I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 3


__ADS_3

Setelah kembali ke tempat duduk, Daffa belum juga melepas genggamannya. Hal itu membuat aku merasa risih sekaligus deg-degan. Gimana aku gak risih, habisnya seluruh teman dan sahabat-sahabatku yang ada di kantin melihat ke arah kami.


"Daffa....." aku memanggil Daffa agar dia mau melepaskan genggamannya. Lalu Daffa pun menoleh padaku.


"Hmmm......" gumam Daffa. Lalu aku memanggilnya lagi.


"Daffa....."


"Apa Diana.....?" ucap Daffa lembut.


"Hmm....itu...." ucapku sambil menunjuk ke arah tanganku yang digenggam olehnya.


Kemudian Daffa mengikuti arah yang ku tunjuk. Lalu Daffa pun hanya tersenyum dan semakin mempererat genggaman tanggannya. Aku pun semakin bingung melihat sikap Daffa hari ini. Ada apa dengannya? Apa yang sebenarnya terjadi pada Daffa saat ini?


"Daffa, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Yeslin yang juga bingung melihat Daffa.


"Iya aku baik-baik saja kok" jawab Daffa tersenyum dan kembali menatapku.


"Kalau kamu baik-baik aja, kenapa malah senyum-senyum gak jelas seperti itu?” tanya Yeslin lagi karena melihat Daffa yang masih saja tersenyum sambil menatapku.


"Udah gitu kamu senyum-senyum sambil menatap Diana" timpal Mutia.


"Gak kenapa-napa kok....." jawab Daffa yang masih tersenyum menatapku.


"Kamu yakin gak apa-apa kan Daffa? Terus ngapain kamu masih aja menggenggam tangan si Diana?” kini Anna yang bertanya.


Lalu aku pun melihat Daffa sambil menatapnya dalam meminta penjelasan atas sikapnya yang agak aneh hari ini. Namun Daffa hanya diam sambil tersenyum menatapku yang membuat kami semakin bingung.


"Sebenarnya si Daffa kenapa sih?" tanya Yeslin. Aku yang juga bingung hanya menggelengkan kepala karena aku sendiri tidak tau kenapa.


"Kesambet setan kali si Daffa" celetuk Mutia.


"Atau si Daffa salah minum obat kali makanya dia jadi agak aneh hari ini...." timpal Keisha.


Namun Daffa tak menggubris ucapan kami dan masih pada posisi yang sama yaitu hanya tersenyum sambil menatapku.


"Kamu gak apa-apa kan Daffa? Atau jangan-jangan benar kali ya kalau hari ini kamu kesambet setan?" tanya Anna panik.


Aku pun kembali melihat ke arah Daffa. Ternyata dia masih saja tersenyum menatapaku. Ishk....si Daffa kenapa sih? Kok dari tadi diam aja sih? Bukannya menjawab malah senyum-senyum sambil menatapku....Ugh...kesel...


"Daffa beneran kesambet setan deh....Iiih.....aku jadi takut melihat Daffa. Ya ampun nih anak kesambet setan apaan ya? Jangan-jangan kesambet setan gendruwo....." ucap Anna sambil bergidik ngeri.


Melihat Daffa yang hanya diam dan tak merespon kami membuat aku mulai khawatir. Aku takut kalau Daffa benar-benar kesambet setan.


"Daffa, apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku khawatir.


Lalu Daffa tersenyum lembut kepadaku. Setelah itu, Daffa beralih kepada para sahabat kami sambil menatap tajam mereka. Tatapannya membuat kami terkejut dan semakin takut juga khawatir dengan Daffa.

__ADS_1


"Din....kayaknya ada yang gak beres nih sama Daffa..... Lebih baik kamu bawa aja Daffa ke UKS. Takutnya dia kenapa-napa...." ucap Yeslin khawatir sambil memberi saran.


"Sepertinya yang kamu katakan benar Yeslin, aku akan membawa Daffa ke UKS....." balasku.


