
“Hoam..udah pagi ternyata..” gumamku pelan mulai membuka mata saat sinar mentari mengintip lewat jendela.
Lalu aku mengalihkan pandanganku pada sosok lelaki tampan yang sedang tidur. Aku pun tersenyum melihatnya. Aku sangat senang memandangi wajahnya saat ini. Meskipun sedang tidur, tidak mengurangi ketampanannya. Malah kadar ketampanannya semakin meningkat. Aku pun terkekeh pada diriku sendiri yang sedang memuji Daffa. Lalu aku mengelus lembut pipinya dan menatap dia dalam.
Dia ada Daffa, sahabatku. Sahabat terbaik yang kini mulai aku cintai. Mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati. Kemudian aku perlahan-lahan bangun agar tidak membangunkannya. Lalu aku beranjak, namun sebelum itu aku mengecup keningnya. Setelah itu menuju kamar mandi lalu mencuci muka dan menggosok gigi. Lalu aku keluar dari kamar menuju dapur. Sesampainya di dapur, aku melihat sahabat-sahabatku sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Aku pun menghampiri dan menyapa mereka.
“Pagi sahabat-sahabatku..” sapaku. Mereka pun menoleh padaku.
“Pagi juga Diana..” balas mereka serentak.
“Lagi pada ngapain nih?” tanyaku.
“Lagi menyiapkan sarapan pagi untuk kita” jawab Keisha.
“Gimana tidurmu, Diana? Nyenyakkah?” tanya Yeslin sambil menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti. Aku pun menyerhitkan dahi bingung.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Hei..aku bertanya padamu, apakah tidurmu sangat nyenyak tadi malam? Kenapa kamu malah menanyaku balik?” protes Yeslin.
“Ya tidurku nyenyak. Kenapa bertanya seperti itu samaku?” tanyaku kembali. Belum sempat Yeslin menjawab, Keisha malah menggodaku.
“Ya jelaslah Diana tidurnya nyenyak, soalnya kan dia temani sama pelindungnya, pangeran Daffa” goda Keisha. Bukannya tersipu malu seperti biasa, aku malah tambah bingung.
“Iya kamu benar Keisha, pangerannya yang posesif itu akan selalu siap menjaga dan melindungi sang putri” timpal Anna tersenyum.
“Benar sekali. Bahkan pangerannya tidak suka miliknya diganggu oleh siapapun” kini Mutia juga ikut-ikutan.
Aku semakin menyerhitkan dahi bingung dengan ucapan para sahabatku. Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka pagi ini aneh semua? Kenapa mereka malah menggodaku? Mereka juga mengatakan bahwa Daffa adalah pangeran dan aku adalah putri. Tak lupa mereka mengatakan bahwa aku adalah milik Daffa dan tidak suka jika ada yang mengangguku. Ada apa ini sebenarnya? Bukankah kemarin mereka menuruhku untuk tidak jatuh cinta samanya karena takut aku akan terluka? Lalu kenapa sekarang mereka malah begini? Aneh..Ini benar-benar aneh.
Tak lama kemudian aku mendengar para sahabatku tertawa.
“Hahaha..hahaha..hahaha..”
Aku pun semakin bingung dan menyerhitkan dahi melihat sikap mereka yang benar-benar aneh.
“Kalian semua kenapa? Kok hari ini kalian aneh banget?” tanyaku penasaran. Mereka hanya menatapku sambil tersenyum.
“Memangnya kita semua kenapa Diana?” tanya Keisha polos.
“Kita gak apa-apa kok dan kita gak aneh, Diana sayang..” timpal Yeslin sambil tersenyum.
“Sekarang beritahu kami dimana dari kami yang aneh menurutmu?” tanya Anna.
“Ya sikap kalian yang aneh hari ini. Kenapa aku bilang aneh, ya itu karena kalian menggodaku dan mengatakan abahwa aku adalah milik Daffa. Padahal beberapa waktu yang lalu kalian mengatakan untuk tidak jatuh cinta pada Daffa. Tapi sekarang...” jawabku menjelaskan pada mereka.
