I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
43


__ADS_3

Adira kini tengah di perjalanan menuju ke puncak, Aderald akan membawa Adira kesana untuk menenangkannya sesuai permintaan Adira tadi. Adira juga tidak jadi membunuh Revan, dia menuruti apa permintaan Aderald, dia berusaha untuk ikhlas meskipun sulit. Benar kata Aderald, tidak mungkin jika dirinya akan terus hidup dalam belenggu dendam, dia juga ingin hidup tenang. Toh orang yang telah membunuh anaknya juga sudah mati.


"Aku senang kamu mengambil keputusan yang tepat."Aderald mencium tangan Adira yang ia genggam dengan sebelah tangannya.


"Aku hanya tidak tega membiarkan anak yang tidak berdosa harus kehilangan kasih sayang seorang ayah, cukup aku dan kedua anaku yang mengalami itu."Adira menatap Aderald yang tengah menyetir.


"Maafkan aku ya, aku telah membuat mu menjadi seperti ini. Hidup dalam belenggu dendam."Aderald melirik Adira sekilas lalu dia kembali fokus menyetir.


"Kenapa kamu harus minta maaf?"


"Karna bagaimanapun juga akulah yang menyuruh mu untuk membalas dendam kepada mereka. Akulah yang mempengaruhi mu untuk menjadi jahat dan kejam."ucap Aderald dengan rasa bersalah.


"Kamu tidak salah Rald, justru aku sangat bersyukur bisa mengenal mu. Berkat mu aku bisa keluar dari keterpurukan, kamu juga telah membuat Adira yang lemah musnah dan menggantinya dengan Adira yang kuat, tidak lemah seperti dulu yang mudah di tindas. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku memang ingin membalas dendam pada kedua wanita iblis itu sedari dulu, tapi dulu aku tidak mampu Rald."Adira menggenggam erat tangan Aderald.


"Kita tinggalkan yang lalu, kita buka lembaran hidup yang baru ya. Yang hanya ada aku kamu dan anak-anak kita nantinya."ucap Aderald.


"Anak?"Adira sedikit sensitip jika membicarakan soal anak.


"Ya, apakah kamu tidak ingin mempunyai anak kembali setelah kita menikah nanti?"tanya Aderald serius.


"Bukan begitu Rald, hanya saja aku masih trauma, aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik, aku takut aku gagal lagi, aku takut aku tidak bisa melindungi anaku lagi Rald."Adira terlihat cemas.


"Hey, dengarkan aku. Kamu adalah sosok ibu yang baik, kamu tidak gagal, kepergian mereka adalah sebuah takdir yang telah di gariskan oleh sang pencipta meskipun cara mereka pergi begitu mengenaskan. Yakinlah, kamu pasti bisa, kamu harus bangkit. Mereka juga pasti senang jika kamu mempunyai anak kembali, mereka akan punya adik. Meskipun mereka hanya bisa melihat dari kejauhan."Aderald menggenggam kedua tangan Adira setelah ia memberhentikan mobilnya di tepi jalan.


"Apa aku bisa Rald?"Adira menatap manik mata Aderald.


Cup,


"Kamu pasti bisa."Aderald mengecup bibir Adira sekilas.


Dorrr,


"Rald, siapa mereka?"pekik Adira kaget saat segerombolan orang berpakaian hitam mengelilingi mobilnya dan juga menembak mobil mereka, untung saja mobil yang Aderald gunakan adalah mobil anti peluru.


"Sepertinya mereka adalah klompok mafia yang membuntuti kita dari kota."ucap Aderald.


"Kenapa mereka menghadang kita Rald?"heran Adira.


"Karna mereka mengincar nyawa kita, mereka ingin menghancurkan klan Mafia kita dan merebut daerah kekuasaan BBD juga menempati posisi Mafia terkuat no 1 yang saat ini di duduki oleh BBD."Jelas Aderald.

__ADS_1


"Ternyata hidup di dunia bawah banyak sekali marah bahaya yang mengintai."Adira bersiap-siap dia mengenakan jubah anti pelurunya yang di dalamnya telah terisi berbagai senjata, untung saja mereka kemana-mana selalu membawa semua itu untuk berjaga-jaga.


"Berhatilah saat menyerang nanti, mereka bukanlah Mafia sembarangan dan jumlahnya juga sangat banyak."ucap Aderald yang juga tengah bersiap.