"Ya udah kalu begitu kalian tunggu disini ya....Aku mau membawa Daffa ke UKS dulu...." pamitku sambil menarik Daffa agar bernajak dari kursi dan pergi ke UKS.


"Iya, cepat-cepat deh kamu bawa si Daffa ke UKS...." balas Yeslin. Lalu aku pun membawa Daffa beranjak dari kantin menuju UKS.


"Daffa....kamu kok hari ini agak aneh ya? Setiap ditanya, kamu hanya diam sambil senyum-senyum menatapku" tanyaku ragu-ragu membuka pembicaraan saat kami berjalan menuju UKS.


Lalu Daffa pun berhenti berjalan sehingga membuat aku juga berhenti. Tak lama kemudian Daffa membawa ke tempat lain yang pastinya bukan UKS, melainkan taman sekolah.


"Kita ngapain kesini ? Seharusnya itu kita ke UKS Daffa....Ayo balik....Kita harus memeriksakan keadaanmu. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Karena kamu aneh hari ini" jelasku pada Daffa.


"Memangnya siapa yang sakit ?" ucap Daffa yang akhirnya bicara juga.


"Ya kamulah....Pakai nanya lagi...." balasku.


"Emangnya aku kenapa ?" tanya Daffa polos.


"Ishk....jangan pura-pura polos seperti itu Daffa. Kamu tau gak hari ini sikapmu aneh banget. Kamu itu udah buat sahabat-sahabat kita panik dan khawatir. Begitupun dengan aku" jawabku yang mulai kesal dengan Daffa.


"Siapa juga yang aneh ? Lagian aku baik-baik aja kok. Yang aneh itu ya kalian....Orang aku baik-baik saja malah dibilang aneh. Udah gitu malah dikatain kesambet setan pula itu" ucap Daffa.


"Apa dia bilang ? Kami semua yang aneh ? Ishk....dasar Daffa nyebelin....Kan wajar dong kalau dia dibilang aneh. Bukannya malah menjelaskan apa yang terjadi, dia malah senyum-senyum gak jelas sambil menatapku" gerutuku dalam hati.


"Ya ampun....ternyata sahabatku yang cantik ini perhatian banget ya sama aku. Cie cie ada yang khawatir nih kalau sampai aku kenapa-napa" goda Daffa membuat pipiku mulai merah merona.


"Please deh Daffa....Jangan nyebelin kayak gitu...."ucapku kesal.


"Siapa yang nyebelin sih sahabatku yang cantik....." balas Daffa sambil mencubit pipiku dengan gemas.


"Aaww....sakit loh Daffa. Kamu tuh kebiasaan banget sih....Suka banget cubitin pipiku. Kan sakit tau...." ucapku sambil meringis kesakitan memegang pipiku.


"Maaf, maaf....Habisnya kamu tuh buat aku gemas sih...." cengir Daffa.


"Gemas sih gemas, tapi ini sakit tau...." ucapku kesal.


"Maaf ya Diana.....Sahabatku yang cantik dan paling aku sayang...." balas Daffa sambil meminta maaf.


"Gak ah....aku itu masih kesal sama kamu. Soalnya kamu itu nyebelin banget hari ini" ucapku sambil mengerucutkan bibir karena kesal.


"Maaf deh kalau aku udah buat kamu kesal hari ini. Maaf ya Din...., please...." bujuk Daffa dengan wajah memelas.


"Hadeuh....kalau udah begini, mana bisa aku lama-lama kesal apalagi marah sama Daffa" batinku.


"Iya iya....aku maafin. Makanya kamu itu jangan nyebelin banget. Lagipula aku itu kan gak bisa lama-lama kesal apalago marah sama kamu. Kan tau sendiri betapa sayangnya aku sama kamu...." balasku.

__ADS_1


"Makasih ya Diana...." ucap Daffa tersenyum.


