I Love My Best Friend

I Love My Best Friend
Episode 17


__ADS_3

Aku pun berlari mengejar Daffa yang menghindar dari cubitanku. Namun Daffa terus saja berlari. Hingga akhirnya aku pun mulai lelah dan berhenti mengejarnya.


“Daffa, udah ah, aku capek..” ucapku. Lalu Daffa pun menghampiriku.


“Kamu capek ya sayang..?” tanya Daffa khawatir.


“Iya” balasku singkat sambil menganggukkan kepala.


“Ya udah kita istirahat sebentar..” ucap Daffa sambil menuntunku ke arah bangku taman. Lalu kami berdua pun duduk dan beristirahat. Aku pun menyenderkan kepalaku ke bahu Daffa. Lalu Daffa pun mengusap keringatku dengan telapak tangannya.


“Daffa” panggilku sambil mendongakkan wajah menghadap dia. Lalu Daffa pun menghadapkan wajahnya padaku.


“Iya apa sayang..?” tanya Daffa dengan lembut.


“Aku mau tanya sesuatu, boleh..” jawabku.


“Mau tanya apa sayang?” tanya Daffa lagi.


“Kenapa kamu mengatakan kalau aku masih begitu polos?” jawabku. Daffa pun tampak berpikir sejenak lalu kembali menatapku.


“Kamu benar-benar mau tahu sayang..?” tanya Daffa yang aku balas dengan menganggukkan kepala.


“Emm..Kasih tahu gak ya..” canda Daffa.


“Daffa jangan bercanda, Aku serius nih” rengekku. Lalu Daffa diam dan tampak memikirkan sesuatu.


“Oh iya Daffa” ucapku saat teringat pembicaraan dengan papa semalam. Lalu Daffa kembali menatapku.


“Iya, kenapa sayang..?” tanya Daffa.


“Kata papa, kalau jantungku berdetak kencang dan merasa gugup saat kamu menatapku dalam, itu artinya aku sedang jatuh cinta. Dan aku jatuh cinta karena kamu. Apa itu benar Daffa..?” jawabku. Lalu Daffa pun terkejut dengan ucapanku. Namun tak lama kemudian, dia pun tersenyum.


“Lalu menurut kamu gimana..?” tanya Daffa.


“Aku gak tau Daffa. Aku bingung” jawabku dengan polos.


“Bingung? Bingung kenapa?” tanya Daffa penasaran.


“Yang aku rasain ke kamu itu beda dengan waktu dulu aku suka sama Erick” jawabku.


“Beda gimana sayang?” tanya Daffa lagi.


“Ya beda Daffa. Dulu saat aku suka sama Erick, jantungku tidak berdetak kencang dan aku pun tidak terlalu gugup saat Erick menatapku. Kamu tahu kan kalau dulu aku suka sama Erick itu karena dia ganteng, jago main basket dan humoris” jawabku. Daffa pun hanya diam dan menunggu aku berkata lagi.


“Erick juga gak jahil seperti kamu. Tapi saat aku bersama kamu, rasanya begitu tenang, aman dan nyaman. Ketika kamu menatapku seperti tadi, jantungku berdetak kencang dan aku pun merasa sangat gugup. Ya meskipun kamu jahil, entah kenapa aku senang bersamamu. Daffa. Rasanya aku tidak mau jauh dari kamu” jelasku.


“Nah, itulah perbedaannya Daffa yang membuat aku bingung” tambahku sambil memandang ke arah Daffa. Lalu Daffa pun membelai rambutku lembut dan penuh kasih sayang.


“Apa yang kamu rasakan ke Erick dulu itu memang berbeda dengan yang kamu rasakan ke aku sekarang ini. Karena yang kamu rasakan ke Erick itu hanyalah sebatas perasaan suka atau kagum. Sementara yang kamu rasakan ke aku itu adalah cinta” jelas Daffa.


“Kenapa begitu..?” tanyaku penasaran.


“Karena perasaan suka atau kagum itu hanya bersifat sementara. Buktinya kamu sekarang udah melupakan dia. Ya meskipun dulu kamu sempat bersedih, tapi itu kan hanya sesaat. Setelah itu kamu kembali tersenyum lagi. Beda dengan perasaan cinta. Dimana rasa cinta itu adalah rasa yang tulus dari hati. Sekarang aku tanya sama kamu, apa yang kamu rasakan ketika aku sakit..? Atau ketika aku jauh dari kamu..?” ucap Daffa.