__ADS_1
“Iya sih kami pernah mengatakan itu kepadamu, Diana. Tapi sekarang ini kami mendukungmu untuk bersama dengan Daffa” tutur Keisha.
“Kerena menurut kami, kamu memang cocok dan pantas untuk bersanding dengan Daffa. Apalagi kalau itu sampai ke jenjang pernikahan” timpal Anna. Mendengar pernyataan mereka membuatku semakin bingung dan penasaran.
“Eh?”
“Kami tahu kamu pasti bingung sekarang kan?” tanya Mutia dan aku pun mengangguk.
“Intinya kami mendukung hubunganmu dengan Daffa. Kami tidak akan marah lagi dan melarangmu untuk jatuh cinta sama Daffa. Kami yakin dia bisa membahagiakanmu. Tapi kalau kamu tanya apa alasan kami, maaf kami tidak bisa memberitahunya. Kami tidak memiliki hak untuk itu dan yang berhak itu adalah Daffa. Untuk itu bersabarlah Diana karena kamu akan mengetahuinya sebentar lagi” jelas Yeslin.
“Maukah kamu bersabar untuk itu Diana?” tanya Keisha.
“Aku sebenarnya bingung, apa yang sedang terjadi saat ini. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa menunggu sampai saat itu tiba” batinku pasrah.
“Iya, aku akan menunggunya” jawabku sambil mengangguk pasrah. Mereka pun membalas sambil tersenyum padaku.
“Ya udah kalau begitu bantú kami menyajikan makanan dan minuman ini ke meja makan” ajak Anna. Lalu aku segera membantu mereka. Setelah selesai menyajikan sarapan pagi, aku pun pamit untuk membangunkan Daffa.
“Guys, aku ke kamar dulu ya. Aku mau bangunin Daffa dulu..” ucapku.
“Ya udah sana gih bangunin Daffa. Kan cuma kamu yang bisa bangunin dia. Aku juga mau bangunin yang lain” balas Keisha dan aku pun mengangguk dan bergegas menuju ke kamar.
Sesampainya di kamar, aku melihat Daffa masih tertidur pulas. Lalu aku pun duduk disampingnya sambil memandangi wajah Daffa. Aku tersenyum dan menyentuh wajahnya, Tak lama kemudian, dia menggeliat dalm tidurnya lalu terbangun. Ketika melihatku, Daffa pun tersenyum manis dan membuat jantung berdetak kencang. Aku menarik tanganku dari wajahnya. Namun saat aku hendak menariknya, Daffa langsung menahan dan mencium lembut tanganku.
“Pagi sayang..” sapa Daffa ceria.
“Pa-Pagi Daffa” balasku gugup. Lalu Daffa bangun dan merubah posisinya yaitu duduk sambil menatapku.
“Udah bangun sayang?” tanya Daffa tersenyum.
“Udah Daffa. Aku udah daritadi bangun. Malah aku tadi ikut membantu menyiapkan sarapan. Setelah sarapan selesai dibuat, aku balik kesini buat bangunin kamu” jawabku.
“Terus kenapa gak bangunin aku sih sayang?” tanya Daffa kesal dan aku pun tertawa melihatnya.
"Kok malah ketawa sih..” protes Daffa.
“Maaf. Tadi aku gak bangunin kamu karena pulas banget tidurnya. Aku gak tega bangunin kamu” jelasku. Daffa pun mengangguk paham.
“Ya udah kamu cici muka dan gosok gigi sana. Biar kita turun ke bawah untuk sarapan” pintaku.
“Baiklah sayang. Kalau gitu aku ke kamar mandi dulu ya Daffa...” ucap Daffa beranjak dari ranjang. Namun sebelum Daffa pergi ke kamar mandi, lagi-lagi dia membuat jantungku berdetak kencang.
