
Hari ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah selesai sarapan bersama abang dan adikku, aku pun segera berangkat ke sekolah dengan diantarkan oleh supir. Satu jam kemudian, aku pun sampai disekolah.
Sesampainya di sekolah, aku pun langsung menuju kelasku IPA 3 untuk menemui teman-teman. Saat tiba di kelas, aku melihat teman-temanku dan langsung menghampiri dan menyapa mereka.
"Pagi sahabat-sahabatku...." sapaku dengan riang.
"Pagi juga Diana..."balas keempat sahabat baikku (Yeslin, Mutia, Anna dan Keisha). Lalu aku pun melihat ke sekelilingku mencari satu orang lagi sahabat baikku yaitu Daffa. Melihat aku seperti sedang mencari sesuatu, sahabat-sahabatku pun bertanya apa yang sedang kucari.
"Kamu kenapa Din...?" tanya Yeslin.
"Hmm...gak apa-apa kok..." jawabku sambil melirik kanan kiri.
"Terus....kamu ngapain lihat kanan kiri seperti sedang mencari sesuatu. Emangnya kamu cariin siapa sih Din?" tanya Anna penasaran.
"Hehehe...." aku pun tertawa melihat wajah Anna yang sepertinya sangat penasaran.
"Loh, kok malah tertawa sih? Serius nih aku nanyanya..." ucap Anna kesal.
"Aku...aku...aku lagi cari...." balasku dengan tetap memperhatikan ke sekelilingku. Sebenarnya aku itu sedang mencari Daffa karena sedari tadi dia belum juga datang ke sekolah.
"Kenapa udah jam segini dia juga belum datang ya...? Apakah dia baik-baik saja...? Semoga saja dia baik-baik saja...." ucapku dalam hati.
"Loh kok malah diam sih? Emang kamu cari siapa Din? Siapa yang kamu cari?" tanya Mutia yang ikut penasaran.
"Tau nih Diana. Siapa sih yang kamu cari Din? Kasih tau dong....Kepo nih aku...." timpal Keisha yang juga ikut penasaran.
"Iihhh...kalian apaan sih? Aku itu lagi cariin Daffa loh...." ucapku.
"Ooooh....cariin Daffa rupanya" balas sahabat-sahabatku serentak.
"Daffa kemana sih? Kok belum datang juga ya....?" tanyaku pada sahabat-sahabatku sambil melihat ke arah pintu.
"Tau deh macet kali dijalan....." jawab Anna cuek.
"Mungkin kali ya..." balasku.
"Kamu ngapain sih cariin Daffa....? Hayo....jangan-jangan kamu kangen ya sama Daffa....." goda Yeslin.
"Apaan sih? Enggak kok..." elakku.
"Aku kangen sama Daffa....? Ya enggak mungkinlah. Aku tuh cuma khawatir karena Daffa belum juga datang" ucapku.
"Yakin.....?" tanya Mutia yang kurang yakin.
"Yakin" jawabku percaya diri.
"Tapi, aku kok kurang yakin ya....? Jangan-jangan kamu suka lagi sama Daffa. Iya kan Din?" ucap Mutia sambil memicingkan mata curiga.
"Suka? Aku suka sama Daffa? Ya enggak mungkinlah....Daffa itu kan sahabat baikku. Mana mungkin aku suka sama sahabatku sendiri apalagi aku dan Daffa itu udah kayak saudara" jelasku pada mereka.
"Iya deh, iya deh...." balas Mutia.
__ADS_1
"Tapi....." ucap Keisha sambil berpangku tangan di meja dengan wajah serius sembari memikirkan sesuatu.
"Tapi kenapa Keisha?" tanya Yeslin penasaran.
"Tapi....tak jarang loh banyak yang malah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Memang awalnya hanya bersahabat, tapi justru ia malah jatuh cinta pada sahabatnya" jawab Keisha.
Deg......