“Yang aku rasakan ketika kamu sakit, ya aku sangat khawatir. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku juga sedih ketika melihat kamu sakit. Rasanya melihat kamu sakit, aku seperti merasa apa yang kamu rasa. Lalu jika kamu jauh dari aku, aku akan merasa sedih. Rasanya hidup ini hampa dan tidak berwarna. Aku pun akan sangat merasa kehilanganmu” balasku jujur.

__ADS_1


“Nah itulah cinta sayang. Dimana akan ikut merasa apa yang dirasakan oleh pasangannya. Lalu merasa kehilangan ketika dia jauh” jelas Daffa.


“Berarti aku mencintaimu, Daffa..” ucapku.


“Sepertinya begitu” balas Daffa sambil tersenyum.


“Lalu apakah kamu mencintaiku, Daffa..?” tanyaku. Daffa pun terkejut dan kemudian terdiam.


“Bego, bego..Kamu kok bego banget sih Diana..? Kenapa kamu menannyakan hal yang sudah pasti jawabannya. Ya jelaslah Daffa diam, dia tidak mencintaimu. Dia hanya mencintai satu orang gadis saja dan itu adalah Jelita” batinku menyesal. Aku melihat Daffa masih terdiam dan bergelut dengan pikirannya.


“Daffa..” panggilku dan Daffa pun menoleh padaku.


“Maaf Din, aku..” balas Daffa. Namun belum sempat melanjutkan ucapannya, aku langsung menyela.


“Iya aku udah tahu kok. Kamu mencintai Jelita kan..? Jadi gak mungkin kamu mencintaiku. Karena kamu hanya menganggapku sahabat dan akan selalu begitu” ucapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Aku pun berusaha tetap tersenyum dan menahan air mataku yang mau keluar. Kemudian aku pun beranjak pergi meninggalkan Daffa. Namun sebelum aku beranjak pergi, aku mendengar Daffa berbicara. Tapi aku kurang jelas mendengarnya karena Daffa berbicara sangat pelan.


“Maafkan aku, Diana..Mungkin ini belum waktunya kamu mengetahui segalanya. Tapi percayalah, sebentar lagi kamu akan mengetahuinya” gumam Daffa sangat pelan.


Aku pun berlari meninggalkan Daffa sambil menangis. Aku tak bisa menahan untuk tidak menangis. Aku merutuki kebodohanku. Bisa-bisanya aku bertanya seperti itu pada Daffa.


“Bego..Kamu benar-benar bego Diana. Seharusnya kamu sadar, Daffa gak mungkin cinta sama kamu. Dia hanya mencintai Jelita” ucapku menangis sambil merutuki kebodohanku.


“Selamanya Daffa itu gak akan cinta sama kamu, Diana. Daffa itu hanya mengganggapmu sahabat. Hanya sahabat. Tapi kenapa kamu selalu bersikap manis dan memperlakukanku dengan lembut Daffa..? Kenapa..? Kenapa kamu seperti memberikan sercecah harapan untukku..? Arrgghh..” tangisku semakin kencang.


“Ya Tuhan, kenapa perasaan ini sangat menyiksaku..? Kenapa mencintai harus sesakit ini..? Kenapa..?” teriakku sambil menangis.


“Tidak, tidak..Aku gak boleh seperti ini. Seharusnya kamu gak boleh menangis karena kamu sudah tahu kalau Daffa tidak mencintaimu. Pokoknya aku gak boleh menangis. Aku gak boleh menangis” ucapku sambil mengusap air mata yang ada di pelupuk mata dan pipiku.


“Diana, kamu harus kuat. Kamu jangan menangis lagi. Ingat Diana, jangan menangis lagi. Kamu harus kuat” yakinku pada diri sendiri.


“Daffa..” panggilku. Lalu Daffa mendongakkan wajahnya sambil menatapku khawatir. Kemudian Daffa pun bangkit berdiri.


“Kamu gak apa-apa kan..? Kamu kemana aja sih..? Aku itu khawatir” tanya Daffa khawatir. Aku pun merasa sedikit menyesal karena sudah meninggalkannya tiba-tiba. Membiarkannya merasa khawatir.


“Aku gak apa-apa kok Daffa. Aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa..?” ucapku seolah-olah tidak ada terjadi.


“Jangan bohong sayang” balas Daffa. Membuat aku sedikit gugup.


“Aku gak bohong Daffa. Aku memang baik-baik saja kok” ucapku tersenyum dan berusaha santai.


