I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 23


__ADS_3

“Soalnya waktu aku godain kalian, abang bukannya membela kak Diana tapi hanya tersenyum. Makanya kak Diana kesal..” jawab Renata sambil tersenyum puas. Aku terkejut karena Renata mengetahui alasan aku kesal sama Daffa.


“Kamu tahu darimana..?” tanyaku penasaran.


“Hahaha, semua itu terlihat jelas di wajahmu, kakak tersayang. Bang Daffa saja yang tidak peka” jawab Renata.


“Daffa bukannya gak peka adikku sayang. Daffa itu hanya terlalu fokus memandangi Diana. Sampai-sampai dia gak tahu kalau Diana kesal padanya” sahut bang Hendra.


“Ya ucapanmu benar sekali bang. Karena terlalu asyik memandangi sayangku ini, aku sampai lupa kalau dia kesal karena gak aku belain” balas Daffa yang membuat pipiku mulai merah merona.


“Lihatlah bang Daffa, wajah istrimu berubah menjadi merah” goda Renata. Daffa mendekat dan mencium pipiku. Aku terkejut dengan tindakan Daffa dan membuat pipiku semakin merah merona.


“Mmm..romantis banget sih bang Daffa” ucap Renata.


“Hahaha, lihatlah wajahmu sekarang adikku. Kamu sangat merah seperti tomat. Lucu dan menggemaskan” timpal bang Daffa ikut menggodaku.


“Sudah, sudah..Kalian ini, jangan menggoda Diana lagi” lerai mama Cecilia. Membuatku sedikit lega.


“Kalian rapi-rapi begini, mau kemana?” tanya papa Andre.


“Mau jalan-jalan pa..” jawab Daffa.


“Kemana..?” tanya papa.


“Belum tahu pa kemana” jawab Daffa.


“Kok belum tahu kemana..?” tanya mama Cecilia.


“Soalnya tergantung Diana ma. Daffa udah janji mau menemaninya jalan-jalan” jawab Daffa menjelaskan.


“Baiklah kalau begitu..” balas mama Cecilia.


“Oh iya ma dan duo papa..” ucap Daffa.


“Iya kenapa nak..?” tanya papa.


“Hari ini kami agak malam pulang ya..” jawab Daffa.


“Agak malam..? Emangnya kalian mau kemana..?” tanya papa Andre.


“Hari ini Keisha mengajak kami makan malam dirumahnya pa..” jawabku.


“Baiklah, tapi ingat jaga diri kalian baik-baik..” ucap mama Cecilia.


“Baik ma” balasku.


“Dan kamu Daffa, jagain Diana baik-baik” ucap mama Cecilia tegas.


“Siap ma..” balas Daffa.


“Ya udah kalau begitu kami pamit dulu ya” pamit Daffa.


“Iya, hati-hati ya..” ucap Renata.


“Iya adik cantik..” balas Daffa sambil tersenyum. Lalu kami pun beranjak pergi dengan menggunakan mobil Daffa.


“Sayang..” panggil Daffa. Lalu aku pun menoleh padanya.


“Iya, kenapa Daffa..?” tanyaku.


“Hari ini kita mau jalan-jalan kemana sayang..?” tanya Daffa balik.


“Emm..Kemana ya..” ucapku sembari berpikir.


“Gimana kalau kita ke pantai aja” usul Daffa.


“Boleh juga tuh. Ayo kita kesana” ucapku antusias.


Lalu Daffa pun mengangguk dan menjalankan mobil menuju pantai. Sesampainya di pantai, aku yang sudah tidak sabar untuk bermain-main di pantai langsung beranjak keluar dari mobil. Namun saat aku hendak keluar, tanganku dicekal oleh Daffa. Aku pun menoleh ke arah Daffa sambil menyerhitkan dahi bingung.


“Ada apa Daffa?” tanyaku.


“Nanti kamu jangan jauh-jauh dari aku ya sayang. Terus kalau ada yang mendekatimu apalagi laki-laki, jangan mau ya sayang” jawab Daffa.


“Daffa ngeselin banget sih. Huh..sikap protektifnya keluar lagi” batinku kesal.

__ADS_1


“Kamu dengar aku kan sayang..?” tanya Daffa datar.


“Iya, iya Daffa. Udah jangan kayak gitu ah, kamu menyeramkan kalau begitu. Aku jadi takut melihatnya” jawabku tersenyum. Lalu Daffa pun tersenyum.


“Janji..?” ucap Daffa sambil mengacungkan jari kelingking kanannya.


“Iya aku janji Daffa” balasku sambil menautkan jari kelingking kiriku ke kelingking kanan Daffa. Lalu dia pun mengecup kedua pipi kemudian bibirku secara bergantian. Untuk kesekian kalinya aku terkejut sekaligus kesal dengannya.


