
"Iya, iya sayang. Apa sih yang gak buat kamu..” ucap Daffa dan aku pun tersenyum.
“Aku mau kamu dandan yang cantik malam ini ya sayang buat aku” tambah Daffa.
“Iya Daffa, kamu juga ya harus tampan malam ini” balasku.
“Jadi maksud kamu, kemarin-kemarin aku gak tampan, huh..?” ucap Daffa merajuk. Lalu aku pun tertawa melihat Daffa yang merajuk seperti anak kecil.
“Bukan. Bukan begitu Daffa. Kamu itu tampan. Tampan sekali malah. Selain tampan, kamu juga memiliki pesona dan kharisma yang menabjukkan yang membuat siapa saja tertarik dan terpesona denganmu” jelasku jujur. Lalu Daffa pun tertawa. Aku mengerutkan dahi bingung.
“Kamu kenapa tertawa Daffa..?” tanyaku.
“Aku tertawa karena akhirnya kamu mengakui ketampananku sayang. Bahkan kamu terang-terangan memuji diriku. Aku akui, diriku ini memang tampan sayang..” jawab Daffa dengan percaya diri. Aku memutar bola mataku dengan malas. Aku benar-benar kesal dan tampak kesal telah memuji Daffa tadi. Lihatlah, kepedeannya muncul lagi.
“Bisa gak sih tingkat kepedeanmu itu dikurangi Daffa..?” ucapku sambil berdecak kesal. Daffa pun terkekeh melihatku kesal.
“Memangnya kenapa sih sayang..? Aku kan bicara kenyataan. Bahkan kamu sendiri sudah mengakuinya” balas Daffa tak mau kalah.
“Terserah kamu sajalah..Aku malas berdebat denganmu” ucapku mengalah. Lalu Daffa menghentikan mobilnya dan membuat aku bingung sekaligus bertanya-tanya.
“Kok berhenti sih Daffa?” tanyaku. Lalu Daffa merubah posisinya menghadap ke arahku.
“Sayang, lihat aku..” pinta Daffa. Lalu aku pun melihatnya. Manik mata kami pun bertemu. Lalu Daffa pun tersenyum.
“Sekarang katakan padaku, apa deskripsimu tentang aku?” tanya Daffa.
“Buat apa..?” tanyaku penasaran.
“Aku hanya ingin tahu saja. Lebih baik jawablah pertanyaanku” jawab Daffa.
“Jawab yang jujur ya sayang” ucap Daffa lagi. Aku pun mengangguk setuju.
“Deskripsiku tentang kamu adalah kamu seorang laki-laki yang tampan, berkharisma, penuh pesona, keren dan seksi. Kamu juga adalah seseorang yang bertanggungjawab dan sayang sama aku. Tapi kamu juga laki-laki yang menyebalkan, kepedean dan jahil” jawabku jujur. Lalu Daffa pun tersenyum misterius padaku.
“Kenapa kamu malah tersenyum sih..?” tanyaku.
“Gak ada sayang. Aku hanya senang mendengar deskripsimu tentang aku. Dan aku juga senang saat kamu mengatakan kalau aku seksi” jawab Daffa sambil mengerlingkan matanya.
“Seksi, hem..?” goda Daffa. Aku pun tersenyum malu dan pipiku pun mulai merah merona. Lalu Daffa mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu padaku.
“Kamu suka di bagian mana sayang..?” bisik Daffa lembut. Aku pun menegang mendengar ucapan Daffa dan lagi-lagi pipiku mulai merah merona. Aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Daffa hanya tersenyum lebar melihatku malu.
“Udah gak usah malu gitu sayang” ucap Daffa sambil menurunkan kedua tanganku dan menangkup wajahku. Lalu lagi-lagi Daffa membisikkan sesuatu padaku.
“Katakan padaku sayang, kamu menyukai bagian yang mana dari tubuhku..? Dada, perut atau yang lainnya..” goda Daffa.
“Atau kalau kamu bingung, aku bisa membuka pakaianku disini agar kamu bisa mengetahui bagian mana yang kamu suka..” bisik Daffa yang semakin gencar untuk menggodaku. Aku yang mendengar ucapan Daffa yang terakhir membuatku kesal.
“Sejak kapan Daffa jadi mesum begini..?” batinku bertanya. Lalu aku pun menjitak kepalanya.
“Pletakk”
“Aduh, aku kok dijitak sih sayang..?” tanya Daffa sambil meringis kesakitan memegang kepalanya.
“Biarin. Lagian siapa suruh kamu jadi mesum gitu” jawabku kesal sambil memalingkan wajahku ke arah lain.