BRAK BRAK BRAK,


"KELUAR KALIAN."teriak salah satu orang itu sembari menggebrak pintu mobil mereka.


Adira dan Aderald saling pandang, kemudian mereka mengangguk lalu keluar dari mobil dengan wajah dingin mereka.


"Apa yang kalian inginkan?"Aderald menatap jejeran anggota Mafia yang jumlahnya ratusan itu.


"Nyawa mu."ucap salah satu anggota.


"Tidak semudah itu kau bisa mengambil nyawaku."Aderald menatap pria itu dingin.


"Tentu saja mudah, lihat lah. Kalian tidak mungkin bisa mengalahkan kami yang berjumlah ratusan, sedangkan kalian hanya berdua saja."dia memandang remah Aderald dan juga Adira.


"Jumlah bukanlah masalah bagi kami, kalian memang ratusan, tapi apakah kekuatan kalian bisa mengalahkan kami yang hanya berdua ini? cih, melihat bentuk tubuh kalian saja aku sudah yakin jika kalian itu lemah."ucap Adira penuh penekanan.


"Ternyata hanya seorang wanita, sekali tendang juga mati."cibirnya sembari menatap Adira yang matanya tertutupi oleh topeng.


"SERANG."teriak pria itu menggelegar.


Ratusan anggota itu pun menyerang mereka dengan bersamaan, Adira yang melihat ratusan orang itu sudah mendekat dia pun langsung menyiapkan diri dan juga fokusnya supaya dia tidak terluka parah. Begitu juga dengan Aderald, dia sibuk menelisik pergerakan lawan dan ternyata gerakan mereka sangat mudah untuk dibaca.


Treng,


Treng,


Srett,


Dugh,


Blass.


Dorr,


Dorr,

__ADS_1


Dort,


Adira memutar tubuhnya dengan lihai di antara ratusan orang berbaju hitam itu, dia menendang, menembak dan juga menebas orang-orang yang tengah menyerangnya itu. Kedua tangan Adira masing-masing memegang senjata, satu katana dan satu lagi pistol kesayangannya yang berwarna Gold.


Sementara Aderald, dia hanya mengenakan katana saja untuk menyerang, dia menyerah mereka dengan membabi buta, menebas satu persatu kepala mereka yang tengah menembaki dirinya. Aderald melihat kebelakang dan langsung memotong tangan orang yang hendak menusuknya dengan sebuah belati tajam.


Blass.


Aderald menusuk jantung orang itu sehingga dia tewas seketika dengan darah segar yang mengalir deras. Setelah orang itu mati, tanpa menyia-nyiakan waktu dia kembali menyerang puluhan orang yang tersisa dengan berutal karna dirinya ingin segera membantu Adira yang tengah di keroyok klan itu dengan jumlah yang lebih banyak.


"Hais, sepertinya aku harus bergerak cepat sebelum aku terluka."gumam Adira disela pertarungan sengitnya.


Adira pun melompat keatas kemudian dia berputar di udara dengan katana yang ia arahkan ke kepala para musuh, dia menebas kepala mereka secara memutar dan bersamaan sehingga kepala separuh anggota itu menggelinding di aspal panas dan di susul oleh tubuh mereka yang ambruk.


"Kuat juga rupanya kamu ya."ucap salah satu dari mereka setelah Adira mendarat di aspal yang sudah berubah menjadi lautan darah.


"Kau pikir aku lemah hah?"Adira menatap tajam orang itu dan..


Blass,


Adira memenggal kepala orang itu untuk mempersingkat waktu sebelum orang itu menyerangnya. Kemudian dia berbalik menatap orang-orang berbaju hitam yang jumlahnya tinggal puluhan saja.


Treng,


Treng,


Treng,


Suara katana Adira yang beradu dengan katana puluhan katana yang menyerangnya secara bersamaan dengan posisi Adira yang berada di tengah. Saat katana mereka akan menyerang kearah lehernya, Adira pun langsung menunduk.


Blass,


Blass,


Blass,


Adira yang berjongkok langsung saja menyambit perut mereka dengan katana yang ia pegang sehingga darah segar mengucur dengan begitu deras di sertai para usus dan kawan-kawannya yang mencuat keluar karna Adira menyambit perut mereka dengan begitu dalam.


"Akkhh, sialllll."teriak Adira.

__ADS_1


__ADS_2