
Saat aku sudah di dalam mobil mau berangkat ke sekolah, tiba-tiba Handphone milikku berbunyi. Aku mengambil dan melihatnya. Ternyata ada pesan dari Daffa.
From : Daffa (sahabatku sayang)
Udah dimana kamu sayang..?
Aku pun tersenyum melihat pesan yang baru saja dikirim Daffa. Entah kenapa saat aku membaca pesan dari Daffa yang memanggilku sayang membuat jantung ini jadi berdetak kencang dan darahku mendesir hebat. Lalu aku pun segera membalas pesan Daffa.
Send to : Daffa (sahabatku sayang)
Aku lagi mau otw ke sekolah. Kamu sendiri udah dimana Daffa..?
Kemudian balasan pesan dari Daffa pun datang dan Aku pun segera membaca pesan itu.
From : Daffa (sahabatku sayang)
Aku lagi dijalan menuju ke sekolah. Tunggu aku di sekolah ya sayang..
Aku tersenyum membaca balasan pesan dari Daffa dan segera membalasnya.
Send to: Daffa (sahabatku sayang)
Baiklah Daffa sampai bertemu di sekolah
Setelah itu aku memasukkan Handphone milikku ke dalam tas dan menikmati perjalanan ke sekolah sambil mendengarkan lagu yang ada di radio. Tak lama kemudian, aku pun tiba di sekolah dan aku melihat mobil Daffa yang juga baru tiba di sekolah. Aku pun keluar dari mobil dan aku pun melihat Daffa juga keluar dari mobil lalu berjalan menghampiriku.
“Pagi sayang..” sapa Daffa sambil tersenyum manis.
“Pagi juga Daffa..” balasku juga sambil tersenyum.
“Ya udah kalau begitu, ayo kita ke kelas” ajak Daffa sambil menggandeng tanganku.
Namun saat kami mau berjalan, aku menarik tangannya untuk berhenti. Daffa pun menoleh ke arahku dan menatapku bingung.
__ADS_1
“Ada apa sayang..?” tanya Daffa.
“Ada yang mau ku tanya samamu” jawabku jujur.
“Apa itu sayang..? Ayo tanyakan saja” ucap Daffa penasaran dan melepaskan gandengan tangan kami.
“Aku ingin menanyakan…” ucapaku ragu dan tak melanjutkan ucapanku.
“Menanyakan apa sayang..?” tanya Daffa semakin penasaran.
“Aku ingin menanyakan soal smsmu tadi yang mengatakan bahwa aku adalah milikmu dan kamu tidak akan membiarkan siapapun berani mendekatiku. Kamu juga bilang kalau takkan pernah melepaskanku” ucapku hati-hati. Lalu aku melihat Daffa tersenyum menatapku.
“Memangnya kenapa dengan sms itu sayang,,?” tanya Daffa sambil menatapku intens.
“Apa maksudmu mengatakan seperti itu..?” ucapku yang kemudian dibalas dengan senyum dan tawa Daffa. Aku bingung dan heran mengapa Daffa malah senyum dan tertawa.
“Kenapa tertawa Daffa..?” tanyaku bingung dan penasaran. Lalu Daffa berhenti tertawa dan melihat ke arahku dan menatapku dalam. Melihat Daffa yang seperti itu membuatku menjadi deg-degan dan salah tingkah.
“Daffa jangan mentapku seperti itu..?” ucapku risih sekaligus gugup.
Hal itu membuatku refleks berjalan mundur ke belakang. Tapi semakin aku mundur, Daffa semakin mendekat. Lalu saat jarak kami sudah dekat, Daffa mengenggam erat tanganku agar tidak menjauhinya.
“Kamu mau kemana sayang..?” tanya Daffa saat aku berusaha menjauhinya.
“Aku, aku..aku mau..” jawabku gugup disertai rasa was-was.
“Mau menjauhiku sayang..? Jangan harap itu akan terjadi. Aku kan sudah bilang kalau kamu adalah milikku. Aku takkan pernah melepaskanmu” ucap Daffa sambil menatapku tajam.
“Ada apa denganmu, Daffa..?” tanyaku yang mulai takut dengan sikap Daffa.