°
“Memangnya kenapa kalau aku mesum..? Aku kan mesum cuma buat kamu seorang sayang..” goda Daffa dan membuatku malu sekaligus kesal.
“Aku gak suka kalau kamu jadi mesum gini sama aku. Kita kan belum menikah dan belum resmi jadi pasangan suami istri, Daffa” balasku sambil mengerucutkan bibir kesal.
__ADS_1
“Owh, jadi kalau kita udah nikah dan jadi pasangan suami istri boleh mesumin kamu..?” goda Daffa yang membuatku merutuki diriku sendiir yang mengatakan hal itu pada Daffa.
“Bu-Bukan. Bukan gitu maksudnya” ucapku gugup.
“Jadi apa dong maksud kamu sayang..?” goda Daffa sambil mendekatkan wajahnya padaku. Lalu Daffa pun menatapku dalam sehingga aku menjadi gugup dan salah tingkah.
“Udah ah Daffa, mending kita pulang. Udah mau sore nih” ucapku sambil menghindar dari tatapan Daffa dan mendorong pelan tubuhnya.
Lalu Daffa pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihatku. Sedangkan aku tidak perduli dengan itu. Saat ini yang ku pikirkan adalah cepat samapai ke rumah. Aku benar-benar gak kuat jika harus ditatap terus sama Daffa. Jantung ini semakin berdetak kencang. Kemudian Daffa kembali melajukan mobil dan pulang ke rumah. Tak lama kemudian, kami pun sampai di halaman rumahku. Kami berdua pun keluar dari mobil.
“Ya udah kalau gitu aku masuk dulu ya..” pamitku. Namun saat aku mau beranjak, Daffa menahanku sehingga membuat aku membalikkan badan.
“Ada agpa Daffa..?” tanyaku bingung. Lalu Daffa mendekatkan dirinya padaku. Lalu mencium keningku dengan lembut.
Cup
“Sampai jumpa nanti malam sayang” ucap Daffa sambil mengelus lembut pipiku dan membuatku seketika terdiam.
“Udah masuk sayang..” pinta Daffa. Aku pun tersadar dan menuruti perintah Daffa.
“Iya, sampai jumpa nanti malam Daffa..” balasku tersenyum. Daffa pun menganggukkan dan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian pun beranjak pergi dari rumahku. Setelah itu, aku pun langsung masuk ke dalam rumah.
Daffa Merlin Putra POV (ON)
Setelah mengantarkan gadis kesayanganku ke rumahnya, kini aku pun telah sampai di rumah. Aku pun masuk ke rumah dengan perasaan yang bahagia. Aku melihat mama dan papa sedang asyik mengobrol.
.
“Hai ma, pa..” sapaku sambil tersenyum.
“ Hai, anak mama udah pulang ternyata” balas mamaku. Aku pun mengangguk.
“Emang benar pa, anakmu ini memang sedang bahagia” balasku.
“Wah, wah…bisa dong cerita sama mama dan papa, apa yang membuat kamu bahagia hari ini” ucap mama penasaran.
“Daffa bahagia hari ini karena ternyata Diana juga mencintaiku” balasku sambil tersenyum lebar.
“Apa?” teriak mama dan papa secara bersamaaan.
“Kamu gak bercanda kan nak?” tanya papa yang masih kurang yakin.
“Iya pa, Daffa gak bercanda” jawabku.
“Bagaimana ceritanya kamu bisa tahu nak? tanya mama.
“Ya bisa dong ma..” jawabku. Lalu aku pun mulai bercerita.
*Flashback On*
“Daffa” panggil Diana sambil mendongakkan wajah menghadapku. Lalu aku pun menghadapkan wajah padanya.
“Iya apa sayang..?” tanyaku.
“Aku mau tanya sesuatu, boleh..” ucap gadisku.
“Mau tanya apa sayang?” tanyaku lagi.
__ADS_1
“Kenapa kamu mengatakan kalau aku masih begitu polos?” jawab gadisku.
“Ternyata gadisku ini memang benar-benar masih begitu polos. Tapi aku senang saat dia mengatakan bahwa saat berada di dekatku, aku sering membuatnya gugup dan jantung berdetak kencang saat aku menatap dia. Apa gadisku ini mulai mencintaiku? Aku harus memastikannya” batinku.
“Kamu benar-benar mau tahu sayang..?” tanyaku yang dibalas dengan menganggukkan kepala.
“Emm..Kasih tahu gak ya..” ucapku.
“Daffa jangan bercanda, Aku serius nih” rengeknya.
“Apakah aku harus memberitahu alasannya sekarang?”batinku bertanya.