“Daffa..” ucapku kesal sambil mengerucutkan bibir.


“Iya, ada apa sayang..?” tanyanya polos.


“Ih, kamu ngeselin banget sih” jawabku cemberut.


“Emangnya aku kenapa sayang?” tanyanya lagi.


“Kamu itu jangan pura-pura polos dan gak tahu apa-apa ya Daffa” jawabku semakin kesal. Lalu Daffa pun hanya terkekeh.


“Jangan kesal begitu dong sayang. Aku memang gak tahu. Sekarang aku tanya sama kamu, emangnya aku berbuat apa makanya kamu jadi kesal” ucap Daffa santai.


“Kamu tuh suka banget cium aku tiba-tiba” balasku jujur.


“Loh bukannya udah sering ya sayang..?” tanya Daffa sambil tersenyum jahil.


“Kamu itu banyak tanya banget ya Daffa..” batinku kesal.


“Iya tapi kan kamu seringnya cium kening aku. Tapi akhir-akhir ini kamu bukan hanya cium kening, tapi pipi dan bibir aku juga Daffa. Aku kan jadi malu” jawabku. Daffa pun hanya terkekeh.


“Iiihh, Daffa jangan tertawa” ucapku kesal.


“Iya, iya sayang” balas Daffa.


“Ya udah kalau gitu kita turun yuk..” ajak Daffa. Aku pun mengangguk. Lalu kami pun keluar dari mobil. Setelah itu Daffa menggandeng tangankudan berjalan menuju pantai. Sesampainya disana, kami hanya berdiri memandangi pantai.


“Pantainya indah ya Daffa..” ucapku sambil berdecak kagum.


“Iya sayang, tapi kamu lebih indah dari pantai ini” goda Daffa. Pipiku kembali merah merona.


“Daffa, jangan godain aku mulu. Aku malu” rengekku manja sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Lalu Daffa menarik tanganku dari wajah.


“Daffa, aku malu..” balasku dengan pipi merah merona.


“Gak usah malu sayang” ucap Daffa sambil membawaku ke dalam pelukkannya. Aku pun menenggelamkan wajahku yang merah merona di dadanya. Daffa pun mengecup puncak kepalaku.


“Sayang..” panggil Daffa. Aku pun mendongakkkan wajah.


“Iya Daffa” balasku.


“Kita duduk yuk..” ajak Daffa.


“Gak mau..”tolakku.


“Loh, kenapa gak mau..? Emangnya kamu gak capek apa berdiri terus..?” tanya Daffa.


“Gak Daffa, aku gak capek kok” jawabku. Lalu tiba-tiba terlintas sebuah ide untuk mengerjai Daffa.


“Hahaha, aku puny aide untuk mengerjaimu, Daffa. Aku udah gak sabar untuk menjahilimu. Selama ini kamu selalu menjahiliku. Tapi hari ini adalah giliranku” batinku senang.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Daffa. Ups! Aku lupa kalau Daffa ada disini.


“Aku gak apa-apa kok” jawabku.


“Yakin gak apa-apa?” tanya Daffa sambil memicingkan mata curiga.


“Gawat! Pokoknya aku harus tenang. Daffa gak boleh tahu soal rencanaku” batinku.


“Kok diam sayang..?” tanya Daffa lagi.


“Em, gak apa-apa kok” balasku.


“Baguslah, kalau kamu gak apa-apa” ucap Daffa tersenyum. Kami pun kembali memandnag ke arah pantai. Namun sambil memandang pantai, aku diam-diam menatap Daffa sambil tersenyum jahil.


“Saatnya beraksi Diana” batinku.


“Auwww..” rintihku pura-pura kesakitan memegang perutku. Lalu Daffa pun mulai panik dan khawatir.

__ADS_1


“Ada apa sayang..?” tanya Daffa khawatir.


“Perutku Daffa..” jawabku dengan tetap berpura-pura kesakitan.


“Perut kamu kenapa sayang..?” tanya Daffa panik.


“Hahaha, kena kamu Daffa” batinku puas.


“Perutku sakit Daffa..” rintihku.


“Aduh, apa yang harus aku lakukan..?” gumam Daffa panik.


“Hahaha, kau begitu panik dan khawatir Daffa. Maafkan aku karena sudah menjahilimu. Soalnya kapan lagi aku bisa mengerjaimu” batinku.


“Apa perlu kita ke rumah sakit? Ya, kita harus kesana. Aku gak mau kamu kenapa-napa” ucap Daffa semakin khawatir. Aku pun diam berusaha menahan agar tidak tertawa.


“Kenapa diam sayang? Apa masih sakit?” tanya Daffa. Aku yang sudah tidak tahan lagi pun tertawa.


“Hahaha..Hahaha..” Melihatku tertawa membuat Daffa menyerhitkan dahi bingung.


