I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
Tamat


__ADS_3

Sembilan bulan telah berlalu, tak terasa kandungan Adira kini sudah memasuki usia ke sembilan pula. Saat ini dia sedang harap-harap cemas menanti saat itu tiba, saat di mana dia akan menjadi seorang ibu kembali.


"Sayang.... Kamu di mana?" Aderald yang baru saja membuka matanya melirik kesana kemari mencari keberadaan sangat istri.


"Aku di kamar mandi," sahut Adira lirih.


"Kamu nggak pa-pa, Sayang? Apa perut kamu sakit lagi?" Aderald segera bangkit dari ranjang.


Ceklek!


Aderald membuka pintu kamar mandi.


"Kita ke rumah sakit, ya." Aderal menghampiri Adira yang nampak meringis menahan sakit.


"Tapi sakitnya masih hilang muncul, Rald," ujar Adira.


"Aku takut kamu kenapa-napa. Kita ke rumah sakit aja, ya." Aderal memapah Adira keluar dari kamar mandi.


Mereka pun segera bersiap untuk menuju ke rumah sakit, ini bukanlah hal yang asing bagi Adira, dia sudah dua kali merasakan sakit seperti ini. Namun ada yang berbeda dengan kehamilannya kali ini, karena perut Adira nampak dua kali lebih besar dari kehamilan pertama dan juga keduanya. Tentu saja nampak lebih besar, toh bayi yang Adira kandung ada dua. Ya, dua. Mereka tau setelah melakukan USG di usia kandungan Adira yang saat itu memasuki delapan bulan.


"Kamu sabar ya, Sayang. Aku yakin kamu pasti kuat." Aderald mengecupi kening Adira yang di penuhi dengan keringat yang bercucuran.


"Huhhh, sakit, Rald." Adira menarik napas panjang kemudian dia keluarkan perlahan.


"Kamu harus kuat, andai aku bisa menggantikannya. Biar aku aja yang merasakan sakit itu." Aderald menggenggam erat sebelah tangan Adira.


Mereka kini sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aderald duduk bersama Adira di kursi belakang, sedangkan yang menyetir adalah David.


Sesampainya di rumah sakit, Aderald langsung menggendong Adira menuju ruang bersalin. Bahkan dia tidak menghiraukan perawat yang datang dengan membawa brangkar, dia melewatinya begitu saja dan memilih untuk tetap menggendong Adira sampai ke ruang bersalin.


"Kita periksa dulu ya, sudah sampai pembukaan berapa?" ucap sang Dokter yang menangani Adira.


"Dokter pikir ini pentas, pake acara pembukaan segala. Istri saya mau melahirkan, Dok. Bukan mau tampil, jadi nggak perlu pake pembukaan segala," cerca Aderald dengan perasaan panik.


"Rald!" teriak Adira, sungguh dia malu dengan kelakuan suaminya. Masa dia tidak tau kalau melahirkan itu ada pembukaannya.


"Kenapa, Sayang? Aku bener kan? Dokternya emang rese, udah tau kamu kesakitan mau melahirkan. Malah ngurusin pembukaan," sungut Aderald.


"Yang rese itu bukan Dokternya, tapi kamu. Masa kamu nggak tau kalau ngelahirin itu ada pembukaannya. Kamu tu taunya cuma buka celana doang!" kesal Adira dengan menahan sakit yang semakin mendera.


"Maksud kamu, lahiran juga ada pembukaannya? Nari-nari sambil yel-yel gitu? Atau Prisstail?" tanya Aderald.


"Diem akh! Jangan ngoceh mulu. Omongan kamu bikin aku emosi. Dokter, perut aku sakit banget..." Adira melirik ke arah Dokter yang tengah menyaksikan perdebatan mereka.


"Kita periksa dulu ya." Dokter itu tersenyum.


"Eh! Kenapa celana istri saya di buka?" teriak Aderald.

__ADS_1


"Ya ampun! Apa lagi sih, Rald? Kenapa emangnya kalo celana aku di buka? Kan aku mau ngelahirin, kalo nggak di buka mau ngelahirin darimana coba?" Adira menatap Aderald dengan tajam, sungguh dia ingin sekali menendang muka bodohnya itu, namun sayang dia harus menghemat tenaga untuk melahirkan nanti.


"Kan...."


"Jangan ngomong lagi, lebih baik kamu keluar." Adira memotong ucapan Aderald.


"Aku mau nemenin kamu di sini, Sayang..."


"Kalau di temenin kamu, yang ada anak aku nggak bakalan brojol-brojol," sengit Adira.


"Anak kita, Sayang..."


"Dok, bawa orang itu keluar," pinta Adira.


"Bapaknya keluar dulu ya, nanti setelah ibunya melahirkan. Bapak boleh masuk lagi," ucap Dokter dengan tersenyum canggung. Ada-ada saja pasangan ini, kan biasa jika istri melahirkan selalu ingin di dampingi oleh suami.