"Benar juga sih yang dibilang sama Keisha. Tapi gak mungkin aku suka sama Daffa. Apalagi sampai jatuh cinta samanya. Tapi kenapa ya aku selalu kesal setiap melihat dia sama Jelita.....? Apa jangan-jangan aku cemburu melihat mereka? Ah.....Tidak-tidak. Gak mungkin aku cemburu sama Daffa. Gak mungkin. Itu gak mungkin dan gak boleh sampai terjadi" ucapku dalam hati.
"Iya....tapi itu takkan terjadi padaku. Mana mungkin aku jatuh cinta sama sahabatku sendiri. Aku dan Daffa itu udah lama bersahabat. Lagipula dia sayang sama aku layaknya seorang sahabat bahkan seperti saudara. Dia selalu bisa membuat aku tersenyum dan selalu ada untuk menghibur saat aku sedih. Aku juga nyaman bersamanya dan membuatku merasa aman dan terlindungi. Dia sudah seperti saudara laki-laki aku" jelasku pada sahabat-sahabatku.
"Nah.....justru rasa nyaman dan dia yang selalu bisa membuatmu itulah yang nantinya akan menimbulkan suatu rasa. Kemudian rasa tersebut semakin lama akan berubah menjadi cinta" balas Anna.
"Ya enggaklah.....Buktinya sampai sekarang perasaan aku sama Daffa masih tetap sama yaitu perasaan sayang sebagai sahabat" ucapku membantah perkataan Anna.
"Ya mungkin memang gak sekarang terjadi. Mungkin saja nanti......Diana aku hanya ingin bilang agar kamu berhati-hati. Jangan sampai kamu jatuh cinta sama Daffa" ucap Keisha memperingatkanku.
"Iya sahabat-sahabatku yang baik. Percaya deh aku akan berusaha untuk tidak sampai jatuh cinta sama Daffa" balasku sambil memeluk sahabat-sahabatku.
"Kami hanya tidak ingin kamu terluka. Kami tidak mau kalau Diana sakit hati untuk yang kedua kali. Karena seperti yang telah kita ketahui kalau Daffa itu menyukai Jelita. Diana....kamu itu sahabat kami. Kami tidak mau sahabat kami bersedih......" ucap Mutia.
"Mmm....jadi terharu deh aku. Terima kasih ya sahabat-sahabatku......Kalian emang yang terbaik deh. Aku sayang banget sama kalian" balasku.
"Iya sama-sama....Kan itulah memang tugas seorang sahabat" ucap Yeslin.
Tak lama kemudian datanglah Daffa....
"Pagi semuanya....." sapa Daffa.
"Pagi sahabatku yang cantik...." sapa Daffa padaku.
"Pagi juga sahabatku, Daffa....." balasku sambil tersenyum ke arah Daffa.
"Din....bisa gak nanti temani aku ke toko buku? Soalnya ada buku yang mau aku beli nih....." tanya Daffa padaku.
"Bisa sih tapi....." ucapku sambil berpura-pura berpikir. Aku tau pasti setelah ini Daffa akan berusaha untuk membujukku agar mau menemaninya.
"Tapi kenapa Din? Please, aku mohon......Mau ya......" bujuk Daffa dengan wajah memelas.
"Haha....benar kan? Kalau Daffa udah mohon begini, aku gak akan bisa menolak" batinku.
"Iya deh aku mau" jawabku mengiyakan ajakan Daffa.
"Terima kasih Diana....Kamu itu memang sahabatku yang paling baik" ucap Daffa tersenyum dan mencubit kedua pipiku.
"Aduh....Sakit tau. Kamu tuh kebiasaan ya...." ucapku sambil merintih kesakitan. Lalu mengambil buku dan memukul Daffa pelan.
"Hehe...Sorry ya Din....habisnya aku gemes sih sama kamu. Pipi kamu itu loh buat aku gemes" cengir Daffa.
"Gemes sih gemes, tapi ini sakit tau....." ucapku cemberut.
