I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
21


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Adira memimpin kantor cabang Laleigh Company. Adira tampil dengan begitu cantik dan juga menawan, semua karyawan kantor begitu terpana dengan kecantikan Adira, kulit putih, mulus dan juga bersinar, penampilannya juga begitu elegan dengan pakaian setelan kerja yang harganya begitu pantastis.


"Selamat pagi."sapa Adira terhadap karyawan yang tengah berjejer.


"Pagi, bu."Jawab mereka serempak.


"Baik, mungkin kalian bertanya-tanya siapa saya! jadi di sini saya akan memperkenal kan siapa saya."Adira terlihat menghela nafas panjang.


"Perkenalkan, Nama saya Adira Malikasafiya. Di sini saya adalah pimpinan baru kalian, saya yang akan menghendel kantor cabang ini, saya harap kalian bisa bekerja sama dengan saya untuk menaikan kinerja perusahaan ini."ucap Adira dengan tegas dan juga berwibawa.


"Baik, bu. Kami ucapkan selamat datang dan juga selamat bergabung. Kami akan berusaha bekerja dengan semaksimal mungkin untuk perusahaan ini."ujar salah satu karyawan.


"Ok, kalian boleh kembali pada pekerjaan masing-masing."ujar Adira kemudian dia melangkah pergi kedalam ruangan yang telah di siap kan untuknya.


Adira begitu serius menatap laptop yang berada di hadapannya, dia terlihat sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang membuat otaknya terkuras. Adira yang biasanya berkutat dengan peralatan dapur, kini dia harus menghendel perusahaan yang terbilang sangat besar meskipun hanya kantor cabang saja.


"Ya ampun, otak se ons ku bisa oleng jika terus mengerjakan pekerjaan seperti ini. Lebih enakan bekerja di dapur sih sebenarnya."gumam Adira yang jari tangannya masih menari di atas keyboard.


Tok, tok, tok.


Terdengar pintu ruangannya di ketuk.


"Masuk."ucap Adira.


Tak lama masuklah seorang wanita yang usianya di perkirakan seumuran dengan Adira.


"Permisi bu, perkenalkan nama saya Cyra Aulia. Saya di tugaskan oleh pak Li untuk menjadi asisten sekaligus sekretaris ibu."ujar Cyra dengan sopan, Li adalah panggilan Aderald di dalam perusahaan.

__ADS_1


"Baiklah, perkenalka nama saya Adira Malikasafiya, semoga kau betah menjadi asisten sekaligus sekertaris ku ya."Adira tersenyum begitu manis terhadap Cyra.


"Pasti betah sekali, apalagi ibu orangnya sangat ramah."puji Cyra.


"Bisa aja kamu,"Adira sepertinya merasa nyaman ketika berbincang dengan Cyra, sepertinya Cyra akan menjadi teman bercerita Adira mulai saat ini.


"Baiklah, kamu bisa mulai bekerja. Ruang kerja mu ada di depan."ucap Adira sembari menatap Cyra dengan tersenyum tipis.


"Baik bu, kalau begitu saya permisi ke depan. Kalau ibu membutuhkan bantuan, ibu bisa panggil saya."ujar Cyra sembari membungkuk kemudian dia melangkah keluar dari ruangan Adira.


Adira cukup senang dengan dunia barunya, meski kali ini dia harus berinteraksi dengan banyak orang tapi setidaknya kini tidak ada lagi yang mencaci dan juga menghinanya. Dia bersyukur bisa di pertemukan dengan Aderald, karna berkatnya dia bisa bangkit dari keterpurukan dan memulai kehidupan barunya, tapi tetap saja tujuannya hanya satu, yaitu membalas dendam terhadap keluarga Revanga.


Adira terlihat beberapa kali menguap, pekerjaan ini sangat membuatnya mengantuk, kebetulan sekali ada seorang OB yang datang keruangannya dengan membawa secangkir teh panas, Adira pun langsung saja meminum teh panas itu dengan sedikit demi sedikit, sebelumnya ia juga meniupnya terlebih dahulu guna mengurangi panas pada teh itu.