"Ya udah kalau gitu ayo kita ke UKS...." ajakku sambil menarik tangan Daffa.


"Ngapain?" tanya Daffa bingung.


"Ya buat cek keadaan kamulah....." jawabku.


"Untuk apa ? Emangnya aku kenapa?" tanyanya lagi.


"Ya siapa tau aja kamu itu beneran lagi sakit. Atau mungkin telah terjadi sesuatu sama kamu makanya aneh banget hari ini" jawabku.


"Ayo cepat....Kita mesti ke UKS...." ajakku lagi sambil menarik tangannya. Namun Daffa malah berhenti. Aku pun menoleh ke arahnya.


"Apalagi sih Daffa? "tanyaku.


"Ngapain kita harus ke UKS....? Lagian aku itu baik-baik aja....Aku gak apa-apa kok....." jawab Daffa menolak ajakanku ke UKS.


"Mending sekarang kita balik ke kantin aja...." ucap Daffa sambil menggengam tanganku erat.


"Baiklah kita gak akan UKS, tapi kamu harus jelasin atas semua sikap anehmu hari ini. Dan satu lagi, Daffa please lepasin tangan aku ya....Daritadi kamu gengam tangan aku terus. Aku risih Daffa....Apa kamu gak lihat kalau sekarang itu kita menjadi pusat perhatian?" jelasku pada Daffa sambil melihat ke sekeliling yang sedang menatap kami berdua.


"Baiklah aku bakal jelasin sama kamu semuanya, tapi nanti ya Diana gak sekarang....Terus soal aku menggenggam tangan kamu, maaf aku gak bakal lepasin. Aku gak bakal biarin genggaman tangan ini terlepas. Karena aku gak mau ada seorangpun yang berani dekatin kamu apalagi berusaha merebutmu dari aku. Mengerti !" ucap Daffa tegas.


"Apa maksud Daffa berkata seperti itu ? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Daffa ? Terus Daffa kenapa sih selalu menggenggam tanganku ? Gak tau apa kalau teman-teman sekolah pada lihatin ? Aku itu risih tau...." batinku cemas.


"Tapi aku risih Daffa....Daritadi kita menjadi pusat perhatian...." bisikku.


"Udah kamu tenang aja, kan ada aku. Lagipula tak usah pedulikan mereka" ucap Daffa menenangkanku.


"Oh iya, nanti pulang sekolah jangan lupa menemaniku ke toko buku. Tadi kan kamu sudah berjanji akan menemaniku kesana. Jadi, nanti pulang kamu bareng aku ya....." ucap Daffa.


"Iya, iya....aku ingat kok. Tapi aku masih bingung sama kamu, Daffa. Apa sih yang terjadi sama kamu ?" tanyaku penasaran.


"Maaf ya Din....untuk saat ini aku belum bisa memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi padaku hari ini. Waktunya belum tepat untuk memberitahukan padamu. Maukah kamu menunggu sampai waktunya tiba nanti ?" ucap Daffa sambil menatapku.


"Iya gak apa-apa kok. Aku bakal nungguin sampai waktu itu tiba nanti' jawabku sambil menganggukkan kepala.


"Tapi Daffa....."


"Tapi apa Din ?" tanya Daffa sambil menyerhitkan dahi bingung.


"Nanti kalau sahabat-sahabat kita nanya apa yang terjadi padamu, apa yang harus kukatakan pada mereka ?" ucapku bingung.


"Bilang saja kalau aku baik-baik saja. Terus kalau mereka masih bertanya tentang sikapku tadi, biar aku saja yang menjawabnya" balas Daffa sambil tersenyum dan aku pun mengangguk.


"Ya sudah kalau gitu ayo kita kembali ke kantin. Pasti mereka sudah lama menunggu kita. Lagipula bukankah kita sangat lapar ?" ajak Daffa. Lalu aku membalas dengan mengangguk dan kembali ke kantin.

__ADS_1


__ADS_2