“Memangnya, kenapa denganku sayang..?” jawab Daffa sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Seketika jantungku mulai berdetak kencang dan aku semakin merasa gugup. Badanku pun tiba-tiba terasa kaku.
“Daffa…a-apa yang kamu lakukan..?” tanyaku saat Daffa semakin mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
“Apa yang memang aku lakukan sayang..?” goda Daffa dan semakin mendekatkan tubuh dan wajahnya. Itu membuatku semakin gugup.
“Men-menjauhlah Daffa..” ucapku gugup sambil berusaha mendorong Daffa agar menjauh dariku. Namun usahaku sia-sia, karena tenaganya lebih kuat dariku. Apalagi saat ini kami dalam posisi yang benar-benar dekat dan hanya menyisakan jarak sedikit. Ditambah lagi Daffa yang menggenggam sebelah tanganku erat.
“Kamu mau kemana sayang? Kan sudah kubilang kalau kamu adalah milikku” ucap Daffa tegas dan penuh penekanan pada kata milikku.
“Aku..aku..” ucapku gugup.
Lalu Daffa mendekatkan wajahnya. Aku pun menutup mata dengan perasaan yang deg-degan. Kemudian aku merasakan sesuatu yang lembab dan kenyal di pipiku. Daffa menciumku. Nafasku tercekat, darahku mendesir dan pipiku pun mulai merah merona.
Lalu aku pun membuka mataku perlahan dan melihat Daffa yang kini mentapku intens. Kemudian pandangan kami bertemu dan membuat kami saling menatap. Setelah itu, aku langsung mengalihkan perhatian dengan melihat ke arah lain karena jantungku semakin berdetak kencang dan pipiku yang semakin merah merona.
“Udah tidak usah malu seperti itu sayang..” goda Daffa yang membuatku semakin malu.
“Lagipula itu kan masih di pipi sayang belum di bibir” ucap Daffa menggodaku yang membuatku melotot kepadanya. Lalu mentapnya kesal.
“Jangan marah begitu sayang, nanti cantiknya hilang loh..” goda Daffa lagi dan membuat pipiku menjadi merah merona.
“Sayang, lihat aku..” pinta Daffa dan membuatku mendongakkan wajah dan menatap matanya.
“Aku tahu kamu pasti bingung, penasaran, khawatir bahkan takut melihat perubahan sikapku akhir-akhir ini yang aneh. Tapi ketahuilah sayang, aku tidak bermaksud untuk seperti itu padamu. Aku sayang sama kamu dan akan selalu menjaga juga melindungimu. Bahkan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Aku hanya belum bisa menjelaskan semua yang terjadi sama kamu. Karena ini belum saatnya kamu mengetahui semuanya” jelas Daffa sambil menatapku lembut.
Aku terharu dengan ucapan Daffa. Aku menatap matanya dalam untuk mencari kebohongan disana. Karena aku takut kalau dia hanya bercanda dan mengerjaiku. Namun aku tidak menemukannya. Yang kutemukan hanyalah pancaran ketulusan darinya.
“Aku tahu pasti saat ini kamu benar-benar bingung dan kaget dengan perkataanku. Tapi jujur aku katakan, kalau aku benar-benar serius dan sedang tidak bercanda. Dan ketahuilah sayang saat waktunya tiba nanti, kamu akan mengetahuinya. Kamu akan tahu maksud dari semua sikapku akhir-akhir ini” ucap Daffa lagi. Aku menatap Daffa sambil tersenyum.
“Daffa, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu saat ini. Aku juga tidak mengerti semua ini. Tapi aku percaya padamu. Aku akan menunggu jawaban atas semua rasa penasaranku saat ini. Aku akan menunggu itu” balasku tulus dan membuat Daffa tersenyum bahagia. Lalu Daffa langsung memelukku erat.
“Makasih ya sayang…Makasih karena sudah mau menunggu” ucap Daffa bahagia.
“Iya Daffa” balasku sambil membalas pelukannya.
“Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk ke kelas. Sebentar lagi bel akan berbunyi” ajak Daffa sambil menggenggam tanganku.
__ADS_1
“Iya ayo..” balasku. Kemudian kami berjalan menuju ke kelas.