
Huek! huek! huek!
Adira kini tengah berada di kamar mandi, dia merasakan perutnya begitu bergejolak setelah mereka selesai memadu kasih. Dengan setia, Aderald mendampingi Adira memuntahkan isi perutnya. Dia meminta pelan tengkuk Adira dengan penuh kasih sayang.
"Masih mual?" Aderald menatap sang istri yang wajahnya begitu pucat.
"Sudah tidak begitu mual, kok." Adira berusaha untuk tersenyum.
"Aku panggilin Dokter ya, supaya kamu di periksa," ucap Aderald yang tengah mengelus rambut istrinya sembari menyeka air yang membasahi mulut sang istri.
"Tidak perlu, aku udah gak pa-pa kok." Adira melangkah keluar dari dalam kamar mandi.
"Aku takut kamu kenapa-napa, Beb." Aderald terlihat begitu cemas.
"Palingan hanya masuk angin," ujar Adira yang kini sudah berbaring di ranjang.
"Ya sudah, tapi kalau nanti mual lagi. Aku panggil dokter ya," ucap Aderald yang di balas anggukan kepala oleh Adira.
"Sebentar, aku mau bikinin kamu teh hangat dulu." Aderald mengelus sayang kepala Adira kemudian dia melangkah keluar dari dalam kamar.
Sesampainya di luar, ternyata ke empat orang itu tidak berangkat kepantai. Mereka terlihat tengah menonton drakor sembari menyantap berbagai jenis cemilan.
"Kalian gak jadi mantai?" tanya Aderald saat melewati mereka.
"Kita kan nungguin kalian, lama banget si keluar kamarnya," ucap Mira.
"Kalian berangkat aja, gak usah nungguin kita.Adira sakit, jadi kita gak bakalan ikut," ujar Aderald.
"Adira sakit? sakit apa? perasaan tadi dia baik-baik aja deh," kaget David sekaligus cemas.
"Bini gue yang sakit, kenapa lo yang cemas?" heran Aderald saat melihat tingkah David.
"Dia kan temen gue, masa gue gak cemas," ujar David.
"Adira sakit apa, Rald?" selah Mira.
"Dia masuk angin, Mir."
"Di polosin mulu sih, jadi masuk angin kan," delik Mira.
Aderald tidak lagi menyahut. Dia malah pergi begitu saja melewati mereka untuk menuju ke dapur. Disana dia langsung saja membuat teh hangat untuk Adira.
__ADS_1
******************
"Dir, kamu gak pa-pa kan? tadi aku denger dari Derald katanya kamu sakit," ucap Mira yang sudah memasuki kamar Adira, tadi dia begitu hawatir saat mendengar Dira sakit, maka dari itu dia buru-buru masuk kamar Dira untuk memastikan.
"Aku baik-baik aja kok, Mir." Adira tersenyum tipis.
"Syukurlah." Mira tampak bernapas lega.
"Katanya kalian mau ke pantai? kok belum berangkat?" tanya Dira.
"Masa iya kita ke pantai tanpa kamu, Dir."
"Kalian berangkat aja, gak usah nunggu bareng aku."
"No, kita gak mau pergi tanpa kamu, Dir."
Beberapa saat kemudian. Aderald pun datang dengan membawa satu gelas teh hangat. Setelah Aderald masuk, Mira pun langsung buru-buru pergi keluar dari sana.
************************
Keesokan harinya, mereka pagi-pagi sekali sudah berangkat ke pantai. Adira terus merengek agar segera berangkat karena kemarin tidak jadi, dia tidak mau hari ini sampai tidak jadi lagi.
"Badan kamu semakin berisi, Beb," ucap Aderald sembari memperhatikan Adira yang tengah berdiri di pinggir pantai menikmati desiran ombak yang menerpa kakinya.
"Tidak, maksudku bukan gendut. Tapi berisi, Beb," ujar Aderald cepat.
"Boong, bilang aja aku gendut. Kamu mau cewek yang langsing kayak tihang listrik? ya udah, cara aja sana. Tuh banyak cewek langsung, seksi lagi," ucap Adira sinis sembari menunjuk kumpulan wanita seksi yang tengah berjemur.
"Kamu gak gendut, kamu seksi, Beb. Aku suka yang berisi." Aderald mendekat pada Adira dan hendak memeluknya.
"Aku gak mau di peluk sama kamu, bau!" ketus Adira sembari melangkah pergi.
"Aku wangi, loh. Beb, gak bau, kok." Aderald mengendus tubuhnya sendiri.
"Beb, tunggu!" Aderald mengejar Adira yang mulai menjauh.
Adira terus berjalan dengan mulut yang menggerutu, dia masih kesal dengan perkataan Aderald yang mengatainya gendut. Padahal Aderald hanya bilang kalau Adira tampak berisi. Mungkin hari ini, mod Adira sedang buruk, makanya dia menjadi sangat sensitip.
"Kenapa tu bibir ngedumel bae?" tanya David saat Adira menghampiri mereka dengan mulut yang masih mrnggerutu.
"Aku kesel sama Derald," jawab Adira cemberut.
__ADS_1
"Dia nyakitin lo?" tanya David serius.
"Dia ngatain aku gendut, hiks. Dia jahat, Vid. Hiks." Adira menangis.
"Aku gak ngatain kamu gendut, Beb. Suer deh," ucap Aderald yang baru saja tiba.
"Boong, tadi kamu bilang begitu." Adira semakin terisak.
"Jangan nangis dong, Beb. Aku minta maaf, ya." Aderald mendekat pada Adira.
"Jangan deket-deket!" pekik Adira.
"Sebenernya ada apa si, Rald?" tanya Mira penasaran.
"Gue tadi salah ngomong, Mir," ujar Derald.
"Emang kamu ngomong apa? sampe Dira nangis begini?"
"Gue cuma bilang kalo Dira tampak berisi, itu aja, Mir."
"Hm, aku juga liat kalo Dira makin berisi, deh. Apalagi di bagian dada." Mira nampak menilik Adira.
"Hiks, kalian sama aja. Jahat!" tangis Adira semakin pecah.
"Beb... Kita gak maksud buat ngatain kamu. Jangan nangis lagi, ya." Aderald menggenggam lembut lengan Adira.
"Jangan pegang!" Adira memplototi Derald.
"Maaf." Aderald menatap manik mata berair sang istri.
"Jangan deketin aku, kamu bau. Huek," perut Adira kembali bergejolak.
"Kamu mual lagi, Beb." Aderald nampak cemas.
"Aku bilang jangan deketin aku, kamu bau. Lepas."Adira berontak saat Derald memegangi tubuhnya.
" Dave, panggil dokter Aslan kesini."Aderald melirik kearah David.
"Ok." David segera menghubungi dokter pribadi Aderald.
"Kepalaku pusing banget," lirih Adira yang kini berada dalam dekapan Aderald.
__ADS_1
"Kita pulang ya, Dokter Aslan akan segera tiba untuk memeriksa kamu." Aderald langsung menggendong Adira ala bridal style.