__ADS_1
"Ehem....ehem...."
"Kalian itu kalau udah asyik berdua, lupa ya sama sekitar...." ucap Yeslin kesal.
"Hehe....maaf. Lupa kalau disini gak hanya kita berdua" balasku sambil nyengir.
"Kamu darimana aja sih Daffa, kenapa baru datang?" tanya Mutia.
"Memangnya kenapa? Kangen ya sama aku yang ganteng ini?" ucap Daffa percaya diri.
"Idih....nih anak kok pedenya selangit ya.....Lagian ngapain juga aku kangen samamu. Gak penting banget tau...." balas Mutia.
"Jadi apa dong?" ucap Daffa lagi.
"Habisnya sahabat kita si Diana ini dari tadi cariin kamu terus......" balas Mutia sambil melirik ke arahku.
"Oh my God......Mutia ngapain sih bilang ke Daffa kalau aku dari tadi cariin dia? Pasti sekarang Daffa bakal bersikap lebay deh..." gerutuku dalam hati.
"Oh iya...?" ucap Daffa sambil melihat ke arahku sambil tersenyum.
"Nah kan....dibilangi juga apa...." ucapku dalam hati.
"Betul tuh Daffa......Sahabat kita yang satu ini dari tadi cariin kamu terus" timpal Anna. Lalu Daffa melihat ke arahku lagi dan mencubit kedua pipiku gemas.
"Aduh.....sakit tau Daffa. Kamu itu kebiasaan banget ya.....Kamu pikir pipiku ini apaan?" omelku sambil memegangi kedua pipiku. Tapi hanya melihatku sambil tersenyum.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanyaku heran melihat Daffa yang hanya diam dan tersenyum melihatku.
"Kamu kenapa Daffa?" tanya Yeslin yang juga heran melihat Daffa hanya diam dan masih tersenyum padaku. Lalu Keisha menempelkan telapak tangannya di kening Daffa.
"Kamu gak lagi sakit kan Daffa? Daffa...." panggil Keisha.
"Iya aku gak sakit kok.....Malah aku baik-baik aja sekarang" sahut Daffa yang masih melihatku dengan tersenyum.
"Oh God.....si Daffa kenapa sih? Kok tiba-tiba dia jadi aneh gitu.....? Malah senyum-senyum lihat aku. Emangnya ada yang salah ya sama aku?" tanyaku dalam hati yang bingung melihat sikap Daffa.
"Terus, kamu ngapain lihatin aku seperti itu sambil senyum-senyum gak jelas....?" tanyaku pada Daffa.
"Ya aku senang aja....." jawab Daffa singkat.
"Senang? Senang kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ya aku senang aja karena sahabatku yang satu ini ternyata perhatian dan khawatir sama aku....." jawab Daffa sambil mengelus kedua pipiku lembut.
"Idiihhh....biasa aja kali Daffa......Gak usah lebay deh. Lagipula aku kan udah biasa kalau misalnya aku gak melihat kamu langsung dicariin. Lagian kamu itu kebiasaan banget deh. Suka banget buat aku khawatir. Aku pikir kamu gak datang dan terjadi sesuatu sama kamu dijalan. Lain kali kalau misalanya kamu telat bangun atau lagi kena macet di jalan kasih tau aku. Biar gak khawatir" jelasku.
"Ciee.....ada yang khawatir sama aku ternyata....." goda Daffa sambil mencolek pipiku.
"Ishk...Daffa....aku itu lagi serius. Jangan bercanda deh" ucapku kesal.
"Iya deh...sorry ya sahabatku. Aku janji deh sama kamu bakal selalu ngabarin kalau misalnya telat bangun, kena macet di jalan atau gak bisa datang ke sekolah" balas Daffa sambil tersenyum lembut kepadaku. Dan aku pun membalas senyumannya.
__ADS_1
Tet.....Tet.......Tet.......
Bel sekolah pun berbunyi dan guru pun memasuki kelas untuk memulai pelajaran...