“Kamu tunggu disini ya sayang” ucap Daffa kemudian mendekat ke arahku dan mencium bibirku sekilas.
“Daffa..” teriakku kesal.
__ADS_1
“Apa sayang..?” tanya Daffa tersenyum.
“Kamu itu ngeselin banget ya..” ucapku kesal.
“Emang aku kenapa?” tanya Daffa polos.
“Nih anak ngeselin banget ya. Pura-pura polos dan gak tahu apa-apa pula tuh. Gak tahu apa yang dia lakukan itu udah buat jantungku berdetak gak karuan” batinku kesal. Tak lama kemudian, Daffa pun keluar dari kamar mandi.
“Gimana udah selesai?” tanyaku saat melihat Daffa.
“Udah sayang” jawab Daffa berjalan menghampiriku sambil tersenyum lembut padaku.
“Ya udah kalau begitu ayo kita turun menemui yang lain. Pasti mereka sudah menunggu kita di meja makan” ajakku.
“Baiklah sayang” balas Daffa sambil menggandeng tanganku dan kami keluar dari kamar. Lalu turun dari lantai dua menuju meja makan. Sesampainya di meja makan ternyata yang lain sudah menunggu kami berdua. Kami pun mengahampiri mereka.
“Selamat pagi semua” sapa Daffa.
“Pagi..” balas mereka serempak.
“Nah, ini pasangan romantis yang ditunggu-tunggu. Akhirnya mereka turun juga” ucap Raditya.
“Pasangan suami istri yang benar-benar romantis” timpal Mutia.
“Bener banget. Mereka benar-benar romantis” ucap Keisha.
“Akh..jadi iri deh aku melihatnya” timpal Joshua. Mendengar ucapan mereka membuatku jadi heran dan bingung. Karena mereka benar-benar aneh hari ini.
“Sudah-sudah..Kalian gak lihat apa kalau sayangku ini heran dan bingung melihat sikap kalian” ucap Daffa. Kini aku beralih menatap Daffa meminta penjelasan.
“Kenpa kamu menatapku seperti itu sayang?” tanya Daffa polos.
“Aku tahu kamu pasti mengerti apa maksudku. Jadi, jangan berpura-pura seperti itu Daffa” jawabku sambil menatapnya tajam. Lalu aku beralih sambil menatap tajam sahabat-sahabatku. Dapat aku lihat bahwa mereka terkejut saat aku menatap mereka tajam.
“Jadi, diantara kalian siapa yang bisa menjelaskan keanehan yang sedang terjadi saat ini? tanyaku. Mereka tidak menjawab dan hanya diam. Aku pun menghela nafas lalu beralih menatap Daffa.
“Daffa, aku mohon jelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Kalian atahu, aku benar-benar bingung dengan semua ini. Aku gak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Tolong beritahu aku” ucapku frustasi. Lalu Daffa mengubah posisiku hingga berhadapan dengannya.
“Diana, maafkan kami semua ya..Aku tahu kamu pasti benar-benar bingung dan butuh penjelasan atas semua yang terjadi. Tapi ini belum saatnya kamu mengetahui semuanya. Jadi kumohon bersabarlah sedikit. Karena sebentar lagi kamu akan mengetahui semua” balas Daffa sambil menangkup kedua pipiku dan tersenyum lembut.
“Maukah kamu bersabar sedikit lagi Diana sayang?” tanya Daffa sambil menatapku lembut. Aku membalas menatap Daffa dan mencari sebuah kebohongan dimatanya. Namun yang kutemui hanya pancaran kejujuran dari matanya.
“Iya aku mau” jawabku sambil tersenyum manis. Lalu Daffa langsung memelukku.
“Terima kasih sayang..Terima kasih karena kamu sudah mau bersabar untuk menunggu” ucap Daffa. Aku pun mengangguk.
__ADS_1