I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
48


__ADS_3

Saat ini mereka sedang berada di perjalan menuju ke pantai, karna setelah dari taman bunga Adira mengajak mereka untuk bersantai di sebuah pantai yang jaraknya lumayan jauh darisana dan juga melewati jalan terjal juga berliku. Chyra dan David juga ikut, mereka berada tepat di belakang mobil yang Aderald kendarai yang mana di dalamnya ada Adira, Andri, Mira dan juga dirinya.


Cekitttt!


Aderald langsung berhenti mendadak kala sebuah mobil sedan hitam menikung mobilnya.


Dor!


Sebuah tembakan langsung mereka layangkan pada mobil Aderald, untung saja mobil itu anti peluru. "Siapa mereka, Rald?" Adira melirik Aderald sekilas kemudian dia kembali menatap kedepan.


"Sepertinya mereka adalah orang suruhan," ujar Aderald sembari memperhatikan baju yang di kenakan oleh orang-orang yang berjalan menghampiri mereka.


"Ini gimana, Dir? apa mereka akan menyakiti kita?" cemas Mira.


"Kamu tenang ya, Mir. Semua pasti akan baik-baik saja," ucap Adira menenangkan.


"Aku takut, Dir. Bagaimana kalo mereka menyakiti kita? aku belum mau mati, Dir. Aku belum nikah," ucap Mira dramatis.


"Tenang, Mir. Kita pasti baik-baik saja." Andri mendekap erat sang kekasih.


"Keluar kalian!"


Brak!


Brak!


Brak!


Segerombolan orang berbaju hitam itu menggebrak kasar mobil Aderald, tanpa ba, bi, bu lagi. Aderald dan Adira pun keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan dengan santainya menghampiri orang-orang itu dengan aura tajam dan menghunusnya.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Aderald penuh penekanan.


"Nyawamu!" jawab salah satu orang itu dengan wajah sangarnya.


"Hanya nyawaku?" tanya Aderald kembali dengan nada mengejek.


"Rupanya kau tidak takut pada kami, apa kamu mempunyai nyawa cadangan sampai dengan mudahnya berbicara enteng perihal nyawa?" Pria berwajah codet menatap Aderald dengan tatapan menghunus.


"Takut? padamu? cih, hanya orang bodoh yang takut pada manusia sampah sepertimu," ucap Aderald menantang.


"Kau... Serang mereka!" teriak Pria itu.


Bugh!


Bugh!


Bugh!

__ADS_1


Brak!


Dugh!


Pertarungan tak dapat terelakan lagi, Aderald dan juga Adira kini tengah berjibaku melawan para pria berbaju hitam yang di perkirakan berjumlah lima belas orang. Adira terus menghantam, menonjok dan juga menendang lawannya tanpa ampun. Dia juga mengeluarkan belatinya untuk menusuk musuh agar pertarungan ini cepat selesai.


Dor!


"Dam it," umpat Adira, dia tidak menyadari jika salah satu musuh membawa senjata api. Untung saja dia dapat menghindar tepat waktu, kalau tidak, timah panas akan mendarat tepat di jantungnya.


Dughh!


Bruggh!


Adira langsung menendang pria yang membawa senjata api tadi sampai terpental ke jalanan dengan begitu kerasa. Dengan cepat Adira segera mengambil senjata api milik pria itu...


Dor!


Adira menembak pria itu tepat di jantungnya sehingga membuatnya tewas seketika. "Bagus," Adira menyeringai tajam.


"Rald awas!" pekik Adira sembari berlari untuk menerjang pria yang hendak memukul Aderald dari belakang.


Bughh!


Dugh!


"Jangan sok jagoan kau wanita sialan!" murka pria itu dengan tatapan tajam nan membunuh.


"Aku memang jagoan." Adira berkata dengan begitu percaya diri.


"Cih, percaya diri sekali kau wanita lemah!" cibir pria itu.


"Aku tidak lemah!" Amarah sudah menguasai diri Adira sampai membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.


"Hiyaaa! mati kau!"


Adira menyerang pria itu membabi buta dengan mengenakan belatinya, Adira menusuk-nusuk tubuh pria itu di beberapa titik. Pria itu tidak sempat berontak akan serangan Adira karena serangan itu sangatlah mendadak dan juga brutal.


