I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 4


__ADS_3

Sesampainya di kantin, aku dan Daffa pun menghampiri sahabat-sahabat kami.


"Akhirnya kalian berdua balik juga. Gimana apakah dia baik-baik saja ?" tanya Yeslin penasaran saat aku dan Daffa duduk.


"Ya, dia baik-baik saja kok" jawabku sambil melihat kearah sahabat-sahabatku yang menatap kami penasaran.


"Kamu yakin kan si Daffa baik-baik aja? Dia gak kerasukan makhluk halus kan ?" tanya Anna yang masih belum percaya dan sedikit ketakutan melihat Daffa.


"Iya loh Anna....Daffa baik-baik aja kok" jawabku jujur. Karena Daffa memang baik-baik saja.


"Kalian cerewet sekali. Kan udah Diana bilang kalau aku itu baik-baik saja. Lagian ngapain sih kalian pakai nyuruh Diana untuk membawaku ke UKS segala, padahal kan aku baik-baik aja kok...." sahut Daffa santai yang membuat sahabat-sahabatku terkejut dengan respon Daffa.


"Kalian kenapa sih kok pada bengong..?" tanya Daffa saat bingung melihat ekspresi mereka. Lalu Keisha berjalan kearah Daffa dan menempelkan telapak tangannya di kening Daffa. Kemudian Keisha meirik kearahku dan yang lainnya.


"Gak demam kok" gumam Keisha pelan tapi masih bisa kami dengar.


"Ishk....apaan sih? Emangnya aku sakit apa ? Kan udah dibilang kalau aku baik-baik aja" jelas Daffa menepis tangan Keisha yang ada dikeningnya. Lalu Keisha mundur dan kembali ke tempat duduknya.


"Apakah dia benar baik-baik saja..?" bisik Anna kepada Keisha.


"Sepertinya begitu, pas aku periksa keningnya dia tidak sakit. Badannya tidak panas" balas Keisha sambil berbisik kepada Anna.


"Udah deh....Si Daffa itu memang gak apa-apa kok" ucapku berusaha menyakinkan sahabat-sahabatku.


"Lalu kenapa sikapnya tadi sangat aneh ? Gak mungkin kan kalau dia gak kenapa-napa?" tanya Mutia penasaran.


"Aduh gimana nih ? Apa yang harus ku katakan ya ? Kan benar mereka pasti gak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Ini gara-gara Daffa. Dasar menyebalkan. Awas aja kalau dia tidak membantuku" tanyaku dalam hati sekaligua kesal dengan Daffa.


"Kalian benar-benar mau tau kenapa sikapku tadi seperti itu ?" ucap Daffa yang dibalas dengan anggukan kepala para sahabatku.


"Sebenarnya tadi itu aku kesenangan saat mendengar Diana setelah lulus nanti memilih universitas yang sama denganku" jelas Daffa sambil melirik sekilas ke arahku.


"Masa sih cuma karena itu saja? Lalu kenapa kamu terus saja menatap Diana tadi ?" tanya Yeslin sambil memicingkan mata curiga. Kini aku yang juga penasaran menatap Daffa dalam meminta penjelasan.

__ADS_1


"Owh yang tadi...Gak apa-apa kok. Emangnya kenapa kalau aku menatap Diana seperti tadi ? Gak boleh" jawab Daffa santai.


"Tapi tatapanmu tadi itu seperti...." ucap Yeslin menggantung.


"Seperti apa ? Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan lagi. Aku sudah lapar begitupun dengan Diana. Biarkan kami makan" ucap Daffa memotong ucapan Yeslin.


Akhirnya sahabat-sahabatku pun diam dan tidak lagi bertanya. Lalu Daffa melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan aku makan. Dengan cepat aku melahap habis makanan dan minumanku. Begitupun dengan Daffa. Setelah selesai makan, Daffa mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu dari kantong celananya dan menyerahkan uang tersebut pada Yeslin.


"Lin....biar aku aja yang bayarin. Nih uangnya...." ucap Daffa.


"Oke deh Daffa" balas Yeslin dan menerima uang dari Daffa.


"Mbak...." Yeslin memanggil pemilik kantin.


"Iya dek ada apa ?" tanya pemilik kantin yang berjalan menghampiri kami.


