I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 19


__ADS_3

“Kamu kenapa nak..? Kenapa wajahmu tiba-tiba menjadi sedih..?” tanya mama khawatir.


“Iya nak, kamu kenapa..? Cerita dong sama papa dan mama” timpal papa.


“Begini ma, pa..” jawabku sambil menceritakan kejadian  yang tadi.


*Flashback on*


“Lalu apakah kamu mencintaiku, Daffa..?”  tanya gadisku. Aku pun terkejut dan kemudian terdiam.


“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya sekarang..? Tapi kan aku udah janji sama mama dan papa untuk tidak memberitahunya sekarang tapi nanti setelah kami lulus SMA. Aduh, apa yang harus aku lakuka..?” batinku bingung.


 “Daffa..” panggil Dianaku dan aku pun menoleh padanya.


Deg…


Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca. Ya Tuhan, apa gadisku akan menangis..? Jangan menangis sayang. Apa yang harus aku lakukan..? Kenapa kamu berpura-pura tegar, kuat dan berusaha menahan air matamu yang mau keluar itu..?


“Maaf Din, aku..” balasku. Namun belum sempat melanjutkan ucapanku, Diana langsung menyela.


“Iya aku udah tahu kok. Kamu mencintai Jelita kan..? Jadi gak mungkin kamu mencintaiku. Karena kamu hanya menganggapku sahabat dan akan selalu begitu” ucap Dianaku.


“Apa..? Apa maksudmu, Diana? Kenapa kamu mengatakan kalau aku masih mencintai Jelita? Ya ampun, aku lupa memberitahukan bahwa aku dan Jelita gak ada hubungan apa-apa lagi. Pasti kamu sedang salah paham sekarang” batinku sedih. Lalu saat aku mau menjelaskan padanya, Diana langsung pergi meninggalkanku. Aku pun merutuki kebodohanku.


 “Maafkan aku, Diana..Mungkin ini belum waktunya kamu mengetahui segalanya. Tapi percayalah, sebentar lagi kamu akan mengetahuinya” gumamku sangat pelan.


Flasback off*


“Begitulah ma, pa ceritanya. Daffa jadi bingung sekaligus sedih” ucapku sedih.


“Ya sudah nak, kamu katakana saja yang sebenarnya pada Diana” ucap papa yang membuat


aku menjadi kaget.


“Aku gak salah dengar kan pa..? Papa gak bercanda kan?” tanyaku antusias sekaligus senang.


“Enggak dong. Papa serius” jawab papa.


“Terima kasih ya pa, ma” ucapku bahagia.


“Eh tapi kenapa papa mengizinkan Daffa untuk memberitahukan semuanya pada Diana..?


Bukannya papa bilang, nanti setelah lulus SMA baru Daffa boleh bilang” tanyaku penasaran.


“Ya karena kamu dan Diana ternyata saling mencintai, ya papa izinkan. Kan dengan begitu, kami dan papa Julius dan Hendra bisa langsung menyiapkan pernikahan kalian” jawab papa.


“Apa menikah..? Jadi itu seriusan pa..?” teriakku kaget sekaligus senang.


“Gak salah dengar aku kan? Aku akan Diana akan menikah? Senangnya..Akhirnya aku bisa menikah dengan gadisku” batinku senang.


“Iya Daffa, kami semua sudah sepakat untuk menikahkan kalian setelah lulus SMA nanti. Gimana kamu setuju kan?” ucap mama.


“Iya ma, pa..Daffa setuju kok. Setuju banget malah” balasku bahagia.


“Tapi pa, ma..Gimana Daffa nanti setelah lulus SMA? Daffa kan harus kuliah terus bekerja. Kalau Daffa gak bekerja, nanti istri dan anak Daffa mau dikasih makan apa?” ucapku panik. Lalu papa dan mama pun tertawa melihatku. Aku menyerhitkan dahi bingung.


“Kok malah tertawa sih pa, ma..?” tanyaku penasaran.

__ADS_1


“Hahaha, Kamu gak usah panik begitu anakku. Nanti setelah kamu lulus SMA, kamu kan yang akan meneruskan perusahaan papa. Jadi otomatis kamu akan bekerja disana” jawab papa sambil tersenyum.


“Tapi kan pa, Daffa gak tahu apa-apa soal bisnis dan perusahaan?” ucapku khawatir.


“Tenang saja, nanti papa yang akan membantu kamu. Papa akan menuntun dan membimbing kamu sampai benar-benar bisa menjalankan perusahaan kita sendiri tanpa bantuan papa” balas papa.


“Baiklah kalau begitu, terima kasih ya pa..” ucapku lega sambil memeluk papa.


“Papa aja nih yang dipeluk? Mama gak?” ucap mama cemberut. Lalu aku pun tersenyum dan beralih ke mama dan memeluknya.


“Terima kasih juga ya ma..” ucapku.


“Iya anakku” balas mama.


“Oh iya, kapan nih kamu akan memberitahukan hal ini sama Diana?” tanya mama.


“Nanti saat liburan di Bandung di vila keluarganya Keisha” jawabku.


“Daffa juga rencananya disana akan melamar Diana” tambahku.


“Wah rencana yang bagus nak..” ucap mama senang.


“Daffa mau kalian bersama papa Julius, bang Hendra dan Renata beserta kakek dan nenek ada disana nanti. Bisa kan ma, pa..” ucapku.