“Kalau kamu memang baik-baik saja, lalu kenapa matamu sembab seperti orang yang baru menangis, hem..?” tanya Daffa sambil menatapku tajam.


Deg…


Aku terkejut dengan ucapan Daffa. Aku bingung kenapa Daffa bisa tahu kalau aku habis menangis. Padahal tadi aku berusaha untuk tidak menangis saat berbicara dengannya.


“Terus kenapa kamu tiba-tiba pergi tadi..?” tanya Daffa lagi. Aku pun terdiam. Aku gak tahu harus menjawab apa sama Daffa.


“Kenapa diam..?” tanya Daffa.


“Itu..emm..anu..tadi..em..” ucapku gugup.


“Kenapa sayang..?” tanya Daffa lembut.

__ADS_1


“Emm..gak ada apa-apa kok Daffa. Maaf kalau tadi aku pergi tiba-tiba. Tadi itu aku, aku..” jawabku gugup.


“Aku apa..?” tanya Daffa. Lalu aku pun berpikir sejenak.


“Aku kebelet tadi. Makanya tadi tiba-tiba pergi karena mau ke toilet” jawabku berbohong.


“Yakin..?” tanya Daffa sambil memicingkan mata curiga.


“Iya Daffa” balasku.


“Lalu kenapa kamu menangis..?” tanya Daffa lagi sambil menatapku.


“Emm, aku gak menangis kok” jawabku gugup.


“Jangan bohong sayang” ucap Daffa sambil menatapku tajam.


“Aku gak bohong kok” balasku membelas diri.


“Jika kamu tidak menangis, kenapa matamu merah dan sembab..?” tanya Daffa lagi.


“Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan..? Kenapa Daffa cerewet sekali hari ini..? Aku harus jawab apa..?” batinku bingung.


“Itu tadi karena mataku kemasukan abu” jawabku.


“Benaran..? Gak bohong..?” tanya Daffa yang sepertinya masih kurang yakin.


“Iya aku gak bohong” jawabku tersenyum berusaha menyakinkan Daffa kalau aku baik-baik saja. Aku pun melihat Daffa menghela nafasnya.


“Baiklah kalau begitu, lebih baik kita pulang sekarang. Udah mau sore” ajak Daffa. Aku pun lega dan mengiyakan ajakan Daffa untuk pulang. Lalu aku dan Daffa pun masuk kedalam mobil dan bergegas pulang ke rumah.


“Sayang..” panggil Daffa menoleh ke arahku sebentar terus kembali fokus menyetir.


“Iya kenapa Daffa..?” balasku.


“Hari ini aku di rumah kamu aja ya sayang..” ucap Daffa.


“Apa..? Hari ini Daffa mau ke rumah..? Apa-Apaan ini.? Dia itu lupa ingatan atau gimana sih..? Kan dia tahu kalau malam ini adalah makan malam keluargaku dan keluarganya” batinku kesal.


“Kok diem aja sih sayang..?” tanya Daffa.


“Gak..Kamu gak boleh langsung ke rumah hari ini” jawabku dengan tegas menolak permintaan Daffa.


“Emangnya kenapa sih sayang..?” tanya Daffa penasaran.


“Kamu gak lupa kan kalau keluarga kita akan makan malam bersama hari ini..?” tanyaku balik.


“Ya gak dong sayang. Emang apa hubungannya..?” jawab Daffa polos.


“Ishk..Kamu ini oon atau pura-pura oon sih” ucapku kesal.


“Kok aku dibilang oon sih sayang..” protes Daffa.


“Soalnya kamu itu memang oon banget” balasku. Kulihat Daffa menyerhitkan dahinya bingung seolah-olah berkata “Maksud kamu apaan sih sayang..?”.


“Kamu tahu kan kalau yang mengundang keluargamu untuk makan malam adalah keluargaku” ucapku. Lalu Daffa pun menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Aku maunya nanti malam kamu datang bersama mama dan papa. Kalian adalah tamu kami malam ini. Tamu spesial keluarga kami. Kalau kamu dirumah, kan seru dong. Masa tau-tau tamunya udah ada di rumah. Jadi malam ini aku mau kamu datang bersama mama dan papa sebagi tamu spesial keluarga kami” jelasku. Ku lihat Daffa tampak berpikir sejenak.


“Mau ya Daffa.., Please..” bujukku. Lalu Daffa menatapku dalam diam.


__ADS_2