Dengan langkah gontai, Aderald pun keluar dari ruang bersalin. Setelah Aderald keluar, Dokter pun segera memeriksa Adira, di rasa semua sudah siap dan pembukaan sudah sempurna. Dokter pun mengarahkan Adira untuk mengambil posisi.


"Tarik napas," ucap Dokter yang lansung di respon cepat oleh Adira, dia segera menarik napas panjang.


"Nanti ikuti intruksi saya, ya."


"Dok." Adira menatap sang dokter.


"Iya, bu."


"Baik bu, Sus, tolong panggilkan suami pasien ya." Dokter melirik suster yang berada di sebelahnya.


"Baik, Dok." Suster itu melangkah keluar.


Beberapa saat kemudian Aderald sudah memasuki ruang bersalin kembali. Dia langsung menghampiri sangat istri lalu mengecupi seluruh wajah Adira dengan bertubi-tubi. Hatinya merasa tercubit kala melihat sang istri meringis kesakitan dengan keringat yang mengucur deras. Aderald menggenggam erat tangan Adira guna memberinya kekuatan, tak lupa kata-kata cinta dan penyemangat ia bisikan di telinga Adira.


"Tarik napas, lalu dorong ya, bu."


Adira mengangguk kemudian dia menuruti intruksi sang dokter, satu kali dorongan Adira mengejan, hingga dorongan ketiga Adira berhasil mengeluarkan bayi pertamanya.


"Oek, oek, oek." Suara lengkingan tangis bayi pertama Adira terdengar memenuhi ruangan persalinan itu.


"Alhamdulillah." Aderald menitikan air mata ketika bayi pertamanya telah terlahir ke dunia.


"Satu lagi, ya. Bu."


Adira mengangguk dengan tenaga yang mulai habis.


"Kamu kuat, Sayang." Aderald mngecup lembut kening Adira.


Adira kembali menarik napas, dia kembali bersiap untuk mengeluarkan bayi keduanya.

__ADS_1


"Eughhhhh!"


"Ayo, bu. Sedikit lagi."


"Eughhhhhh!"


"Oek, oek, oek."


Akhirnya bayi kedua Adira terlahir dengan selamat tanpa cacat sedikitpun, tangis Aderald semakin deras kala mendengar tangisan anak keduanya.


"Selamat, Bu, Pak. Kedua anak kalian terlahir sehat dan sempurna," ucap Dokter itu dengan tersenyum ramah.


"Terimakasih, Dok."


Dokter itu mengangguk kemudian dia melanjutkan kembali pekerjaannya untuk menangani Adira, dia membersihkan sisa-sisa kotoran yang ada di dalam perut Adira. Sedangkan para suster, mereka bertugas membersihkan kedua bayi Aderald dan Adira.


"Terima kasih, Sayang. Kamu telah membuat hidupku semakin sempurna dengan hadirnya kedua buah hati kita." Aderald menatap lekat manik mata sayur sang istri.


Adira hanya bisa merespon dengan mengangguk samar karena tenaganya telah habis terkuras.


Beberapa saat kemudian, Adira telah di pindahkan ke ruang perawatan. Begitu juga dengan kedua bayinya yang kini telah bersih. Aderald segera mengadzani kedua bayinya setelah mereka selesai di bersihkan. Rasa syukur tak henti-hentinya Aderald ucapkan dengan bibir yang selalu melengkungkan senyuman kebahagiaan. Sungguh besar anugrah yang Tuhan berikan padanya, dari mulai di beri istri sebaik dan secantik Adira, kini dia juga telah di berikan dua buah hati yang begitu cantik dan tampan.


"Kamu mau kasih nama apa mereka, Sayang?" tanya Aderald.


"Abian dan Naina," jawab Adira dengan tersenyum manis.


"Abian? Naina?"


"Ya, nama mendiang kedua anaku. Wajah mereka mengingatkan aku pada mereka, aku yakin. Mereka telah terlahir kembali dengan wujud yang berbedaberbeda," ujar Adira.


"Aku setuju, Sayang. Abian dan Naina, nama yang sangat indah," sahut Aderald.


"Abi dan Nai, itu nama panggilan mereka."


"Abi, Nai. Kalian begitu tampan dan cantik," puji Aderald.


"Anak siapa dulu dong?"


"Anak, Papa Derald."


"Mama Dira juga dong."


"Anak kita berdua, Sayang."


Mereka pun berpeluk mesra dengan atensi yang menatap lekat kedua buah hati mereka, akhirnya Adira mendapatkan kembali kebahagiaannya, setelah berbagai halang rintangan dan berbagai cobaan yang menerpa hidupnya. Kini dia telah hidup bahagia bersama Aderald dan kedua buah hatinya.


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2