
Pertatungan tidak dapat ter elakan lagi, kedua kubu itu saling menyerang dengan membawa senjata andalannya masing-masing.
Prang,
Prang,
Prang,
Suara katana milik Revan dan juga Adira saling beradu, mereka saling menyerang dengan beringas dan juga berkabut amarah. Sedangkan Aderald, dia tengah melawan Thomas dengan tangan kosong, tapi tersimpan beberapa senjata di balik jubahnya jika suatu waktu di perlukan.
"Ternyata kau sangat kuat sekarang, tidak seperti dulu. Lemah."ucap Revan di sela pertarungan mereka.
"Tidak selamanya orang akan selalu menjadi lemah dan terus tertindas. Ada kalanya dia bangkit untuk melawan penindasan itu."Adira tidak lagi melawan dia hanya menghindar saja, dia membiarkan Revan terus menyerang agar dia kehilangan banyak tenaga.
"Mengapa tidak melawan hah? apa kau takut."cibir Revan saat meliat Adira tidak melawan serangannya.
"Aku takut padamu? itu mustahil. Hanya saja serangan mu itu begitu membosankan sehingga membuat ku muak."Adira menunduk saat katana Revan hendak menyentuh lehernya.
"Apa kau bilang? membosankan hah. Kamu lihat saja Adira, aku akan membuat mulut bedebah mu itu bungkam untuk selama-lamanya."murka Revan yang semakin membabi buta.
"Coba saja kalau bisa."Adira melompat kemudian dia memutarkan tubuhnya untuk menghindari serangan Revan.
Setelah dirasa Revan lengah, Adira pun langsung saja menerjang dada Revan dengan menggunakan kakinya sehingga Revan terpental ke tembok karna tendangan Adira begitu kuat.
Revan yang murka pun langsung saja bangkit, kemudian dia menyerang Adira kembali. Tapi kali ini Adira melawan serangan itu dengan lebih membabi buta tapi tetap elegan.
__ADS_1
Srett,
Adira berhasil menyayat lengan kiri Revan sehingga membuat si empunya meringis, tapi dia tidak gentar dia tetap saja menyerang Adira dengan kilatan amarah.
"Masih belum puas juga rupanya, baiklah aku akan membuat mu merasakan neraka dunia Revan."Adira tersenyum menyeringai.
Dan,
Blass,
Adira menebas tangan sebelah kanan Revan yang tengah memegang katana, sehingga katana itu terlempar bersama dengan potongan tangan Revan karna Adira menebasnya di bagian sikut.
"AKHHH, SIAALANN, BEDEBAH KAMU ADIRA."teriak Revan kesakitan, dia pun tetduduk lemas di lantai dengan darah yang mengalir deras dari tangannya.
"REVAN,"teriak Thomas yang tengah bertarung sengit dengan Aderald, dia hendak menghampiri Revan tapi timah panas sudah terlebih dahuluh menembus jantungnya sehingga membuatnya ambruk seketika.
"Sudah bereskan Baby."Aderald berjalan menghampiri Adira.
"Sudah, sepertinya seluruh anggota Black Hole juga sudah tewas di tangan para anggota kita. Tinggal mengurus bedebah ini saja."Adira menunjuk Revan dengan dagunya.
"Apa kau akan membunuhnya Baby?"tanya Aderald.
"Tentu saja, tapi tidak sekarang. Aku akan membuatnya merasakan neraka dunia terlebih dahulu."Adira menyeringai tajam.
"Kau ingin bermain-main dengannya?"Aderald merangkul bahu Adira.
__ADS_1
"Ya, aku ingin bermain dengannya sampai puas."Adira tersenyum begitu manis.
Cup,
Aderald mengecup bibir yang tengah tersenyum itu.
"Lakukan apa yang kau inginkan Baby."
"SIALAN KALIAN, BERANINYA KALIAN BERBUAT SEPERTI INI PADAKU. AKHH, PENGHIANAT KAU ADIRA."teriak Revan murka.
Adira yang mendengar itupun langsung saja berjalan menghampiri Revan, dia menunduk di hadapan Revan yang tengah meringis kesakitan.
"Kenapa hm? mau marah? tidak terima, iya?"Adira mencengkram erat dagu Revan.
"Dengarlah Revan Erlangga, bukan kah kau sendiri yang mengantarkan nyawa mu kesini hm? dan perlu kamu tau, pembalasan ini belum seberapa dengan apa yang telah kamu dan keluarga mu lakukan terhadap ku dan juga keluargaku."Adira terlihat menghela nafas kasar.
"Ayah mu telah merenggut nyawa kedua orang tuaku dengan paksa, hanya demi merebut harta mereka. Lalu ibu dan juga kakak mu telah merenggut kedua nyawa anaku yang tidak berdosa itu, lebih parahnya lagi, kamu yang notabennya ayah dari mereka, kamu tidak sedikitpun mempunyai rasa iba terhadap anakmu sendiri. Sampai mereka mati mengenaskan pun, kamu tidak perduli, kamu bersikap seoalah tiada yang terjadi. Dimana hati nurani kamu Revan? dimana? di depan matamu mereka meregang nyawa karna perbuatan kedua iblis itu, tapi kamu tidak bertindak apapun, kamu seolah buta dan juga tuli atas kejadian itu."Adira menitikan air mata saat mengingat kematian anaknya, lalu dia menghempaskan dagu Revan dengan kasar.
"Buat apa aku perduli hah? buat apa? lagi pula aku tidak pernah menganggap mereka sebagai anaku, karna mereka terlahir dari perempuan yang sama sekali tidak aku cintai."ucap Revan dengan menahan sakit.
"MEREKA ANAK MU REVAN, ANAK MU. MEREKA TETAP SAJA DARAH DAGING MU, MESKIPUN MEREKA LAHIR BUKAN DARI RAHIM PEREMPUAN YANG KAMU CINTAI."teriak Adira di sertai linangan air mata, dia begitu sedih karna anaknya sama sekali tidak di anggap oleh ayahnya sendiri.
"Sett, jangan sedih. Biarkan saja bajingan itu tidak menganggap kedua anakmu sebagai anaknya. Masih ada aku, akulah yang akan menjadi ayah mereka, meskipun mereka telah tiada."Aderald menarik Adira kedalam pelukannya.
"Dia jahat Rald, dia gak punya hati. Kasian kedua anaku, mereka tidak di anggap oleh ayahnya sendiri, hiks."Adira memeluk Aderald dengan begitu kuat sembari terisak.
__ADS_1
"Menangislah, jika itu dapat mengurangi kesedihan mu."Aderald mendekap erat Adira dengan tangan yang mengelus lembut punggung Adira.