammz..” Aku terbangun dari tidurku. Kulihat ke sebelah, ternyata gadisku masih terlelap dalam tidurnya. Lalu aku memposisikan badanku menghadap dia dan mentap wajahnya. Aku terpesona dengan kecantikan gadisku. Meskipun sedang tidur, kecantikannya tidak berkurang. Kemudian gadisku menggeliat dalam tidurnya dan perlahan-lahan membuka mata. Setelah itu dia menatapku sambil tersenyum.
“Daffa, kamu sudah bangun?” tanyanya.
“Iya sayang..” jawabku tersenyum.
“Apakah udah lama..?” tanyanya lagi.
“Belum sayang, baru beberapa menit yang lalu” jawabku.
__ADS_1
“Gimana tidurmu sayang..?” tanyaku.
“Sangat nyenyak” jawabnya.
“Lalu kamu sendiri gimana Daffa..?” tanyanya balik.
“Aku juga nyenyak sayang, Apalagi karena ada kamu disampingku saat tidur” jawabku. Ku lihat pipi gadisku ini mulai merah merona dan mengelus pipinya lembut.
“Makin cantik aja sih sayangku ini..” godaku.
“Daffa..” balas gadisku malu-malu sambil menundukkan kepalanya. Lalu aku pun terkekeh melihatnya.
“Kamu sungguh menggemaskan sayang..” batinku.
“Ya udah kalau begitu, mending sekarang kita mandi” ucapku.
“Iya Daffa” balas gadisku.
Lalu dia beranjak dari ranjang, namun aku menahan lengannya. Gadisku menyerhitkan dahinya bingung. Lalu aku mendekat padanya kemudian mengecup kening, pipi dan bibirnya. Bisa kulihat dia terkejut dan pipinya kembali merah merona. Kemudian dia segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya di lemari dan menuju ke kamar mandi.
Aku pun beranjak dari ranjang dan menuju lemari untuk mengambil pakaianku. Pasti kalian bingung kan, kenapa pakaianku bisa ada disini? Itu karena aku sering menginap disini begitupun sebaliknya dengan gadisku. Pakaian gadisku pun ada di kamarku dan begitu juga dengan kamar mandinya yang ada dua. Setelah itu aku pun masuk ke dalam kamar mandi satunya.
Selesai mandi, aku melihat ternyata gadisku telah siap dan sedang berhias. Aku melihat dia memoleskan tipis bedak ke wajahnya dan lipstik ke bibirnya. Setelah itu menyisir dan merapikan rambutnya. Lalu aku pun menghampirinya.
“Udah selesai sayang..?” tanyaku.
“Udah Daffa” jawabnya. Lalu aku melihat gadisku bangkit berdiri lalu mengambil sisir dan merapikan rambutku. Setelah itu, aku menggandeng tangan gadisku dan keluar dari kamar menuju ruang keluarga.
Daffa Merlin Putra POV (OFF)
Aku dan Daffa pun keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Sesampainya disana, kami melihat papa, papa Andre, mama Cecilia, bang Hendra dan Renata ada disana sedang mengobrol. Kami pun menghampiri mereka.
“Pagi semua” sapaku. Lalu mereka semua menoleh ke kami.
“Pagi anak-anak mama yang cantik dan ganteng..” balas mama Cecilia.
“Wah, pasangan suami istri ini sudah bangun rupanya..” goda Renata.
Aku pun melotot dan menatap tajam Renata, adikku. Bukannya minta maaf, dia malah tertawa dan menjulurkan lidah mengejekku. Sedangkan Daffa hanya tersenyum. Bukannya membantuku, dia hanya tersenyum saja. Ishk Daffa ngeselin banget sih. Lalu aku pun mencubit lengannya.
“Aww..” rintih Daffa kesakitan.
“Kok aku dicubit sih sayang? Aku kan gak ada salah apa-apa...” protes Daffa.
“Apa? Dia bilang gak salah apa-apa? Dia itu hanya tersenyum saat Rena menggodaku. Bukannya membelaku” batinku kesal.
“Kamu bilang gak salah apa-apa..?” tanyaku kesal.
“Iya sayang, aku kan gak salah. Emangnya aku salah apa coba..?” tanyanya polos.
“Ya Tuhan, jangan pasang wajah polosmu itu Daffa. Ngeselin banget” batinku kesal.
“Kamu itu ngeselin banget ya..” ucapku semakin kesal.
“Ngeselin kenapa sih sayang..?” tanya Daffa penasaran. Lalu aku melihat Renata tertawa. Aku pun menoleh pada Renata sambil menyerhitkan dahi bingung.
“Kenapa ketawa? Emang ada yang lucu..?” tanyaku ketus. Bukannya menjawab pertanyaanku, adikku ini malah semakin tertawa. Lalu Renata menolek kepada Daffa.
“Bang Daffa mau tahu kenapa kak Diana kesal dan mencubit abang..?” ucap Renata sambil tersenyum misterius.
__ADS_1
“Emangnya kenapa adik cantik..?” tanya Daffa penasaran.