"Aku kira menyenangkan bekerja seperti ini, tau nya sangat menguras otak."Adira menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


Adira menerawang jauh kebelakang, dia mengingat kehidupan pilunya dahulu. Dimana setiap harinya dipenuhi oleh kesedihan dan juga tangisan penderitaan, tersiska diri dan juga batin. Andai saja dirinya bisa lebih awal bertemu dengan Aderald, mungkin kedua anaknya kini masih berada di sisinya.


"Kalian pasti sudah bahagia di surga sana, apa kalian bertemu dengan nenek dan kakek di sana? pasti kalian sudah bertemu mereka. Disini Mamah akan mencoba bertahan untuk menuntut keadilan atas kematian kalian. Mamah akan membuat mereka merasakan derita dan juga kesakitan yang selama ini kita rasakan."Adira berucap dengan kilatan amarah.


"Kamu sedang memikirkan apa?"Aderald tiba-tiba muncul dari belakangnya sembari memegang pundak Adira.


"Sejak kapan kamu berada disitu?"Adira langsung mendongkak menatap Aderald.


"Sejak kamu berbicara sembari melamun, sehingga kamu tidak menyadari jika aku telah masuk kedalam ruangan mu."Jawab Aderald yang masih betah berdiri di belakang Adira.


"Ah, iyakah? kenapa aku sampai tidak menyadari jika kamu masuk. Apa kamu membuka pintu dengan sangat pelan sekali?"tanya Adira.

__ADS_1


"Tidak, biasa saja. Oh ya, aku kesini ingin mengajak mu makan siang sekaligus ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."jelas Aderald.


"Baiklah, kita berangkat sekarang. Perut ku sudah meronta meminta di isi."ucap Adira sembari memegang perutnya.


Mereka pun berjalan keluar dari ruangan Adira, sepanjang perjalanan banyak pasang mata yang menatap mereka penasaran, dalam benak mereka bertanya-tanya apa hubungan pemilik perusahaan Laleigh Company dengan pemimpin mereka yang baru. Karna setau mereka Aderald tidak pernah dekat dengan wanita manapun dia seakan jijik saja terhadap wanita, tersentuh sedikit saja dia akan langsung marah. Berbeda dengan yang di lihat mereka saat ini, Aderald begitu dekat dengan Adira, dia juga memperlakukan Adira dengan lembut dan juga penuh perhatian.


"Kamu mau makan di mana?"tanya Aderald saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Gimana kalau di restoran jepang saja, aku sedang ingin makan ramen."Jawab Adira.


"Ok, kita kesana."Aderald melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sepanjang perjalanan Adira terus saja berceloteh, dia menceritakan aktipitasnya dari pertama dia menginjakan kaki di kantor hingga dia berkutat dengan laptop dan juga tumpukan berkas, Adira merasa nyaman saat bercerita kepada Aderald, sekarang dia tidak merasa sendiri lagi, sekarang dia punya Aderald tempatnya mengadu dan juga berkeluh kesah.


Begitu sampai di tempat yang mereka tuju, mereka pun langsung saja turun kemudian mereka berjalan masuk kedalam restoran. Mereka pun memesan dua porsi ramen dan juga Thai tea.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku?"tanya Adira sembari menyeruput kuah ramen yang begitu nikmat.


"Besok adalah jadwal pertemuan mu dengan Revan, apakah kamu siap untuk bertemu dengannya?"


"Aku sangat siap Rald, apakah dia akan mengenaliku besok?"


"Sepertinya tidak akan, dirimu sangat berbeda sekali. Aku saja pangling melihat perubahan mu."ujar Aderald.


"Semoga saja seperti itu, supaya aku bisa lebih mudah untuk menghancurkan dia."


"Awas kau akan jatuh cinta kembali padanya."goda Aderald.

__ADS_1


"Tidak akan, aku tidak sudi mencintai lelaki bajingan itu lagi. Dulu aku memang bodoh, tapi sekarang aku tidak mau mengulangi kebodohan yang sama."


"Apa suatu saat kamu akan membuka hatimu untuk orang yang baru?"Aderald menatap Adira dengan begitu serius.


__ADS_2