
Revan tengah bersantai di ruang keluarga sembari menikmati secangkir teh hangat, dia sangat bingung sekali, kemana lagi dia harus mencari Ibu dan juga kakaknya. Dia sama sekali belum menemukan jejak mereka, padahal dia sudah memerintahkan klan mafia Black hole untuk mencari mereka.
Mafia Black hole adalah mafia yang bekerja sama dengan Revan, mafia itu lah yang dahulu membunuh orangtua Adira, tapi dulu mafia itu di pimpin oleh Ayahnya dan sekarang oleh anaknya.
"Kemana lagi aku harus mencari kalian?"lirih Revan frustasi.
Revan menyandarkan punggungnya di kursi, dia begitu bingung saat ini. Banyak sekali masalah yang menimpanya, dari mulai perusahaan yang di ambang kebangkrutan, Ibu dan kakaknya yang menghilang. Istrinya Maudy pun dia tidak tau dimana keberadaannya. Belum lagi sang kekasih Lika yang mulai menjauh darinya, dia selalu mencari alasan setiap kali Revan mengajaknya bertemu.
Tok tok tok.
Suara pintu di ketuk, Revan pun bangkit dari duduknya dengan lunglai. Dia membuka pintu perlahan tapi tidak ada orang disana.
"Siapa yang mengetuk pintu?"heran Revan.
Dia pun hendak kembali menutup pintu, tapi dia melihat sebuah kardus berukuran besar berada di depan pintu.
"Apa ini?"ucap Revan sembari menelisik kardus yang diberi pita itu.
Karna penasaran Revan pun membukanya, dia merobek kardus itu secara paksa.
"Kepala manusia? kepala siapa ini?"kaget Revan saat dia sudah membuka kardus itu yang ternyata isinya adalah kepala manusia.
"IBU, MBAK NATA."teriak Revan histeris saat dia membalikan kepala itu dan menilisik wajahnya.
__ADS_1
"Ini tidak mungkin. Ini bukan kalian kan? tidak mungkin, siapa yang melakukan ini semua? siapa?"Revan tertunduk sembari memegangi kardus itu.
"Apa ini?"Revan mengambil surat yang terletak di sebelah kepala Tamara.
Teruntuk Revan Erlangg Revanga.
Satu-persatu aku akan mengambil semua yang kau punya, harta tahta dan juga keluarga. Sama seperti apa yang kamu dan keluargamu lakukan terhadap ku dan juga keluargaku. Ingat Revan karma itu ada, keluarga pembunuh akan mati terbunuh juga dan semua harta yang kau miliki adalah hasil rampasan, maka semua itu akan terampas kembi.
Q,B.
Revan membaca suarat itu dengan gigi yang bergemeretak, amarah mulai memuncak menguasai dirinya.
"Siapa orang yang berani bermain-main dengan ku?"Revan meremas surat itu hingga tak berbentuk.
"Aku tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang, aku akan membunuhnya secara keji. Seperti apa yang dia lakukan terhadap Ibu dan juga kakak ku."Revan mengepalkan tangannya kuat.
"Bu, Mbak Nata. Kalian tenang saja, aku akan membunuh orang yang telah membuat kalian menjadi seperti ini."ucap Revan sembari memandang kedua kepala itu.
Kemudian dia membawa kedua kepala itu kebelakang rumah untuk di kuburkan.
***********
Dua bulan telah berlalu,
__ADS_1
Adira dan Revan pun telah resmi bercerai, prosesnya pun cukup mudah karna Revan tidak mendatangi persidangan dengan berturut-turut, dengan bukti kuat yang Adira punya dia berhasil mempercepat proses persidangan.
Awalnya Revan kaget saat mengetahui dirinya telah di gugat cerai oleh Adira, dia pikir wanita itu sudah mati. Tapi Revan tidak ambil pusing dia tidak perduli dengan semua itu, dia tidak perduli Adira masih hidup atau pun sudah mati, baginya dia sudah tidak penting lagi.
"Sekarang kamu sudah resmi bercerai dengan pria itu. Berarti sebentar lagi kita akan menikah."Aderald memeluk Adira yang tengah berdiri dibalkon kamarnya dari belakang.
"Masih harus menunggu masa idah ku dulu."ucap Adira.
"Apakah masih lama?"Aderald membalikan Adira supaya dia menatap kearahnya.
"Sebentar lagi."Adira tersenyum simpul.
"Aku sudah tidak sabar ingin memiliki mu seutuhnya, Baby."Aderald mengecup kening Adira lembut.
"Tapi berjanjilah, kamu tidak akan menyakiti ku seperti dia. Karna jujur saja aku sangat trauma dengan yang namanya pernikahan."Adira menatap lembut manik mata Aderald.
"Aku tidak akan berjanji, tapi akan membuktikannya padamu. Bahwa aku bukanlah pria seperti itu, cintaku sangat tulus, aku tidak akan setega itu menyakiti wanita yang teramat aku cintai."Aderald membalas tatapan Adira.
Adira pun berhambur memeluk Aderald, dia memeluknya dengan begitu erat, Aderald juga membalas pelukan Adira.
"I love you, Rald."lirih Adira.
"I love you too, Baby."Aderald mengecup puncak kepala Adira mereka pun berpelukan dengan mesra di sore hari yang mulai redup.
__ADS_1