"Ini mbak, kami mau bayar. Jadi berapa semuanya ini ?" tanya Yeslin.


"Nih mbak uangnya...." ucap Yeslin sambil menyodorkan uang dari Daffa tadi. Kemudian pemilik kantin menerima uang tersebut.


"Ini kembaliannya dek...." ucap pemilik kantin sambil mengambil satu lembar uang lima puluh ribuan lalu menyerahkannya kepada Yeslin.


"Makasih ya mbak" balas Yeslin sambil tersenyum. Lalu pemilik kantin membawa mangkuk, piring dan gelas tempat kami makan dan membawanya ke dalam.


"Nih Daffa kembaliannya" ucap Yeslin sambil menyerahkan uang kembalian tersebut dan Daffa pun mengambilnya. Kemudian menyimpannya ke dalam kantong celana.


"Ya udah ayo kita kembali ke dalam kelas" ajak Daffa sambil menggenggam kembali tanganku. Membuat sahabat-sahabatku kaget dan menatap kami heran.


"Owh ayolah Daffa....Kenapa sih kamu harus menggenggam tanganku lagi ? Tidak lihatkah kalau para sahabat kita kaget dan terheran-heran ?" gerutuku dalam hati.


"Kenapa ? Kenapa kalian melihatku seperti itu ? Apa ada yang aneh ?" tanya Daffa setelah menyadari kebingungan para sahabat kami.


"Kamu mau tau mengapa mereka melihatmu seperti itu ?" bisikku. Lalu Daffa pun mengangguk.

__ADS_1


"Mereka seperti itu karena kamu....hmm....itu" ucapku sambil menunjuk ke arah tanganku yang digenggam erat oleh Daffa. Dia yang sudah mengerti pun hanya tersenyum.


"Gara-gara ini....Memangnya kenapa sih ? Ada yang salah ?" tanya Daffa.


"Ya salahlah" jawab Daffa. Kulihat Daffa mengerutkan dahinya bingung.


"Apa yang salah Mutia ?" tanya Daffa penasaran.


"Mmm....ya karena kamu mengenggam tangan Diana" jawab Mutia.


"Memangnya kenapa ? Gak boleh ?" ucap Daffa.


"Ya boleh aja sih, tapi gak biasanya kamu seperti ini Daffa" balas Keisha.


"Owh gitu....Tapi aku melakukan ini karena aku cuman takut aja" ucap Daffa membuat aku dan lainnya menjadi bingung dan penasaran.


"Takut ? Takut kenapa ?" tanya Yeslin penasaran.


"Aku takut kalau sampai ada oranglain yang berbuat jahat pada Diana. Aku juga gak mau kalau ada yang sampai nyakitin atau menggoda sahabatku ini" jawab Daffa tegas membuat aku dan lainnya tercengang atas penuturannya barusan.


"Ya ampun....Daffa benar-benar aneh hari ini. Dia kemasukan setan apa jadi romantis begini? Aaa....aku gak nyangka kalau Daffa sampai segitunya menjaga dan melindungiku" ucapku dalam hati.


"Apa ? Aku gak salah dengar kan ?" tanya Anna yang masih terkejut dengan jawaban Daffa.


"Ya enggaklah....Aku serius dan gak bercanda" jawab Daffa serius.


"Sejak kapan seorang Daffa menjadi protektif begini sama sahabat tersayangnya Diana ?" ucap Yeslin yang masih belum percaya.


"Yaelah....kalian aja yang baru sadar. Udah dari dulu kok aku selalu menjaga dan melindungi sahabatku tersayang ini" balas Daffa sambil merangkul dan membawaku ke dalam pelukannya. Seketika aku merasa terkejut dan jantungku berdetak kencang. Ya Tuhan, ada apa ini ? Tapi entah kenapa aku merasa senang dengan perlakuan Daffa padaku barusan.


"Iya sih....tapi gak seprotektif seperti sekarang ini" ucap Anna yang masih bingung dengan sikap Daffa tadi.


"Kalian saja yang lebay. Sudah ah....lebih baik kita masuk ke kelas. Kerena sepertinya bel akan berbunyi" balas Daffa sambil membawaku menuju kelas dan meninggalkan sahabat-sahabatku yang masih bingung dan heran dengan sikap Daffa yang aneh hari ini.

__ADS_1


__ADS_2