I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
28


__ADS_3

Mereka pun telah sampai di lokasi proyek wisata yang di maksud oleh Aderald. Pembangunannya sudah sekitar delapan puluh persen, terlihat dari beberapa bangunan yang sudah berdiri kokoh walau belum sepenuhnya selesai.


"Pakai helemnya supaya aman."Aderald memasangkan helem pelindung kepala kepada Adira.


Sontak saja mata mereka saling bersitatap satu sama lain, dalam hati mereka saling mengagumi satu sama lain.


"Em, makasih Rald."ucap Adira sembari memutus tatapan mereka.


"Hm, yuk kita keliling."ajak Aderald yang di angguki oleh Adira.


Mereka pun berkeliling melihat-lihat beberapa bangunan yang hampir selesai, sesekali Aderald juga menuntun Adira untuk berjalan melewati kerikil yang masih bertebaran disana. Sekilas mereka terlihat seperti sepasang kekasih karna keromantisan mereka, Aderald menyelipkan helaian rambut Adira yang terurai kedepan dia juga mengelap keringat Adira yang sedikit menetes menggunakan sapu tangan yang ia bawa di saku jasnya. Mereka terlihat begitu serasih, sehingga membuat para pekerja disana beranggapan jika Adira adalah kekasih dari bosnya.


"Sepertinya tengah hari begini enaknya minum kelapa muda, kamu mau gak?"ucap Aderald.


"Memangnya disini ada yang jualan kelapa muda?"tanya Adira.


"Ada langganan aku, tempatnya deket kok darisini. Mau kan?"


"Boleh deh, aku juga haus."


Merekapun berjalan pergi ketempat yang di maksud oleh Aderald. Disana tempatnya begitu nyaman meskipun hanya kursi dibawah pohon rindang, tapi karna suasananya yang sejuk di tambah dengan angin sepoi-sepoi menambah kenyamanan dari tempat itu. Adira tidak hanya memesan kelapa muda, tapi ia juga memesan beberapa makanan, seperti pisang keju, bakwan dan juga tahu gejrot. Aderald juga ikut menikmati makanan yang di pesan oleh Adira dengan begitu lahap.


"Nanti malam kamu jadi betemu dengan Revan?"tanya Aderald tiba-tiba.

__ADS_1


"Jadi, memangnya kenapa?"


"Tidak, aku hanya bertanya saja."


"Apa kau mau ikut?"


"Tidak, aku tidak ingin mengganggu orang pacaran."


"Siapa juga yang mau pacaran, kau lupa tujuan utama ku mendekatinya."cebik Adira.


"Aku tidak lupa, aku hanya bercanda saja tadi."Aderald tersenyum tipis.


Setelah makanannya habis, Aderald pun pergi untuk membayarnya. Kemudian dia menghampiri Adira kembali dan mengajaknya pulang karna hari sudah mulai sore.


Tidak terasa, waktu sudah menjelang malam saja, Adira kini sudah bersiap untuk menemui Revan. Dia memakai dress biru muda di atas lutut, dress itu begitu ketat sehingga menampilkan lekuk tubuh Adira.


"Sudah mau berangkat?"tanya Aderald saat Adira berjalan melewatinya yang tengah berada di ruang santai.


"Iya Rald."Jawab Adira.


"Dia mau menjemput mu dimana?"


"Di taman depan, aku berangkat dulu ya. Bay."Adira berjalan keluar dari dalam Mansion.

__ADS_1


Dia menuju ketaman dengan berjalan kaki karna jaraknya lumayan dekat, sedampainya disana ternyata Revan sudah menunggunya.


"Maaf telat."ucap Adira begitu dia menghampiri Revan yang tengah bersandar di pintu mobil.


"Tidak, aku saja yang kecepetan jemputnya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu."gombal Revan.


"Bisa kita berangkat sekarang?"ucap Adira yang mulai jengah.


"Ah, iya. Ayok."Revan membukakan pintu mobil untuk Adira.


Setelah Adira masuk, dirinya juga masuk kemudian dia menjalankan mobilnya ke suatu tempat. Revan membaw Adira ke sebuah taman yang telah dihias dengan sedemikian rupa sehingga suasana romantis terpancar disana. Tak lupa juga sebuah meja yang dikelilingi oleh lilin yang membentuk love.


"Wau, indah sekali."ucap Adira.


"Ayok duduk."Adira pun duduk disana.


Tak lama pelayan pun datang dengan membawa beberapa hidangan. Mereka makan dengan begitu lahap, sesekali Revan menyeka kotoran yang menempel pada bibir Adira, dia juga mengelap bibir Adira dengan menggunakan tisu.


Adira berusaha untuk bersikap sok tersipu dan sok bahagia, supaya dirinya bisa lebih dekat dengan Revan.


Sejak pertemuan malam itu, Adira dan juga Revan semakin dekat. Bahkan mereka hampir setiap hari bertemu hanya untuk makan siang atau jalan-jalan. Revan begitu memanjakan Adira, dia membelikan apapun barang-barang dan juga makanan kesukaan Adira.


Sampai suatu hari Revan meminta Adira untuk menjadi kekasihnya, Revan juga menjelaskan jika dia sudah mempunyai istri tapi dia tidak mencintainya, dia akan menceraikan istrinya ketika dia sudah melahirkan. Dengan sangat amat terpaksa Adira pun menerima Revan supaya tujuannya segera tercapai. Alhasil kini Adira dan Revan telah resmi berpacaran, Revan tidak tau saja bahwa pacarnya itu adalah istrinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2