“Oh iya Daffa” panggil gadisku. Aku pun langsung tersadar dari lamunanku. Lalu aku pun menatap Diana.
“Iya, kenapa sayang..?” tanyaku.
“Kata papa, kalau jantungku berdetak kencang dan merasa gugup saat kamu menatapku dalam, itu artinya aku sedang jatuh cinta. Dan aku jatuh cinta karena kamu. Apa itu benar Daffa..?” jawab gadisku. Lalu aku pun terkejut dengan ucapannya.
“Apa?? Diana mencintaiku? Apakah benar dia mencintaiku? Tapi kenapa gadisku ini malah bertanya padaku? Ya ampun, gadisku ini benar-benar sangat polos ternyata” batinku.
“Lalu menurut kamu gimana..?” tanyaku.
“Aku gak tau Daffa. Aku bingung” jawab gadisku.
“Bingung? Bingung kenapa?” tanyaku penasaran.
“Yang aku rasain ke kamu itu beda dengan waktu dulu aku suka sama Erick” jawabnya.
“Erick? Ya ampun sayang, kenapa kamu membandingkan aku dengannya. Aku cemburu sayang. Tapi tunggu dulu, apa maksud perkataan gadisku ini? Kenapa dia bilang berbeda? Aku harus tanya samanya” batinku.
“Beda gimana sayang?” tanyaku lagi.
“Ya beda Daffa. Dulu saat aku suka sama Erick, jantungku tidak berdetak kencang dan aku pun tidak terlalu gugup saat Erick menatapku. Kamu tahu kan kalau dulu aku suka sama Erick itu ganteng, jago main basket dan humoris” jawabnya. Aku pun hanya diam dan menunggu gadisku berkata lagi.
“Erick juga gak jahil seperti kamu. Tapi saat aku bersama kamu, rasanya begitu tenang, aman dan nyaman. Ketika kamu menatapku seperti tadi, jantungku berdetak kencang dan aku pun merasa sangat gugup. Ya meskipun kamu jahil, entah kenapa aku senang bersamamu. Daffa. Rasanya aku tidak mau jauh dari kamu” jelas gadisku.
“Aku terharu mendengarnya. Aku gak menyangka ternyata itu yang dia rasakan saat bersamaku dan dia sangat mencintaiku. Ah, senangnya” batinku senang.
“Nah, itulah perbedaannya Daffa yang membuat aku bingung” tambahnya sambil memandang ke arahku. Lalu aku pun membelai rambutnya lembut dan penuh kasih sayang.
“Apa yang kamu rasakan ke Erick dulu itu memang berbeda dengan yang kamu rasakan ke aku sekarang ini. Karena yang kamu rasakan ke Erick itu hanyalah sebatas perasaan suka atau kagum. Sementara yang kamu rasakan ke aku itu adalah cinta” jelasku.
“Kenapa begitu..?” tanya gadisku penasaran.
“Karena perasaan suka atau kagum itu hanya bersifat sementara. Buktinya kamu sekarang udah melupakan dia. Ya meskipun dulu kamu sempat bersedih, tapi itu kan hanya sesaat. Setelah itu kamu kembali tersenyum lagi. Beda dengan perasaan cinta. Dimana rasa cinta itu adalah rasa yang tulus dari hati. Sekarang aku tanya sama kamu, apa yang kamu rasakan ketika aku sakit..? Atau ketika aku jauh dari kamu..?” ucapku menjelaskan.
“Yang aku rasakan ketika kamu sakit, ya aku sangat khawatir. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku juga sedih ketika melihat kamu sakit. Rasanya melihat kamu sakit, aku seperti merasa apa yang kamu rasa. Lalu jika kamu jauh dari aku, aku akan merasa sedih. Rasanya hidup ini hampa dan tidak berwarna. Aku pun akan sangat merasa kehilanganmu” jawab gadisku.
“Aku bahagia. Aku bahagia mendengarnya” batinku gembira.
“Nah itulah cinta sayang. Dimana akan ikut merasa apa yang dirasakan oleh pasangannya. Lalu merasa kehilangan ketika dia jauh” jelasku.
“Berarti aku mencintaimu, Daffa..” ucap gadisku.
*Flashback Off*
“Nah, begitulah ceritanya ma, pa..” jelasku pada kedua orangtuaku.
“Mama dan papa senang mendengarnya” ucap mama senang.
“Papa juga senang ternyata kalian saling mencintai” timpal papa.
__ADS_1
“Iya pa..” balasku sambil tersenyum.
“Tapi ma, pa..” ucapku sedih.