“Tenang saja, kalau soal itu serahin aja ke mama dan papa” balas mama.


“Terima kasih ya ma, pa..” ucapku tulus.


“Iya sama-sama anakku” balas  mama dan papa serentak.


“Udah sana ke kamar, kamu siap-siap gih. Kan sebentar lagi kita akan kerumah Diana untuk makan malam” pinta mama. Lalu aku pun mengangguk dan segera pergi ke kamar untuk bersiap-siap.


Setelah Daffa mengantarkan aku pulang, aku langsung masuk ke dalam rumah. Saat aku masuk, aku melihat papa, bang Hendra dan Renata sedang asyik mengobrol. Lalu aku pun menghampiri mereka.


“Aku pulang..” ucapku ceria. Lalu aku pun mencium punggung tangan kanan papa.


“Kok baru pulang Din?” tanya bang Hendra.


“Iya biasalah bang, jalan dulu sama Daffa” jawabku.


“Jalan-jalan kemana kak?” tanya Renata.


“Taman sekolah” jawabku.


“Ooh..” balas Renata.


“Ya udah kalau begitu, Diana ke kamar dulu ya. Mau gnati pakaian terus bantuin bibi untuk menyiapkan makan malam” pamitku.


“Ya udah sana gih” balas bang Hendra.


“Masak makanan yang enak ya sayang..” ucap papa.


“Beres pa..” balasku.


“Kak, aku juga ikut ya membantu kakak memasak..” ucap Renata.


“Iya adikku” balasku sambil mengacak-acak rambutnya gemas.

__ADS_1


“Aish kakak, rambutku jangan diacak-acak. Kan jadi berantakan..” protes Renata.


“Maaf, maaf adikku sayang” cengirku.


“Ya udah sana kakak ganti pakaian. Renata tunggu di dapur ya..” balas adikku. Aku pun mengangguk. Lalu aku pun beranjak ke kamarku. Sesampainya di kamar, aku pun langsung menghempas tubuhku di ranjang.


“Huft..”


“Daffa” gumamku pelan.


“Daffa, maafkan aku. Maaf karena aku mencintaimu” ucapku sambil memejamkan mata.


“Seharusnya aku sadar, kalau kamu itu mencintai orang lain. Kamu gak mungkin mencintaiku. Aku tahu, kamu hanya menganggapku sahabat. Tapi kalau boleh jujur, aku gak bisa bohongi perasaanku sendiri. Dan aku takut kehilanganmu. Aku sangat takut Daffa. Karena kamu adalah kebahagianku. Hanya bersamamu saja aku merasa nyaman. Meskipun kamu sering menjahili atau menggodaku, aku tak pernah bisa marah. Karena aku mencintaimu. Ya, aku memang sudah jatuh cinta padamu” batinku. Lalu aku pun bangkit dari ranjang dan segera mengganti pakaianku. Kemudian segera menuju dapur.


“Kakak lama banget sih..” gerutu Renata.


“Iya, iya maaf..” balasku tersenyum.


“Neng, bahan-bahannya sudah bibi siapkan. Jadi, kita bisa memasaknya sekarang” ucap bibi Inem.


“Iya bi terima kasih..” balasku sambil tersenyum.


“Kak, hari ini kita kan memasak menú apa..?” tanya Renata.


“Kita akan memasak ayam goreng, telur balado, tumis kangkung, tempe dan tahu goreng dan soto ayam” jawabku.


“Oke deh kak. Ayo kita mulai memasak” ucap Renata semangat. Aku pun mengangguk. Lalu kami pun memasak semua menú makanan untuk nanti malam. Dua jam kemudian, menú makanan untuk makan malam pun telah selesai dimasak.


“Akhirnya, semua siap” teriakku kegirangan.


“Aduh kak, gak usah pakai teriak juga kali” omel Renata.


“Hehehe, sorry” cengirku.


Ya sudah sana gih kakak mandi terus dandan yang cantik. Kan bentar lagi mama, papa dan suami kakak akan datang” ucap Renata.


“Iskh apaan sih kamu..Suami, suami..Emangnya kakak udah nikah apa” balasku kesal.


“Ya kakak kan emang udah nikah sama bang Daffa” ucap Renata santai.


“Istri darimana sih Ren. Orang kakak sama Daffa itu Cuma sahabatan doang” balasku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.


“Bodo amat. Pokoknya Rena akan menganggap kakak dan bang Daffa sebagai pasangan suami istri. Karena Rena berharap kalian benar-benar menikah” ucap Renata.


Deg…


“Rena, kakak senang dengan harapanmu. Karena kakak juga berharap begitu. Tapi apakah itu akan terjadi..? Huft, sepertinya tidak. Kan Daffa hanya mencintai Jelita” batinku sedih.


“Kak..Kakak” panggil Renata. Aku pun tersdar dari lamunan.


“Eh iya kenapa Ren..?” tanyaku.


“Kakak melamun ya..?” tanya Renata balik.


“Em.., gak kok” jawabku.


“Ya udah sana kakak siap-siap. Dandan yang cantik ya kak..” ucap Renata.

__ADS_1


“Oke..Kamu juga ya..” balasku. Renata pun membalas dengan menganggukkan kepala.


__ADS_2