"Lihat lah, aku tidak lemah bukan!"


Bless,


Adira menikam dada pria itu sampai darah segar mengalir begitu deras bersamaan dengan nyawa pria itu melayang. "Sudahku bilang, aku tidak selemah itu. Aku bukan wanita lemah." binar wajah cantik Adira kini telah di penuhi amarah yang begitu membara.


Adira masih tidak puas hanya membunuh beberapa orang saja, dia masih ingin membunuh untuk menuntaskan gelora amarahnya yang begitu memburu. Adira berjalan cepat menghampiri gerombolan pria yang tengah menyerang Aderald secara berkeroyok.


"Kalian akan mati ditanganku!" ucap Adira menyeringai. Kemudian dia mengeluarkan pistol rampasannya tadi dan mengarahkannya pada gerombolan pria itu.

__ADS_1


Dorr!


Dorr!


Dorr!


Adira menembak para pria itu dalam hitungan detik saja, para pria itu langsung tewas seketika dengan cucuran darah yang mengalir deras. Adira menyeringai puas karena tembakannya tidak melesat.


"Yahh, mati." Adira tersenyum miring.


Sementara itu, Mira dan juga Andri menatap Adira tak percaya. Pasalnya Adira yang kini mereka lihat sangat berbeda dengan Adira yang mereka kenal. Adira terlihat begitu kejam dan juga mengerikan, aura yang di keluarkannya juga begitu mencekam menusuk, sehingga membuat siapa saja akan bergidig bila di dekatnya.


"Itu benar Adira 'kan Dri?" Mira melirik kearah Andri.


"Ya, itu memang Adira. Aku tidak menyangka Mir, Adira akan semengerikan itu," ujar Andri.


"Sadis," lirih Mira.


"Sepertinya mereka bukanlah orang biasa jika di lihat dari skil beladiri yang mereka gunakan. Mereka begitu menguasainya, gerakan mereka juga tampak tidak biasa," terka Andri.


"Maksudmu?" todong Mira.


"Sepertinya mereka berasal dari sebuah organisasi," tebak Andri.


"Organisasi?" ulang Mira.


"Ya, seperti Mafia," ujar Andri.


"Apa kau yakin mereka adalah anggota Mafia?"


"Yakin sekali, sepertinya bukan hanya anggota. Tetapi juga pemimpinya," ucap Andri menerka-nerka.


"Bukankah Mafia itu jahat? aku kok jadi takut ya, sama mereka, Dri," ujar Mira.


"Jangan takut, tidak semua Mafia jahat, ada juga Mafia baik yang membela kebenaran. Jangan asal menyimpulkan bila tidak tau kenyataan yang sebenarnya," nasihat Andri.


Back to Aderald and Adira.


"Tarik napas, Baby. Jangan biarkan amarah itu terlalu menguasai dirimu," ucap Aderald berusaha menenangkan Adira yang tampak masih di kuasai kabut amarah.


"Huhh, rasanya aku tidak puas hanya membunuh beberapa orang saja," Adira menatap kearah sang suami.


"Amarah telah menguasai dirimu sehingga menjadikan mu pisikopat seperti ini, Baby. Jangan biarkan amarah itu terus mengusai mu, karena itu akan membahayan dirimu sendiri," nasihat Aderald sembari mengusak lembut rambut Adira.


"Hm, aku akan mencoba mengendalikan amarahku." Adira tersenyum dengan begitu manisnya.


Mayat-mayat berserakan dengan dipenuhi darah segar yang mana sebagian dari mereka wajahnya telah hancur tak berbentuk akibat tusukan tak beraturan Adira. Aderald segera menghubungi anak buahnya untuk membereskan semua mayat ini dan juga menghapus jejak pertempuran. Setelah menghubungi anak buahnya Aderald pun merangkul mesra Adira dan membawanya masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Kalian pasti bertanya-tanya siapa kami sebenarnya 'kan? aku akan menjelaskannya jika kita sudah sampai di tempat tujuan," ucap Aderald saat melihat raut wajah penuh tanya Mira dan juga Andri.


__ADS_2