“Lihatlah Daffa, kamu sangat lucu saat sedang panik dan khawatir begitu” ucapku sambil tertawa.


“Apa maksudmu sayang?” tanya Daffa.


“Maaf Daffa tadi aku hanya berpura-pura sakit. Aku hanya ingin menjahilimu saja” jawabku tersenyum.


“Jadi tadi cuma pura-pura?” tanya Daffa terkejut dengan ucapanku.


“Iya Daffa. Maaf ya..” jawabku tersenyum.


“Kamu hanya pura-pura, hah?” ucap Daffa dengan suara agak meninggi. Aku pun terkejut melihatnya.


“Kenapa kamu lakukan itu? Kenapa?” tanya Daffa frustasi. Aku pun menundukkan kepala menyesal.


“Kamu tahu kan, aku itu gak mau kamu kenapa-napa. Kenapa kamu malah berpura-pura sakit?” ucap Daffa kesal.


“Maaf Daffa. Maafkan aku” balasku menyesal.


“Maafkan aku, Daffa. Aku menyesal melakukannya” batinku menyesal.


“Maaf kamu bilang? Kamu gak lihat betapa khawatir dan paniknya aku dengan keadaanmu tadi. Kamu gak lihat, hah?” bentak Daffa. Aku terkejut karena Daffa membentakku. Mataku pun mulai berkaca-kaca.


“Maaf Daffa. Maaf karena aku melakukan hal yang bodoh. Aku gak menyangka akan begini jadinya” batinku menyesal.


“Ma-Ma-Maaf Daffa” ucapku ketakutan dan air mataku pun mulai terjatuh. Aku gak menyangka Daffa akan semarah ini. Lalu Daffa menoleh ke arahku. Dia menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar. Kemudian Daffa mendekat dan membawaku dalam pelukannya. Aku pun menenggelamkan kepalaku di dadanya. Dan tangisku pun pecah.


“Hiks..hiks..maaf Daffa” ucapku sambil menangis.


“Aku gak hiks..hiks.. bermaksud hiks..untuk membohongimu. Maaf Daffa hiks..maaf” ucapku menyesal. Lalu Daffa membalikkan tubuhku hingga menghadap padanya. Lalu Daffa mengangkat daguku hingga manik mata kami bertemu. Daffa pun menatapku lembut dan menangkup kedua pipiku.


“Maafin aku ya sayang. Aku udah bentak kamu” ucap Daffa menyesal.


“Gak Daffa. Kamu gak salah kok. Aku yang salah. Aku udah bohongi kamu. Aku udah buat kamu panik dan khawatir tadi” balasku.


“Tapi aku udah bentak dan marah sama kamu sayang. Aku udah buat kamu takut dan menangis” ucap Daffa. Aku pun menggelengkan kepala.


“Aku pantas kok kamu bentak. Karena disini aku yang salah, bukan kamu” balasku.


“Gak sayang. Semarah apapun aku sama kamu, seharusnya aku..” aku memotong ucapan Daffa dengan menempelkan telunjukku di bibirnya.


“Ssstt, kamu gak salah..” balasku tersenyum.


“Kamu jangan melakukan hal itu lagi ya sayang. Jangan pernah buat aku panik dan khawatir lagi. Kamu tahu, aku bisa gila kalau terjadi sesuatu padamu. Dan aku gak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kamu sampai kenapa-napa” ucap Daffa sambil membawaku kembali ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalaku berkali-kali.


Hatiku menghangat mendengar ucapan Daffa. Aku pun mendongakkan wajahku. Mencoba mencari kebohongan, tetapi yang kutemui hanya sebuah kejujuran dan kesungguhan. Aku pun kembali menenggelamkan kepalaku di dadanya dengan memejamkan mata. Lalu kami pun melepaskan pelukan kami. Kemudian dia mengusap air mata yang ada di pipiku dengan ibu jarinya. Lalu mengecup kening, kedua mata, pipi dan bibirku bergantian. Aku pun tersenyum malu.


“Nah gitu dong. Kan kalau kamu tersenyum begini, kamu makin cantik sayang” puji Daffa tersenyum.


“Terima kasih ya Daffa” balasku.


“Sama-sama sayang. Dan ingat sayang, jangan pernah lakukan hal itu lagi ya. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Kamu adalah hal yang terpenting dihidupku. Aku bisa gila bila sesuatu terjadi padamu. Kamu mengerti sayang..” ucap Daffa sambil menatapku lembut. Dan aku pun mengangguk setuju.


“Kamu juga adalah hal yang terpenting dihidupku, Daffa.


Kamu adalah pemilik hatiku. Aku juga bisa gila bila sesuatu terjadi padamu” batinku.

__ADS_1


 


__ADS_2